Raya tidak menyangka kalau Suami yang sudah sepuluh tahun menikah dengannya , jatuh cinta lagi dengan wanita lain. Andini adalah nama wanita itu. Saat Bagas suami Raya mengaku mencintai Andini. Dunia Raya terasa runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamany Ali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Liburan ke pantai
Satu bulan kemudian.
Pagi pagi rumah sudah heboh, koper, tikar, pelampung, ember Gilang. Semua menumpuk diruang tamu.
" Ma, bola Galang, Mana?" Galang dari tadi berputar kesan kemari, mencari bolanya yang akan di bawa ke pantai.
Ya, hari ini mereka akan pergi berlibur ke pantai. Setelah semua yang terjadi. mereka juga butuh hiburan.
" Itu, disamping tas, Sayang." Raya nyahut sambil mengecek bekal, Sayur asem,nasi, tempe goreng, ikan goreng dan buah potong. semua dimasak oleh Bu Sri.
Raka dari luar berteriak. " Mobil sudah siap. Tim pantai ayo kumpul."
Nisa keluar kamar, sudah dress panjang, Sedari tadi kepalanya terasa berat. Tapi Nisa tahan, karena dia tidak mau merusak suasana. " Gilang mana? Daritadi bude belum nampak?"
" Ada disini, Bude." Gilang keluar dari kolong meja, pakai baju renang dari rumah, bawa ember sama sekop." Gilang siap bangun istana." Teriaknya.
Bu Sri geleng geleng kepala melihat kelakuan Gilang." Barang Barang kita banyak. Seperti mau pindahan saja."
Jam tujuh lewat. Mobil berangkat. Raka menyetir, disampingnya ada Nisa. dan yang lainnya dibelakang.
Sepanjang perjalanan Gilang bernyayi balonku ada lima, versi fals. Galang sibuk menempelkan mukanya ke kaca. Sambil menghitung pohon . Bu Sri sama Raya bagi bagi roti. pengganjal perut.
Satu jam kemudian mereka sudah sampai dipantai.
" Pantaiiii." Gilang berteriak kegirangan.
Raka segera mencari tempat parkir mobil, setelah memarkirkan mobilnya, semuanya keluar. Gilang paling cepat keluar, langsung melepaskan sandalnya. Dan lari ke pasir.
Galang menyusul tapi lebih anteng. Dia melepaskan sepatunya dan menginjak pasir. " Ma, pasirnya hangat."
" Iya sayang, jangain adek ya, Mama mau keluarkan barang barang kita dulu." Jawab Raya sambil membantu Raka mengeluarkan barang bawaan mereka.
" Kamu tidak turun sayang?" Raka melihat Nisa yang sepertinya tidak sehat. Wajahnya tampak pucat.
" Aku mau didalam mobil dulu sebentar, sayang. Aku merasa kurang enak badan." Jawab Nisa yang kini menempelkan minyak angin di hidungnya.
Raka memegang kening Nisa. Dia ingin tahu apakah Nisa sakit.
" Badanmu tidak panas sayang, kalau kamu mau istirahat dulu, tidak masalah. kami mau mengeluarkan barang barang dulu. "
Nisa mengangguk.
" Kenapa dengan Mbak Nisa, Mas?" Tanya Raya yang masih menurunkan tas.
" Katanya kurang enak badan. Mungkin kecapean karena sudah lama tidak naik mobil jauh jauh." Jawab Raka.
" Ohh." Angguk Raya.
Raka menutup bagasi. Setelah memastikan semua barang barang sudah diturunkan semua.
Raya membentangkang tikar besar dibawah pohon Ketapang. Bu Sri membuka rantang. " Ayo semuanya , kita makan dulu. Nanti masuk angin." teriak bu Sri.
Semua berlari menghampiri Bu Sri. Gilang paling semangat, karena dia sudah lapar. Semuanya berkumpul di tikar.
Nisa juga ikut keluar dari mobil, kepalanya terasa semakin berat. Makanan yang ada didepannya membuat perutnya mual.
Uwekk.
"Kamu kenapa sayang?" Raka dengan sigap mengelus punggung Nisa.
" Kamu sakit, Nak?" Bu Sri juga tampak khawatir.
" Minum dulu mbak!" Raya menawarkan gelas yang berisi air minum untuk Nisa.
" Terimakasih Ray."
Nisa kemudian berbaring dipangkuan Raka, dia masih pusing namun dia tidak ingin semuanya khawatir.
" Bang, Ayo kita main bola." Ajak Gilang yang baru saja makan beberapa sendok.
Gilang sudah tidak sabar ingin bermain air lagi.
" Ayok dek." Galang mengiyakan ucapan Gilang.
Mereka berdua kembali bermain air, Kali ini mereka bermain bola.
Raya mengikuti anak anaknya dari belakang, takut terjadi apa apa. Angin laut menyapu rambutnya. Raya duduk di bawah pohon dengan alas akar pohon yang besar.
Raya menutup matanya. Menikmati detik tanpa suara tangis atau debat hak asuh.Cuma suara ombak dan suara tawa Galang Gilang.
" Raya.." Suara seorang lelaki membuat Raya membuka mata.
Suaranya berat dan tenang. Raya familiar dengan suara tersebut. Raya buka mata. Didepannya Satria sudah berdiri. dengan baju kaos dah celana pendek selutut. Tidak lupa ditangannya ada kamera.
" Satria?" Raya kaget saat melihat lelaki yang ada dihadapanya sekarang adalah Satria. atasan Bagas sekaligus sahabat Bagas dan juga rekan kerja Raya. Mereka masih menjalankan satu proyek sekarang.
Satria tersenyum, Senyum yang sama setiap kali mereka bertemu. Tenang tidak dibuat buat." Sedang liburan ya?" Tanyanya.
" Iya, kamu sendiri?" Raya bertanya balik . Matanya tetap mengarah ke anak anak yang sedang main bola.
" Sama, Saya juga sedang menikmati liburan, Jenuh juga dengan pekerjaan dikantor. "
Raya melihat kamera yang dipegang Satria. " Kamu juga foto foto ya?"
" Iya, buat kenang kenangan."
Raya menganguk. " Ohh."
Bola ditendang Galang sampai kedepan Satria, hampir saja mengenai wajah Satria yang kini duduk disamping Raya.
" Maaf Om." Galang berlari menghampiri Satria.
Galang kenal dengan Satria, karena Satria cukup sering datang kerumah mereka dulu bersama mendiang istrinya. Laura.
" Ups, Keras juga tendangan Abang Galang ya." Teriaknya sambil melemparkan bola ke Galang.
" Iya, Om." Galang mengambil Bolanya.
" Apa om boleh ikut main?" Tanya Satria .
" Boleh om.." Ajak Galang.
Satria memberikan kameranya kepada Raya." Nitip Ray, aku mau main sama Galang dulu."
"Iya." Raya mengambil kamera tersebut.
Satria sudah berlari menghampiri Galang dan Gilang yang kembali sibuk main bola.
Dikejauhan Bu Sri melihat mereka." Siapa lelaki yang sedang bermain dengan Galang dan Gilang itu?" Tanya bu Sri kepada Raka.
Raka juga melihat kearah yang dilihat Bu Sri. " Aku kurang tahu ,Bu. Mungkin teman Raya." Jawab Raka.
Nisa masih berbaring. Kepalanya berada di pangkuan Raka. Raka membelainya dengan lembut.
" Iya, Mungkin teman kerja Raya." Jawab Bu Sri. Yang masih melihat kearah Raya.
" Mama, Ayo kita main.." Gilang menarik tangan Raya untuk ikut bermain bersama dengan mereka.
Mau tidak mau Raya juga ikut bermain bersama. Tidak lupa dia memberikan kamera Satria. Takut nanti jatuh kalau dia yang pegang.
" Ayo ma, kejar Gilang.." Teriak Gilang yang kini sangat senang berlari di tepi pantai.
" Mama tidak kuat mengejar Gilang, tenaga mama habis." Teriak Raya.
Mereka saling kejar kejaran, Suara tawa mereka terdengar. Melihat hal itu Satria mulai mengambil gambar gambar Raya dan anak anaknya yang tampak bahagia. Meskipun dia tahu Raya kini sudah berpisah dengan Bagas.
" Om, tolong. Gilang mau di tangkap mama.." Gilang berlari memeluk Kaki Satria.
" Wah, kita harus lari.." Satria mengalungkan kameranya di leher dan mulai mengendong Gilang dipunggungnya.
"Aku akan kejar.." Teriak Galang yang kini ikut mengejar Satria dan Gilang.
Raya terdiam ditempatnya, melihat pemandangan didepannya. Galang dan Gilang tertawa lepas bersama dengan Satria. Seperti yang sering mereka lakukan bersama dengan Bagas, Setiap mereka kepantai. Sekarang semuanya tinggal kenangan.
" Raya, Raya.." Bu Sri berlari menghampiri Raya . tampak kecemasan di raut mukanya.
" Raya, Mbakmu pingsan.." Teriak bu Sri.
Raya dengan cepat berlari , setelah mendengar ucapan ibunya.
Raka tampak panik saat melihat Raya yang kini tidak sadarkan diri.
" Mbak Nisa kenapa, Mas?" tanyanya panik. Bu Sri ada dibelakang Raya. Diikuti Satria yang masih mengendong Gilang. Dan Galang berjalan dibelakangnya.
Semua tampak panik.
MATA DI BALAS MATA.. HIDUNG DIBALAS HIDUNG .. KEJAHATAN DIBALAS KEJAHATAN