Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.
Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."
Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 PIp Pip Pip
Pintu ruangan itu terbuka dengan sentakan cepat. Dokter Nugraha, spesialis jantung senior dengan uban yang menghiasi pelipisnya, melangkah masuk dengan langkah lebar. Di belakangnya, beberapa dokter koas mengikuti dengan sigap, termasuk Ariska yang langsung menyiapkan peralatan pemantauan.
"Apa yang terjadi? Grafik jantungnya melonjak drastis," tanya Dokter Nugraha sambil segera memeriksa pupil mata Biru dengan penlight.
"Saya baru saja memberitahunya tentang kehamilan istrinya, Dok. Dia mengandung tiga bayi kembar," jawab Widya dengan suara yang masih bergetar.
Mendengar itu, Dokter Nugraha sempat terhenti sejenak, menatap Widya dengan sorot mata takjub sebelum kembali fokus pada pasiennya. "Stimulasi emosional yang sangat kuat. Ini bisa jadi pemicu yang kita butuhkan, atau justru beban berat bagi jantungnya yang masih lemah."
Ariska, yang berdiri di sisi lain ranjang, menahan napas saat melihat jemari Biru mulai berkedut hebat. Ia segera mengecek tensimeter. "Dok, tekanan darahnya naik 140/90. Irama jantungnya takikardia, tapi polanya mulai teratur, tidak lagi fibrilasi!"
"Biru, dengar saya," Dokter Nugraha menekan pundak Biru dengan tegas. "Anda punya tiga alasan untuk kembali sekarang. Fokus pada detak jantung anak-anak Anda. Tenang, atur napas Anda, ikuti suara saya."
Di tengah kepungan para dokter, pemandangan itu terasa begitu magis. Tubuh Biru yang selama sebulan ini layu, tiba-tiba memancarkan aura perjuangan yang luar biasa. Keringat dingin mulai muncul di dahi pria itu.
"Tuan, bangun..." gumam Cakra dari sudut ruangan, matanya tak lepas dari wajah Biru.
Tiba-tiba, sebuah erangan parau keluar dari balik masker oksigen. Suaranya sangat lemah, nyaris seperti gesekan amplas, namun bagi semua orang di ruangan itu, suara itu lebih indah daripada simfoni mana pun.
"Se... le... na..."
Kelopak mata Biru bergerak-gerak liar sebelum akhirnya terbuka sedikit. Matanya yang merah dan sayu berusaha mencari fokus di tengah cahaya lampu operasi yang terang.
"Respon motorik positif! Kesadaran naik ke GCS 10!" seru Ariska dengan wajah yang mendadak cerah, hampir saja ia melompat kegirangan jika tidak ingat sedang berada di depan mentor seniornya.
Dokter Nugraha menghela napas lega, senyum tipis muncul di wajahnya yang tegas. "Luar biasa. Kekuatan mental pria ini benar-benar di luar nalar medis."
Widya langsung menggenggam tangan Biru, menciumnya berulang kali. "Iya, Sayang... Selena ada di rumah. Dia menunggumu. Kamu harus kuat demi mereka."
Biru kembali memejamkan mata, namun kali ini bukan karena pingsan, melainkan karena kelelahan yang luar biasa setelah "berlari" kembali dari kegelapan.
Genggaman tangannya pada tangan ibunya mengencang sesaat, sebuah kode bisu bahwa sang predator telah kembali, dan ia siap menuntut balas pada siapa pun yang telah menyentuh miliknya selama ia tertidur.
Di kamar yang temaram, Selena menatap foto USG di tangannya dengan perasaan yang membuncah. Hasil laboratorium rumah sakit yang baru saja ia terima pun mengonfirmasi hal yang sama: Positif. Di dalam dirinya, ada kehidupan yang berdenyut, sebuah bukti nyata dari malam panas yang nyaris merenggut nyawa Biru.
3 nyawa...
Namun, kegembiraan itu segera tertutup awan mendung saat ia mencoba menghubungi Cakra untuk kesekian kalinya. Tetap sama. Tidak tersambung, seolah asisten suaminya itu telah ditelan bumi bersama raga Biru.
"Cakra, kau sungguh keterlaluan," desis Selena. Ia tahu Cakra hanya menjalankan perintah, tapi situasi ini sudah berubah.
"Brengsek kamu Cakra! Kamu ingin memonopoli suamiku hah!" teriaknya frustasi. "Awas saja kalau aku menemukanmu!"
Setelah mencaci maki Cakra, Selena akhirnya tersadar, ia mengambil air wudhu dan sholat. Sesuatu yang sudah lama ia tinggalkan. Dan kali ini ia benar-benar butuh Tuhan untuk memberikannya keajaiban.
Sajadah panjang itu menjadi saksi bisu betapa luluhnya seorang Selena. Di dalam keheningan sepertiga malam, hanya ada suara isak tangis yang tertahan dan deru napas yang berat.
Ia bersujud sangat lama, membiarkan butiran air mata membasahi kain kain tempatnya bersandar. Tuhan yang selama ini ia nomor duakan di tengah gemerlapnya ambisi dan gairah, kini menjadi satu-satunya tempatnya mengadu.
"Ya Allah... aku tidak minta harta ini, aku hanya minta suamiku kembali," bisiknya parau di tengah sujud. "Jika Engkau menitipkan tiga nyawa ini sebagai amanah, maka kembalikanlah juga ayahnya untuk membantuku menjaganya. Aku tak sanggup sendirian..."
Rasa sesak di dadanya perlahan mencair, berganti dengan ketenangan aneh yang mulai merayap. Setelah salam, Selena tetap duduk terdiam di atas sajadah, mengusap perutnya yang masih terasa sangat datar namun menyimpan keajaiban besar.
Kembali ke dalam keheningan ruang VVIP yang sarat dengan bau antiseptik, Dokter Nugraha menarik napas panjang sambil merapikan stetoskopnya. Ia menatap tajam ke arah Widya dan Cakra secara bergantian, memberikan peringatan yang sangat serius melalui sorot matanya yang tegas.
"Cukup untuk hari ini," ucap Dokter Nugraha dengan suara rendah namun penuh penekanan.
"Kabar tentang tiga bayi kembar itu adalah kejutan listrik alami bagi otaknya, tapi jantungnya hampir saja menyerah karena lonjakan adrenalin yang terlalu ekstrem."
Ia kemudian beralih ke monitor yang kini menunjukkan grafik detak jantung yang mulai stabil di angka 75 bpm, meski sesekali masih ada fluktuasi kecil.
"Jangan berikan kejutan apa pun lagi. Jangan ada tangisan histeris, jangan ada berita besar, dan jangan ada guncangan emosional lainnya untuk saat ini," tegas Dokter Nugraha.
"Biarkan jantungnya berdenyut normal. Kita butuh irama yang konsisten agar otot jantungnya bisa memulihkan diri dari efek racun dan trauma koma yang panjang."
Widya mengangguk lemah, ia menyeka air matanya dan mundur satu langkah dari ranjang Biru. Ia mengerti bahwa ambisinya untuk segera melihat Biru pulih total tidak boleh membahayakan nyawa putranya sendiri.
Dokter Nugraha menoleh ke arah Ariska. "Dokter Ariska, pantau dosis sedatif ringannya. Kita ingin dia dalam kondisi setengah sadar (twilight state)—cukup sadar untuk merasakan keberadaan orang di sekitarnya, tapi cukup tenang agar jantungnya tidak bekerja terlalu keras."
"Baik, Dok," jawab Ariska sigap sambil menyesuaikan pengaturan pada syringe pump.
Setelah para dokter senior keluar, ruangan itu kembali sunyi. Cakra kembali ke posisinya semula, namun kali ini ia tidak lagi berdiri kaku bagaikan patung. Ia sedikit menyandarkan bahunya ke dinding, matanya terus terpaku pada monitor, menjaga setiap detak jantung tuannya agar tetap dalam batas aman.
Biru terbaring di sana, napasnya kini terasa lebih dalam dan teratur. Meski matanya kembali terpejam, ada kedamaian yang berbeda di wajahnya. Kabar tentang tiga nyawa di rahim Selena seolah menjadi jangkar yang menahan jiwanya agar tidak lagi melayang pergi ke kegelapan.
Di bawah temaram lampu ruangan, hanya terdengar suara teratur mesin EKG:
Pip... pip... pip... sebuah irama kehidupan yang kini sedang dijaga dengan sangat hati-hati, menunggu waktu yang tepat untuk benar-benar kembali pulih sepenuhnya.
***
Like dan komen dong, agar author semangat updatenya😁
apa kamarnya tak beratap..?
apa tinggal di hutan lebat...???
atau karna ada kulkas terbuka....????
masih menjadi tanda tanyaaaaa
bukan nama tepung....!!!!
srius bertanya dengan nada rendah