NovelToon NovelToon
Pria Pembuly Yang Menjadi Takdirku

Pria Pembuly Yang Menjadi Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: nana_riana

Dulu, Alya hanya gadis pendiam yang selalu menjadi sasaran ejekan di sekolah. Hari-harinya dipenuhi rasa takut, terutama karena Reno,ketua geng paling disegani sekaligus pria yang paling sering membuat hidupnya terasa menyakitkan. Bagi Alya, Reno adalah luka yang ingin ia lupakan selamanya.
Namun takdir mempertemukan mereka kembali setelah bertahun-tahun berlalu.
Kini, Alya telah berubah menjadi wanita mandiri dan sukses, sementara Reno bukan lagi remaja arogan seperti dulu. Di balik sikap dinginnya, Reno menyimpan penyesalan yang tak pernah sempat ia ungkapkan. Pertemuan mereka kembali membuka kenangan lama, menghadirkan benci yang perlahan berubah menjadi perasaan yang tak terduga.
Bisakah seseorang yang pernah menyakitimu menjadi rumah terbaik untuk hatimu? Atau masa lalu akan tetap menjadi penghalang di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nana_riana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18 — Tidak Semua Orang Akan Merestui

Lorong rumah sakit malam itu terasa sunyi.

Alya dan Reno duduk berdampingan di kursi tunggu tanpa banyak bicara. Tangan mereka masih saling menggenggam erat seolah takut kehilangan satu sama lain.

Reno terlihat lelah.

Sangat lelah.

Dan Alya baru sadar bahwa di balik sikap dingin dan kuat yang selalu ditunjukkan pria itu, Reno juga manusia biasa yang bisa merasa takut.

“Aku nggak suka lihat kamu sedih,” bisik Alya pelan.

Reno tersenyum kecil tanpa menoleh.

“Aku juga nggak suka bikin kamu ikut capek karena hidup aku.”

Alya menunduk pelan.

Karena meski Reno berkata begitu, ia tahu pria itu sedang menanggung beban jauh lebih besar.

Pintu ruang rawat tiba-tiba terbuka.

Ibu Reno keluar dengan wajah pucat dan lelah. Begitu melihat Alya, wanita itu terlihat sedikit terkejut.

“Kamu datang?”

Alya langsung berdiri sopan.

“Saya cuma mau memastikan Om baik-baik aja.”

Tatapan wanita itu melembut sesaat.

Namun sebelum ia sempat menjawab, suara berat terdengar dari dalam kamar.

“Suruh perempuan itu masuk.”

Suasana langsung menegang.

Reno mengernyit.

“Yah…”

“Aku mau bicara sama dia.”

Tatapan Reno dan Alya saling bertemu beberapa detik.

Dan entah kenapa, jantung Alya mulai berdetak tidak nyaman.

Ruang rawat VIP itu terasa dingin.

Ayah Reno terlihat lebih lemah dibanding biasanya. Selang infus terpasang di tangannya, sementara monitor jantung berbunyi pelan di samping tempat tidur.

Namun meski sedang sakit, tatapan pria itu tetap tajam.

Alya berdiri canggung di depan ranjang.

“Saya ikut masuk,” ujar Reno dingin.

“Tidak.” Ayahnya menatapnya tajam. “Aku cuma mau bicara dengan Alya.”

Reno tampak ingin membantah.

Namun Alya perlahan menyentuh lengannya.

“Nggak apa-apa.”

Tatapan Reno penuh kekhawatiran.

Tetapi akhirnya pria itu keluar kamar dengan berat hati.

Begitu pintu tertutup, suasana langsung menjadi jauh lebih menegangkan.

Ayah Reno memperhatikan Alya cukup lama sebelum akhirnya membuka suara.

“Kamu cinta Reno?”

Pertanyaan itu membuat Alya sedikit terkejut.

Namun ia menjawab jujur.

“Iya.”

Pria itu tertawa kecil hambar.

“Anak itu keras kepala.” Tatapannya beralih ke langit-langit kamar. “Kalau dia sudah memilih sesuatu, bahkan saya pun sulit menghentikannya.”

Alya terdiam.

“Saya tahu Reno pernah menyakiti kamu.”

Deg.

“Ayahnya Dimas pernah cerita semuanya.”

Mata Alya perlahan membesar.

“Tapi saya juga tahu satu hal.” Tatapan pria itu kembali tajam. “Reno tidak pernah terlihat sehancur itu setelah kehilangan seseorang.”

Dada Alya terasa sesak.

Karena dari nada suara pria tersebut, Alya bisa merasakan bahwa Reno benar-benar menderita selama bertahun-tahun.

“Dia berubah sejak bertemu kamu lagi.” Suara ayah Reno mulai melemah. “Dan sebagai ayah… saya takut perubahan itu justru menghancurkan hidupnya.”

Air mata Alya perlahan mulai menggenang.

“Saya nggak pernah berniat menghancurkan hidup Reno.”

“Saya tahu.”

Suasana mendadak hening.

Lalu untuk pertama kalinya, pria yang selalu terlihat keras itu mengembuskan napas panjang penuh kelelahan.

“Dunia keluarga kami tidak sederhana.”

Tatapan Alya perlahan menunduk.

“Reno akan kehilangan banyak hal kalau tetap memilih kamu.”

Kalimat itu terasa begitu berat.

Karena Alya sudah mulai melihat sendiri kenyataan tersebut.

“Kalau kamu benar-benar mencintainya…” ayah Reno menatap Alya dalam, “apa kamu siap melihat dia kehilangan segalanya?”

Deg.

Jantung Alya langsung berdegup kacau.

Pertanyaan itu terlalu sulit dijawab.

Karena Alya tahu jika Reno benar-benar meninggalkan keluarganya demi dirinya, rasa bersalah itu akan terus menghantuinya seumur hidup.

Di luar kamar, Reno berjalan mondar-mandir gelisah.

Ia tahu persis bagaimana ayahnya.

Dan ia takut Alya akan terluka lagi.

Ibu Reno yang duduk di kursi tunggu memperhatikan putranya diam-diam.

“Kamu benar-benar mencintainya ya?”

Reno berhenti berjalan.

Tatapannya perlahan melembut.

“Banget.”

Jawaban singkat itu membuat ibunya tersenyum kecil sedih.

“Dulu Mama pikir kamu cuma merasa bersalah.”

“Aku juga sempat mikir begitu.” Reno tertawa kecil hambar. “Tapi ternyata lebih dari itu.”

Tatapannya perlahan mengarah ke pintu ruang rawat.

“Aku nggak bisa bayangin hidup tanpa Alya sekarang.”

Dan itu adalah pertama kalinya Reno mengakuinya sejujur itu pada keluarganya.

Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka.

Alya keluar dengan wajah pucat.

Reno langsung menghampiri cepat.

“Ayah ngomong apa?”

Alya tersenyum kecil lemah.

“Nggak banyak.”

“Kamu nangis?”

Reno langsung panik melihat mata Alya yang sedikit merah.

Namun Alya justru menggeleng pelan.

“Om cuma khawatir sama kamu.”

Reno menghela napas kasar.

“Aku capek semua orang mikir aku nggak bisa milih hidup sendiri.”

Tatapan Alya melembut.

Karena ia bisa melihat betapa lelahnya Reno terus berada di tengah tekanan keluarganya.

“Alya.”

“Hm?”

“Kalau suatu hari nanti aku benar-benar kehilangan semuanya…” Reno menggenggam tangan Alya erat, “apa kamu tetap mau di samping aku?”

Deg.

Pertanyaan itu membuat hati Alya terasa nyeri.

Karena ia tahu Reno tidak sedang bercanda.

Pria itu benar-benar siap meninggalkan semuanya demi dirinya.

Dan justru itulah yang paling ditakuti Alya.

Namun sebelum Alya sempat menjawab, suara heels terdengar mendekat dari ujung lorong.

Vanessa datang dengan wajah serius.

“Aku nyari kalian dari tadi.”

Reno mengernyit.

“Ada apa?”

Tatapan Vanessa langsung berubah tegang.

“Aku baru ketemu Dimas.”

Suasana mendadak berubah dingin.

Dan firasat buruk langsung muncul di hati Alya.

“Ada apa sama dia?” tanya Reno tajam.

Vanessa menggigit bibir pelan sebelum akhirnya berkata,

“Dia lagi nyiapin sesuatu buat menghancurin hubungan kalian.”

Deg.

Jantung Alya langsung terasa jatuh.

Sementara tatapan Reno perlahan berubah gelap penuh amarah.

Karena ia tahu Dimas bukan tipe orang yang akan berhenti sebelum semuanya hancur.

“Apa maksud kamu?” tanya Reno dingin.

Vanessa terlihat ragu beberapa detik sebelum akhirnya menghela napas panjang.

“Aku nggak sengaja dengar dia ngobrol sama seseorang di telepon.” Tatapannya beralih pada Alya. “Dia bilang sebentar lagi Alya bakal tahu ‘kebenaran terakhir’ tentang kamu.”

Rahang Reno langsung mengeras.

“Brengsek.”

“Aku nggak tahu detailnya,” lanjut Vanessa cepat. “Tapi dia kelihatan serius banget.”

Suasana lorong rumah sakit mendadak terasa semakin menyesakkan.

Alya menggenggam ujung bajunya pelan.

“Kebenaran terakhir?” bisiknya lirih.

Tatapan Reno langsung melembut penuh kekhawatiran.

“Alya, jangan percaya apa pun sebelum dengar dari aku.”

Namun anehnya, kalimat itu justru membuat hati Alya semakin tidak tenang.

Karena itu berarti masih ada sesuatu yang belum ia ketahui.

Dan Reno sadar akan hal itu.

“Ada apa lagi yang kamu sembunyiin?” tanya Alya pelan.

Reno langsung terdiam.

Untuk beberapa detik, hanya suara monitor rumah sakit yang terdengar samar dari dalam kamar rawat.

“Aku bakal jelasin,” ucap Reno akhirnya lirih. “Tapi aku butuh waktu.”

Deg.

Jawaban itu membuat dada Alya terasa sesak lagi.

Sementara Vanessa menatap Reno dengan ekspresi rumit, seolah baru menyadari bahwa rahasia yang disimpan pria itu ternyata jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan sebelumnya.

1
tinuet'z
sangat menarik
partini
hoki Banggt si Reno di cinta ugal-ugalan wehhh mau sakiti Ampe darah" tetep cinta
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!