NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit 2

Legenda Naga Pemakan Langit 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

(SEASON 2) Di benua baru ini, Alam Inti Emas hanyalah debu di bawah sepatu para bangsawan. Raja Fana menjadi prajurit biasa, dan monster-monster Alam Penyatuan Langit berjalan membelah gunung dan membelokkan bintang. Tidak ada sekte lemah di sini; yang ada hanyalah Kekaisaran Kuno dan Klan Dewa yang dihormati layaknya pencipta.

Membawa garis keturunan Dewa Naga Primordial yang diburu oleh surga, Chu Chen menolak untuk merunduk. Di tanah di mana naga hanya dianggap sebagai mitos yang telah punah, ia akan membangkitkan kembali era dominasi mutlak. Jika surga menghalanginya, ia akan menelan surga itu sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Paviliun Kabut Merah

Paviliun Kabut Merah adalah sebuah keganjilan yang mencolok di tengah kumuhnya Lingkar Luar Ibukota Suci. Bangunan tiga lantai itu terbuat dari kayu spiritual kemerahan yang memancarkan aroma dupa pemikat. Lampion-lampion bersinar lembut, menyamarkan bau darah jalanan dengan wangi arak mahal dan parfum bunga persik.

Di sinilah para bangsawan kalangan menengah dan petinggi rendahan dari Lingkar Tengah membuang kekayaan mereka, mencari kenikmatan yang tidak dibatasi oleh aturan ketat klan mereka di kota atas.

Malam itu, paviliun dijaga lebih ketat dari biasanya, namun kesibukan di dalamnya tetap berjalan. Segel Matahari Mutlak di langit tidak menyurutkan berahi mereka yang memiliki uang dan kekuasaan.

Di ruang tamu utama, Gou Zhu berdiri dengan punggung sedikit membungkuk, menggosokkan kedua tangannya sambil memasang senyum budak yang paling sempurna.

Pintu utama terbuka. Seorang pemuda berpakaian sutra hijau zamrud dengan hiasan batu giok di sabuknya melangkah masuk. Hidungnya sedikit terangkat, matanya memancarkan keangkuhan yang merendahkan setiap orang di ruangan itu. Dua pengawal di Alam Inti Emas Puncak berjalan di belakangnya layaknya anjing peliharaan yang setia.

Itu adalah Ba Tuo, Tuan Muda dari Klan Ba.

"Gou Zhu," suara Ba Tuo terdengar malas dan angkuh. Ia melemparkan sebuah kantong berisi puluhan Batu Roh Tingkat Menengah ke dada wakil bendahara itu. "Kudengar dari anak buahmu siang tadi, Hei Ya baru saja membeli seorang budak wanita dari utara? Seorang kultivator es yang belum disentuh?"

Gou Zhu menangkap kantong itu dengan cekatan, senyumnya semakin lebar meski keringat dingin membasahi punggungnya.

"Benar sekali, Tuan Muda Ba! Pandangan Anda sungguh tajam," puji Gou Zhu berlebihan. "Wanita itu... kecantikannya bisa meruntuhkan kota. Kulitnya seputih salju, dan auranya sangat dingin. Ketua Hei Ya sengaja menyimpannya khusus untuk menyambut kedatangan Anda malam ini, sebagai bentuk penghormatan perkumpulan kami."

Mata Ba Tuo berbinar penuh nafsu. Menguasai seorang kultivator wanita beraura es selalu memberikan sensasi penaklukan yang memuaskan bagi harga diri seorang pria. "Bagus. Hei Ya memang anjing yang tahu cara menyenangkan tuannya. Di mana dia sekarang?"

"Di Bilik Teratai Merah, lantai paling atas, Tuan Muda. Semuanya sudah disiapkan."

Ba Tuo mengibaskan tangannya kepada kedua pengawalnya. "Kalian berdua tunggu di bawah. Jangan biarkan siapapun menggangguku sampai besok pagi."

Tanpa membuang waktu, bangsawan muda dari Lingkar Tengah itu melangkah menaiki tangga kayu berukir, pikirannya telah sepenuhnya dikuasai oleh bayangan wanita es yang menunggunya.

Bilik Teratai Merah adalah ruangan paling mewah di paviliun tersebut. Tirai-tirai sutra merah menjuntai dari langit-langit, dan di tengah ruangan, sebuah pembakar dupa naga menghembuskan asap tipis yang memabukkan.

Ba Tuo membuka pintu geser itu perlahan.

Napasnya seketika tertahan.

Di balik meja kayu mahoni yang rendah, duduk seorang wanita yang kecantikannya membuat seluruh pelacur di Ibukota Suci terlihat seperti tanah liat. Wanita itu mengenakan gaun sutra tipis yang sengaja memperlihatkan lekuk bahunya yang seputih pualam. Wajahnya tidak ditutupi kerudung, memamerkan raut wajah yang sempurna namun luar biasa dingin, seolah ia adalah dewi yang turun dari gletser abadi.

Wanita itu adalah Bai.

Meski di dalam hatinya ia mengutuk Chu Chen dan ingin mengoyak-ngoyak pemuda itu, Bai adalah mantan Penatua Istana Jiwa. Ia tahu cara mengendalikan wajahnya. Kedinginan dan tatapan tajamnya justru membuat Ba Tuo semakin gila.

"Luar biasa..." Ba Tuo bergumam, menutup pintu rapat-rapat di belakangnya dan menguncinya dengan susunan Qi. "Hei Ya benar-benar mendapatkan permata malam ini."

Ba Tuo melangkah maju mendekati meja. Ia tidak menyadari bahwa di sudut ruangan yang paling gelap, menyatu sempurna dengan bayangan tirai sutra merah, berdiri sesosok pemuda yang menekan auranya hingga ke titik ketiadaan mutlak.

"Siapa namamu, Manis?" Ba Tuo mencondongkan tubuhnya ke seberang meja, tangannya yang memancarkan sedikit Qi Inti Emas bersiap untuk membelai dagu Bai.

Bai tidak mundur, namun matanya menatap Ba Tuo dengan tatapan mengasihani yang sangat murni. Tatapan yang diberikan seseorang kepada babi yang sedang berjalan ke tempat penjagalan.

"Namaku tidak penting bagi orang mati," ucap Bai dengan suara sedingin es.

Ba Tuo mengerutkan kening. "Apa maksud—"

WUSH.

Sebuah bayangan memisahkan diri dari tirai di belakang Ba Tuo. Tidak ada gejolak Qi, tidak ada suara langkah kaki. Hanya kecepatan fisik murni dari Lapis Kesembilan Puncak yang telah disempurnakan oleh tulang naga.

Sebelum Ba Tuo sempat menoleh atau memanggil pedang pusakanya, sebuah tangan kiri yang sekeras baja mencengkeram wajahnya dari belakang, menutup mulutnya dengan rapat. Pada saat yang sama, tangan kanan yang membentuk pisau lurus menusuk menembus punggung Ba Tuo, langsung menghancurkan tulang belakang dan meremukkan Dantiannya dalam satu gerakan yang sangat terarah.

"Mmph—!"

Mata Ba Tuo melotot lebar. Rasa sakit yang tak terbayangkan meledak, namun jeritannya tertahan sepenuhnya di telapak tangan Chu Chen.

"Tuan Muda Klan Ba," bisik Chu Chen tepat di telinga bangsawan itu. Suaranya terdengar seperti bisikan dewa maut. "Aku butuh wajah dan ingatanmu."

Tanpa memberi kesempatan Ba Tuo untuk menyadari kematiannya, Chu Chen mengaktifkan Seni Kaisar Naga: Pelahapan Memori dan Jiwa.

Pusaran Ketiadaan berputar sangat halus namun mematikan. Dalam ruang yang kedap suara itu, Ba Tuo menggelepar pelan di udara. Fondasi Istana Jiwa Tahap Menengahnya, seluruh saripati darahnya, dan yang paling penting, lautan ingatannya ditarik paksa keluar oleh Chu Chen.

Kenangan tentang Klan Ba, rute menuju Lingkar Tengah, sandi-sandi penjagaan, dan wajah para bangsawan yang akan hadir di Lelang Bayangan Klan Ye mengalir deras ke dalam otak Chu Chen layaknya buku yang halamannya dibalik dengan sangat cepat.

Hanya dalam sepuluh tarikan napas, tubuh Ba Tuo mengering. Tangan Chu Chen melepaskan cengkeramannya, membiarkan mayat keriput yang kini berwujud seperti sekam kering berusia ratusan tahun itu merosot ke lantai tanpa suara.

Chu Chen memejamkan matanya sejenak, mencerna lautan ingatan tersebut. Ketika ia membuka matanya kembali, pandangannya telah menyimpan seluruh rahasia dan keangkuhan seorang bangsawan Lingkar Tengah.

Ia membungkuk, mengambil Cincin Penyimpanan berwarna hijau giok dari jari mayat Ba Tuo. Dari dalam cincin itu, Chu Chen mengeluarkan sebuah plakat logam berwarna merah darah yang memancarkan aura formasi tingkat tinggi.

Undangan Darah Klan Ye.

"Sangat mudah," gumam Chu Chen, memasukkan plakat itu ke dalam cincinnya sendiri.

Ia menatap mayat Ba Tuo di lantai, lalu menjentikkan jarinya. Seberkas kecil Api Teratai Merah jatuh ke atas mayat keriput tersebut. Tanpa suara ledakan, api surgawi itu langsung menguapkan sisa tubuh Ba Tuo menjadi segenggam abu putih, menghilangkan semua bukti pembunuhan.

Bai, yang masih duduk di balik meja, membuang muka dengan napas yang sedikit bergetar. Meskipun ia telah mempersiapkan batinnya, melihat seorang ahli Istana Jiwa dihabisi dalam keheningan mutlak dan dihapus dari keberadaan seperti itu tetap membuat darahnya membeku.

"Tugasmu selesai, Nona Bai. Kau bisa berhenti memamerkan pundakmu sekarang," ucap Chu Chen dengan nada mengejek.

Ia merobek sebagian jubah abu-abunya sendiri dan mengambil jubah sutra hijau zamrud cadangan dari dalam Cincin Penyimpanan Ba Tuo. Dengan tenang, Chu Chen mengenakan pakaian bangsawan itu.

Menggunakan Seni Kaisar Naga, Chu Chen memutar aura Qi di dalam tubuhnya untuk meniru gejolak Qi milik Ba Tuo secara persis. Ia tidak mengubah wajahnya menggunakan sihir fana yang murahan, karena ahli tingkat tinggi bisa mengenali tipuan. Sebaliknya, ia menggunakan ilmu pemindahan tulang dari Zirah Naga Hitam untuk sedikit mengubah susunan tulang pipi dan rahangnya, membuat wajahnya tampak sembilan puluh persen mirip dengan Ba Tuo. Sisa sepuluh persennya akan ditutupi oleh keangkuhan dan jubah sutra ini.

"Kau benar-benar akan pergi ke Lingkar Tengah sendirian?" tanya Bai, memperbaiki gaunnya. "Bagaimana dengan pengawal di bawah?"

"Mereka sudah menunggu Tuan Muda mereka selesai," Chu Chen berjalan mendekati pintu, gerak-geriknya kini telah sepenuhnya berubah menjadi angkuh dan malas khas bangsawan.

"Aku akan mengurung diri di ruangan ini sampai besok fajar, berpura-pura menikmati 'malam'-ku. Besok, saat Segel Matahari Mutlak mulai dilonggarkan untuk persiapan Lelang Bayangan, aku akan melangkah keluar dan pulang ke Klan Ba."

Chu Chen menoleh ke arah Bai, memberikan satu peringatan terakhir.

"Tetaplah di markas Gagak Hitam bersama Meng Fan. Berdoalah agar penyamaranku tidak terbongkar. Karena jika aku mati di Lingkar Tengah... jejak di jantungmu akan memastikan kau tidak akan hidup untuk merayakannya."

Chu Chen membuka pintu bilik sedikit, memberi isyarat agar Bai keluar lebih dulu melalui pintu rahasia di belakang paviliun.

Malam itu, di tengah perondaan pasukan kekaisaran yang memburu penyusup bersayap tulang, sang penyusup itu sendiri justru telah berganti kulit, bersiap melangkah masuk ke jantung pertahanan mereka sebagai salah satu tamu kehormatan di acara paling mewah di Ibukota Suci.

1
black swan
...
Nur Aini
Thor, yg kaisar abadi penentang surga 2 kok blm update juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!