"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13.Keinginan dan penolakan.
Suasana di dalam ruang tengah rumah keluarga Wijaya terasa sangat hangat dan nyaman. Berbeda dengan kesan megah dan dingin saat Salsa pertama kali melihat rumah ini dari luar, interiornya justru penuh dengan sentuhan keluarga yang membuat siapa saja betah.
Salsa duduk di sofa empuk bersama Rani. Di hadapannya, duduklah Tuan Wijaya dan Nyonya Wijaya, orang tua dari Rian, Reno, dan Rani.
"Nah, Salsa... makanlah sayur ini. Ini favorit Rian waktu kecil lho," kata Nyonya Wijaya ramah sambil menyendokkan sayur ke piring Salsa. Wajahnya lembut dan senyumnya tulus, tidak ada sedikit pun kesan sombong atau merendahkan meski mereka adalah keluarga terpandang.
"Te-terima kasih, Tante," jawab Salsa gugup tapi senang.
"Eh, jangan panggil Tante dong. Panggil Ibu saja, atau Mama. Lagipula kamu kan calon menantu kesayangan kami," canda Tuan Wijaya yang membuat Salsa tersipu malu.
Salsa benar-benar terkejut. Selama ini ia membayangkan keluarga kaya raya pasti sombong, kaku, dan suka menuntut. Tapi kenyataannya? Mereka sangat baik, santai, dan memperlakukannya seperti anak sendiri. Mereka banyak bertanya tentang kehidupan Salsa di desa, tentang Kakek Tio, dan mendengarkan cerita Salsa dengan penuh perhatian.
Dan yang paling membuat Salsa lega adalah perubahan sikap Rani. Gadis itu kini duduk sangat dekat dengannya, sesekali mencubit gemas lengan Salsa atau berbisik-bisik lucu. Rani tidak lagi galak atau ketus. Seakan beban di pundaknya sudah hilang setelah pertemuan tadi sore, Rani menjadi ceria, manja, dan sangat protektif terhadap Salsa layaknya teman sejati.
"Sal, besok aku ajak kamu jalan ya! Aku kenalin ke teman-temanku. Kamu cantik kok, pasti mereka suka!" kata Rani antusias.
"Iya deh, Ran. Tapi jangan bikin aku pusing ya," jawab Salsa tertawa.
Malam itu makan malam berjalan sangat menyenangkan, penuh tawa dan kehangatan. Namun, setelah hidangan penutup selesai dan pelayan membereskan piring, suasana sedikit berubah menjadi lebih serius.
Tuan Wijaya meneguk tehnya, lalu menatap Salsa dengan tatapan lembut namun tegas.
"Salsa... soal surat wasiat Kakek Tio, dan rencana pernikahanmu dengan Rian..."
Salsa yang sedang memegang gelas teh itu langsung menegang. Ia menarik napas panjang, lalu menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Om... Tante..." mulai Salsa pelan. "Salsa... Salsa mau minta maaf. Sepertinya perjodohan ini tidak bisa jalan."
Deg!
Semua orang di ruang itu terdiam. Rani yang tadinya tersenyum langsung kaget dan memegang lengan Salsa.
"Kenapa Sal? Kenapa menolak?" tanya Rani panik.
Salsa mengangkat wajahnya, matanya sudah berkaca-kaca. "Salsa merasa... hubungan ini dipaksakan. Rian Kakak sulung sepertinya tidak setuju dan keberatan dengan perjodohan ini. Salsa tidak mau memaksakan kehendak. Lebih baik Salsa pulang saja ke desa. Di sana Salsa bisa hidup tenang, bekerja, dan tidak merepotkan siapa-siapa."
Suara Salsa lirih namun tegas. Ia sudah memantapkan hati. Melihat sikap Rian yang tidak mau membuka identitasnya dan umur mereka yang terpaut jauh yang menjadi kendala, Salsa yakin pria itu tidak menginginkannya.
Mendengar itu, wajah Rani langsung berubah sedih dan bersalah. Ia menunduk, memainkan ujung bajunya. Ini salahku... pasti karena aku galak dan jahat sama Salsa waktu pertama kali ketemu, jadi dia jadi kapok dan mau pulang... batin Rani menyalahkan dirinya sendiri.
Tapi Salsa segera memegang tangan Rani dan menggeleng, seolah tahu apa yang dipikirkan gadis itu. "Bukan karena kamu, Ran. Ini soal aku dan Kak Rian."
"Om tidak terima!" tiba-tiba Tuan Wijaya bersuara keras. Wajahnya berubah tegas. "Rian itu anakku, aku tahu dia. Dia tidak pernah bilang tidak suka atau menolak! Dia cuma pendiam dan kerja terus!"
Tanpa pikir panjang, Tuan Wijaya langsung meraih telepon genggamnya dan menekan nomor putra sulungnya.
Tut... tut... tut...
"Halo! Ya, yah?" terdengar suara berat Rian di seberang sana yang terdengar sedikit berisik latar belakangnya, menandakan dia masih di lokasi tugas.
"RIAN! SEKARANG JUGA KAU PULANG! LUPAKAN DULU PEKERJAANMU! ADA HAL PENTING YANG HARUS KITA BICARAKAN SEKARANG JUGA!" bentak Tuan Wijaya dengan nada otoriter seorang ayah.
"Tapi Yah, saya masih..."
"TIDAK ADA TAPI! PULANG! ATAU AYAH YANG AKAN DATANG KE KANTOR POLISI ITU DAN SERET KAU PULANG!"
Kre...e...sh...
Telepon dimatikan dengan kasar. Tuan Wijaya menyimpan HPnya dengan napas memburu. "Lihat nanti! Ayah pastikan dia tidak menolak!"
Di jalan raya utama kota, sebuah mobil Jeep warna hitam melaju kencang dengan mesin yang menderu garang. Rian mengemudi dengan satu tangan, wajahnya datar namun keningnya berkerut dalam.
Ia baru saja menyelesaikan penggerebekan kasus narkoba, dan tubuhnya masih terasa pegal. Tapi telepon dari ayahnya tadi membuat jantungnya berdegup tidak karuan.
Masalah penting apa sih? batin Rian bertanya-tanya. Tapi ia bisa menebak 90 persennya. Pasti soal gadis itu. Soal Salsa.
Salsa pasti tahu kalau aku sudah menipunya, pikiran Rian tidak bisa tenang. Ia mencoba menutupi identitasnya sebagai calon suaminya,dan berpura-pura sebagai paman dari calon suami nya, karena Rian masih ragu dengan Salsa.Bukan hanya faktor umur, tapi sisi misterius Salsa yang bisa melihat arwah membuatnya tidak yakin.
"Apa dia tahu kalau aku ini calon suaminya..." gumam Rian pelan, lalu ia menginjak gas lebih dalam lagi.
Brak!
Mobil Jeep itu berhenti mendadak di halaman depan rumah dengan gaya khas Rian yang ugal-ugalan. Pintu mobil terbuka, dan Rian turun dengan seragam lengkap yang masih sedikit berdebu, wajahnya lelah namun tatapannya tajam.
Ia berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah lebar dan tegas. Suara langkah kakinya terdengar hingga ke ruang tengah.
Saat Rian masuk, semua mata tertuju padanya.
Rani langsung bersorak, "Kak Rian! Akhirnya pulang!"
Nyonya Wijaya langsung berdiri, "Ya ampun, kamu ini... keringatan begitu. Cepet mandi dulu dong."
Tapi Rian menggeleng. Ia meletakkan topi polisi dan ikat pinggangnya ke sofa, lalu menatap ayahnya, lalu beralih menatap Salsa yang duduk tertunduk malu-malu.
"Ada apa, yah? Kenapa disuruh pulang mendadak?" tanya Rian dengan suara berat dan serak khas setelah seharian bekerja.
Tuan Wijaya menunjuk kursi di hadapannya. "Duduk! Kita mau bahas soal pernikahanmu sama Salsa. Gadis ini bilang dia mau pulang dan membatalkan semuanya karena dia pikir kamu tidak mau dan keberatan!"
Rian terdiam. Tubuhnya kaku. Ia perlahan menoleh dan menatap lekat-lekat ke arah Salsa.
Jadi dia mau pergi?
Hati Rian seketika terasa seperti diremas kuat. Tiba-tiba ia mengingat kondisi rumah Salsa, yang sepi dan gadis remaja itu tanpa pelindung harus kembali didesa yang sepi.
Rasa tidak enak dan tidak tega menyelimuti hati pria dingin itu.
"Kau... mau pergi?" tanya Rian pelan, tapi suaranya terdengar mengintimidasi.
Salsa mengangkat wajahnya sedikit, menatap mata tajam Rian. "I... Iya, Kak. Soalnya Salsa ngerasa Kakak nggak nyaman dan nggak mau kan sama Salsa? Jadi daripada saling menyakiti..."
"SIAPA BILANG?!" potong Rian tiba-tiba dengan suara keras, membuat semua orang terkejut.
Rian bernapas cepat, dadanya naik turun. Ia marah. Marah karena gadis di depannya ini begitu mudahnya berkata mau pergi,rasa kasihan dan bersalah menyelimuti hati Rian.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍