Niatnya cari pelarian, malah dapet "tuan muda" kematian.
Alicia kabur ke Italia dan mencari pria paling tampan untuk menghina selera perjodohan ayahnya. Misinya berhasil ia menemukan Dante, pria dengan visual sempurna yang mau diajaknya bermalam bersama.
Tapi keesokan paginya, Alicia baru sadar kalau dia bukan baru saja menaklukkan pria biasa, melainkan seorang predator paling ditakuti di Eropa. Ternyata, merayu bos mafia saat mabuk adalah ide terburuk yang pernah Alicia lakukan seumur hidupnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 12
Gemuruh baling-baling helikopter militer itu seolah merobek langit malam di atas perairan Mediterania. Cahaya lampu sorot dari udara kini bersilangan dengan lampu-lampu kapal frigate klan Moretti yang masih mengepung di kejauhan. Alicia meringkuk di dalam dek, tangannya mencengkeram erat lengan kursi, sementara perutnya kembali bergejolak. Namun kali ini, rasa mual itu bukan hanya karena guncangan kapal, melainkan karena kengerian melihat bendera merah putih yang berkibar di bawah badan helikopter tersebut.
"Ayah benar-benar melakukannya," bisik Alicia, suaranya nyaris hilang ditelan bising mesin. "Dia mengirimkan otoritas negara hanya untuk menyeretku pulang."
Dante Vallo berdiri tegak di tengah anjungan, menatap radar dan helikopter yang sedang bermanuver rendah di atas kapal pesiarnya. Wajahnya keras seperti karang. Ia tidak menunjukkan ketakutan, bahkan saat ia tahu bahwa melawan pemerintah sebuah negara jauh lebih rumit daripada sekadar membantai faksi mafia saingan.
"Bos, helikopter itu meminta kita berhenti. Mereka mengklaim melakukan misi penyelamatan warga negara yang diculik," lapor Marcello dengan nada tegang. Tangannya tetap berada di kemudi, menunggu perintah untuk menabrak blokade atau menyerah.
Dante mengambil radio komunikasi. "Berikan frekuensi terbuka. Aku ingin bicara dengan siapa pun yang memimpin burung besi itu."
Satu detik kemudian, suara tegas dari seberang radio terdengar. Bukan suara Bambang yang licik, melainkan suara seorang perwira tinggi yang berwibawa. "Ini adalah unit atas pertahanan Republik Indonesia. Kami memiliki perintah untuk menjemput saudari Alicia Atmadja. Dante Vallo, jika Anda menghalangi, ini akan menjadi insiden diplomatik yang serius. Matikan mesin Anda sekarang."
Dante menyunggingkan senyum miring yang dingin. Ia menoleh ke arah Alicia yang tampak pucat di sudut ruangan. "Dengar itu, Alicia? Kau baru saja naik kelas. Kau bukan lagi sekadar gadis yang kabur dari rumah, kau sekarang adalah alasan perang diplomatik."
Dante melangkah mendekati Alicia, berlutut di depannya hingga mata mereka sejajar. Di luar, suasana semakin kacau. Kapal-kapal Moretti mulai menjauh karena tidak ingin berurusan dengan militer resmi, namun helikopter itu semakin mendekat, bersiap menurunkan tali untuk tim penyerbu.
"Pilih, Alicia," ucap Dante, suaranya rendah namun bergetar oleh intensitas yang menakutkan. "Kau bisa naik ke helikopter itu, kembali ke Jakarta, dan aku akan memastikan ayahmu tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi dengan perjodohan konyol itu. Kau akan bebas."
Alicia menelan ludah. "Bebas?"
"Atau," Dante meraih tangan Alicia, menempelkannya ke perut gadis itu yang masih terasa mual. "Kau tetap di sini, bersamaku. Menghadapi militer negaramu sendiri sebagai calon istri seorang mafia. Jika kau tinggal, kau tidak akan pernah bisa kembali menjadi Alicia yang dulu. Kau akan menjadi Vallo. Dan Vallo tidak pernah melarikan diri."
Alicia menatap mata Dante. Ia melihat bayangan dirinya di sana, seorang gadis manja yang gaun merahnya sudah hancur, yang rambutnya acak-adakan, dan yang baru saja menyemprot wajah bos mafia dengan cairan korosif.
"Jika aku pulang... apakah kau akan mengejarku?" tanya Alicia lirih.
"Aku akan membakar siapa pun yang menghalangiku untuk menjemputmu," jawab Dante tanpa keraguan. "Tapi aku ingin kau yang memilih. Aku tidak ingin kau berada di sampingku hanya karena kau tidak punya pilihan."
Tepat saat itu, kaca jendela anjungan bergetar hebat. Helikopter itu menyalakan pengeras suara, memberikan peringatan terakhir. Tim taktis mulai meluncur turun menggunakan tali menuju dek belakang kapal.
Alicia berdiri, kakinya masih sedikit gemetar. Ia menatap ke arah dek belakang di mana pasukan berseragam mulai mendarat, lalu ia menatap Dante.
"Dante... aku masih merasa sangat mual," ucap Alicia dengan senyum kecut yang dipaksakan. "Dan aku rasa, aku tidak akan kuat menjalani perjalanan jauh ke Jakarta dengan helikopter berisik itu."
Dante tertawa rendah sebuah tawa kemenangan yang liar. Ia menarik Alicia ke dalam pelukannya, menciumnya dengan kasar dan penuh gairah di tengah kekacauan itu. "Jawaban yang bagus, Cara Mia."
Dante melepaskan pelukannya dan menatap Marcello. "Marcello! Aktifkan sistem pertahanan non-lethal. Gunakan meriam air dan frekuensi suara tinggi. Jangan biarkan mereka menginjakkan kaki lebih jauh di dek ini, tapi jangan bunuh mereka. Kita butuh mereka hidup untuk menyampaikan pesan."
Dante kemudian mengambil radio. "Kepada utusan Surya Atmadja... Alicia Atmadja tidak sedang diculik. Dia sedang berada di rumah suaminya. Sampaikan pada Surya, jika dia ingin melihat putrinya, dia harus datang sendiri ke Milan sebagai tamu, bukan sebagai musuh. Kapal ini berada di bawah perlindungan kedaulatan klan Vallo. Bergerak satu inci lagi, dan aku akan meledakkan tangki bahan bakar di bawah kaki anak buahmu."
Gertakan Dante bekerja. Pasukan di dek belakang tertahan oleh semburan meriam air bertekanan tinggi yang membuat mereka sulit berdiri. Helikopter itu pun terpaksa menjauh karena risiko ledakan yang diancamkan Dante.
Namun, di tengah kemelut itu, Alicia kembali tersungkur. Rasa mualnya memuncak menjadi rasa sakit yang menusuk di bagian bawah perutnya. Ia mengerang, mencengkeram kemeja Dante.
"Dante... sakit..." bisiknya sebelum pandangannya menggelap.
Dante menangkap tubuh Alicia tepat sebelum gadis itu menghantam lantai. Wajahnya yang semula penuh kemenangan kini berubah menjadi kepanikan murni. "Alicia! Marcello, lupakan soal diplomasi! Hubungi tim medis di pangkalan terdekat di Corsica! Kita butuh helikopter medis kita sekarang juga!"
Kapal pesiar itu melaju dengan kecepatan maksimal, membelah ombak yang semakin ganas. Dante tidak sedetik pun melepaskan tangan Alicia. Di dalam kabin medis kapal yang terbatas, ia mengawasi dokter yang sedang melakukan pemeriksaan darurat.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya Dante, suaranya terdengar seperti geraman.
Dokter itu, yang tampak ketakutan di bawah tatapan Dante, memeriksa layar monitor ultrasonografi portabel yang kini sudah terhubung dengan daya listrik stabil. Ia terdiam sejenak, menatap layar yang menunjukkan titik kecil yang berdenyut.
"Tuan Vallo... ini aneh," gumam dokter itu.
"Apa yang aneh? Katakan!"
Oh yah,. Jangan lupa tetap stay tune yaa, besok author bakal update 3 BAB sekaligus 🔥✨
Buat yang udah setia nemenin cerita ini sampai sini, makasih banyak yaa~
Dan jangan lupa tinggalkan jejak di setiap bab 🫶
Entah itu like, vote, ataupun komentar.
Segala bentuk dukungan dari kalian semua, sangat berarti banget untuk author khusus-nya.
Itu semua bikin author makin semangat untuk update bab selanjutnya. ✨🫰🏻
alicia terjepit situasi absurd🤣🤣🤣🤣