NovelToon NovelToon
NIRWANA BERDARAH

NIRWANA BERDARAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Perperangan
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No Plagiat 🚫

NIRWANA BERDARAH: Gema Seruling di Lembah Hijau

“Biarkan mereka mengumpulkan langit di dalam Dantian… aku hanya butuh satu nada untuk meruntuhkannya.”

Yi Ling adalah anomali.

Di dunia yang mendewakan Qi, ia adalah hening yang mematikan.

Dantiannya telah hancur—namun kehampaan itu tidak mati. Ia berubah menjadi jurang tanpa dasar, melahap setiap frekuensi yang berani mendekat.

Melalui sebatang seruling bambu hijau yang tampak rapuh, Yi Ling tidak lagi bertarung dengan tenaga dalam.

Ia bertarung dengan Kidung Penghancur Struktur.

Satu tiupan—aliran Qi berbalik arah.
Dua tiupan—Dantian retak.

Tiga tiupan… dan nirwana berubah menjadi merah.
Ia bukan sampah yang bangkit.

Ia adalah Auditor Kematian—penagih yang datang untuk mengaudit setiap tetes energi yang pernah dicuri manusia dari langit.
Dan ketika gema seruling itu terdengar…
tidak ada yang tersisa selain kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Guntur Sunyi

Fajar tidak pernah benar-benar menyentuh Lembah Terlarang.

Cahaya yang merayap masuk hanyalah bayangan pucat yang tersaring kabut beracun, seperti dunia yang menolak terang. Di bawah air terjun darah yang tak pernah berhenti, Yi Ling berdiri dengan tubuh gemetar—bukan karena dingin, bukan karena takut, tapi karena batasnya terus didorong melampaui logika manusia.

Semalam ia berhasil memecahkan batu dengan Guntur Sunyi.

Hari ini… targetnya bukan lagi batu.

Melainkan sesuatu yang hidup.

Sesuatu yang terus bergerak.

Sesuatu yang tidak pernah berhenti—

Air terjun darah.

“Bangun posisi,” suara Zhizhao terdengar dari atas, datar seperti hukum alam. “Aku tidak akan mengulang dua kali.”

Yi Ling menarik napas dalam.

Tubuhnya penuh memar. Pipi kiri dan kanan masih merah akibat “pelajaran cinta” dari leluhurnya. Tapi matanya… tidak lagi goyah.

Kini, di dalamnya ada keseimbangan.

Merah… dan Biru.

Ia mengangkat tangannya, membentuk posisi seolah memegang seruling tak kasat mata.

Hira…

Buang…

Di dalam Dantiannya, dua warna mulai bergerak.

Merah bangkit seperti api yang haus membakar.

Biru datang seperti gelombang laut yang menenangkan.

Kali ini, Yi Ling tidak memaksa mereka bertabrakan.

Ia… menyelaraskan.

Merah menjadi inti.

Biru menjadi lapisan.

Seperti pisau panas yang diselimuti es.

“Sekarang…” bisik Yi Ling.

Ia menarik napas lebih dalam.

Udara di sekitarnya bergetar halus.

Kabut tipis di sekitar mulutnya berputar, membentuk pusaran kecil.

“NADA KESEMBILAN…”

Ia menutup mata.

Semua suara di dunia seakan menjauh.

Yang tersisa hanya—

Detak jantungnya.

Aliran darahnya.

Dan satu titik fokus di depan—

Air terjun.

“GUNTUR SUNYI.”

Hembusan napas keluar.

Tidak ada suara.

Tidak ada ledakan.

Hanya—

Getaran.

Tipis.

Tak terlihat.

Namun saat getaran itu menyentuh air—

WUSSHHH—

Air terjun… bergetar.

Bukan terbelah.

Belum.

Namun alirannya kacau.

Seolah ada sesuatu yang mengganggu ritmenya.

Yi Ling membuka mata.

Sedikit terkejut.

“Tidak cukup,” suara Zhizhao langsung memotong. “Kau hanya menggelitiknya.”

Yi Ling tidak membalas.

Ia sudah tahu.

Ini belum cukup.

Ia menarik napas lagi.

Namun kali ini—

Tubuhnya goyah.

Darah mengalir dari hidungnya.

Meridian di lehernya mulai retak.

“Berhenti,” suara Zhizhao tiba-tiba berubah dingin. “Kalau kau paksa lagi dengan kondisi itu, tenggorokanmu akan hancur. Kau tidak akan pernah bisa menggunakan teknik suara lagi.”

Yi Ling membeku.

Tangannya masih terangkat.

Namun perlahan… ia menurunkannya.

Napasnya berat.

Ia jatuh berlutut.

“Kenapa…” gumamnya pelan. “Kenapa tidak berhasil…”

Zhizhao melayang turun.

Langkahnya ringan, tapi tekanannya tetap berat.

“Kau masih berpikir seperti petarung,” ucapnya. “Bukan seperti musisi.”

Yi Ling mengangkat kepala.

“Bedanya apa?”

Zhizhao menatap air terjun.

“Petarung menghancurkan.”

“Musisi… mengendalikan.”

Ia menunjuk ke arah air.

“Kau mencoba melawan alirannya. Itu sebabnya kau gagal.”

Yi Ling terdiam.

Zhizhao melanjutkan, “Air tidak bisa dikalahkan dengan kekuatan. Tapi bisa… dipandu.”

Hening.

Hanya suara gemuruh air.

Perlahan… Yi Ling berdiri kembali.

Ia menatap air terjun itu.

Kali ini… bukan sebagai musuh.

Tapi sebagai sesuatu yang punya ritme.

Ia menutup mata.

Mendengarkan.

Bukan dengan telinga.

Tapi dengan jiwanya.

Degup…

Deras…

Hantaman…

Aliran…

Air itu… punya pola.

Punya denyut.

Seperti napas.

Seperti musik.

Yi Ling mengangkat tangannya lagi.

Lebih santai.

Lebih lembut.

Merah tetap ada.

Biru tetap menyelimuti.

Namun kali ini… ia tidak memaksa.

Ia mengikuti.

“Nada…” bisiknya pelan.

Ia menarik napas.

Dan kali ini—

Ia tidak menciptakan getaran.

Ia… menyelaraskan dengan yang sudah ada.

Hembusan keluar.

Syuuuu…

Getaran kecil merambat.

Menyatu dengan ritme air.

Dan—

Perlahan…

Sangat perlahan…

Air terjun itu… terbelah.

Bukan karena dihancurkan.

Tapi karena… diarahkan.

Alirannya bergeser ke samping.

Membuka celah tepat di depan Yi Ling.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Yi Ling tidak bergerak.

Ia hanya… mempertahankan.

Zhizhao tidak berkata apa-apa.

Namun matanya—

Untuk pertama kalinya—

Benar-benar terfokus.

Lima detik.

Enam detik.

Tujuh—

BRAKK!

Yi Ling terpental ke belakang.

Air kembali menghantam.

Tubuhnya terlempar, berguling di batu.

Namun—

Ia tertawa kecil.

“Heh…”

Ia menyeka darah di bibirnya.

“Aku hampir berhasil.”

Zhizhao berjalan mendekat.

Menatapnya dari atas.

“Bukan hampir,” ucapnya pelan. “Kau berhasil.”

Yi Ling terdiam.

“Air itu berhenti… bukan karena kekuatanmu,” lanjut Zhizhao. “Tapi karena kau akhirnya mengerti cara berbicara dengannya.”

Hening sejenak.

Lalu—

“Mulai hari ini,” kata Zhizhao, “kau akan berlatih dua hal.”

Yi Ling mengangkat kepala.

“Pagi… kau akan mengendalikan air.”

“Malam… kau akan mengendalikan dirimu.”

Yi Ling mengerutkan kening. “Maksudnya?”

Zhizhao menoleh ke arah Sumur Jiwa Purba.

Di dalamnya, dua cahaya samar berdenyut lebih kuat dari sebelumnya.

“Merahmu belum jinak.”

“Biru-mu belum stabil.”

“Dan warna lain… masih tidur.”

Ia kembali menatap Yi Ling.

“Jika kau ingin mencapai puncak lembah ini dalam satu tahun…”

“kau harus menguasai… ketujuhnya.”

Yi Ling mengepalkan tangan.

Matanya menyala—bukan merah, bukan biru—

Tapi… tekad.

“Aku akan melakukannya.”

Zhizhao tersenyum tipis.

“Bagus.”

Ia berbalik.

“Karena besok…”

Tekanannya tiba-tiba meningkat.

Udara membeku.

Air terjun berhenti sepersekian detik.

“Aku akan mencoba membunuhmu.”

Yi Ling membeku.

“Tenang saja,” lanjut Zhizhao santai. “Kalau kau mati, berarti kau memang tidak layak keluar dari sini.”

Ia menghilang ke dalam kabut.

Meninggalkan Yi Ling sendiri—

Dengan tubuh penuh luka.

Dengan Dantian yang mulai terbangun.

Dan dengan satu kenyataan baru—

Pelatihan ini…

Bukan lagi sekadar latihan.

Ini adalah perang.

Perang melawan dunia.

Dan… perang melawan dirinya sendiri.

1
Blueria
Sudah bagus kak, hanya saja istilah modern "Mekanis" kurang dapat feel-nya. Awalnya aku cocok aja bacanya, tapi pas ada penulisan kata Mekanis jadi gak dapet aura kuno nya...
Devilgirl: makasih,udah diingatkan nanti author revisi ulang😁😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!