Sequel Pelabuhan Hati
Bagi orang lain Karin adalah si antagonis untuk kehidupan kakaknya, namun siapa sangka di balik sikap yang dia tunjukkan selama ini dia menyimpan banyak luk. Di tambah dengan malam kelam yang terjadi adanya akibat ulah sahabat-sahabatnya, hidup Karin sejak hari itu berubah total.
Sementara itu Aiden sengaja datang ke Indonesia untuk mencari perempuan yang membuatnya selalu dalam rasa bersalah sejak malam itu. Namun siapa yang menyangka jika dirinya tak perlu bersusah payah untuk menemukan perempuan tersebut. Lalu apakah ada ruang untuk Karin di hati Aiden? Atau dia melakukannya hanya karena sebuah rasa bersalah?
“Selalu ada ruang untukmu di hatiku,” Aiden
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22# Dunianya Karin
Aiden menghela napas setelah membaca pesan singkat yang di kirim istrinya, semenjak Ayu datang memang selalu saja ada masalah yang perempuan paruh baya itu lakukan.
Aiden masih menghormati mamanya, bagaimanapun dia yang melahirkannya. Dan saat ini sang mama sedang dalam masalah, karena itu dia memohon untuk tinggal sementara waktu dengannya dan Karin.
Karin sebenarnya tidak masalah dengan hal tersebut, baginya mama Aiden juga adalah mamanya. Seperti Aiden yang selalu membantu dan menyenangkan mama Nirma, Karin juga berusaha melakukan hal yang sama pada ibu mertuanya tersebut.
Namun ternyata semua itu tidak mudah, dari awal memang Ayu tidak menyukai Karin. Selalu ada saja hal yang salah di mata Ayu saat Karin berusaha melakukan sesuatu untuk sang mertua.
Husband memanggil…
Karin sedang menepuk-nepuk paha putranya yang sedang tidur siang, lima menit lalu karin membawa Alvian ke kamar. Dia tidak ikut ngobrol dengan Ayu dan Nala, toh tidak ada gunanya juga dia nimbrung. Mereka berdua tidak akan menganggapnya ada, jadi Karin memilih menemani Alvian tidur siang.
Karin menggeser tombol hijau, wajah Aiden terpampang di layar. Mereka melakukan panggilan video.
“Ada apa, mas?”
“Kangen kamu sama Vian,”
“Kangen aku sama anak atau kangen mantan?”
“Kamu sayang, kangen kamu. Alvian mana?”
Karin mengarahkan layar ponselnya pada putra mereka yang sudah terlelap.
“Baru saja tidur dia, mas. Habis berkicau sama mantan kamu,”
Aiden tertawa, dia bisa membayangkan seperti apa tantrumnya Alvian saat pertama kali bertemu dengan Nala.
“Mas, ih. Malah ketawa,”
“Lagi ngebayangin kicau manianya Vian tadi, yank. Aku pulang awal hari ini,”
“Jangan lupa titipan Vian, mas. Ngambek nanti dia,”
“Siap yang mulia ratu,”
Karin mengakhiri panggilan video dengan suaminya, dia kembali meletakkan ponselnya diatas nakas. Siang itu Karin tidak perduli dengan Nala dan Ayu entah sedang mengobrolkan apa, sayup-sayup terdengar suara tawa mereka dari kamar Alvian padahal keduanya mengobrol di lantai satu ruang tamu.
Karin mengusap-usap kening putranya yang sedikit terusik, dia menatap wajah damai Alvian. Semenjak Alvian lahir, hidup Karin berubah. Bahkan penampilannya saat ini juga sudah jauh berubah, dia mengikuti kakak dan adiknya yang sudah lebih dulu berhijab.
Karin fokus membesarkan Alvian, dia tidak lagi bekerja semenjak keluar dari Allegra. Sebenarnya sangat bisa untuk Karin bekerja di Setyadarma ataupun Aikav, Aiden juga membebaskan Karin. Dia tidak membatasi istrinya jika ingin kembali mengejar karir, namun dengan kesadaran penuh justru Karin memilih untuk fokus pada keluarga kecilnya. Dia tidak ingin kehilangan momen tumbuh kembang Alvian, terutama di fase satu hingga lima tahun putranya tumbuh. Untuk saat ini Alvian dan aiden adalah dunia Karin.
Jika karin memilih untuk tidak perduli dengan apa yang sedang mama mertuanya rencanakan dengan Nala, berbeda dengan Ayu yang sumringah karena kedatangan Nala.
“Tante yakin Aiden tidak marah kalau Nala tinggal di sini?”
“Soal itu biar tante yang mengurusnya,” Ayu memang punya rencana agar Nala bisa ikut tinggal di rumah itu bersama dengannya, dengan begitu dia bisa membuat Aiden dan Nala lebih dekat.
Nala mengangguk. “Nanti aku bujuk papa agar dana untuk perusahaan om segera di cairkan,” jawab Nala, mereka sedang bertransaksi untuk kepentingan masing-masing. Nala menginginkan Aiden, sedangkan Ayu ingin perusahaan suaminya bisa kembali eksis.
“Kamu memang selalu bisa diandalkan, Nala. Memang hanya kamu yang pantas menjadi istrinya Aiden,” puji Ayu pada Nala.
Nanik hanya bisa menggeleng saat mendengar obrolan kedua wanita beda usia tersebut, dia sudah ikut Karin dan Aiden semenjak Alvian berumur satu bulan. terhitung sudah tiga tahun dia bersama dengan keluarga kecil tersebut. Nanik tentu tahu jatuh bangun Aiden dan Karin, bahkan belum lama ini Alvian baru keluar dari rumah sakit setelah mengalami diare yang lumayan parah. Dan Ayu sebagai nenek bukan menjenguk cucunya, paruh baya tersebut justru pergi jalan-jalan dengan Nala yang kala itu baru kembali ke Indonesia.
“Ngeri banget kalau punya mertua macam nenek rempong seperti bu Ayu. Kasihan bu Karin sama den ganteng,” gumam Nanik, dia lantas kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaannya.
***
Sore hari Karin sudah selesai membantu putranya mandi, dia memakaikan baju dan mendandani putranya tersebut.
“Anak siapa sih ini, hmm? Harum sekali,” Karin meng3cup kepala Alvian.
“Ekhehehe…anak mama Kalin cama papa Aiden,” Alvian sambil mendekap mainan robot kesayangannya. “Papa kapan pulangna mama? Pian ndak cabal mau makan batagol,” ucapnya.
Karin terkekeh. “Memangnya batagor enak sekali ya, sayang?”
Alvian mengangguk. “Enak lual biaca. Lebih enak lagi kalau yang beli na cama kakak Aletha dan onty Lhea,”
“Kalau beli sama mama berarti tidak enak ya, nak?” Karin pura-pura sedih, dia mencebik.
Melihat itu Alvian langsung menaruh mainannya di tempat tidur, dengan susah payah Alvian naik keatas tempat tidur. Bocah tiga tahun tersebut mendekati sang mama yang duduk di tepian kasur.
“Jajan cama mama itu bukan cuma enak lual biaca. Tapi campe telbawa mimpi, telngiang-ngiang cudah di pikilan ini. Cekalang mau nambah, becok na mau nambah. Mau nambah teluc lah kalau cama mama Kalin,” Alvian memeluk Karin dari samping, bocah itu pandai sekali mengolah kosa kata semenjak hari-harinya sering bermain dengan Aretha.
Karin gemas mendengar jawaban Alvian, dia langsung membalas dengan memeluk putranya dengan penuh cinta. Karin meng3cupi pipi dan puncak kepala putranya tersebut, setelah itu dia menggendong putranya menuju lantai satu.
“Papa kapan pulang na cih ini, ma? Pian cudah ndak cabal mau makan batagol, ciapa tahu papa bawa jajan yang icina keju molol-molol itu. Maltabak ndak nolak,” ocehnya sambil memainkan jilbab sang mama.
“Memangnya adek bisa habiskan semuanya?”
Alvian mengangguk. “Bica. Nanti Pian bagi-bagi dulu luang dalam pelut,” Alvian menunduk melihat perutnya. "Cebelah kanan atas batagol, kanan bawah maltabak. Macih ada cebelah kili, bial adil haluc diici jajan juga.” Ucapnya sambil menunjuk perutnya sendiri.
Karin terkekeh mendengar itu. “Malam ini adek ndak usah makan nasi sama minum susu berarti, ya!” Karin menggoda Alvian.
“Ndak bica di bialkan ini, makan naci bica di cekip. Tapi minum cucu cebelum adek tidul itu litual yang ndak bica di ganggu gugat,” Alvian sambil menggerakkan jarinya ke kanan dan ke kiri.
Karin tertawa mendengar celotehan Alvian, ada saja memang putranya tersebut. Mereka kemudian duduk di sofa ruang keluarga, ternyata di sana sudah ada mama mertuanya.
“Sore, ma.” Karin menyapa mertuanya, dia duduk di sofa yang berbeda sambil memangku Alvian.
“Hmm,”
“Mama-mama,”
“Iya, sayang. Ada apa?”
“Nenek ndak bica bicala, ya? Habicna jawab mama hana hmm,”
“Sembarangan kamu bocah. Aku bisa bicara dengan normal,” Ayu tidak terima saat cucunya mengatainya seperti itu.
“Ooo,” balas Alvian.
Wajah Ayu sudah terlihat memerah, dengan bocah tiga tahun tersebut dia memang tidak bisa menang. Selalu ada saja gebrakannya, seperti minggu lalu dia terpaksa harus bersusah payah mengambilkan balon milik Alvian yang tersangkut di balkon kamar.
“Nala sudah pulang, ma?” Karin mengalihkan perhatian mertuanya sebelum dia mengamuk pada Alvian.
“Sudah! Tadinya mau nunggu Aiden, tapi Nanik bilang Aiden pulang terlambat. Akhirnya Nala pulang,” ketus Ayu.
Karin tersenyum tipis, dia melihat kearah Nanik yang mengangkat dua jarinya membentuk peace karena sudah mengerjai Ayu dan Nala. Tapi Karin tidak masalah, dia berterimakasih pada Nanik tanpa suara karena sudah membantunya mengusir hama.
Untungnya Nala tahu diri dan memilih pulang begitu tahu kalau Aiden pulan terlambat, padahal Aiden saat ini sudah dalam perjalanan pulang. Nanik memang sengaja mengatakan kalau tadi tuannya itu memberitahu akan pulang terlambat, jadi Nanik bisa menyiapkan makan malam lebih dulu untuk Karin, Alvian dan Ayu.