NovelToon NovelToon
One Night Stand

One Night Stand

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Elvara Naysha kembali ke kota setelah lima tahun, membawa rahasia terbesar dalam hidupnya yaitu seorang putra bernama Rheon.

Ia ingin memulai hidup baru, sampai takdir mempertemukannya lagi dengan Zayden Alvero, CEO dingin yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya.

Zayden tak mengingat masa lalu itu, tetapi ia tak bisa mengabaikan wajah Rheon yang terlalu mirip dengannya.

Saat Zayden mulai mengejar kebenaran, Elvara harus memilih antara lterus menyembunyikan rahasia itu, atau menghadapi pria yang mungkin masih memiliki hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 Golongan Darah Yang Sama

Pagi datang perlahan di kamar rumah sakit itu, membawa cahaya yang masuk dengan lembut melalui celah tirai dan jatuh di lantai serta sisi ranjang tempat Rheon terbaring. Suasana terasa jauh lebih tenang dibandingkan malam sebelumnya, bunyi alat medis masih terdengar tetapi tidak lagi menekan, dan udara di dalam ruangan terasa lebih ringan meski belum sepenuhnya lega.

Elvara masih duduk di kursi yang sama sejak malam, tubuhnya sedikit condong ke depan dengan satu tangan tetap menggenggam tangan kecil Rheon. Ia hampir tidak tidur sama sekali, hanya sempat memejamkan mata beberapa menit di antara rasa cemas yang terus muncul setiap kali anak itu bergerak sedikit.

Setiap gerakan kecil membuatnya terjaga kembali, seolah tubuhnya sudah terbiasa siaga tanpa perlu diperintah. Namun pagi ini, ada satu hal yang berbeda, suhu di telapak tangan Rheon terasa lebih hangat secara normal, tidak lagi membakar seperti semalam, dan itu cukup untuk membuat napas Elvara sedikit lebih panjang.

Ia mengusap punggung tangan anak itu pelan, memastikan sekali lagi bahwa panasnya benar-benar turun. Wajahnya masih terlihat lelah, lingkar hitam di bawah mata tidak bisa disembunyikan, tetapi sorot matanya tidak setegang sebelumnya.

Di sisi lain ruangan, Zayden duduk tegak di sofa kecil dekat jendela dengan jas yang mulai kusut tanpa ia pedulikan. Ia juga tidak tidur, hanya sesekali memejamkan mata beberapa detik tanpa benar-benar terlelap, pikirannya terus bekerja tanpa henti sejak malam.

Tatapannya berulang kali jatuh ke arah ranjang, memperhatikan Rheon dalam diam sebelum kembali mengarah ke depan tanpa fokus jelas. Namun di balik sikap tenangnya, pikirannya bergerak cepat, menghubungkan hal-hal yang selama ini ia simpan, mencoba menahan kesimpulan yang terus muncul tanpa bisa dihentikan.

Pintu diketuk pelan, lalu terbuka setelah mendapat izin. Seorang dokter masuk bersama perawat dengan langkah tenang yang tidak terburu-buru, membawa suasana yang sedikit lebih profesional ke dalam ruangan yang sebelumnya dipenuhi kecemasan pribadi.

"Selamat pagi."

Elvara langsung berdiri, refleks yang muncul sebelum ia sempat berpikir.

"Bagaimana kondisi anak saya, Dok?"

Dokter mendekat ke sisi ranjang, memeriksa monitor, menyentuh dahi Rheon, lalu melihat catatan di tangannya sebelum mengangguk kecil.

"Demamnya sudah turun cukup signifikan. Respon tubuhnya juga baik dan stabil untuk saat ini."

Elvara menghela napas pelan tanpa sadar, bahunya sedikit turun karena beban yang sejak semalam menekan mulai berkurang.

"Namun kami tetap perlu observasi lebih lanjut untuk memastikan tidak ada komplikasi."

"Tentu, Dok."

Dokter mengangguk, lalu menoleh ke perawat yang berdiri di sampingnya.

"Pastikan juga stok untuk golongan darahnya tersedia kalau sewaktu-waktu diperlukan."

Elvara sedikit mengernyit, kalimat itu menarik perhatiannya.

"Golongan darah?"

Dokter menoleh kembali dengan ekspresi yang tetap tenang.

"Anak Anda memiliki golongan darah yang cukup langka, jadi kami perlu memastikan semuanya siap sebagai langkah antisipasi."

Di sudut ruangan, Zayden yang sejak tadi diam langsung mengangkat kepala. Perhatiannya yang semula tersebar kini langsung terfokus pada satu hal.

"Langka?"

Dokter menoleh ke arahnya.

"Iya. Tidak semua rumah sakit memiliki stok yang cukup untuk tipe ini."

"Apa golongannya."

Dokter menyebutkan satu istilah dengan singkat, tanpa penjelasan panjang.

Suasana di ruangan itu berubah dalam satu detik yang tidak terlihat, tetapi terasa jelas.

Elvara masih fokus pada dokter, mencoba memahami informasi yang diberikan.

"Apakah itu berbahaya?"

"Tidak selama kami bisa menangani dengan cepat. Hanya perlu perhatian ekstra."

Elvara mengangguk pelan.

"Baik, Dok."

Dokter memberikan beberapa instruksi tambahan kepada perawat, lalu keluar dari ruangan dengan langkah yang sama tenangnya seperti saat masuk.

Pintu tertutup kembali, menyisakan keheningan yang terasa berbeda dari sebelumnya.

Lebih berat.

Lebih dalam.

Zayden tidak bergerak dari tempatnya. Tatapannya tidak lagi kosong, melainkan tertahan pada satu titik yang tidak terlihat, sementara pikirannya seperti dihantam sesuatu yang terlalu jelas untuk diabaikan.

Golongan darah itu.

Ia mengenalnya dengan sangat baik, bukan sekadar tahu secara umum, tetapi karena ia sendiri memiliki tipe yang sama. Tidak umum, tidak sering ditemukan, dan bukan sesuatu yang mudah dianggap kebetulan jika muncul dalam situasi seperti ini.

Tangannya mengepal perlahan tanpa ia sadari, tekanan di dalam dadanya berubah menjadi sesuatu yang lebih berat dari sebelumnya. Semua potongan yang selama ini ia kumpulkan seperti bergerak sendiri, jatuh pada tempat yang sama tanpa perlu dipaksa.

Tanggal kelahiran yang sudah ia hitung berulang kali.

Reaksi Elvara yang selalu menghindar.

Cara Rheon menatap dan berbicara.

Dan sekarang, golongan darah yang sama.

Ia menarik napas dalam, mencoba menjaga pikirannya tetap berada di jalur logis. Ia berusaha mencari kemungkinan lain, membuka ruang untuk kebetulan, mencari celah kecil yang bisa membuat semuanya tidak berhubungan.

Namun semakin ia mencoba, semakin jelas satu hal.

Semua ini terlalu banyak untuk disebut kebetulan.

Ia mengangkat kepala perlahan, matanya kembali jatuh pada Rheon yang masih tertidur dengan napas yang sudah lebih teratur. Wajah anak itu tampak lebih tenang, tidak lagi tegang seperti semalam, dan entah kenapa, pemandangan itu terasa berbeda baginya sekarang.

Lebih dekat.

Lebih nyata.

Dan sulit untuk dianggap sebagai sesuatu yang tidak berkaitan.

Zayden berdiri, langkahnya pelan saat mendekat ke sisi ranjang. Ia berhenti tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk melihat lebih jelas setiap detail kecil yang selama ini mungkin ia abaikan.

Garis wajah itu.

Bentuk mata yang tertutup tenang.

Cara napasnya naik turun secara teratur.

Semua terlihat sederhana, tetapi kini terasa seperti sesuatu yang harus ia perhatikan lebih lama.

Ia menelan pelan, mencoba menahan satu kesimpulan yang terus muncul tanpa bisa ia hentikan. Bukan lagi sekadar dugaan yang bisa diputarbalikkan, melainkan sesuatu yang semakin jelas setiap kali ia mencoba menjauh darinya.

Di sisi lain, Elvara memperhatikan perubahan itu dengan diam. Ia mungkin tidak mendengar seluruh percakapan dengan jelas, tetapi reaksi Zayden sudah cukup untuk memberinya petunjuk.

Jantungnya berdetak lebih cepat, rasa dingin menjalar dari ujung jari hingga ke seluruh tubuhnya. Ia mengenal pria itu cukup lama untuk tahu bahwa perubahan seperti itu tidak terjadi tanpa alasan yang kuat.

Ia berdiri perlahan dari kursi, berusaha menjaga sikap tetap tenang meski pikirannya mulai kacau.

"Kenapa."

Pertanyaannya pelan, tetapi cukup untuk memecah keheningan yang mulai terasa menekan.

Zayden tidak langsung menjawab. Ia masih menatap Rheon beberapa detik sebelum akhirnya berbicara.

"Golongan darahnya."

Elvara membeku.

Kalimat itu singkat, tetapi maknanya terlalu jelas untuk diabaikan. Ia tidak membutuhkan penjelasan tambahan karena ia tahu persis ke arah mana pikiran pria itu bergerak.

Tangannya langsung terasa dingin, napasnya sedikit tersendat meski ia berusaha tetap terlihat tenang.

"Itu hanya kebetulan."

Kalimat itu keluar cepat, lebih cepat dari yang seharusnya, seolah ia mencoba menutup sesuatu sebelum benar-benar terbuka.

Zayden akhirnya menoleh, menatapnya langsung.

Tatapan itu berbeda dari sebelumnya. Tidak lagi penuh keraguan atau sekadar curiga, melainkan sesuatu yang lebih pasti dan lebih sulit digoyahkan.

"Kamu masih mau bilang itu kebetulan."

Elvara tidak menjawab. Ia tahu setiap kata yang keluar sekarang justru akan membuat semuanya semakin jelas.

Zayden melangkah mendekat satu langkah.

"Berapa banyak kebetulan yang kamu butuhkan supaya ini tetap disebut kebetulan."

Nada suaranya tetap rendah, tetapi setiap kata terasa berat dan menekan tanpa perlu dinaikkan.

Elvara menunduk, pikirannya bergerak cepat mencari jawaban yang tidak ia temukan. Karena jauh di dalam dirinya, ia juga tahu bahwa semua ini sudah terlalu jelas untuk disangkal.

Ia mengangkat wajah perlahan, matanya bertemu dengan mata Zayden.

"Aku hanya ingin hidup tenang."

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengandung sesuatu yang lebih dalam dari sekadar permintaan biasa.

Zayden terdiam, tidak langsung membalas. Ia bisa menangkap apa yang tersembunyi di balik kata-kata itu, ketakutan yang tidak diucapkan, keputusan yang diambil sendirian, dan alasan yang tidak pernah ia ketahui sepenuhnya.

Ia mengalihkan pandangan kembali ke Rheon.

Anak itu sedikit bergerak, tangannya bergeser di atas selimut. Tanpa berpikir, Zayden langsung menahan selimut agar tidak jatuh, gerakan kecil yang terasa alami seolah sudah sering ia lakukan.

Hal sederhana itu justru membuat perasaannya semakin kuat.

Ia menatap Rheon lebih lama, lalu berbicara pelan, suaranya hampir seperti gumaman.

"Ini tidak mungkin salah."

Elvara menutup mata sejenak, kalimat itu terasa seperti batas yang selama ini ia hindari akhirnya terlewati.

Ia tahu apa artinya.

Ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini.

Dan yang paling ia tahu, Zayden sudah sampai pada titik di mana ia tidak akan mundur lagi.

Keyakinan itu sudah terbentuk, dan tidak akan hilang hanya dengan penyangkalan atau alasan sederhana.

Pagi itu, di kamar rumah sakit yang sunyi dengan cahaya matahari yang semakin terang, kebenaran berdiri begitu dekat tanpa penutup. Tidak ada lagi jarak yang cukup untuk menyembunyikannya, dan tidak ada cara mudah untuk kembali ke keadaan sebelumnya.

1
Wiewi Maulana
kenapa jadi mutar mutar thor,dari awal cerita nya menarik padahal
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Lisa
Akhirnya Zayden menanyakan hal itu..ayo Elvara jawablah dgn jujur..
Lisa
Koq Elvara kabur sih..mestinya dihadapi toh Zayden mau bertanggungjawab sebagai papanya Rheon...kembali Elvara kasihan Rheon..
Lisa
Cepat sembuh y Rheon..
Lisa
Kapan y Elvara mengakui bahwa Rheon adalah putranya Zayden
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
masih mbulleeedd
Nindy bantar
mampir thor seperti nya seru👍
Nindy bantar
💪💪💪
𝐀⃝🥀Weny
ikatan darah gak bisa dibohongi😊
Lisa
Kapan y Elvara mengatakan yg sebenarnya pada Zayden bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah ini saatnya Elvara mengakui semuanya..kalau Rheon adalah putra dari Zayden.
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
pusing thor, berulang-ulang terus dgn fakta yg itu2 aja😒
Lisa
Akhirnya Zayden tahu bahwa Rheon adalah putranya
Lisa
Nah udh keliatan sekrg klo Zayden emg mencintai Elvara
Hennyy exo
di bab ini penasaran banget sama masa lalu mereka🤭
Hennyy exo
suka banget alurnya
✮⃝🍌 ᷢ ͩ ~ Ꮢнιєz༄⃞⃟⚡
gasskeun lah bang zay.. selidiki rheon anak mu apa bukan.. biar makin jelas posisi mu saat membela n mempertahankan keberadaannya
Lisa
Kapan y Zayden bisa mendekati Rheon lagi..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!