"Menikahlah dengan cucu keluarga Wijaya, setelah kakek meninggal. "
"Menikah!, sekarang? "ucap Salsa terkejut.
Salsa tidak percaya dengan ucapan kakeknya yang terbaring lemah di rumah sakit, tiba-tiba saja dia harus menikah dengan cucu temannya yang seorang polisi bernama Rian.
karena itu wasiat kakeknya yang sudah membesarkan dirinya setelah kedua orang tuanya meninggal, dirinya pun pergi ke kota membawa alamat, surat wasiat yang akan diberikan oleh keluarga Wijaya dan cincin pertunangan mereka.
Tapi Salsa menutupi identitas aslinya yang bisa melihat arwah, karena Rian orang yang sensitif jika menyangkut masalah seperti itu.
Tapi kemampuan special Salsa itu bisa membantu Rian memecahkan beberapa kasus yang sulit untuk di pecahkan.
bagaimana cerita pernikahan mereka yang banyak sekali perbedaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20.Bergadang membuat sketsa.
Langkah kaki Rian terdengar semakin dekat. Pria itu berjalan cepat menuju mobil, diikuti oleh seorang rekan sesama polisi yang tampak juga kelelahan.
Salsa yang melihat itu langsung memberikan kode mata dan isyarat tangan cepat ke arah arwah wanita di kursi belakang.
"Sstt! Cepat pergi sembunyi! Dia datang!" isyarat Salsa panik tapi pelan.
Arwah wanita itu mengerti. Ia tersenyum tipis penuh terima kasih, lalu tubuhnya perlahan memudar seperti asap, menghilang begitu saja ke dalam dinding mobil tepat sebelum pintu mobil terbuka.
Bruk.
Pintu terbuka dan Rian masuk dengan wajah serius namun sedikit lelah. Ia langsung menyalakan mesin, suaranya yang berat memecah keheningan.
"Maaf bikin nunggu lama, Sal. Ada masalah sedikit," ucap Rian sambil memundurkan mobil.
Salsa yang sudah kembali tenang, menatap suaminya dengan rasa penasaran. "Kak Rian ngapain sih di dalam sampai lama banget? Malam-malam begini masih ada kasus berat ya?"
Rian menghela napas panjang, tangannya memutar setir dengan lihai. Wajahnya tampak lebih gelap dari biasanya.
"Iya. Kasus yang lagi hangat. Kita kehilangan salah satu anggota tim," jawab Rian pelan.
"Hah? Kehilangan? Maksudnya gimana?" tanya Salsa kaget.
"Polwan yang kita suruh menyamar untuk menyelidiki kasus pembunuhan berantai tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Komunikasi terputus, GPS mati. Kami khawatir dia tertangkap atau... terjadi sesuatu yang buruk padanya," jelas Rian dengan nada berat.
Salsa ternganga. Ia baru sadar betapa berisikonya pekerjaan suaminya ini. Tapi kemudian pikirannya kembali melayang pada arwah wanita tadi.
Jangan-jangan...
"Terus... sudah ada petunjuk?" tanya Salsa hati-hati.
"Belum. Masih gelap. Itu yang bikin pusing," Rian mengusap keningnya. "Kadang kalau kasus begini, bukti fisik saja tidak cukup. Butuh keberuntungan atau..." Rian terdiam sejenak, "...atau sesuatu yang di luar nalar."
Salsa menelan ludah. Ia tahu Rian sebenarnya orang yang sangat logis, tegas, dan berani menghadapi penjahat bersenjata api. Tapi anehnya, kalau soal hal-hal yang berbau mistis, hantu, atau arwah, Rian itu tipe orang yang sensitif dan... bisa dibilang agak takut atau tidak nyaman. Makanya Salsa tidak membicarakan masalah arwah pada Rian.
Tapi sekarang, ada kesempatan emas.
"Kak Rian..." panggil Salsa lembut.
"Hmm?"
"Kalau... misalnya ada orang yang butuh bantuan mencari tahu identitas seseorang. Orang itu hilang entah kemana, tidak ada yang tahu namanya, tidak ada KTP, apa Kakak bisa bantu?"
Rian menoleh sekilas, lalu tersenyum kecil. "Tentu saja bisa. Itu kan tugas kami. Selama ada ciri-cirinya, ada fotonya, atau ada sketsa wajahnya, kami bisa lacak data di sistem. Sesulit apa pun, selama ada wajahnya, Pak Rian Wijaya pasti bisa cari tahu siapa dia."
Mata Salsa berbinar-binar. Wah, ternyata punya suami polisi itu menguntungkan sekali!
Biasanya, kalau Salsa bertemu arwah gentayangan yang tidak ingat siapa dirinya, prosesnya bisa sangat lama. Kadang berbulan-bulan, bahkan pernah ada yang sampai setahun baru ketahuan identitasnya lewat cara-cara yang sulit. Tapi sekarang? Cukup gambarkan wajahnya, berikan ke Rian, dan beres!
"Benar kan? Janji ya kalau ada gambarnya Kakak pasti bantu cari datanya?" tanya Salsa memastikan.
"Iya, janji. Serahin aja sama Kakak," jawab Rian yakin.
"Asik!" Salsa tersenyum lebar. "Oke, kalau gitu nanti kalau aku ketemu lagi sama dia, aku minta izin dulu sama Kakak ya."
Rian tertawa kecil mengira Salsa hanya bercanda atau berimajinasi. "Iya iya, anak baik. Sekarang istirahat ya, mata sudah merah tuh."
Perjalanan pulang pun terasa lebih ringan bagi Salsa. Rasa lelahnya berkurang karena ada misi baru yang harus diselesaikan.
Sesampainya di Rumah Kediaman Rian
Rumah itu besar dan megah, namun sangat sunyi di malam hari. Rian mengantar Salsa sampai ke depan pintu kamarnya yang berada di lantai dua.
"Kamar kamu di sini. Istirahat yang cukup ya. Besok kita urus administrasi sekolah kamu," kata Rian lembut, lalu tanpa sengaja ia mengusap puncak kepala Salsa.
Sentuhan itu membuat jantung Salsa berdegup kencang. "I-iya Kak. Makasih. Kakak juga istirahat ya."
Salsa buru-buru masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.
KLIK.
Ia segera memutar kunci pintu ganda agar aman.
"Fuhh... akhirnya sendirian," desah Salsa lega.
Tanpa membuang waktu, Salsa langsung melempar tasnya ke atas kasur, lalu berlari kecil menuju meja belajar yang sudah disiapkan. Ia mengambil buku sketsa besar dan pensil arsir favoritnya.
Salsa tidak hanya bisa melihat arwah, ia juga memiliki bakat seni yang luar biasa. Ingatannya terhadap wajah seseorang—atau sesuatu—sangat tajam. Ia bisa menggambar ulang wajah yang baru dilihatnya sekali saja dengan detail yang sangat akurat.
"Oi... Mbak Arwah! Kamu dimana? Keluar dong!" panggil Salsa pelan tapi jelas ke ruangan kosong.
Wusss...
Dalam sekejap, sosok wanita bergaun putih itu muncul tepat di samping meja, melayang sedikit di udara sambil tersenyum malu-malu.
"Nona... sudah sampai rumah ya? Maaf aku ikut sampai sini soalnya takut kesasar lagi," ucap arwah itu lemah.
"Iya nggak apa-apa. Sini sini, cepat duduk—eh maksudnya melayang di situ aja," Salsa menunjuk kursi kosong. "Aku mau gambar wajah kamu biar suamiku bisa cari tahu siapa nama kamu dan keluarga kamu di mana. Nanti kamu bisa tenang."
"Wah... benar? Terima kasih banyak, Nona! Anda benar-benar malaikat penolongku!" arwah itu tampak sangat bahagia, aura sedihnya sedikit berkurang.
Salsa tersenyum, lalu tangannya mulai bergerak lincah.
Gres... gres... gres...
Suara gesekan pensil di atas kertas terdengar ritmis di dalam kamar yang hanya diterangi lampu tidur. Salsa sangat fokus. Ia mengingat setiap detail wajah wanita itu. Bentuk mata yang agak lonjong, hidung yang mancung, bibir tipis, dan rahang yang tirus.
Sambil menggambar, Salsa sesekali melihat ke arah arwah itu untuk mencocokkan detail.
"Jangan gerak-gerak dong Mbak, nanti gambarnya jadi kurang mirip," tegur Salsa.
"Hehe maaf, seneng banget akhirnya ada yang peduli," jawab arwah itu sambil menahan diri agar tetap diam.
Dalam waktu kurang dari satu jam, sebuah gambar wajah yang sangat hidup dan jelas sudah tercipta di atas kertas. Itu adalah wajah wanita muda yang cantik, namun terlihat menyedihkan.
"Selesai!" Salsa menghela napas puas, lalu menepuk-nepuk kertasnya. "Gimana? Mirip kan?"
Arwah itu menempelkan wajahnya—meski tembus pandang—sangat dekat ke kertas, matanya membelalak takjub.
"Mirip! Sangat mirip! Persis seperti aku saat masih hidup! Wah, nona hebat sekali! Bakatmu luar biasa!"
Salsa tersenyum bangga. "Alhamdulillah. Besok pagi-pagi sekali aku kasih ini ke Kak Rian. Pasti dalam hitungan jam dia sudah bisa cari data lengkap kamu."
"Terima kasih... terima kasih banyak Salsa," mata arwah itu berkaca-kaca, kali ini tidak ada air mata yang keluar, hanya cahaya kebiruan yang memancar. "Aku tidak tahu harus membalas budi bagaimana."
"Udah santai aja. Tugas aku emang gitu, bantuin arwah yang kesusahan biar bisa tenang," jawab Salsa santai sambil merapikan alat tulisnya. "Tapi inget ya janjinya! Kalau ada suamiku atau orang lain, kamu jangan nongol! Apalagi Kak Rian itu... hm, dia agak sensitif kalau lihat kamu-kamu gitu. Jadi jangan kagetin dia ya!"
"Iya-iya! Aku janji! Aku akan sembunyi rapat-rapat kalau dia ada di dekat sini!" janji arwah itu antusias.
Malam itu, Salsa akhirnya bisa berbaring di kasur empuknya. Ia memeluk buku sketsa yang berisi wajah arwah tadi dengan erat.
Rasanya aneh tapi nyaman. Hari ini ia baru saja menikah, bertemu suami yang gagah tapi agak 'penakut' soal hantu, dan kini setiap ada kasus arwah yang minta tolong cepat selesai berkata Rian.
"Selamat tidur Mbak... besok kita cari tahu siapa kamu sebenarnya," bisik Salsa sebelum memejamkan mata.
Dan di sudut kamar, sosok putih itu duduk bersimpuh, menatap gadis itu dengan penuh harap, berharap esok hari akan menjadi akhir dari pengembaraannya yang panjang dan menyedihkan.
up nya tiap hari doooooooo😅🙏
bagus banget
bisa dinikmati
lanjut 👍👍👍👍👍