"Sabar itu ada batasnya, Laras. Dan batasmu adalah kematianmu sendiri," bisik Dimas tepat di telingaku, saat tangannya dengan lembut mengusap kepalaku yang tertutup hijab.
Di depan semua orang, Dimas adalah suami saleh dan pengacara terpandang yang setia menjaga istrinya yang lumpuh. Namun, di balik pintu kamar, ia adalah iblis yang meracuniku setiap hari. Ia menghancurkan tubuhku demi membalas dendam masa lalu dan menguasai harta warisan orang tuaku untuk wanita lain.
Aku terjebak dalam tubuh yang tak bisa bergerak. Namun, di atas kursi roda ini, aku bersujud dalam hati. Aku berhenti meminum racun itu dan mulai berpura-pura lumpuh. Di saat Dimas merasa telah menang, ia tidak tahu bahwa aku mengawasi setiap langkah busuknya.
Aku memang istri yang kau buang, Dimas. Tapi ingatlah, doa orang yang terzalimi tidak akan pernah terhalang oleh langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jeratan di Dunia Maya
Matahari pagi baru saja menyembul di balik gedung-gedung tinggi Jakarta saat aku sudah duduk tegak di depan laptop. Sinar fajar yang hangat menerpa wajahku, namun pikiranku sedingin es. Di sampingku, Zaidan baru saja meletakkan dua cangkir kopi hitam yang mengepulkan uap tipis.
"Semua jalur publikasi sudah siap, Laras," ucap Zaidan, suaranya tenang namun ada nada ketegangan yang tertahan. "Tim siberku sudah memastikan bahwa begitu kau menekan tombol publish, algoritma platform akan langsung mendorong bab ini ke halaman utama."
Aku mengangguk pelan. Jemariku melayang di atas papan ketik. Aku menatap judul draf yang sudah kusiapkan sejak subuh tadi: Bab Spesial: Runtuhnya Dinasti Sang Tuan Besar.
Di dalam bab ini, aku menuliskan sebuah cerita "fiksi" yang sangat detail. Tentang seorang penguasa korporat berinisial A.M. yang tega membunuh mitra bisnisnya sendiri demi merebut hak paten teknologi, lalu menggunakan kaki tangannya untuk melumpuhkan putri korban agar rahasia itu terkubur selamanya. Nama-nama karakter dalam bab ini disamarkan dengan sangat tipis, namun siapa pun yang membaca berita nasional belakangan ini pasti akan langsung tahu siapa yang dimaksud.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menekan tombol Enter.
Bab Berhasil Diunggah.
"Sekarang, mari kita lihat bagaimana cara sang Tuan Besar membersihkan namanya dari amukan netizen," bisikku sambil bersandar di kursi, menyesap kopi hitamku yang pahit.
Tepat pukul 07.30 WIB, di kediaman mewah keluarga Mahendra.
Adrian Mahendra sedang duduk di meja makan marmernya, menikmati sarapan pagi yang mewah sebelum bersiap menghadapi penggeledahan Kejaksaan yang sudah ia antisipasi. Ia mengira situasinya masih bisa dikendalikan dengan uang dan koneksi hukumnya.
Namun, ketenangannya pecah saat sekretaris pribadinya berlari masuk ke ruang makan dengan wajah pucat pasi dan napas terengah-engah.
"Tuan... Tuan Besar! Anda harus melihat ini!" sekretaris itu menyodorkan sebuah tablet dengan tangan gemetar.
"Ada apa?! Kenapa kau panik seperti orang bodoh?" bentak Adrian, merebut tablet itu dengan kasar.
Di layar tablet, sebuah aplikasi novel online nomor satu di Indonesia sedang menampilkan angka pembaca yang melonjak gila-gilaan. Bab terbaru dari novel Sandiwara Istri yang Terbuang telah dibaca oleh lebih dari dua juta orang dalam waktu kurang dari satu jam. Yang membuat Adrian terbelalak hingga urat lehernya menegang adalah kolom komentar yang dipenuhi oleh ribuan hujatan dari netizen.
@NetizenJulid: "Eh, kalian sadar gak sih? Inisial A.M. di bab ini... jangan-jangan Adrian Mahendra?! Kan perusahaannya lagi anjlok sahamnya!"
@DetektifSosmed: "Sumpah, plot kecelakaan mobil di bab ini mirip banget sama kasus kecelakaan Hermawan tiga tahun lalu! Jangan-jangan ini cerita nyata?!"
@KeadilanUntukLaras: "Gila! Kalau ini bener, Adrian Mahendra itu pembunuh! Boikot semua produk Mahendra Group!"
"Kurang ajar!" Adrian menghempaskan tablet itu ke lantai hingga layarnya hancur berkeping-keping. Napasnya memburu, wajahnya memerah karena murka yang luar biasa. "Gadis sialan itu... dia menggunakan cerita khayalan ini untuk menelanjangiku di depan publik!"
"Tuan Besar, efeknya sangat buruk," ucap sang sekretaris dengan suara mencicit. "Tagar #TangkapAdrianMahendra langsung menjadi trending topic nomor satu di media sosial. Beberapa investor lokal yang tadi malam berjanji akan membantu kita, baru saja membatalkan janji temu mereka secara sepihak karena takut terseret skandal pembunuhan ini."
Adrian mengepalkan tinjunya hingga bergetar. "Hubungi kementerian komunikasi! Bayar tim siber mana pun! Hapus novel itu dari internet sekarang juga!"
"T-tidak bisa, Tuan... Server platform tersebut dilindungi oleh enkripsi tingkat tinggi yang tidak bisa ditembus. Setiap kali tim siber kita mencoba memblokirnya, tautan novel itu justru menduplikasi diri ke ribuan situs web lain. Seseorang yang sangat ahli sedang menjaga novel itu agar tetap menyala."
Adrian terduduk di kursinya, matanya menatap kosong ke lantai. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang Tuan Besar merasakan fondasi istana megahnya mulai diguncang oleh sesuatu yang tidak bisa ia beli dengan uang: opini publik yang digerakkan oleh jemari seorang wanita.
Pukul 09.00 WIB.
Ponsel terenkripsi milik Zaidan berbunyi, menampilkan siaran langsung dari kamera pengawas di depan kantor pusat Mahendra Group. Tiga mobil minibus hitam milik Kejaksaan Agung baru saja berhenti tepat di depan lobi utama gedung pencakar langit tersebut. Belasan petugas berseragam rompi khusus turun, membawa map-map besar untuk melakukan penggeledahan paksa.
Namun, yang menarik adalah ratusan wartawan dan puluhan demonstran dari kalangan netizen sudah berkumpul di sana, memegang spanduk bertuliskan kata-kata yang persis sama dengan yang kutulis di novelku semalam.
Aku menatap layar televisi dengan perasaan yang membuncah. Rasa hangat perlahan merayap di dadaku.
"Kau melihatnya, Ayah? Ibu?" bisikku lirih, air mata haru menggenang di sudut mataku. "Mereka tidak bisa lagi menyembunyikan kejahatan mereka di dalam bayangan."
Zaidan berjalan mendekat, lalu meletakkan tangannya di atas pundakku dengan lembut, memberikan kekuatan. "Ini adalah kemenangan pertama kita, Laras. Adrian tidak akan bisa mengelak lagi dari pemeriksaan Kejaksaan karena seluruh mata masyarakat kini tertuju padanya. Jika hukum sempat tertidur karena uangnya, maka tulisanmu baru saja memaksa hukum untuk bangun dengan paksa."
Aku menoleh menatap Zaidan, tersenyum tulus. "Ini belum berakhir, Zai. Adrian belum memakai baju tahanan. Dia pasti akan mencari cara terakhir untuk membalas dendam."
"Dan kita akan selalu siap menyambutnya," jawab Zaidan dengan binar mata yang penuh tekad.
Aku kembali membuka ponselku, menatap logo draf novelku yang kini telah menjadi simbol perlawanan nyata. Di atas luka lama yang dibuat oleh Dimas dan Maya, aku sedang menulis naskah takdirku sendiri. Dan tidak akan ada seorang pun, bahkan seorang Tuan Besar sekalipun, yang bisa menghentikan penulisan bab terakhir dari pembalasan dendamku.