Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32 Sewa Dua Jam
Di tempat kerja, Aksa saat ini sedang membersihkan meja-meja yang kotor. Dan membuang sampah-sampah yang berserakan. Lalu, ia menaruh piring-piring kotor ke wastafel untuk di cuci oleh Isan. Hari ini toko sedikit sepi dan tidak banyak pelanggan yang datang. Aksa duduk sebentar setelah melakukan beberapa pekerjaan dan membuka ponselnya. Ia kembali melihat info soal balapan liar di forum sekolahnya. Ia masih memikirkannya dan beberapa kali ingin menekan link pendaftaran. Tapi ia menjadi lebih frustasi karena ia tidak bisa melakukannya.
"Sa? Loh kenapa? " tanya seseorang membuta Aksa terhenyak kaget dan menaruh ponselnya ke dalam saku celana.
"Gak papah La. Tumben jam segini loh udah kemari. Gak pergi les? " sahut Aksa sekedar basa-basi.
Lala tersenyum senang dan duduk di sampingnya. "Tumben, untuk pertama kalinya loh mau bertanya sama gue. " Namun Aksa tidak menggubrisnya dan hanya diam. "Gue lagi males aja. Jadi gue izin gak pergi les hari ini, " tambah Lala menjawab pertanyaan Aksa tadi.
"Oh." Aksa menyahut dengan begitu singkat.
"Sa? " panggil Lala lagi dengan nada yang begitu rendah dan terdengar sedih.
"Em? " jawab Aksa dengan dingin.
"Loh beneran pacaran sama Devina? " tanya Lala lagi mempertanyakan hal yang sudah ia ketahui sebelumnya. Namun, ia bertanya hanya karena ingin kembali memastikan kebenarannya.
"Iyah. Kenapa? " Aksa pun tidak mengerti mengapa Lala mempertanyakan hal yang sudah jelas ia dengar dan tahu jawabannya.
"Sejak kapan? " tanya Lala lagi membuat Aksa semakin tidak mengerti arah dari pertanyaannya itu.
"Mulai hari ini. Loh juga kan udah tahu, " jawab Aksa begitu datar dan dingin kepada Lala. Membuat Lala semakin merasa sedih. Padahal ia lebih lama kenal Aksa dibandingkan Devina. Tapi kenapa Aksa tidak pernah meliriknya sama sekali sampai detik ini dan malah memilih menaruh hati terhadap orang lain.
"Tapi kenapa harus Devina? " tanya Lala lagi kali ini ia bertanya karena penasaran jawaban apa yang akan Aksa berikan atas pertanyaannya tersebut.
"Memangnya kenapa lagi? Karena gue menyukainya. Sorry, gue gak tahu alasan loh mempertanyakan nya. Tapi, ini bukan urusan loh. Gue suka sama siapa dan ingin bersama siapa?"
Aksa beranjak berdiri dan melengos pergi ke belakang untuk membantu apakah ada pekerjaan yang bisa ia kerjakan saat ini. Lala merasa sangat sedih juga patah hati. Ia marah sekali karena hatinya sangat hancur. Padahal selama ini ia selalu melakukan yang terbaik untuk Aksa. Tapi sedikit pun Aksa tidak pernah melihat niat baiknya dan selalu mengabaikannya. Ia selalu saja bersikap sangat dingin padahal sudah lama saling kenal.
"Devina? Gue gak akan biarin dia. Dia gak pantas buat loh, Sa. Dia gak pantas, " geramnya mengoceh sendirian sambil mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat.
Disisi lain Devina berbaring di kasur empuknya sambil bermain ponsel. Ia lupa belum menelpon Aksa sejak pulang tadi. Lantas, ia pun menekan nomor yang ia simpan dengan nama 'Pacar Keren' di ponselnya.
Devina menunggu konfirmasi dari pihak nomor yang telepon tersebut. Dan tidak lama terdengar suara yang tidak asing menyapanya dari sebrang telepon.
"Hallo? Loh udah sampai rumah dengan selamat? "
"Iyah. Gue sudah di rumah sekarang. Loh sedang bekerja sekarang? " tanya Devina menyelidiki takut kalau ia mengganggu pekerjaannya.
"Syukurlah. Hari cukup sepi. Gue gak terlalu sibuk juga. "
"Oh yah? Kalau begitu, mau mampir ke rumah? Gue kangen banget sama loh. "
"Tidak bisa. Gue tetap harus disini. Takutnya ada yang pesan Delivery nanti. "
Devina sedikit kecewa karena Aksa menolaknya. Lantas, ia pun memikirkan cara yang ampuh supaya Aksa bisa datang ke rumahnya tanpa harus merasa bersalah karena bolos bekerja.
"Kalau begitu, sudah dulu yah. "
Devina memutus teleponnya dengan tiba-tiba, membuat Aksa merasa bersalah dan berpikir kalau Devina saat ini sedang marah kepadanya karena menolaknya. Aksa tidak bisa berbuat lebih karena pekerjaannya adalah tanggung jawab yang bisa ia abaikan seenaknya meskipun toko sedang sepi. Namun, beberapa waktu kemudian Suryadi memanggil Aksa untuk pesanan Delivery.
"Sa? Pesanan, tolong antar yah! " seru Suryadi.
Aksa datang menghampiri Suryadi. Dan melihat tumpukan pesanan yang begitu banyak. "Sebanyak ini? " tanya Aksa terkejut.
"Iyah. Dia pelanggan setia kita. Jadi antarkan tepat waktu jangan sampai terlambat. Dan juga, dia meminta pada Paman untuk menyewa waktu kerjamu untuk dua jam ke depan. Paman tidak bisa menolak, karena dia memberi paman banyak uang. Pergilah sekarang! Ingat jangan telat! " seru Suryadi sambil melengos pergi ke belakang sambil tergesa-gesa.
Aksa tertawa kecil mencurigai seseorang saat ini. Ia pun tidak banyak berpikir dan bergegas mengangkut semua pizza tersebut untuk diantarkan ke alamat yang sangat tidak asing baginya. Tidak butuh waktu lama, ia akhirnya sampai di alamat rumah Devina. Ia menekan tombol bel dan menunggu seseorang membukakan pintu gerbangnya. Sesuai dugaannya Devina adalah orang yang membukakan pintu gerbang untuk dirinya.
"Pesanan anda sudah sampai. Apakah saya terlambat, Nona manis? " ucap Aksa menggoda Devina sambil bercanda.
Namun, Devina hany tersenyum lebar penuh semangat. Lalu, begitu saja ia memeluk Aksa dengan sangat erat. "Gue kangen banget sama loh! " bisiknya.
"Kalau begitu gawat. Kita bahkan belum berpisah selama untuk waktu yang lama. Loh udah kangen sama gue? Gue takut loh akan kesulitan tidur malam ini karena kangen berat sama gue, " ujar Aksa lagi terus saja menggoda Devina.
"Ih apaan sih! Ayo masuk! Dua jam ke depan loh harus nemenin gue! " seru Devina sambil menarik tangan Aksa untuk masuk ke dalam tanpa ragu.
"Baiklah, Nona. Pria panggilan anda ini siap untuk menemani, " balas Aksa lagi terus saja bercanda kepada Devina untuk menggodanya.
"Sudah ah! Jangan lakukan itu, " tegur Devina merasa malu sendiri karenanya.
Lantas, Aksa masuk ke dalam dan menaruh semua pizza itu di atas meja yang ada di ruang tamu. Saat masuk Aksa begitu kagum melihat ruangan yang mewah dengan koleksi pajangan yang terlihat sangat maha. Untuk sesaat ia merasa malu dan tidak pantas untuk menginjakkan kaki di sana.
"Duduklah dulu. Gue ambilin loh minum, " ucap Devina hendak pergi namun Aksa segera menangkap tangannya lalu menariknya hingga jatuh dalam pelukannya.
"Gue gak tahu apa gue pantas buat loh untuk saat ini. Tapi, gue janji di masa depan gue akan berusaha untuk memantaskan diri di depan loh, di depan orang tua loh. Karena itu bisakah loh tetap disisi gue sampai saat itu tiba? " ujar Aksa.
Devina paham dan mengerti mengapa Aksa berkata demikian. Ia membalas pelukan Aksa dengan lembut. "Tentu saja. Gue bakalan tetap disisi loh seperti apapun keadaan loh. Karena itu jangan terlalu keras sama diri loh sendiri. Gue gak mau melihat loh terluka. Tapi gue percaya sama loh, sama kemampuan loh. Gue yakin suatu hari nanti loh bakal jadi orang yang sangat hebat. Lebih hebat dari sekarang, " balas Devina membuat Aksa lebih merasa tenang dan percaya diri.
Aksa tersenyum senang mendengar dukungan yang terasa begitu hangat darinya. Membuatnya menjadi lebih bersemangat dan lebih tenang.
"Tapi, sejak kapan loh jadi dewasa seperti ini? Kemana perginya Devina yang kekanak-kanakan dan sangat manja itu? " sahut Aksa mencoba untuk mencairkan suasana supaya lebih rileks dan santai.
"Ah, loh mah, " Devina merengek manja sambil mempererat pelukannya.
Aksa hanya tertawa gemas melihat sikap manja Devina. Entah kenapa ia sangat menyukainya. Selain lucu, ia juga terhibur karenanya.