NovelToon NovelToon
Transmigrasi Zura Or Ziva

Transmigrasi Zura Or Ziva

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Transmigrasi
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Wilaw

Menceritakan seorang gadis bernama Zura. Dan Kebingungan Zura kenapa dirinya bisa nyasar ke raga Ziva sang Antagonis di dalam buku novel yang pernah dia baca sebelum nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wilaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 034

Kenan, Vino, Bram, dan Daren saling pandang sejenak, lalu menjawab dengan bahu terangkat serempak.

​"Entahlah," ucap mereka berempat kompak, seolah sudah janjian lewat batin.

Manda dan Tika mendengus mendengar jawaban yang sangat tidak membantu dari keempat cowok itu. Tatapan penuh selidik Manda masih belum lepas dari Kenan, yang biasanya paling tidak bisa berbohong.

​"Kalian ini satu geng atau satu grup vokal sih? Kompak banget 'entahlah'," sindir Tika

Bram yang merasa suasana mulai sedikit interogatif segera berinisiatif mengalihkan pembicaraan. Ia menepuk dompetnya yang tebal. "Dah lah, daripada bahas si Bos yang mendadak hilang ditelan bumi, lebih baik kita jajan aja. Lumayan nih hasil uang menang balapan kemarin malam dari Bos.

​Kenan menoleh ke arah Manda dan Tika. "Lo berdua ikut gak? Kebetulan kita mau borong gerobak di ujung sana."

​Manda menyilangkan tangan di dada, matanya berbinar licik. "Boleh, tapi kalian ya yang bayar. Gak mau tau."

​Tika ikut mengangguk mantap. "Ya aja deh. Kalian yang ajak, kalian yang bayar."

​Kenan terkekeh sambil menggelengkan kepala, lalu membungkuk sedikit layaknya pelayan kerajaan. "Iya cantik, kami yang bayar. Puas lo berdua?"

​Manda dan Tika saling lirik lalu nyengir lebar. "Hehe, puas banget!"

Manda, Tika, dan keempat personil Black Eagle itu akhirnya berjalan beriringan menuju deretan gerobak jajanan di ujung taman. Suasana yang tadinya tegang karena rasa penasaran, perlahan mencair oleh guyonan Vino dan Bram yang tak ada habisnya. Namun, di balik tawa itu, Manda masih sesekali melirik ponselnya, merasa ada yang benar-benar janggal dengan menghilangnya Ziva dan Aksa secara bersamaan.

*

*

*

Flashback: Pukul 11:20 WIB

​Setelah drama mengobati luka di ruang tengah yang penuh dengan adegan "serangan jantung" bagi Ziva, Aksa membereskan peralatan medis dengan gerakan sigap. Pria itu berdiri, menjulang tinggi di depan Ziva yang masih duduk memeluk bantal sofa.

​"Udah selesai. Sekarang ganti baju," perintah Aksa singkat.

​"Hah?" Ziva mendadak lemot. Otaknya yang biasanya cerdas dalam urusan mager, tiba-tiba gagal memproses kalimat Aksa.

​"Buat apa ganti baju?" tanya Ziva lagi, matanya mengerjap bingung.

​"Kita keluar," jawab Aksa singkat.

​"Mau ke mana?"

Aksa tidak menjawab. Ia hanya menatap Ziva dengan tatapan 'jangan-banyak-tanya'. "Udah, ganti baju sana. Pakai yang nyaman."

​Aksa kemudian menarik tangan Ziva lembut, menuntun gadis yang masih pincang itu menuju kamarnya di lantai dua. Ia berhenti tepat di depan pintu kamar Ziva, bersandar di dinding sambil melipat tangan di dada. "Aku tunggu di sini. Jangan lama."

​Ziva masuk ke kamar dengan perasaan campur aduk. Ia mengobrak-abrik lemarinya. Karena lututnya diperban dan terasa perih jika bergesekan dengan kain kasar, ia akhirnya memilih sebuah dress selutut berwarna soft peach. Ia membiarkan rambut panjangnya tergerai berantakan karena terburu-buru, takut Aksa lama menunggu dirinya di luar.

*​*Cklek.

​Begitu pintu terbuka, Aksa yang sedang menunduk menatap ponselnya langsung mendongak.

*​*Deg.

​Aksa mematung. Untuk pertama kalinya, ia melihat Ziva dalam balutan gaun yang memberikan kesan feminin, jauh dari kesan "Ratu Mager" yang biasanya tenggelam dalam hoodie kebesaran. Cahaya lampu koridor membuat wajah Ziva yang polos tampak lebih bersinar.

​"Cantik," gumam Aksa tanpa sadar.

​Ziva mematung, pipinya memanas. "Aksa... lo—kamu, puji aku?"

​Aksa melangkah mendekat, jarinya menyisir pelan rambut Ziva yang tergerai. "Tetap seperti ini ya. Jangan pernah diikat lagi rambut kamu, sayang. Aku suka."

​"Tapi gerah, Aksa..." protes Ziva pelan.

​"Nggak ada alasan," potong Aksa posesif. Ia langsung merangkul pinggang Ziva, membantunya berjalan menuruni tangga menuju mobil SUV hitamnya yang terparkir angkuh di depan.

Sisi Lain Abian (Pukul 11:58 WIB)

Abian keluar dari dapur dengan membawa segelas jus jeruk dingin di tangan, berniat ingin meledek pasangan baru itu lagi. Namun, langkahnya terhenti di ruang tengah.

​Sunyi. Senyap.

​"Sialan... kemana tuh dua orang? Kenapa malah nggak ada?" gumam Abi bingung.

​"ZIVA! DEK!" teriak Abi memanggil adiknya. Hening. Tidak ada jawaban sama sekali.

Abian berlari menuju pintu depan dan membukanya lebar-lebar. Matanya menyapu halaman rumah yang luas. Kosong. SUV hitam Aksa sudah menghilang, hanya menyisakan jejak ban di aspal.

​"AKSA SIALAN! KEMANA KAU CULIK ADEK GUE?!" teriak Abi frustrasi sambil mengacak rambutnya. Ia masuk kembali ke rumah dengan perasaan dongkol, menyadari bahwa ia baru saja ditinggal sendirian di rumah sebesar ini.

Kembali ke Masa Sekarang: Pukul 15:30 WIB

​Abian mengerjap, baru saja terbangun dari tidur siangnya yang kebablasan di sofa ruang TV. Ia meregangkan otot-ototnya yang kaku, lalu matanya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah empat sore.

​"Cek... jam segini belum juga dia balikin adek gue?" Abi mendengus, lalu menyambar ponselnya untuk mencoba menghubungi Aksa. "Awas aja kalau Ziva lecet lagi, gue bikin tuh Aksa jadi perkedel.

*

*

Apartemen Aksa yang tenang di lantai teratas itu hanya diisi oleh suara pendingin ruangan yang halus. Ziva duduk di sofa kulit yang besar, merasa seperti tenggelam di dalamnya karena gaun peach yang ia kenakan terasa begitu lembut.

​Ia melirik jam di ponselnya. Pukul 15:35 WIB.

​"Aksa, ini udah sore. Aku mau pulang," ucap Ziva sambil menoleh ke arah Aksa yang sedang duduk di sampingnya.

Aksa tidak langsung menjawab. Ia justru mengangkat tangannya, jemari panjangnya bergerak lembut mengelus puncak kepala Ziva, menyisir helai-helai rambut panjang yang tadi ia minta untuk tidak diikat. Gerakannya tangannya sangat lembut penuh dengan ke hati-hatian.

​"Ya, nanti. Setelah makan," sahut Aksa rendah. "Tadi aku habis pesan makan, sebentar lagi sampai."

​Ziva menghela napas panjang. Tanpa sadar, ia mengerucutkan bibirnya sedikit—kebiasaan lama Zura ketika merasa permintaannya diulur-ulur. Ia tidak sadar bahwa di mata pria di sebelahnya, ekspresi itu adalah senjata pemusnah massal bagi kewarasan.

​Aksa membeku sesaat. Jantungnya berdegup tidak karuan. Sial, kenapa dia malah kelihatan seimut ini sih? batin Aksa merutuk. Hasrat untuk menarik gadis itu ke dalam pelukannya semakin sulit ia bendung.

​"Kamu sengaja mau goda aku, sayang? tanya Aksa dengan suara yang lebih serak dari biasanya.

Ziva tersentak, matanya membelalak lebar. "Hah? Goda lo—eh, kamu? Mana ada! Siapa juga yang goda," protes Ziva dengan nada tinggi yang dibuat-buat untuk menutupi kegugupannya.

"Terus kenapa pasang muka kayak gini, hmm?" Aksa tidak tahan lagi. Ia menjangkau wajah Ziva, lalu mencubit kedua pipi gadis itu dengan gemas sampai Ziva meringis.

Sssssss

​"Ih! Sakit tahu, Aksa! Baru aja pacaran beberapa jam, kamu udah main KDRT ya!" seru Ziva sambil berusaha melepaskan tangan Aksa dari pipinya yang mulai memanas.

Aksa melepaskan cubitannya, namun ia tidak menjauhkan tangannya. Ibu jarinya justru mengusap bekas cubitannya tadi dengan sangat pelan. "Itu bukan KDRT, Ziva sayang. Itu tanda sayang."

​Blush!

Wajah Ziva meledak dalam rona merah yang sangat nyata. Ia segera memalingkan wajah, menyembunyikan senyum yang hampir terukir. Panggilan "sayang" dari bibir Aksa yang kaku itu benar-benar punya daya rusak yang luar biasa pada pertahanan mental Ziva.

​Aksa tersenyum tipis—senyum pemenang—saat melihat gadis di depannya mendadak jadi salah tingkah dan diam seribu bahasa. Ia suka melihat efek yang ia timbulkan pada Ziva.

*

*

Aksa masih mengungkung Ziva, kedua tangannya mengunci sisi tubuh gadis itu di sandaran sofa. Perlahan, wajah Aksa mendekat, mengikis jarak hingga ujung hidung mereka hampir bersentuhan. Ziva bisa merasakan deru napas Aksa yang hangat dan aroma mint yang maskulin menyapu wajahnya.

​Ziva menahan napas. Jantungnya berdegup tak karuan, bunyinya seolah memekakkan telinga di dalam apartemen yang sunyi itu.

Batin Ziva : Ini terlalu dekat! teriak Ziva histeris dalam hatinya. Dia mau apa sih? Jangan-jangan... Ah, nggak, nggak! Jangan mikir ke arah sana! Masa iya Aksa mau cium gue?

Mendadak telinga Ziva memerah panas karena pikirannya sendiri. Ia merasa terjebak antara ingin kabur dan ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena terlalu gugup dan tidak sanggup menatap mata tajam Aksa yang seolah sedang menguliti jiwanya, Ziva secara refleks memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Bulu matanya bergetar hebat, menunjukkan betapa bergejolaknya perasaan gadis itu saat ini.

​Aksa memperhatikan setiap inci reaksi Ziva. Melihat kelopak mata yang tertutup rapat dan bibir yang terkatup kaku, Aksa membatin: Dasar. Pasti otak kecil gadis ini sudah berpikir macam-macam.

Aksa menyeringai tipis, sangat tipis. Alih-alih melakukan apa yang dipikirkan Ziva, Aksa justru menarik sedikit dirinya, lalu menjulurkan telunjuknya untuk menoel ujung hidung Ziva dengan gemas.

​"Kamu meram nunggu apa, sayang? Nunggu aku cium?" tanya Aksa dengan nada menggoda.

Ziva tersentak. Ia perlahan membuka matanya, dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah Aksa yang kini sudah menjauh sekitar sepuluh senti dengan raut muka yang sangat menyebalkan—setidaknya menurut Ziva.

​"I-itu... tadi ada debu! Makanya meram!" seru Ziva asal sambil mendengus kesal. Ia membuang muka, merutuki dirinya sendiri dalam hati. Dasar Zura bego! Kenapa juga tadi pakai acara meram segala? Kan jadi dikira gue lagi mesum atau ngarep! Sial, malu banget! Ziva rasanya ingin mengelam kan dirinya ke rawa-rawa aja saking malunya.

​Tiba-tiba...

​Ting Tong!

Suara bel apartemen memecah suasana canggung yang hampir membakar wajah Ziva. Ternyata itu adalah pesanan makanan yang Aksa pesan tadi.

​"Tunggu di sini," ucap Aksa singkat sambil berdiri. Ia sempat mengacak rambut Ziva pelan sebelum berjalan menuju pintu apartemen.

​Ziva menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang masih sisa-sisa maraton. "Hampir aja... untung ada abang kurir," gumamnya sambil mengipasi wajahnya dengan tangan.

​Aksa kembali beberapa saat kemudian dengan beberapa kantong plastik berlogo restoran ternama. Aroma nasi goreng wagyu dan steak premium langsung memenuhi ruangan, membuat perut Ziva yang tadinya kenyang martabak mendadak merasa ada ruang kosong lagi.

​"Ayo makan. Setelah ini aku antar pulang," ajak Aksa sambil menata makanan di meja makan marmernya.

​Ziva berdiri dengan sedikit pincang, berjalan menuju meja makan. Namun, saat ia hendak duduk, ponselnya di sofa bergetar hebat. Ada panggilan masuk.

​Ziva melirik ke sofa. Nama yang tertera di layar adalah: Bang Abi.

​"Aksa! Abang aku telepon!" Ziva panik. "Aduh, gimana nih? Dia pasti marah besar!"

​Aksa yang sedang membuka tutup wadah makanan hanya melirik ponsel itu dengan tenang. "Angkat aja. Kalau dia teriak, biar aku yang bicara."

​Ziva menarik napas panjang, lalu menggeser tombol hijau.

​"ZIVAANA CLARISSA WINATA! DIMANA LO?!" suara menggelegar Abian langsung menembus speaker ponsel hingga Ziva harus menjauhkan telinganya.

1
Marseli
Bagusnya, lanjut kak jangan berhenti di tengah jalan.
CaH KangKung,
astaga...ikut deg"an aq....aksaaaaa....
ana Ackerman
salting brutal gue thorrr
W: hehe 🤭
total 1 replies
ana Ackerman
lanjut kak💪
ana Ackerman
serius kak bab ini ngk bisa nahan tawa anjir🤣
ana Ackerman
lanjut kak💪
Nazia wafa abqura
kak aq tunggu up ny
mom_nurul
aku masih stay disini kak,ga mau berpaling 🤭
di tunggu selalu update nya👍
W: siap👌
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
Ridho Radiator
kak bagus banget
W: Terimakasih😍
total 1 replies
Ridho Radiator
kak aq tunggu up ny
W: siap , besok ya 👁👄👁 😊
total 1 replies
ana Ackerman
iya thor masa nggk di lanjutin... 😤😤
lanjut ya thor... 🤧
W: Kelanjutan nya di sambung besok ya 👁👄👁
total 1 replies
Susi Nugroho
Di tunggu lanjutannya nggak pakai lama
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!