NovelToon NovelToon
Yang Hilang Tanpa Pergi

Yang Hilang Tanpa Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Penyelamat / Single Mom
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Green_Rose

Merlin percaya bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal disisinya. Sampai suatu hari, ia menyadari bahwa, cinta tidak selalu kalah oleh cinta pada orang ketiga. Melainkan, ia kalah oleh tanggung jawab.

Reyno tidak pernah benar-benar pergi dari sisinya. Dia masih pulang. Masih memanggil nama Merlin seperti biasa.

Tapi perlahan, kehadirannya berubah. Perhatiannya terbagi. Waktunya bukan lagi milik satu hati. Dan tanpa disadari, Merlin mulai kehilangan seseorang yang masih ada di sisinya.

Di antara kewajiban dan perasaan,
siapa yang seharusnya dipilih?
Dan ketika semuanya sudah terlambat,
apakah cinta masih punya tempat untuk kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Green_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yhtp *3

Pagi itu dimulai seperti biasanya. Matahari pagi menerobos masuk lewat celah tirai jendela, menyinari lantai kayu apartemen mereka dengan cahaya keemasan yang hangat dan lembut. Udara di dalam ruangan masih terasa sejuk, namun sudah dipenuhi aroma kopi bubuk yang baru diseduh dan bau roti panggang yang manis.

Seperti kebiasaan yang tak pernah berubah selama dua tahun ini, Merlin selalu bangun lebih dulu. Ia bergerak pelan di antara ruangan-ruangan kecil itu, menyiapkan sarapan, merapikan tempat tidur, lalu menarik tirai jendela sampai terbuka lebar agar cahaya matahari bisa masuk memenuhi setiap sudut rumah mereka.

Suasana pagi itu terasa hangat. Tenang. Dan nyaman. Persis seperti pagi-pagi sebelumnya.

Namun, jika Merlin boleh jujur, beberapa minggu terakhir ini, ada sesuatu yang terasa berbeda. Sesuatu yang kecil, samar, hampir tidak terlihat mata, hampir tidak terdengar telinga. Sesuatu yang begitu halus hingga orang lain pasti takkan menyadarinya. Tapi bagi Merlin, bagi wanita yang hidupnya hanya berpusat pada rumah ini dan pada satu orang itu, perubahan kecil itu terasa begitu nyata, begitu jelas, dan begitu mengganjal di hati.

Reyno mulai sering pulang malam. Awalnya hanya sesekali. Mungkin seminggu sekali, dua kali, sebagai bentuk kewajiban pekerjaan yang wajar. Tapi perlahan, frekuensinya makin sering. Tiga kali seminggu, empat kali, sampai akhirnya rasanya hampir setiap malam, Reyno baru melangkahkan kakinya masuk ke rumah saat jam sudah menunjuk ke arah sepuluh atau sebelas malam.

Dan setiap kali Merlin bertanya, setiap kali ia bertanya dengan nada penasaran atau sedikit kecewa, jawaban Reyno selalu sama. Kalimat yang diulang berulang kali, dengan nada lelah yang sama pula.

“Kerjaan lagi banyak banget, Lin. Lagi ada proyek besar, gak bisa ditinggal.”

Atau kadang, “Klien minta revisi, gue sama tim harus lembur bareng. Maaf ya telat lagi.”

Merlin percaya. Tentu saja ia percaya. Bagaimana mungkin ia tidak percaya pada laki-laki yang sudah menjadi suaminya, laki-laki yang berjanji menjadi rumah baginya? Reyno memang dikenal sebagai pekerja keras sejak dulu, sejak masa kuliah hingga sekarang. Ia selalu bertanggung jawab, selalu menyelesaikan apa yang menjadi kewajibannya. Merlin paham betul sifat itu.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, rasa percaya itu sedikit goyah. Sesuatu di hati kecilnya terasa tidak nyaman, terasa gelisah, seolah ada tanda bahaya kecil yang berkedip samar di sudut pikirannya.

Jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam.

Di atas meja makan, makanan yang sudah disiapkan Merlin sejak pukul tujuh tadi sudah dingin. Kuahnya mengental, nasi putihnya mulai keras, dan uap hangat yang tadi mengepul indah sudah lenyap sama sekali. Merlin sudah dua kali memanaskannya kembali, tapi kini ia membiarkannya begitu saja.

Merlin duduk sendirian di sofa ruang tamu, tangannya menggenggam ponsel cukup erat. Layar percakapan mereka masih terbuka di layar itu. Pesan terakhir dari Reyno dikirimkan dua jam yang lalu.

«Aku telat dikit ya. Masih ada bahasan yang belum kelar. »

Itu saja. Tidak ada kabar lagi setelah itu. Tidak ada pesan tambahan, tidak ada panggilan masuk, tidak ada apa pun. Merlin menggigit bibir bawahnya pelan. Matanya menatap kosong ke arah pintu depan yang tertutup rapat. Di luar sana, hujan turun lagi. Bukan rintik halus seperti malam ulang tahun mereka dulu, tapi hujan yang lumayan deras, disertai angin yang bertiup kencang membuat dahan-dahan pohon di bawah sana bergoyang liar.

Entah kenapa malam itu rasanya berbeda. Gelisah itu makin menjadi-jadi. Jantungnya berdegup tidak beraturan, ada rasa takut yang entah datang dari mana merayap masuk ke dalam dada.

Klik. Suara kunci diputar di lubang pintu terdengar jelas memecah keheningan malam.

Merlin langsung bangkit berdiri dari sofa, refleks bergerak maju menyambut kepulangan suaminya. Namun langkah kakinya terhenti di tengah jalan. Senyum sambutan yang hampir saja terukir di bibirnya pun hilang seketika, berganti kerutan kening yang bingung dan heran.

Reyno masuk ke dalam rumah. Wajahnya terlihat sangat lelah, pucat, dan matanya tampak merah seolah habis menahan tangis atau kelelahan luar biasa. Tapi bukan itu yang membuat langkah Merlin terhenti.

Bukan itu. Melainkan sosok wanita muda yang berdiri persis di belakang Reyno. Wanita itu berdiri membungkuk sedikit, bahunya berguncang pelan. Wajahnya terlihat pucat pasi, matanya sembab dan bengkak luar biasa, bekas air mata masih tampak jelas menempel di pipinya yang basah. Usianya mungkin tidak jauh berbeda dari Merlin, masih sangat muda, dan terlihat begitu rapuh seolah satu sentuhan saja bisa membuatnya hancur berkeping-keping.

“Mer .…”

Reyno terdiam seketika saat melihat istrinya berdiri di sana. Ada keraguan, ada rasa bersalah, dan ada kesedihan mendalam yang terpancar jelas dari sorot matanya. Ia melangkah sedikit ke samping, memberikan ruang pada wanita muda di belakangnya itu, lalu memperkenalkan dengan suara berat.

“Ini Yara.”

Merlin menatap wanita itu lekat-lekat, dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu perlahan kembali menatap wajah suaminya. Dadanya mulai terasa sesak oleh rasa penasaran dan pertanyaan yang bertumpuk-tumpuk.

“Siapa?” tanyanya pelan, nadanya tenang namun penuh tanda tanya. “Kamu gak bilang mau bawa tamu.”

“Adiknya Lucas,” jawab Reyno singkat.

Satu nama itu langsung membuat darah Merlin serasa berhenti mengalir. Lucas. Sahabat karib Reyno sejak masa kuliah. Orang yang paling dekat dengan suaminya, lebih dekat dari siapa pun.

Orang yang pernah beberapa kali datang berkunjung ke apartemen mereka, selalu tertawa keras, selalu bercanda berlebihan, dan sering sekali menginap di ruang tamu sampai pagi. Merlin ingat betul terakhir kali ia bertemu laki-laki itu sekitar dua minggu yang lalu, saat Lucas mampir sebentar sekadar menyapa dan membawa oleh-oleh camilan. Dan sekarang ... adiknya berdiri di depan pintu rumah mereka dengan wajah yang terlihat hancur lebur.

“Lucas kecelakaan,” ucap Reyno lagi, suaranya terdengar parau dan berat. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, berusaha menahan gejolak emosi yang meluap di dadanya.

“Dia ... meninggal, Merlin.”

Dunia seolah mendadak sunyi senyap. Suara hujan di luar, suara detak jam dinding, suara napas mereka sendiri. Semuanya seolah lenyap tertelan kebisuan yang mendadak itu.

Mata Merlin membesar perlahan, mulutnya sedikit terbuka karena terkejut tak percaya.

“Apa?” bisiknya hampir tak terdengar. “Meninggal? Lucas?”

Reyno mengangguk pelan, matanya menatap lantai, tak berani menatap istrinya. “Mobilnya jatuh ke jurang di jalan atas sana. Waktu hujan tadi sore,” jelasnya dengan nada yang penuh rasa sakit. “Hujan deras banget, jalanan licin. Dia ... dia nyelametin aku, Merlin. Kalau dia gak nyetir cepat dan ambil alihan setirnya, pasti aku yang ada di posisi dia sekarang.”

Merlin membeku. Kakinya terasa lemas, ia harus berpegangan pada sisi lemari dekatnya agar tidak jatuh terhempas. Beberapa detik berlalu tanpa ada yang bicara. Hanya suara rintik hujan yang makin deras menghantam kaca jendela di luar sana.

1
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Moms Shinbi
lanjut thor
Himna Mohamad
gass kk
Green_Rose: yuhu... esok yah. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: oke siap. tapi esok yah. insyaallah
total 1 replies
Moms Shinbi
keren thor
Gricelda Pereira
oiiiiiiiii lanjuuuut dong thoor
Moms Shinbi
gasss thor
Green_Rose: yuhu, esok ya esok. insyaallah
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: Oke, siap.

makasih banyak udah mau mampir
total 1 replies
Wayan Sucani
Nyesek
Green_Rose: makasih banyak. 😭😭😭😭😭 terharu aku tuh
total 1 replies
rh
lanjut thor
Green_Rose: siap laksakana
total 1 replies
Moms Shinbi
cepat pergi merlin buat ray menyesal tpi jngn mo kenbali padanya.
Green_Rose: hiks hiks hiks.
total 1 replies
Moms Shinbi
astaga dadaku rasanya sesak bnget pasti saki jdi marlin
🥹🥹
Green_Rose: huhuhu... banget. merlin cukup sabar yah. kalo aku, mmm entahlah
total 1 replies
Moms Shinbi
ayo lnjtut thor buat rey nyesel
Green_Rose: siap. entar kita bikin dia jungkir balik ngejar
total 1 replies
Alia Chans
keren😍
Green_Rose: yuhu🌹🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Himna Mohamad
merlin tinggalin aja laki2 seperti itu
Green_Rose: iy ih... udah aku katakan gitu sama Merlin. eh... tu anak kekeh sih
total 1 replies
Himna Mohamad
notif yg ditunggu2
Green_Rose: Ya allah. makasih banyak udah mau mampir. 😭 pen nangis rasanya saat dapat komen di karya aku. aku pemula
total 1 replies
Moms Shinbi
pergi saja tingglin suamimu biar dia sadar
Green_Rose: Ya Allah makasih banyak buat komen pertama yang datang ke karya aku. makasih udah mau mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!