NovelToon NovelToon
Sang Antagonis Cantik

Sang Antagonis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Ketos
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sunflower_Rose

Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.

Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3

Suasana di dalam mobil Alphard hitam yang mengantar Kiyo dan Joy pulang sekolah terasa jauh lebih dingin dibandingkan suhu pendingin ruangan yang disetel pada 16 derajat Celcius. Kiyo duduk bersandar di kursi belakang, rahangnya mengeras kaku dan tatapannya tajam menembus kaca jendela ke arah jalanan di luar. Tangannya terkepal erat di atas paha, sesekali bergetar pelan sebagai tanda nyata bahwa amarah yang terpendam di dadanya hampir meledak tak terkendali.

Joy yang duduk di sisi kanan kakaknya merasa sangat tidak nyaman berada di sana. Selama ini sosok Kiyo yang dikenalnya begitu berbeda karena ia adalah kakak yang hangat serta selalu bertanya kabar atau membawakan camilan sepulang sekolah. Namun hari ini Kiyo tampak persis seperti bom waktu yang siap meledak dan menghancurkan siapa saja yang berani mendekat.

"Kak Kiyo?" panggil Joy pelan dengan suara nyaris berbisik karena rasa takut yang menyelimutinya.

Kiyo tidak menyahut sedikit pun karena matanya tetap menatap lurus ke depan dengan pandangan yang kosong seolah tak mendengar apa-apa di sekelilingnya.

"Kak... Kakak kenapa sih? Kok dari tadi diem aja? Joy ada salah ya?" Joy memberanikan diri menyentuh lengan kakaknya dengan perasaan ragu.

Kiyo menarik napas panjang dan berusaha keras meredakan emosinya demi sang adik. Ia menoleh perlahan meski sorot matanya masih terlihat gelap dan penuh badai yang belum reda. "Nggak, Joy. Bukan salah kamu. Kakak cuma lagi capek aja."

"Capek kenapa? Apa karena gara-gara pertandingan basket sekolah kakak yang kalah?" celoteh Joy sambil berusaha sekuat tenaga mencairkan suasana yang kaku itu. "Lagian aneh banget sih Kak Gwen karena masa kabur gitu aja cuma gara-gara si anak beasiswa itu."

Begitu mendengar sebutan itu urat di pelipis Kiyo langsung berdenyut kencang. "Joy, jangan panggil dia kayak gitu. Namanya Bianca."

Joy terkejut tak habis pikir dengan sikap kakaknya. "Loh? Kok Kakak malah belain dia? Dia emang pantes dipanggil gitu kan karena gara-gara dia suasana sekolah jadi kacau balau tadi!"

Kiyo tidak menjawab lagi dan kembali membuang muka ke arah jendela sambil menutup mulutnya rapat-rapat.

'Gue harus cari tau ke mana Gwen bawa Bianca. Kalau dia sampai berani macam-macam sama dia, gue nggak bakal tinggal diam meskipun dia kakak gue sendiri,' batin Kiyo dengan perasaan benci dan cemburu yang bercampur aduk menjadi satu.

Begitu mobil berhenti tepat di depan teras rumah megah keluarga Anderson, Kiyo langsung turun dengan langkah lebar tanpa menunggu Joy. Ia berjalan cepat melewati deretan pelayan yang berdiri membungkuk hormat lalu menaiki tangga menuju lantai dua dengan langkah berat dan penuh emosi karena tujuannya hanya satu yaitu kamar Gwen.

BRAK!

Tanpa berniat mengetuk pintu terlebih dahulu Kiyo mendorong daun pintu itu dengan kasar hingga menghantam dinding kamar dan bergema nyaring di seluruh ruangan. Di dalam sana Gwen sedang duduk santai di sofa panjang sambil menyandarkan gitar elektrik di pangkuannya dan ia tampak sangat tenang bahkan terlalu tenang untuk ukuran seseorang yang baru saja membuat tim basket sekolah menanggung kekalahan memalukan.

Gwen mendongak perlahan lalu menatap adiknya dengan sorot mata yang sama sekali tak terkejut melihat kedatangan yang tak diundang itu. "Nggak punya sopan santun? Ketok pintu dulu kek."

"Ke mana lo bawa Bianca?!" Kiyo langsung bertanya pada inti masalah tanpa basa-basi dengan suara rendah namun berat dan penuh ancaman yang tak terbantahkan.

Gwen memetik satu senar gitarnya yang menimbulkan suara nyaring dan sumbang yang semakin mengganggu suasana hati yang sudah buruk. "Oh, jadi ini alasan lo masuk kamar gue kayak polisi lagi menggerebek? Cuma gara-gara cewek itu?"

"Gue nggak main-main, Gwen! Ke mana lo bawa dia?! Kalau lo sampai berani berbuat hal-hal yang nggak bener sama dia, gue nggak bakal tinggal diam!" Kiyo melangkah maju dengan cepat lalu tangannya langsung mencengkeram kerah baju Gwen dengan kuat.

Gwen meletakkan gitarnya ke samping dengan gerakan pelan dan tenang lalu menatap mata Kiyo tanpa rasa takut sedikit pun. Ia justru menyunggingkan senyum miring yang dibuat-buat khusus untuk memancing emosi adiknya semakin memuncak.

"Santai, Kiyo. Lo jangan cemburu buta gitu karena malu-maluin jabatan Ketua OSIS lo aja," ucap Gwen dengan nada rileks sambil melepaskan jari-jari tangan Kiyo dari bajunya satu per satu. "Gue cuma bawa dia beli baju ganti. Lo emang tadi gak liat sih gimana si Rebecca tumpahin kopi ke bajunya? Seragamnya transparan, b*go. Lo mau dia jadi tontonan orang satu sekolah?"

Kiyo terdiam sejenak meski rahangnya masih mengeras menahan amarah yang belum sepenuhnya hilang dari hatinya. "Terus? Kenapa harus lo yang bawa dia? Kenapa nggak suruh orang lain atau hubungi gue?!"

"Karena gue yang ada di sana pas kejadian dan gue nggak mau nunggu lo yang kelamaan mikirin prosedur OSIS lo yang ribet itu," balas Gwen dengan nada ketus yang terasa menusuk. "Gue udah anter dia pulang dengan selamat sampai apartemennya dan gue nggak ngapa-ngapain dia, puas?"

"Gue nggak percaya sama lo. Lo itu cuma mau main-main doang kan? Lo cuma penasaran karena lo nggak mau kalah dari gue!" Kiyo menunjuk tepat ke depan wajah Gwen dengan jari telunjuknya.

Gwen berdiri tegak hingga keduanya saling berhadapan dengan tinggi badan yang sejajar lalu menatap tajam satu sama lain di tengah ketegangan yang memuncak. Dua putra keluarga Anderson itu tampak persis seperti dua singa jantan yang sedang berebut wilayah kekuasaan.

"Terserah lo mau mikir apa," kata Gwen dengan nada datar dan tak tergoyahkan. "Tapi denger ya, Kiyo. Bianca itu butuh perlindungan bukan cuma sekadar perintah dari jauh. Dan tadi gue yang ada di sana buat dia bukan lo."

"Gue peringatin ya, Gwen. Jauhin Bianca. Dia bukan tipe cewek yang bisa lo jadiin mainan kayak mantan-mantan lo itu," desis Kiyo dengan suara rendah dan penuh peringatan yang nyata.

Gwen tertawa renyah dengan nada sinis yang terdengar mengejek. "Lucu banget. Sejak kapan lo jadi pahlawan kesiangan buat anak beasiswa? Lo sendiri yang bilang ke Papa kalau lo bakal jaga ketertiban sekolah. Sekarang lo malah bikin keributan di rumah cuma gara-gara dia?"

"Ini beda!"

"Apanya yang beda? Lo naksir dia? Ngaku aja," tantang Gwen sambil menaikkan sebelah alisnya dengan sikap menantang.

Kiyo terdiam seribu bahasa karena ia sama sekali tak bisa menjawab namun sorot mata yang penuh amarah dan kecemburuan itu sudah menjadi jawaban yang sangat jelas. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih lalu berusaha menahan diri agar tidak melayangkan tinju tepat ke wajah kakaknya sendiri.

"Udah deh, Kiyo. Mending lo keluar dari kamar gue karena gue lagi capek dan mau istirahat," Gwen kembali duduk santai lalu mengambil kembali gitarnya ke pangkuan. "Dan oh ya, jangan lupa kabarin Papa soal kekalahan tim basket hari ini karena lo kan anak kesayangan Papa yang paling jujur."

Kiyo menatap Gwen dengan pandangan yang penuh kemarahan untuk terakhir kalinya sebelum berbalik badan dan keluar dari kamar itu lalu membanting pintu sekeras tenaga hingga seluruh lorong rumah bergema suaranya.

Di luar kkamar, Joy berdiri terpaku di tempatnya dengan jantung berdegup kencang di dada. Ia belum pernah melihat Kiyo semarah itu hanya karena seorang perempuan dan selama ini meski kedua kakaknya tidak terlalu akrab seperti saudara kandung di cerita-cerita mereka jarang sekali bertengkar sehebat dan sekeras ini.

'Siapa sih sebenernya Bianca itu? Kenapa dia bisa bikin Kak Kiyo sama Kak Gwen jadi kayak gini dalam waktu sekejap?' Joy membatin dengan hati yang penuh kecurigaan. Baginya Bianca bukan sekadar murid beasiswa biasa melainkan seorang pengganggu yang mulai merusak keharmonisan dan ketenangan keluarganya.

Joy melihat Kiyo berjalan melewati dirinya tanpa menoleh sedikit pun lalu masuk ke kamarnya sendiri dan kembali membanting pintu hingga bergema lagi di sepanjang lorong.

"Gila... semuanya jadi aneh gara-gara satu cewek," gumam Joy pelan sambil menggelengkan kepala tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Joy menghela napas panjang lalu memutuskan untuk berjalan kembali ke kamarnya sendiri dengan langkah yang terasa berat karena suasana hati yang kacau.

Sementara itu di dalam kamarnya yang luas dan mewah Kiyo melempar tas sekolahnya ke sembarang sudut ruangan. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk lalu menatap langit-langit kamar yang indah namun terasa begitu menyesakkan dadanya saat ini.

'Brengsek lo, Gwen. Lo pikir lo bisa menangin hati dia cuma dengan beliin baju,' batinnya lalu memejamkan mata rapat-rapat karena bayangan wajah Bianca kembali melintas di ingatannya mengingatkannya pada momen saat ia membukakan pintu mobil pagi tadi. Tatapan polos itu serta suara lembut itu membuat Kiyo merasa semakin yakin harus memiliki gadis itu sepenuhnya dan tak sudi berbagi sedikit pun perhatiannya dengan siapa pun bahkan kakak kandungnya sendiri.

Kiyo meraih ponsel dari saku celananya lalu mencari nama kontak Bianca. Jemarinya masih sedikit gemetar sisa emosi saat mengetik pesan singkat itu.

'Gue tau Gwen bawa lo ke mall. Gue nggak suka ada orang lain yang ikut campur urusan lo kecuali gue. Besok, jangan pernah mau kalau diajak pergi lagi sama dia. Ngerti?'

Kiyo menunggu balasan itu dengan perasaan gelisah yang luar biasa besar karena baginya Bianca adalah satu-satunya hal menarik dan berwarna di tengah hidupnya yang terasa membosankan serta penuh tuntutan dari Maxwell dan Eleanor.

 ****

Di tempat lain di dalam apartemen kecil sederhananya Bianca sedang duduk santai di depan layar komputernya. Ia baru saja selesai mandi dan sudah mengganti baju-baju mahal pemberian Gwen dengan pakaian santai biasa. Di layar monitornya terbuka sebuah dokumen rahasia berisi data-data penting perusahaan Anderson yang berhasil ia akses dan kumpulkan sedikit demi sedikit seiring berjalannya waktu.

TING!

Suara notifikasi pesan masuk dari Kiyo terdengar nyaring di ruangan sunyi itu. Bianca membaca isi pesan itu sekilas lalu tersenyum sinis dan penuh rasa meremehkan yang tak disembunyikan.

"Duh, Kiyo... posesif banget sih jadi cowok," gumam Bianca sambil tertawa kecil sendiri di dalam kamar. "Lo nggak tau ya kalau semakin lo ngelarang Gwen, Gwen bakal semakin penasaran dan ingin punya apa yang jadi milik lo? Dan itu artinya rencana gue bakal makin lancar jaya."

Bianca sama sekali tidak berniat membalas pesan itu. Ia justru mengambil jersey basket kebesaran Gwen yang tadi dipakaikan ke bahunya lalu mengangkat kain itu dekat ke wajah untuk menghirup aroma maskulin yang masih tertinggal samar di sana.

'Target kedua, Gwen Anderson. Dia tipe yang nggak mau kalah, keras kepala dan sangat kompetitif. Kalau gue bikin dia ngerasa menang dari Kiyo, dia bakal melakukan apa pun buat dapetin gue termasuk mengkhianati keluarganya sendiri,' Bianca membatin dengan penuh kelicikan yang tersembunyi rapi di balik sikap manisnya.

Ia kemudian beranjak berdiri menghadap cermin besar di sudut kamar lalu menatap pantulan bayangannya sendiri. Wajah manis dan polos yang tadi tampak begitu rapuh dan tak berdaya kini berubah total menjadi tampak tajam, dingin, dan penuh dendam yang membara di dada.

"Satu per satu keluarga Anderson bakal runtuh hancur lebur. Dan gue bakal jadi orang terakhir yang berdiri tegak di atas puing-puing kehancuran itu," ucap Bianca pelan pada bayangannya sendiri dengan penuh tekad yang kuat dan tak tergoyahkan.

 ****

Keesokan paginya suasana di meja makan besar kediaman Anderson kembali terasa sangat kaku dan penuh ketegangan yang terasa menyentak dada. Maxwell dan Eleanor sudah duduk di tempat masing-masing namun kursi milik Gwen masih kosong melompong seolah tak akan ada yang mengisinya.

"Mana Gwen?" tanya Maxwell dengan suara berat dan berwibawa lalu menatap tajam ke arah Kiyo yang sedang duduk di seberangnya.

"Mungkin masih tidur, Pa," jawab Kiyo singkat dan biasa saja sambil matanya fokus memotong roti bakar di piringnya.

"Papa denger kemarin dia bikin ulah di pertandingan basket sampai kabur dari lapangan cuma buat menolong seorang gadis?" Maxwell meletakkan sendoknya ke meja dengan suara denting yang keras dan menekan suasana. "Kiyo, Papa percayakan sekolah itu sama kamu. Jangan sampai hal-hal sampah kayak gini merusak nama baik Anderson."

"Kiyo lagi urus semuanya, Pa," balas Kiyo tanpa berani menatap wajah ayahnya karena tahu apa yang dikatakan itu benar adanya.

Eleanor menghela napas panjang sambil menyesap teh hangatnya dengan gerakan tenang. "Mulai sekarang kalian berdua harus lebih fokus dan jangan berbuat ulah macam-macam lagi. Terutama Gwen karena dia itu sudah kelas 12 dan harusnya kasih contoh yang baik buat adik-adiknya."

Tepat saat itu Gwen masuk ke ruang makan dengan langkah santai dan riang serta sudah mengenakan seragam basketnya yang lain di balik jaket sekolahnya. "Pagi, Ma, Pa. Maaf telat."

Gwen duduk tepat di hadapan Kiyo lalu melemparkan pandangan menantang yang langsung disambut oleh tatapan dingin dan penuh permusuhan dari adiknya.

"Gwen, Papa mau bicara serius sama kamu nanti malam," ucap Maxwell dengan nada yang tegas dan penuh peringatan agar Gwen paham akan kesalahannya.

"Iya, Pa," sahut Gwen dengan nada acuh tak acuh lalu mulai menyantap sarapannya seolah-olah tidak terjadi apa-apa kemarin.

1
Tab Adrian
nexttt lahhh... aku kasian sma semuanyaaa
Tab Adrian
dag dig duggg antara apa nihhhh🔥🔥
Tab Adrian
biii.. bales dendam itu sakitt lohhh.. 🥺😐
Tab Adrian
kerasaa bgt centill nya si tuan putri Anderson ituu
Tab Adrian
nyesekk.. semuanya nyesekk.. jiejie ini kalok bikin cerita gk pernah gagal.. selalu bisa bikin pembacaannya masuk ke dalam ceritaaa😍😍😍
Tab Adrian
banyak bgt ya, peluang Bianca buat hancurin keluarga itu
Tab Adrian
jdi semuanya nyakittttt😭
Tab Adrian
😍sakit bgt jdi Bianca banyak beban yg dy tanggung.. pdhl dy cuma pengen bebas hidup kyk remaja biasa pada umumnya tanpa memikirkan dendam dendam dn dendam.. tp aku juga pendendam sihh😅
Tab Adrian
hati hati bi..
Tab Adrian
tuan muda Anderson yg malang ututuru~
Tab Adrian
klok kiyo tau kebenarannya akankah dy terus berjuang demi cintanya atau malah milih untuk berperang
paijo londo
kurang ajar si Jo itu membuat trauma dan dendam banget ayo bec ancurin si Jon tor itu
Reva Reva nia wirlyana putri
wihhh udh lanjut
Reva Reva nia wirlyana putri
bagus kaliii
Reva Reva nia wirlyana putri
kasian biancaaa
Reva Reva nia wirlyana putri
joy tukeran tempet tok atau enggak kan cjm yg jadi pemeran joy, joy nya jdi cwo aja biar pasangan nya sama aku🤭
Reva Reva nia wirlyana putri
agak kasihan sama joy
Kalief Handaru
baru kali ini baca mlnya antagonis khusus ngancurin musuh👍👍 damage banget jos jis
Kalief Handaru
mampir thor kyaknya seru nih
Awe Jaya
lanjut jie
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!