NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:438
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 26 : Guncangan dari Utara

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui ventilasi kristal di ruang bawah tanah, menyinari butiran debu yang menari di atas mawar salju yang kini tampak lebih perkasa dari sebelumnya. George terbangun dengan rasa segar yang asing.

Rasa nyeri terbakar akibat petir semalam telah lenyap, digantikan oleh aliran mana yang sangat stabil dan dingin. Ia menoleh ke samping dan mendapati Celestine tertidur dalam posisi duduk, kepalanya bersandar di tepian pot pualam.

​"Celestine, bangunlah. Tidur dengan posisi seperti itu akan membuat lehermu sakit." George berbisik sambil menyentuh bahunya dengan lembut.

​Celestine tersentak pelan, matanya mengerjap mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya. "George? Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu? Apakah petirnya masih terasa?"

​George mengepalkan tangan manusianya, lalu menggerakkan tangan kristalnya. "Semuanya sudah kembali normal. Bahkan, aku merasa lebih kuat dari sebelumnya. Mawar ini... dia benar-benar melakukan sesuatu pada inti manaku saat aku tidur."

​"Syukurlah. Aku hampir tidak bisa tidur karena takut kau akan mengalami syok mana di tengah malam." Celestine menghela napas lega, ia kemudian berdiri dan merenggangkan tubuhnya.

​Langkah kaki cepat terdengar dari lorong, dan Theodore muncul bersama Julian. Wajah Theodore tampak jauh lebih segar dibandingkan semalam, meski ada guratan kelelahan di matanya.

​"Ah, sang pahlawan sudah bangkit! Aku baru saja akan mengirim pelayan untuk menyirammu dengan air es jika kau tidak bangun dalam sepuluh menit." Theodore berseloroh sambil menarik kursi kayu ke dekat George.

​"Simpan air esmu untuk para tawanan, Theodore. Apa hasil interogasinya?" tanya George langsung pada intinya.

​Theodore mendadak serius. "Malphas bukan orang yang mudah bicara, tapi Julian punya metode tersendiri dari Utara untuk membuatnya sedikit lebih kooperatif."

​Julian melangkah maju, memegang sebuah perkamen kecil yang tampak tua. "Kak, ini bukan cuma soal mawar atau energi esmu. Malphas membawa dokumen terenkripsi yang menyebutkan tentang 'Proyek Altar Salju'. Mereka percaya bahwa darah dari keturunan Eleanor bukan hanya kunci untuk mawar, tapi kunci untuk membangkitkan sesuatu yang terkubur di bawah Puncak Kesunyian."

​"Puncak Kesunyian? Itu tempat di mana aku hampir mati saat diasingkan." George mengerutkan kening, ingatannya kembali ke masa-masa gelap di Utara.

​'Membangkitkan sesuatu? Apa yang bisa lebih berbahaya daripada pasukan Orde?' batin George dengan perasaan tidak enak.

​"Itulah masalahnya, George." Theodore memotong. "Orde Tertinggi di Utara bukan lagi sekadar kelompok agama atau militer. Mereka sudah menjadi faksi yang menguasai tahta di balik bayangan. Ayahmu... Marquess Augustine, dia dalam bahaya besar jika dia terus mencoba melindungimu dari jauh."

​"Ayah tidak pernah mencoba melindungiku. Dia yang membuangku." sahut George dingin.

​"Mungkin itu yang dia ingin kau percayai, Kak." Julian menimpali dengan suara bergetar. "Aku menemukan surat rahasia di lemari kerja Ayah sebelum aku berangkat ke sini. Dia sengaja membuangmu ke Selatan agar kau menjauh dari jangkauan Orde Tertinggi. Dia tahu mereka akan membedahmu jika kau tetap di Utara."

​George terdiam. Ruangan itu menjadi sunyi senyap. Kebencian yang selama bertahun-tahun ia pelihara terhadap ayahnya mendadak terasa goyah. "Jika itu benar, kenapa dia tidak mengatakannya langsung padaku?"

​"Karena kau terlalu bangga dan keras kepala, George. Sama seperti dia." Theodore menjawab sambil menyilangkan tangan. "Dan sekarang, Orde sudah tahu kalau kau ada di sini. Mereka akan menekan ayahmu untuk menyerahkan seluruh aset keluarga Augustine."

​"Kita harus kembali ke Utara." kata George tiba-tiba.

​"Apa?! Kau gila, George?" Celestine berteriak kaget. "Baru saja semalam kau hampir mati melindungi tempat ini, sekarang kau mau masuk ke kandang singa?"

​"Bukan untuk menyerah, Celestine. Tapi untuk mengakhiri ini. Selama mereka masih berkuasa di Utara, Valley tidak akan pernah aman. Mawar ini tidak akan pernah aman." George berdiri, auranya kembali mendingin hingga embun beku muncul di lantai.

​"Aku setuju dengan George." Theodore mengangguk pelan. "Tapi kita tidak akan pergi sebagai buronan. Kita akan pergi sebagai delegasi resmi Kerajaan Valley. Aku akan ikut bersamamu."

​"Kau tidak bisa meninggalkan tahta, Theodore. Rakyat butuh rajanya setelah serangan semalam." potong George.

​"Tahtaku akan baik-baik saja di tangan dewan penasihat untuk beberapa minggu. Lagipula, ini adalah masalah diplomatik sekarang. Mereka menyerang calon adik iparku di tanahku sendiri. Itu adalah deklarasi perang, George." Theodore berkata dengan nada yang sangat tegas.

​"Aku akan menyiapkan pasukan elit kita. Kavaleri terbang bisa membawa kita ke perbatasan Utara dalam tiga hari." Julian tampak bersemangat sekaligus cemas.

​"Julian, kau yakin ingin menghadapi Ayah bersama kami?" tanya George.

​"Aku lebih takut melihat Kakak menghadapinya sendirian lalu berakhir dengan kalian berdua saling menebas." jawab Julian jujur.

​Celestine memegang tangan George. "Jika kalian pergi, aku ikut. Jangan coba-coba melarangku, George. Aku adalah pengguna cahaya matahari, dan Utara butuh sedikit kehangatan untuk mencairkan kekakuan mereka."

​George menatap mata Celestine, lalu menghela napas menyerah. "Baiklah. Tapi kau harus selalu berada di dekatku. Master Pedang tingkat dua belas ini tidak akan membiarkan seujung rambutmu pun disentuh oleh mereka."

​"Aku pegang janjimu, Jenderal." Celestine tersenyum, meski ada ketakutan yang tersisa di matanya.

​"Master Eldric! Bagaimana dengan mawar ini? Kita tidak bisa meninggalkannya di bawah tanah sendirian." teriak George ke arah lorong.

​Eldric muncul dengan membawa sebuah kotak kaca portabel yang sangat canggih. "Sudah kupikirkan, Jenderal! Ini adalah 'Kapsul Stasis Alkimia'. Mawar ini bisa dibawa bepergian selama ia tetap terhubung dengan mana milikmu secara berkala. Dia akan aman di dalam sana."

​"Bagus. Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menyiapkannya?" tanya Theodore.

​"Dua jam, Yang Mulia! Aku hanya perlu memastikan filter udaranya tidak membeku saat kita melewati pegunungan salju." jawab Eldric sambil sibuk mengotak-atik kotak kaca tersebut.

​George menatap mawar saljunya yang kini mulai dimasukkan ke dalam kapsul. 'Perjalanan ini tidak akan mudah. Petir dan esku akan diuji di tanah asalnya sendiri,' batin George.

​"Theodore, pastikan persiapan senjataku lengkap. Aku butuh lebih banyak baja hitam. Jika kita menghadapi Orde Tertinggi, aku tidak bisa menahan diri lagi." kata George.

​"Apapun yang kau butuhkan, George. Valley akan memberikan segalanya untuk memastikan pahlawannya pulang dengan kemenangan." jawab Theodore sambil menepuk bahu George.

​Siang itu, persiapan keberangkatan dilakukan dengan sangat tertutup. George berdiri di balkon istana, menatap ke arah utara di mana pegunungan putih menjulang tinggi di cakrawala. Angin dingin mulai bertiup, membawa aroma salju yang sangat familiar.

​"Sudah siap untuk pulang, Kak?" Julian berdiri di sampingnya.

​"Aku tidak menyebutnya pulang, Julian. Aku menyebutnya sebagai penyelesaian sebuah urusan yang tertunda." sahut George.

​"Apapun namanya, aku senang kita melakukannya bersama. Aku sudah bosan melihatmu menjadi buronan yang kesepian." kata Julian sambil tersenyum tipis.

​"Berhenti mengejekku dan periksa logistiknya, Adik kecil." George mendorong kepala Julian dengan pelan.

​"Baik, baik! Master Pedang galak sekali hari ini!" Julian tertawa sambil berlari menjauh.

​Celestine datang mendekat, ia membawa jubah bulu tebal milik George yang sudah lama tidak dipakai. "Pakailah ini. Kau mungkin ksatria es, tapi aku tidak mau melihatmu menggigil karena tekanan batin saat melihat rumah lamamu."

​George menerima jubah itu, ia menatap Celestine dengan lembut. "Terima kasih, Celestine. Untuk segalanya."

​"Jangan berterima kasih sekarang. Simpan itu untuk saat kita berhasil kembali ke sini dan mengadakan pesta pertunangan yang sesungguhnya tanpa ada gangguan ksatria bertopeng." sahut Celestine.

​George menarik Celestine ke dalam pelukannya. "Kita akan kembali. Aku bersumpah demi mawar salju dan petir yang mengalir di darahku."

Kapal terbang utama bernama "Aurora" membelah gumpalan awan putih dengan suara mesin uap alkimia yang menderu halus. Di anjungan depan, George berdiri tegap, membiarkan angin kencang menerpa wajahnya. Jubah bulu tebalnya berkibar liar, namun ia seolah tidak merasakannya. Pikirannya jauh melompati pegunungan di depan sana, menuju sebuah kastil tua berlumut es yang menjadi saksi bisu masa kecilnya yang pahit.

​"Kau melamun lagi, George. Angin di sini bisa membekukan paru-parumu jika kau tidak memakai masker pernapasan." Celestine keluar dari kabin kemudi, wajahnya terlihat sedikit pucat karena mabuk udara.

​"Aku hanya sedang mengingat jalan setapak di balik tebing Puncak Kesunyian. Jika Orde memang membangun sesuatu di sana, mereka pasti menggunakan gua-gua kristal kuno sebagai fondasinya." jawab George tanpa mengalihkan pandangan.

​"Apakah tempat itu benar-benar semenakutkan namanya?" tanya Celestine sambil berdiri di samping George, menggenggam pagar besi kapal.

​"Lebih dari itu. Di sana, suara terkecil sekalipun bisa memicu longsor salju. Itulah kenapa para ksatria Utara dilarang berteriak saat berlatih di lerengnya. Sunyi yang mematikan." sahut George.

​'Dan di sana pula aku pertama kali melepaskan petirku secara tidak sengaja, menghancurkan bongkahan es raksasa yang hampir menimbun Julian,' batin George sambil meraba tangan kristalnya.

​Theodore muncul dari dek bawah dengan membawa peta besar yang sudah dipenuhi coretan tinta merah. "George! Julian baru saja menerima sinyal transmisi dari intelijen pribadi keluargamu. Sepertinya Marquess Augustine telah dikepung di dalam kastilnya sendiri."

​George langsung berbalik, matanya berkilat tajam. "Dikepung? Oleh siapa? Orde?"

​"Bukan hanya Orde, tapi unit 'Penjaga Suci' dari tahta pusat Utara. Mereka menuduh ayahmu melakukan pengkhianatan karena menyembunyikan 'aset negara' yaitu kau, George." Theodore menjelaskan sambil membentangkan peta di atas meja navigasi.

​"Mereka menyebut kakakku sebagai aset negara? Benar-benar tidak punya perasaan!" Julian menyusul dengan wajah merah padam karena marah.

​"Mereka selalu melihat manusia sebagai alat, Julian. Itulah cara kerja Orde Tertinggi." George mengepalkan tangannya. "Theodore, berapa lama lagi kita sampai di koordinat kastil?"

​"Jika kita memacu mesin sampai batas maksimal, besok subuh kita akan berada di wilayah udara Augustine. Tapi ingat, kita akan masuk ke wilayah udara yang dijaga ketat. Kapal-kapal terbang Utara tidak seramah milik Valley." Theodore memperingatkan.

​"Kita akan menggunakan bendera diplomasi Valley. Jika mereka menembak, itu artinya mereka menyatakan perang terhadap Selatan. Apakah kau siap untuk itu, Theodore?" tanya George.

​Theodore tersenyum tipis, sebuah senyuman yang jarang ia tunjukkan namun penuh dengan aura otoritas. "George, sejak kau menyelamatkan adikku, nasib Valley dan Augustine sudah menjadi satu. Aku tidak keberatan memulai perang jika itu demi keadilan."

​"Terima kasih, Theodore. Aku berhutang nyawa padamu untuk ini." ujar George tulus.

​"Simpan ucapan terimakasihmu untuk saat kita minum bir di ruang bawah tanah kastilmu nanti." balas Theodore sambil menepuk bahu George.

​Malam mulai turun menyelimuti kapal. George memutuskan untuk memeriksa kotak stasis mawar salju di dek penyimpanan. Master Eldric terlihat sedang tertidur di kursi samping kotak tersebut, sementara mawar di dalamnya memancarkan pendaran biru lembut yang menenangkan.

​"Kau merasakannya juga, bukan? Kita kembali ke rumah." bisik George pada bunga itu.

​'Mawar ini tampak lebih berenergi sejak kita memasuki wilayah udara Utara. Apakah dia merespons suhu dingin ini?' batin George.

​Tiba-tiba, alarm kapal berbunyi nyaring. Suara dentuman logam yang keras mengguncang seluruh badan kapal "Aurora". George hampir terjatuh jika ia tidak segera menancapkan kaki esnya ke lantai kayu.

​"George! Ada serangan! Kapal pencegat dari Utara!" teriak Julian dari pengeras suara alkimia.

​George segera berlari ke atas dek. Di kegelapan malam, terlihat tiga kapal terbang ramping dengan lambang burung elang perak—simbol militer pusat Utara—sedang mengepung mereka. Salah satu kapal menembakkan jangkar energi yang langsung mengunci pergerakan "Aurora".

​"Kapal asing! Kalian memasuki wilayah terlarang tanpa izin tertulis dari Orde Tertinggi! Matikan mesin atau kami akan menjatuhkan kalian!" suara berat bergema dari kapal lawan melalui pengeras suara sihir.

​Theodore maju ke depan pagar dek dengan wajah tenang. "Aku adalah Theodore Vallery, Raja dari Kerajaan Valley! Kami datang membawa delegasi resmi untuk menemui Marquess Augustine! Lepaskan jangkar kalian sekarang juga!"

​"Raja Valley? Kami tidak peduli! Di Utara, perintah Orde adalah hukum tertinggi! Serahkan pengkhianat George Augustine sekarang, atau kami hancurkan kapal ini!" balas kapten kapal lawan.

​"George, apa yang harus kita lakukan? Jika kita melawan, diplomasi ini akan hancur sebelum dimulai." bisik Celestine cemas.

​George menghunus pedang hitamnya. Percikan kilat mulai merayap di sepanjang zirahnya, membuat udara di sekitarnya terasa panas dan berderak. "Diplomasi sudah berakhir saat mereka mengancam rumahku. Theodore, bersiaplah untuk pendaratan paksa."

​"Pendaratan paksa? Di tengah badai salju seperti ini?" Theodore bertanya tidak percaya.

​"Julian, ambil alih kemudi! Putar kapal tiga puluh derajat ke arah kanan!" perintah George. "Celestine, siapkan perisai cahaya terkuatmu! Aku akan memutus jangkar energi itu!"

​George melompat ke arah pagar kapal. Ia mengalirkan seluruh mana petirnya ke ujung pedang. "Kilat Pemutus!"

​Sebuah garis cahaya biru raksasa menebas kegelapan, menghantam jangkar energi yang mengunci kapal mereka hingga hancur berkeping-keping. "Aurora" berguncang hebat namun akhirnya terbebas.

​"Berani sekali kau! Tembak mereka!" teriak kapten Utara.

​Ratusan panah energi meluncur dari kapal lawan. Celestine segera mengangkat tangannya, menciptakan kubah emas yang menangkis semua serangan tersebut. "Cepat, George! Aku tidak bisa menahan ini terlalu lama!"

​'Aku harus menunjukkan pada mereka kenapa mereka membuangku dulu,' batin George. Ia melompat dari dek "Aurora" menuju salah satu kapal pencegat lawan yang berada di bawah mereka.

​"Dia melompat?! Dia gila?!" teriak salah satu awak kapal Utara.

​George mendarat di dek kapal lawan dengan dentuman keras yang meretakkan lantai kayu. Sebelum para ksatria di sana sempat bereaksi, George sudah bergerak seperti bayangan. Dengan kecepatan Master Pedang tingkat dua belas, ia melumpuhkan sepuluh prajurit hanya dalam hitungan detik tanpa membunuh satu pun dari mereka.

​"Hentikan serangan ini, atau aku akan memastikan kapal ini tidak akan pernah menyentuh tanah lagi dalam keadaan utuh!" ancam George sambil menempelkan pedang kilatnya ke leher sang kapten.

​Kapten itu gemetar hebat. "K-kau... ksatria terkutuk itu... kekuatannya..."

​"Sampaikan pada tuanmu di Orde Tertinggi. George Augustine telah kembali, dan kali ini aku tidak akan lari." George membiarkan percikan listrik dari tangannya sedikit menyengat leher kapten tersebut.

​George kemudian melompat kembali ke "Aurora" yang sudah siap melaju kencang meninggalkan kapal-kapal pencegat yang kebingungan. Theodore tertawa bangga sambil mengelus janggutnya. "Luar biasa, George! Itu adalah sambutan paling berani yang pernah kulihat!"

​"Kita tidak punya banyak waktu. Serangan tadi hanya permulaan. Mereka pasti sudah mengirim pesan ke pusat." George berkata sambil mengatur napasnya.

​"Setidaknya kita sudah memberi mereka kejutan kecil." sahut Julian dari ruang kemudi. "Kak, lihat di depan! Cahaya dari kastil Augustine sudah terlihat!"

​Di kejauhan, di antara puncak-puncak gunung yang tertutup salju abadi, terlihat sebuah kastil raksasa yang dikelilingi oleh ribuan obor. Kastil itu tampak seperti benteng yang sedang terkepung, persis seperti laporan Theodore.

​"Bersiaplah semuanya. Permainan sesungguhnya baru saja dimulai." George menatap kastil itu dengan mata yang berkilat tajam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!