"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."
Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.
Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.
Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Rahasia di Balik Cangkir Kopi
Ancaman mawar hitam berdarah yang dikirim ke dalam rumah Adrian sama sekali tidak membuat langkah mereka surut seujung rambut pun. Malah, teror menyeramkan itu bikin Adrian dan Elena makin nekat untuk menyerang balik. Bagi dua orang yang berotak encer ini, cara paling pas untuk membalas dendam bukan pakai otot atau kekerasan fisik yang berisik, melainkan dengan cara menghancurkan sumber uang musuh sampai ke akarnya. Jika aliran dana mereka macet, organisasi itu pasti bakal lumpuh dengan sendirinya.
Sore itu, langit di luar tampak mendung dan gelap, mencerminkan ketegangan yang sedang terjadi. Di sudut sebuah kafe privat mewah yang terletak di lantai tiga puluh sebuah gedung pencakar langit, suasananya sepi banget. Tidak ada satu pun pengunjung lain di sana. Adrian sengaja menyewa habis dan mengosongkan seluruh lantai kafe ini biar tidak ada satu pun orang luar yang bisa menguping atau menyadap pembicaraan mereka. Di depan pintu masuk lift, beberapa orang penjaga berbadan tegap dengan jas hitam dari tim keamanan internal Arsa Group berdiri berjaga dengan sangat waspada.
Di dalam kafe yang berdesain minimalis itu, Adrian dan Elena duduk berhadapan di sebuah meja marmer bundar. Dua cangkir kopi espresso hitam pekat yang masih panas ada di depan mereka, mengeluarkan aroma pahit yang kuat ke seluruh ruangan. Elena langsung membuka laptop bisnisnya dengan gerakan jari yang tegas, menampilkan diagram rahasia tentang struktur internal pemegang saham di perusahaannya, Luminous Beauty. Matanya menatap tajam ke arah layar komputer, mencoba mencari celah yang bisa mereka gunakan.
"Paman Bram ini benar-benar harus segera kita singkirkan, Adrian," kata Elena membuka percakapan sambil menggeser data keuangan di layarnya. Suaranya terdengar sangat serius dan agak cemas. "Dari data rahasia yang berhasil aku kumpulkan bersama Maya, Paman Bram ternyata masih pegang posisi yang kuat banget. Dia masih menguasai tiga puluh persen hak suara di dewan komisaris utama. Dia pasti sudah sadar kalau posisinya mulai terancam sejak kita mengumumkan pernikahan kontrak ini ke media minggu lalu."
Elena menghela napas pendek, lalu melanjutkan dengan nada yang makin berat. "Kalau sampai dia tahu kita lagi diam-diam menyelidiki hubungannya dengan Syndicate, Paman Bram pasti bakal pakai pengaruh tiga puluh persen suara itu untuk menghasut komisaris lain. Dia bisa memicu mosi tidak percaya pada Rapat Umum Pemegang Saham bulan depan untuk mendepak aku dari jabatan CEO dengan alasan aku masih terlalu muda dan bikin instabilitas di perusahaan."
Adrian meraih cangkir kopinya, meminum cairan hitam pahit itu perlahan dengan gerakan yang sangat tenang dan elegan. Pria itu sama sekali tidak kelihatan panik atau terkejut mendengar laporan Elena. Setelah menaruh kembali cangkirnya, matanya yang hitam pekat menatap lurus ke arah Elena dengan tatapan yang sangat mengunci.
"Dia tidak akan pernah punya kesempatan buat melakukan itu, Elena," jawab Adrian dengan suara baritonnya yang berat dan penuh percaya diri yang mutlak. "Bramantyo itu cuma pengecut yang berani bertingkah karena merasa di belakangnya ada organisasi besar yang melindungi dia. Tapi dia lupa satu hal penting. Perusahaanku, Arsa Food Group, baru saja merampungkan penjualan besar dan dapat suntikan dana segar dalam jumlah raksasa dari pasar internasional. Kita punya modal yang lebih dari cukup untuk membalikkan keadaan dalam semalam."
Elena menaikkan sebelah alisnya, merasa sangat tertarik dengan arah pembicaraan suaminya itu. Ia memajukan duduknya sedikit. "Terus, apa rencana taktis kamu sekarang untuk memanfaatkan dana itu?"
Adrian menumpu kedua tangannya di atas meja marmer, lalu memajukan tubuh tegapnya. Jarak wajah mereka sekarang dekat banget, sampai-sampai Elena bisa mencium aroma samar wangi kayu yang mahal dari tubuh Adrian dan melihat pantulan dirinya sendiri di mata gelap cowok itu yang tampan.
"Kita bakal kasih umpan yang tidak mungkin bisa ditolak oleh orang yang serakah seperti pamanmu," sebuah senyuman miring yang licik sekaligus berbahaya muncul di wajah tegas Adrian. "Besok pagi, kita akan umumkan ke publik kalau Arsa Food Group dan Luminous Beauty bakal melakukan merger resmi alias penggabungan perusahaan secara total. Pernikahan kontrak kita bakal jadi alasan paling logis di depan media agar tidak ada yang curiga."
Elena sempat melotot kaget mendengarnya. Otak bisnisnya langsung berputar cepat memikirkan efek dari keputusan gila ini. "Merger total? Adrian, kamu serius? Kamu tahu kan kalau merger besar seperti itu terjadi, artinya sesuai regulasi, semua pembukuan keuangan internal kita harus dibuka secara transparan tanpa ada yang ditutupi? Tim auditor independen dari FSA (Otoritas Keamanan Finansial) pasti bakal turun tangan untuk memeriksa semua aliran dana keluar-masuk perusahaan selama lima tahun terakhir!"
"Tepat sekali, itu dia poin utamanya," kata Adrian sambil tersenyum puas melihat Elena yang langsung paham maksudnya. "Bramantyo sudah bertahun-tahun korupsi dan menyedot uang dari Luminous Beauty buat membiayai semua kerjaan kotor dan bisnis logistik ilegal milik Syndicate. Begitu rencana merger ini diumumkan besok pagi, dia pasti bakal panik setengah mati. Dia tahu tim audit forensikku yang super ketat bakal menemukan semua lubang hitam dan bukti korupsinya dalam hitungan hari."
Adrian merendahkan suaranya, memberikan penekanan yang bikin suasana kafe terasa makin tegang. "Dan saat orang yang punya banyak salah seperti Bramantyo panik... dia pasti bakal bikin kesalahan langkah yang besar di lapangan. Di saat itulah, kita tinggal kasih skakmat buat menghancurkan dia secara hukum dan mendepak dia selamanya dari dunia bisnis."
Elena menatap Adrian dalam-dalam dengan perasaan kagum yang sulit disembunyikan. Cara Adrian memanfaatkan hukum bisnis yang legal buat menjebak dan membunuh karakter musuh benar-benar cerdas sekaligus kejam. Tidak heran kalau pria di depannya ini begitu ditakuti dan dijuluki predator berdarah dingin oleh lawan-lawannya di bursa saham.
"Rencana yang benar-benar luar biasa, Adrian," bisik Elena, sekarang ikut tersenyum penuh kemenangan karena merasa punya harapan untuk membalaskan dendam ayahnya. "Tapi risikonya juga sangat besar buat kamu dan perusahaanmu. Kalau Syndicate menyadari jebakan ini dan menyerang balik dengan cara merusak harga saham makananmu di pasar konsumen, Arsa Group bisa mengalami guncangan modal."
Adrian makin mendekatkan wajahnya ke arah Elena, lalu secara tidak terduga mengulurkan tangannya yang besar untuk menggenggam erat jemari tangan Elena yang ada di atas meja marmer. Sentuhan tangan Adrian yang besar dan hangat itu seketika mengirimkan sensasi aneh yang bikin jantung Elena mendadak berdebar cepat tidak beraturan.
Dinding pertahanan ego yang selama ini dibangun Elena rasanya runtuh begitu saja akibat perlakuan protektif cowok itu.
"Aku tidak pernah peduli soal rugi uang atau angka di atas kertas, Elena," ucap Adrian dengan nada suara yang melembut, namun terdengar sangat posesif dan serius. Tatapannya seolah mengunci jiwa Elena. "Di duniaku, tidak ada hal yang memiliki nilai lebih berharga daripada memenangkan peperangan ini... dan memastikan keselamatan wanita yang sudah memakai nama belakangku. Biar saja mereka serang sahamku, karena aku bakal pakai seluruh kekuatan absolut perusahaan makananku buat menghancurkan siapa pun yang berani mengusikmu."
Elena menatap balik mata Adrian, merasakan perasaan hangat yang mulai tumbuh dan mengalir ke dalam hatinya. Di balik cangkir kopi hitam yang mulai dingin sore itu, sebuah siasat perang bisnis yang paling matang dan mematikan resmi mereka buat bersama dengan kesepakatan penuh.
......BERSAMBUNG......