NovelToon NovelToon
Dingin Yang Tak Tersentuh

Dingin Yang Tak Tersentuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Duda / Diam-Diam Cinta
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: keipouloe

Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.

Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.

Hingga hadir Alana Kirana Putri.

Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.

Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.

Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:

perasaan.

Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin Kesunyian

Dua puluh menit perjalanan yang mencekam itu akhirnya berakhir ketika mobil sedan mewah hitam memotong jalan besar dan perlahan memasuki halaman luas kediaman utama keluarga Wijaya.

Rumah besar bertingkat itu berdiri dengan teramat megah, didukung oleh arsitektur modern minimalis serta pencahayaan lampu taman yang tersusun sempurna di setiap sudut fasad bangunan.

Namun entah kenapa, kemegahan fisik bangunan itu sama sekali tidak pernah memancarkan rasa hangat atau kenyamanan bagi siapa pun yang tinggal di dalamnya. Rumah itu terasa mati, asing, dan dingin.

Begitu ban mobil berhenti berputar dengan sempurna di depan lobi utama yang berlapis marmer, Axel langsung mengulurkan tangan luarnya, membuka pintu mobil sendiri tanpa menunggu dibukakan oleh pelayan atau sang sopir.

Tanpa menunggu sang ayah turun, dan tanpa mengatakan sepatah kata pamit apa pun, anak itu langsung turun dan berjalan cepat dengan langkah-langkah lebar memasuki pintu utama rumah.

Arsen sempat menghentikan gerakan jemarinya di atas layar tablet, memperhatikan punggung kecil anaknya sekilas melalui ekor matanya, lalu kembali fokus pada pekerjaannya selama beberapa detik sebelum akhirnya ia juga ikut turun dari mobil dengan gerakan lambat yang berwibawa.

Begitu melangkah masuk ke dalam interior rumah yang berlantai marmer dingin, Axel bahkan tidak berhenti atau sekadar menoleh di ruang keluarga yang luas.

Ia tidak menyapa para pelayan yang membungkuk hormat menyambut kedatangannya, tidak melihat ke sekeliling ruangan, dan mengabaikan segala kemewahan di sekitarnya.

Fokus matanya lurus ke depan, langsung berjalan cepat berlari kecil menuju ke arah tangga besar yang menghubungkan ke lantai dua.

Langkah kaki Axel yang terbalut sepatu kets terdengar cepat menaiki anak tangga satu per satu dengan ritme yang memburu di keheningan rumah.

Hanya butuh waktu beberapa detik hingga bayangan tubuh kecilnya menghilang di ujung koridor lantai atas.

Tak lama setelah itu, suara pintu kamarnya yang dibanting keras terdengar bergema membelah sunyinya rumah.

BRAK!

Suara benturan pintu kayu jati yang kokoh itu berdentum keras, menggema kuat dari lantai atas sampai ke seluruh sudut ruang utama di lantai bawah.

Beberapa pelayan wanita yang sedang merapikan vas bunga seketika menegang, mereka saling melirik cemas dan takut satu sama lain, namun tak ada satu pun dari mereka yang berani mengeluarkan komentar sepatah kata pun.

Mereka tahu batasan mereka di rumah ini. Jika Tuan Muda mereka sedang murka, diam adalah pilihan terbaik.

Sementara itu, Arsen berjalan masuk melewati pintu utama dengan wajah datar dan ekspresi tenang. Seolah-olah suara bantingan pintu yang keras dari putranya tadi tidak berarti apa-apa bagi pendengarannya dan tidak merusak kendali emosinya.

Langkah kakinya yang teratur terdengar konstan mengetuk lantai marmer, berjalan tenang menuju ke arah tangga yang sama.

Namun, tepat saat langkah kakinya sampai di pertengahan anak tangga menuju lantai dua, gerakan kaki Arsen sedikit melambat, lalu berhenti total.

Ada seseorang yang sedang berdiri mematung di sana, menunggu di kegelapan sudut pembatas tangga lantai atas.

Sosok itu adalah seorang anak laki-laki yang berusia jauh lebih kecil dan ramping dibandingkan Axel.

Usianya baru menginjak sekitar enam tahun. Tubuhnya ramping terbalut baju tidur katun bermotif garis-garis lembut yang rapi.

Wajah anak kecil itu terlihat sangat tampan dengan gurat yang lembut, memancarkan ekspresi yang polos dan tenang.

Penampilan dan auranya benar-benar sangat berbeda dan kontras jika dibandingkan dengan sang kakak, Axel, yang selalu berwajah keras, tajam, dan penuh pemberontakan.

Anak kecil itu sedang memeluk sebuah buku gambar berukuran besar tepat di depan dada mungilnya. Sepasang matanya yang bulat tampak membesar dan berbinar samar saat melihat sosok Arsen berdiri di hadapannya di undakan tangga.

Elio.

Sejak beberapa jam yang lalu, sebenarnya Elio sengaja menahan rasa kantuknya hanya untuk berdiri diam menunggu di sudut tangga ini.

Menunggu kepulangan ayahnya dengan hati yang dipenuhi letupan rasa tidak sabar.

Karena hari ini di sekolah tempatnya belajar, Elio berhasil mendapatkan nilai sempurna—angka seratus mutlak—dalam menggambar. Sebuah pencapaian besar bagi anak seusianya.

Elio sengaja membawa buku gambarnya karena ia ingin menunjukkan hasil itu secara langsung kepada ayahnya.

Ia ingin bercerita tentang pengetahuannya hari ini, ingin mendengar suara bariton ayahnya berbicara kepadanya, dan yang paling penting... ia sangat ingin mendengar sebuah pujian sederhana atau merasakan usapan lembut di kepalanya seperti yang sering didapatkan oleh anak-anak lain dari ayah mereka masing-masing ketika berprestasi.

Namun, di detik ketika ia benar-benar berdiri berhadapan langsung dengan sosok tinggi besar Arsen yang memancarkan aura dingin menekan, seluruh keberanian dan untaian cerita yang sudah disusun Elio di kepalanya mendadak lenyap tanpa bekas.

Atmosfer kaku dari sang ayah langsung mengintimidasi mental kecilnya. Tangannya mencengkeram pinggiran buku gambar itu jauh lebih erat hingga kertasnya sedikit tertekuk di dada.

"Pa..." suara Elio keluar sangat pelan, cicitan kecil yang hampir tidak terdengar di tengah luasnya lorong rumah yang sepi.

Arsen menolehkan kepalanya lambat. Tatapan mata mereka bertemu langsung selama beberapa detik yang terasa membekukan seluruh gerakan Elio.

Menerima tatapan sedalam dan sedingin itu dari ayahnya sendiri, Elio refleks langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani mempertahankan kontak mata lebih lama lagi.

Jantungnya berdebar kencang karena rasa takut yang tiba-tiba merayap naik ke tangkainya, meruntuhkan seluruh rasa percaya diri yang ia bawa dari sekolah.

"Papa..." ulangnya lebih lirih, hampir menyerupai bisikan yang tertahan di tenggorokan.

Namun, sebelum ia sempat memberanikan diri untuk mengangkat buku gambarnya atau mengatakan apa yang sebenarnya ingin ia sampaikan sejak sore tadi... Arsen sudah terlebih dahulu mengalihkan pandangan matanya ke arah lain, memutus komunikasi secara sepihak.

"Sudah malam," kalimat itu keluar dari bilah bibir Arsen, terdengar sangat datar, monoton, dan dingin tanpa riak emosi apa pun di dalamnya. "Masuk ke kamarmu."

Hanya itu. Hanya empat kata datar yang tidak mengandung kehangatan sedikit pun.

Tidak ada pertanyaan tentang kenapa anak itu belum tidur di jam segini, tidak ada senyuman hangat seorang ayah, dan sama sekali tidak ada ketertarikan atau perhatian pada buku yang dipeluk Elio sejak tadi di depan dadanya.

Setelah menjatuhkan kalimat itu, Arsen kembali melangkahkan kaki pantofelnya naik menapaki anak tangga berikutnya, melewati anak itu begitu saja tanpa menengok lagi, seolah sosok Elio di sana tak lebih dari sekadar pajangan dinding rumah yang tidak bernyawa.

Elio seketika membeku di tempatnya berdiri. Tubuh kecilnya seolah terpaku pada anak tangga marmer yang dingin. Kedua belah tangan yang tadinya mendekap erat buku gambar di dada perlahan-lahan menurun ke bawah secara lemas.

Buku gambar yang tadinya terasa sangat ringan dan penuh dengan harapan itu, kini entah mengapa mendadak terasa berubah menjadi jauh lebih berat di dalam genggamannya.

Anak kecil itu menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap ujung kaki telanjangnya sendiri, mencoba sekuat tenaga menahan sesuatu yang terasa mengganjal dan menyesakkan di dalam rongga dadanya.

Di ujung koridor lantai atas yang remang, langkah kaki Arsen bergerak stabil hingga akhirnya sosok tinggi itu menghilang di balik pintu kayu besar kamar utama.

Pintu itu tertutup dengan suara ketukan halus yang rapat. Dan lagi-lagi... rumah besar nan megah bak istana itu kembali tenggelam ke dalam kesunyian yang teramat pekat, mencekam, dan mati.

Elio masih berdiri beberapa saat di tangga tersebut, tidak bergerak sedikit pun di bawah temaramnya lampu koridor.

Sampai akhirnya, dari arah bawah, seorang pelayan wanita paruh baya mendekatinya pelan dengan langkah yang teramat pelan dan hati-hati, merasa iba melihat punggung kecil yang diam itu.

"Tuan Muda Elio..." panggil pelayan itu dengan nada suara yang teramat lembut.

Mendengar suara panggilan itu, Elio buru-buru mengangkat kepalanya dengan cepat. Anak kecil itu langsung memaksakan sebuah senyuman kecil di bibirnya—sebuah senyuman manis yang terlihat sangat tidak alami dan dipaksakan demi menutupi luka di hatinya agar tidak membebani orang lain atau terlihat lemah.

"Aku nggak apa-apa, Bi," ucap Elio dengan nada suara yang dibuat-buat ceria, meskipun matanya tampak sedikit berkaca-kaca di bawah pendar lampu.

"Tapi, Tuan Muda... ini sudah larut sekali, mari Bibi antar ke—"

"Aku ngantuk," potong Elio cepat sebelum pelayan itu sempat melihat setitik air yang mulai menggenang di sudut matanya.

Anak kecil itu langsung berbalik, berjalan menuju kamarnya sendiri yang berada di sayap kiri bangunan.

Namun begitu pintu kamar tertutup rapat dari dalam dan ia terkunci di dalam ruangannya sendiri, senyum kecil yang tadi ia paksakan di depan pelayan seketika luruh dan menghilang tanpa bekas dari wajah tampannya.

Elio berjalan gontai, lalu mendudukkan tubuh kecilnya di tepi ranjang yang terlampau luas untuk ukuran tubuhnya.

Dengan gerakan lambat, ia membuka halaman pertama buku gambar yang sedari tadi dibawanya ke mana-mana.

Di halaman pertama kertas putih tersebut, terpampang sebuah gambar sederhana yang digambar menggunakan krayon warna-warni.

Gambar khas anak-anak tentang tiga sosok manusia yang sedang berdiri sejajar sambil bergandengan tangan dengan latar belakang rumah bertatap segitiga.

Seorang pria dewasa berambut hitam yang digambarkan sebagai sosok ayah, dan dua anak laki-laki di samping kanan kirinya.

Di bagian atas gambar penuh warna tersebut, tertulis sebuah kalimat menggunakan tulisan tangan anak-anak yang masih tampak agak berantakan dan miring:

"Papa, Axel, dan Elio."

Elio menatap gambar buatan itu dalam waktu yang teramat lama. Sangat lama, hingga setitik air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya lolos dan jatuh tepat di atas kertas, membasahi goresan krayon warna hitam di sana.

Setelah beberapa menit hanya terdiam menatap impian sederhananya di atas kertas, Elio perlahan menutup kembali bukunya tersebut, lalu menyimpannya rapat-rapat di balik laci meja belajarnya yang gelap, mengubur kembali harapan kecilnya untuk malam ini.

...----------------...

Sementara di kamar lain yang berada di sayap kanan, Axel duduk sendirian di atas sofa panjang yang terletak tepat di dekat jendela besar kamarnya.

Kamar itu gelap gulita karena ia sengaja tidak menyalakan lampu utama. Dengan kedua kaki yang ditekuk di depan dada, Axel melemparkan tatapan mata kosongnya lurus ke arah langit malam yang pekat di luar sana, membiarkan kesunyian memeluk erat tubuh kecilnya yang menolak untuk berdamai dengan kenyataan hidup bersama ayahnya.

Pikirannya melayang kembali pada kehangatan sepiring ayam geprek dan tawa renyah Alana, kontras dengan jeruji emas yang mengurungnya saat ini.

Dan di ujung rumah yang sama sekali berbeda, di dalam kamar utamanya yang terlampau luas, Arsen berdiri tegap di depan balkon pembatas kamar utamanya.

Kedua belah tangannya dimasukkan ke dalam saku celana kainnya, sementara sepasang mata elangnya menatap lurus ke arah gelap dan pekatnya malam kota yang membentang luas di hadapannya.

Ekspresi wajah dosen perfeksionis itu tetap sedatar dinding batu, tak terbaca, dan menyimpan misterinya sendiri.

Tiga orang manusia. Berada di dalam satu atap rumah megah yang sama, memiliki ikatan darah daging yang sama kentalnya.

Namun malam itu, masing-masing dari mereka justru memilih untuk berjalan mundur, mengunci diri, dan terjebak di dalam labirin kesunyian terdalam milik mereka sendiri-sendiri.

Tidak ada satu pun di antara mereka yang menyadari atau mau mengakui, bahwa retakan-retakan kecil tidak kasat mata yang ada di dalam pondasi hubungan keluarga Wijaya itu perlahan-lahan kini semakin melebar, retak, dan menganga setiap harinya.

Dan suatu hari nanti, ketika badai besar yang sesungguhnya datang menerpa, retakan kecil yang diabaikan itu mungkin akan berubah menjadi sebuah kehancuran fatal yang tidak akan pernah bisa diperbaiki lagi oleh siapa pun.

1
Lisa
Oke Kak..kami tunggu kelanjutan kisahnya y Kak..semangat & sukses y Kak utk revisi nya 💪🙏
Lisa
Semangat y Alana 💪
rokhatii
ayo mampir guys dijamin suka
Lisa
Arsen² sadarlah..jgn terbawa masa lalu..anak² mu butuh kasih sayang ortunya..
Lisa
Wah makin kacau aj rumah itu..kasian banget Axel..sampe kpn si Arsen itu dpt berubah
rokhatii: doakan semoga segera dapat hidayah🤭🤭
total 1 replies
Lisa
Arsen harus mengubah sikapnya terhadap anak² nya
rokhatii: orang tua seperti itu kebanyakan sulit berubah nggak sih kak??
total 1 replies
aisy
bagus ceritanya
Lisa
Arsen² benar² ayah yg aneh..sekrg baru mencari Axel..
Suryanti Yanti
lanjut toor kenapa kok setenga²tor
rokhatii: maafin othor ya sehari cuma bisa up satu bab...🙏🙏
total 1 replies
Lisa
Kasihan banget Axel..moga neneknya dpt menolongnya..ayah macam apa Arsen itu..
rokhatii: ayah jahat dia,,semoga dapat karmanya nanti🤭🤭
total 1 replies
Suryanti Yanti
lanjut toor
Lisa
Salut banget sama Alana..semangat terus y belajar sambil jualannya..sukses ya 👍🙏
Lisa
Aku mampir Kak
rokhatii: terima kasih kakak😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!