NovelToon NovelToon
AKHIR DARI PENYESALAN

AKHIR DARI PENYESALAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Rumah Tangga / Selingkuh
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.

"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.

Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.

Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.

Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.

Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA BELAS

Panggulnya yang besar tampak berayun ke kanan dan ke kiri secara sensual, banyak pasang mata lelaki yang memperhatikannya dengan senyum dan tatapan mesum di wajah mereka.

Kanaya merasa percaya diri dan yakin kalau Esmeralda tidak akan kesulitan sama sekali untuk menggoda ayah mertuanya.

Dengan fisik dan bentuk tubuh bak Dewi Yunani, tak mungkin ayah mertuanya itu tidak tergoda.

Drrrrrt,.... Drrrrt,.... Drrrrt.

Kanaya memutar bola matanya malas, tanpa melihat pun ia sudah bisa menebak siapa yang menghubunginya.

Sejak kemarin malam, Andra tidak berhenti

meneleponnya hingga Kanaya rasanya ingin membanting benda tersebut karena merasa begitu terganggu.

"Kenapa sih dia ini telfon-telfon terus?! Lagi bulan madu ama bini barunya pun masih aja ngeganggu."

Kanaya menggerutu kesal, ia sepertinya bukan lagi hanya hilang rasa pada Andra, tapi juga sudah sangat muak bahkan hanya mendengar nama juga suaranya.

"Halo,..." Meski ekspresi wajah Kanaya ketus, wanita itu tetap berusaha agar suaranya terdengar ramah dan netral di telinga Andra.

"Sayang,... Kenapa baru angkat telfon? Aku nelfonin kamu sejak kemarin malam tapi nggak ada satu pun yang kamu angkat, chat-chat aku juga nggak kamu bales. Kamu nggak apa-apa, kan? Kalau kamu kenapa-kenapa aku bisa pulang sekarang juga."

Cerocos Andra yang jujur saja membuat Kanaya panik, suara pria itu juga terdengar begitu khawatir.

Ia tidak mau suaminya itu cepat-cepat pulang, dirinya baru saja menikmati masa tenang selama kurang dari satu hari, Kanaya tak sudi kalau ia harus kembali terganggu jika Andra dan Nisrin cepat-cepat pulang ke rumah.

"Ah, iya maaf. Aku nggak sempet liat handphone, aku lagi sibuk kumpul dan temu kanget sama temen-temen jadi lupa cek. Aku nggak kenapa-kenapa, kok. Aku sehat, bugar dan bahagia banget. Nggak usah buru-buru pulang, kan baru juga kemarin ke sana. Kasian lho istri kamu kalau harus pulang lagi padahal ke sana juga dia belum lama. Santai aja, santai. Nikmatin waktu kalian berdua di sana."

"Kok kamu kaya seneng banget sih aku nggak ada di rumah? Kamu nggak kangen sama aku, Sayang?"

Pertanyaan Andra membuat Yasmin muak, rasanya ia ingin berteriak mengucapkan kata "tidak" keras-keras.

Untuk apa ia merindukan laki-laki yang sudah menyakitinya.

"Euhm, bukan gitu. Tapi kan ya kasian kalau kamu pulang sekarang, istri kamu itu pasti sedih karena belum kenyang liburan berdua. Emang kamu nggak kasian sama dia?"

"Kenapa kamu selalu panggil Nisrin dengan sebutan "istri kamu" sih? Kenapa seolah-olah cuma Nisrin aja yang jadi istriku? Kan kamu juga istriku, Sayang."

Jika boleh jujur, Kanaya bahkan sudah tak sudi menyebut dirinya sebagai istri dari pria itu.

Ia sudah tak sabar ingin berpisah dan pergi, tapi egonya untuk membalas dendam pun tak kalah tinggi.

"Nggak gitu, tapi kan dia memang istri kamu. Lagi pula kan kamu yang minta aku buat bisa akur sama dia. Jadi kamu harusnya seneng kan aku bisa terima dia sebagai istri kamu?"

Pertanyaan Kanaya membuat Andra terdiam, memang dirinya lah yang menginginkan Kanaya menerima Nisrin sebagai adik madunya.

Tapi sikap Kanaya yang lebih condong ke arah acuh tak acuh justru malah membuatnya kalang kabut dan panik juga ketakutan sendiri.

Apalagi istri pertamanya itu berubah sikap dalam waktu yang sangat amat cepat dan drastis.

Tidak mungkin bukan Kanaya kehilangan rasa cinta pada dirinya secepat itu?

"Hmm, iya memang. Tapi aku ngerasa jatuhnya kamu malah nggak peduli sama aku." Memang, rasanya Kanaya ingin menjawab seperti itu.

Kanaya memang sudah tak peduli dan sedang memastikan setiap rasa peduli juga cinta yang pernah ia miliki pada Andra benar-benar mati dengan cara terus memintanya berduaan bersama Nisrin.

Orang-orang bilang move on akan terasa lebih cepat dan ringin jika didasari oleh perasaan ilfeel juga jijik.

Maka itu lah yang sedang dirinya lakukan.

"Perasaan kamu aja kali, ah. Udah dulu ya, aku mau lanjut ngobrol sama temen-temenku. Nggak enak kalau telfonan terlalu lama di depan banyak orang."

Lalu tanpa menunggu balasan dari Andra, Kanaya mematikan sambungan telepon dan beranjak pergi dari kursinya untuk berbelanja menghambur-hamburkan uang Andra.

Sementara itu di tempat lain,...

Andra memandangi layar ponselnya dengan tatapan nanar dan perasaan yang amat tak tentu, panggilan teleponnya diputus begitu saja.

Sesuatu yang dulu tak pernah dilakukan Kanaya padanya.

Dugaan Andra tentang Kanaya yang bersikap acuh tak acuh ia yakin bukan hanya sekedar perasaan atau keparnoannya saja, wanita itu memang benar-benar perlahan menarik diri menjauh darinya.

"Aku jadi makin pengan pulang,..." Gumam Andra pelan sambil memasukan ponselnya ke dalam saku. Gusar dan juga gelisah membuat pria itu benar-benar kehilangan gairah hidup.

"Mas,...."

Andra berbalik cepat saat mendengar suara Nisrin, ia menatap sang istri dan berusaha sekeras mungkin untuk mengulas senyum.

Andra tidak mau kalau Nisrin sampai merajuk lagi, apalagi malam kemarin ia cukup kesusahan untuk membujuknya.

"Hai, Sayang. Kamu udah siap?" Nisrin mengangguk, ia berjalan mendekat dan menggandeng lengan Andra

mesra.

"Iya, aku udah siap. Ayo, hari ini aku mau jalan-jalan ke banyak tempat. Pokoknya Mas harus mau aku ajak ke semua tempat-tempat itu ya? Mas kan udah janji sama aku,..."

"Iya, Sayang. Boleh, kita jalan-jalan sepuas kamu."

Hampir seperti diseret, Andra berjalan mengikuti langkah Nisrin.

Pria itu menarik nafas panjang, udara puncak yang dingin nan segar berlimpah tetap terasa sempit hingga dadanya sesak.

Mungkin saat ini ia memang harus melupakan Kanaya sejenak dan fokus dengan kebersamaannya bersama Nisrin.

Toh setelah ini ia masih bisa kembali bertemu dengan Kanaya pikir Andra di dalam hatinya berusaha menghibur dan menenangkan diri.

1
Nuna_Pena
😁😁
Anonim
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!