Erlan Pratama, seorang direktur muda yang ambisius, berhasil memenangkan sengketa hukum atas sebidang tanah strategis yang ditempati rumah susun tua. Dengan rencana besar di kepalanya, ia memutuskan melakukan penggusuran demi proyek pembangunan yang diyakininya akan membawa keuntungan besar. Namun, hari eksekusi yang seharusnya berjalan lancar justru menjadi titik balik dalam hidupnya.
Di tengah kericuhan warga yang menolak digusur, Erlan dikejutkan oleh kehadiran Linda Sari, mantan kekasihnya yang pernah menghilang tanpa kabar. Linda terlihat berbeda, lebih rapuh, namun tetap tegar. Di pelukannya, seorang bayi perempuan berusia tiga tahun menangis ketakutan melihat situasi di sekitarnya. Tatapan Erlan terpaku pada anak itu, memunculkan pertanyaan yang tak bisa ia abaikan.
Pertemuan tak terduga itu membangkitkan kembali kenangan lama, sekaligus membuka luka yang belum sembuh. Erlan mulai meragukan keputusannya, sementara Linda menyimpan rahasia besar yang bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Pagi itu, matahari bahkan belum sepenuhnya naik ketika Erlan sudah berdiri di dalam salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota. Lampu-lampu toko masih menyala terang, beberapa pegawai tampak baru saja membuka etalase. Namun Erlan sudah berjalan dari satu toko ke toko lain, seolah waktu pagi itu miliknya sendiri.
Di sebuah toko mainan, langkahnya terhenti.
Matanya menyapu rak demi rak yang dipenuhi boneka. Ada yang kecil, cukup untuk digenggam tangan anak-anak. Ada yang besar, hampir seukuran tubuh orang dewasa. Warna-warni boneka itu membuat toko tampak hidup.
Erlan mengernyit.
“Yang mana ya…” gumamnya pelan.
Adi dan Rama berdiri tidak jauh di belakang, saling melirik. Mereka sudah mengenal ekspresi itu—ekspresi seorang Erlan yang sedang kebingungan, tapi bukan kebingungan biasa. Kebingungan yang biasanya berakhir dengan keputusan… yang cukup ekstrem.
Erlan mengambil satu boneka beruang kecil. Ia menatapnya sejenak, lalu mengembalikannya. Ia mengambil boneka kelinci, lalu meletakkannya lagi.
“Anak kecil suka yang mana?” tanyanya tiba-tiba, tanpa menoleh.
Adi membuka mulut, hendak menjawab, namun belum sempat bicara, Erlan sudah menghela napas.
“Sudahlah,” katanya singkat. “Bungkus semua.”
Hening sejenak.
“Semua, Pak?” tanya pegawai toko dengan ragu.
“Semua.”
Kali ini nadanya tegas.
Adi menutup wajahnya dengan telapak tangan, sementara Rama hanya bisa menepuk jidatnya pelan.
“Bos…” bisik Rama, “itu… semua, Pak?”
Erlan melirik sekilas. “Kirana nanti yang pilih sendiri.”
Rama mengangguk kaku. Tidak ada gunanya berdebat.
Belum selesai di situ, Erlan melangkah ke bagian lain. Kini ia berhenti di rak permen.
Warnanya lebih mencolok lagi. Berbagai bentuk, rasa, dan kemasan berjejer seperti sedang berlomba menarik perhatian.
Erlan menghela napas lagi.
“Anak kecil suka permen apa?”
Adi mencoba lebih cepat kali ini. “Biasanya yang—”
“Sudahlah.”
Kalimat yang sama.
“Bungkus semua juga.”
Rama menutup matanya sejenak, seperti sedang menahan pening.
“Pak… kita ada rapat penting pagi ini,” katanya hati-hati.
Erlan bahkan tidak menoleh. Ia masih memperhatikan rak permen.
“Batalkan.”
“Pak… itu rapat dengan jajaran direksi.”
“Batalkan.”
Kali ini Erlan menoleh. Tatapannya datar, tapi jelas.
“Saat ini saya seorang ayah,” katanya pelan. “Bukan direktur.”
Hening.
“Dan itu lebih penting.”
Rama menelan ludah. Wajahnya mulai pucat. Ia sudah membayangkan bagaimana harus menjelaskan pembatalan mendadak itu kepada para direksi.
Adi menepuk bahunya pelan, seolah berkata: terima saja nasibmu.
Perjalanan belum selesai.
Erlan kini masuk ke toko pakaian anak. Lagi-lagi ia berhenti di tengah-tengah, menatap deretan pakaian kecil yang digantung rapi.
“Ukuran anak usia tiga tahun…” gumamnya.
Ia tidak tahu ukuran pasti Kirana. Tidak tahu apa yang cocok.
Dan seperti sebelumnya, solusi yang ia pilih… sangat sederhana.
“Semua yang ukuran tiga tahun,” katanya.
“Bungkus.”
Rama memijat pelipisnya.
Adi hanya bisa menghela napas panjang.
Beberapa jam kemudian, mereka berdiri di depan tumpukan belanjaan yang… tidak masuk akal jumlahnya.
Kotak-kotak besar berisi boneka. Kantong-kantong penuh permen. Dus pakaian yang bertumpuk.
“Pak… ini dibawa pakai apa?” tanya Adi akhirnya.
Erlan menatap semua itu sejenak, lalu berkata singkat, “Sewa mobil box.”
Tak lama kemudian, sebuah mobil box berhenti di depan rumah Anita.
Lingkungan itu cukup sederhana. Rumah-rumah berdempetan, dengan halaman kecil. Tidak ada yang menyangka mobil besar seperti itu akan berhenti di sana.
Di dalam rumah, Linda sedang duduk di lantai, menemani Kirana bermain.
Kirana tampak asyik dengan beberapa boneka binatang kecil. Ia tertawa kecil saat menyusun dan menjatuhkannya kembali.
Linda memperhatikannya dengan lembut.
Sejak berhenti bekerja, hari-harinya diisi dengan hal-hal sederhana seperti ini. Pak Rahman sudah secara halus memintanya untuk tidak kembali bekerja.
“Kalau sampai terjadi sesuatu dengan kamu,” kata Pak Rahman waktu itu, “Erlan bisa marah besar.”
Dan Linda tahu itu bukan sekadar ancaman kosong.
Ia menghela napas pelan. Ia harus mencari pekerjaan lain. Ia tidak bisa selamanya bergantung.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu membuatnya menoleh.
Linda berdiri, berjalan ke arah pintu, lalu membukanya.
Dan di sana, berdiri Erlan.
Di belakangnya, Adi dan Rama.
Linda mengerutkan kening. “Ada apa?”
Erlan langsung bertanya, tanpa basa-basi, “Di mana kamar Kirana?”
Linda berkedip. “Kamar?”
“Ya. Di mana?”
“Untuk apa?”
Erlan tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat ke belakang.
Dan saat itu, beberapa kuli mulai turun dari mobil box, membawa kotak-kotak besar ke arah rumah.
Linda terdiam.
“A-apa ini?” tanyanya pelan.
“Barang Kirana.”
“Barang…?”
Kotak demi kotak mulai masuk. Boneka. Pakaian. Permen. Jumlahnya terlalu banyak.
Linda menoleh ke arah kamar kecil di rumah itu.
Wajahnya berubah.
“Erlan… kamar di sini kecil,” katanya pelan. “Tidak akan muat.”
Erlan terdiam sejenak. Ia menatap ruangan itu, lalu mengangguk kecil, seolah memahami sesuatu.
Kemudian ia menoleh ke Adi dan Rama.
“Cari rumah baru,” katanya singkat.
Keduanya langsung tegak.
“Yang layak,” lanjut Erlan. “Kamar anaknya harus besar. Cukup untuk semua ini.”
Linda membelalak.
“Erlan, ini berlebihan,” katanya.
Erlan menatapnya. Kali ini lebih lembut.
“Saya ayahnya,” katanya pelan. “Saya harus memberikan yang terbaik.”
Linda terdiam.
Tidak ada kata yang keluar.
Akhirnya ia menghela napas dan membuka pintu lebih lebar. “Masuklah.”
Erlan melangkah masuk.
Matanya langsung tertuju pada Kirana.
Anak kecil itu masih duduk di lantai, bermain dengan boneka-boneka lamanya. Ia tidak menyadari kehadiran mereka.
Erlan berjalan mendekat, pelan.
Ia mengambil satu boneka baru dari kotak yang baru saja dibawa masuk.
“Kirana,” panggilnya lembut.
Kirana menoleh.
Matanya langsung tertarik pada boneka di tangan Erlan.
Ia berdiri, berjalan kecil menuju Erlan, lalu meraih boneka itu.
Erlan tersenyum.
Tanpa ragu, ia menggendong Kirana.
Untuk beberapa detik, ia hanya menatap wajah anak itu.
Anak yang selama ini… tidak ia ketahui keberadaannya.
Ada sesuatu di matanya. Campuran antara penyesalan, kehangatan, dan kebahagiaan yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Kamu suka?” tanyanya pelan.
Kirana mengangguk kecil, memeluk boneka itu.
Erlan tertawa pelan. Ia mengayunkan tubuh Kirana sedikit, membuat anak itu terkikik.
Linda berdiri di dekat pintu, memperhatikan semua itu.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Ia tidak pernah membayangkan Erlan akan seperti ini.
Dulu, pria itu dingin. Kaku. Penuh ambisi.
Namun sekarang…
Erlan duduk di lantai, masih menggendong Kirana. Ia mulai membuka beberapa bungkus permen.
“Kamu mau ini?” tanyanya, menunjukkan satu permen berwarna cerah.
Kirana mengangguk cepat.
Erlan membuka bungkusnya dengan hati-hati, lalu memberikannya.
Kirana menerimanya dengan senang, lalu tertawa kecil.
Erlan tersenyum lebar.
“Pelan-pelan makannya,” katanya.
Ia memperhatikan setiap gerakan kecil Kirana, seolah tidak ingin melewatkan satu detik pun.
Di sisi lain, Rama berdiri kaku sambil memegang ponselnya. Wajahnya masih pucat, mungkin karena harus segera menjelaskan pembatalan rapat.
Adi hanya bersandar di dinding, memperhatikan pemandangan itu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
“Bos kita… berubah jauh,” bisiknya pelan.
Rama hanya mengangguk.
Di tengah ruangan sederhana itu, tumpukan barang mewah memenuhi hampir setiap sudut. Namun yang paling mencolok bukanlah barang-barang itu.
Melainkan seorang pria… yang akhirnya belajar menjadi seorang ayah.
Dan seorang anak kecil… yang tanpa sadar telah mengubah segalanya.