NovelToon NovelToon
Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Sistem Petani: Mengubah Sampah Menjadi Cairan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Harem / Bertani
Popularitas:16.5k
Nilai: 5
Nama Author: R.A Wibowo

Aris adalah definisi pecundang di mata dunia. Dipecat dari pekerjaan kasarnya, dikhianati oleh kekasih yang paling ia cintai, dan dihina oleh teman-teman sekolahnya saat reuni karena hanya mengendarai motor butut.

Satu-satunya harta yang ia miliki hanyalah sebidang tanah warisan kakeknya di pinggiran kota.

Namun, harapan Aris hancur saat ia kembali. Tanah yang ia impikan menjadi tempat tinggal yang tenang, telah berubah menjadi gunung sampah ilegal—sebuah "borok" kota yang dikuasai mafia dan oknum korup.

Di titik terendah hidupnya, sebuah suara dingin bergema di kepalanya:

[Ding! Sistem Petani Sultan Diaktifkan!]

[Misi Pemula : bersihkan 10 KG sampah]

[Hadiah : alat penyulingan esensi Cairan dewa]

[Mulai Proses Penyulingan... Menghasilkan: Cairan Dewa Tingkat 1!]

Satu tetes cairan itu mampu mengubah tanah beracun menjadi Lahan Surgawi.

. Satu tetes lagi mampu membuat tanaman mati tumbuh kembali dengan khasiat luar biasa, dengan cairan ini dia menjadi petani sultan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11--Keberuntungan Datang Vina Sang Anak Komandan Polisi

Keesokan harinya, matahari siang bersinar terik di atas Desa Sukacita. Udara yang biasanya pekat dengan bau busuk sampah, kini terasa jauh lebih lega dan segar di sekitar lahan satu hektar milik Aris.

Aris sedang berada di tengah ladang, bersenjatakan cangkul dan peluh yang membasahi kaosnya. Ia sedang membuat lubang-lubang tanam baru untuk benih emas sekali lagi yang berharga.

Isi dari benih emas yang didapatkan sistem itu beragam, ada sawi, kangkung, wortel, tomat, dan lain-lain semenjak dia gunakan. Sekarang tersisa 1 kg benih, masih banyak tapi Aris harus awet awet pakai itu.

Aris tersenyum puas.Kemarin dia laku keras, pembelian dari chef junaida adalah penjualan pertama dan cuannya. Sekarang dia mempersiapkan pesanan dari chef tersebut. 

Dia masih memesan dengan porsi yang sama kaya kemarin, alias 150 kg itu yang dia katakan bahwa dia mampu membuat sebanyak itu.

 Ia mengambil segenggam benih itu yang berkilau seperti emas dari kantong sistemnya dan mulai memasukkannya ke dalam tanah satu per satu.

Sementara itu, di jalan setapak pinggir desa, seorang gadis muda melangkah dengan gusar. Ia mengenakan kaos polos karena tidak bertugas hari ini, sedang libur.

 Namanya Vina, anak tunggal Komandan Polisi di pusat kota tersebut. Dia sedang dalam masa cuti untuk beberapa minggu ini.

Kedatangan kesini cuma untuk berjalan-jalan karena gabut, numpang lewat doang. Namun ada yang aneh dengan desa ini.

Vina berjalan sambil menunduk, sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga indra penciumannya menangkap sesuatu yang aneh.

"Lho... bau busuk di desa ini hilang?" gumam Vina heran. “Biasanya kalau lewat sini bau deh perasaan.”

Ia mendongak dan seketika membeku di tempat. Matanya yang bulat membelalak tidak percaya. Di hadapannya terbentang hamparan tanah cokelat yang gembur, asri, dan rapi, dengan beberapa bagian sudah ditumbuhi sayuran hijau yang tampak sangat gemuk dan sehat.

"Mustahil..." Vina mengucek matanya. "Ini... ini tempat pembuangan sampah pak malik! kok bisa jadi asri kayak gini?”

Pikirannya berputar cepat. Sebagai anak komandan, dia tahu betul kalau ada yang gak beres, nalurinya untuk menegur besar.

Vina melangkah mendekat, rasa penasarannya mengalahkan kewaspadaannya. Matanya kemudian menangkap sosok pemuda berbaju lusuh yang sedang berjongkok di tengah lahan, memasukkan sesuatu ke dalam tanah.

"Woi! Kamu!" teriak Vina ketus, suaranya lantang khas didikan polisi. "Apa yang kamu lakukan di situ?!"

Aris menghentikan kegiatannya dan menoleh. Ia melihat seorang gadis cantik dengan aura yang berbeda dengan Sari, dia optimis penuh berani dan tegas, aura-aura mbak-mbak polwan.

"Menanam sayuran, Mbak," jawab Aris santai.

"Menanam sayuran?" Vina melompat melewati pagar bambu rendah dan berlari mendekati Aris. Wajahnya penuh kekhawatiran yang tulus. "Berhenti sekarang juga! Kamu gila ya?!"

Aris mengerutkan dahi. "Gila kenapa?"

"Ini tanah busuk!" bentak Vina, ia mencoba merebut benih di tangan Aris namun Aris dengan cepat mengelak berkat refleks Prajurit. "Ini Lahan Neraka, Nak! Ini kan tempat pembuangan sampah! Tanah ini beracun! Apapun yang kamu tanam di sini bakal jadi racun kalau dimakan! Aku gak tahu kenapa tiba-tiba jadi lahan cantik gini, tapi kamu niat bunuh orang apa?”

Vina menunjuk tanah di bawah kakinya dengan gusar. "Jangan tertipu sama tampilannya yang kelihatan coklat. Di dalamnya itu zat kimia berbahaya semua. Kalau kamu makan hasilnya, kamu bisa mati muda! Warga desa lain juga bisa kena imbasnya kalau air tanahnya tercemar!"

Aris menatap Vina. Ia bisa merasakan kalau gadis ini benar-benar khawatir, bukan tipe orang suruhan Malik.

"Mbak... Mbak ini siapa?" tanya Aris lembut, kontras dengan nada bicara Vina yang meledak-ledak.

"Namaku Vina, aku... aku …," jawabnya sedikit gagap, terkejut dengan ketenangan Aris. "Aku anak komandan polisi kota ini.”

Aris tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh arti. Anak komandan polisi ya, lucu sekali melihat wajah-wajah berseragam ternyata bahkan tidak mengetahui apa yang terjadi di desa ini. Malik memang berjaya membuat semua orang bungkam, bahkan kasus seperti ini sampai tidak terdengar di kepala mereka.

Atau mungkin mereka sengaja dibuat tidak tahu.

“jadi mbak vina anak komandan?” Tanya Aris santai sambil memasukan benih ke tanah.

“Iya! Makanya dengarkan aku!” Vina masih terlihat kesal. “Aku berterima kasih karena tampaknya lahan pembuangan sampah itu tiba-tiba jadi bersih, namun jangan menanam sesuatu disini … ini bekas sampah, kamu bisa membunuh seseorang kalau menanam sesuatu disini!”

Aris tertawa kecil yang malah membuat Vina heran. “Kenapa malah ketawa?”

“Lucu saja, kakak ini anak komandan tapi serius gak tahu apa yang terjadi di desa ini?”

Aris menancapkan cangkulnya ke tanah, lalu berdiri tegak menatap Vina yang masih tampak sangat defensif. Sorot mata Aris yang tajam namun tenang entah kenapa membuat Vina merasa sedikit tertekan, padahal dia adalah orang yang biasa memberikan perintah.

​“Lucu saja, kakak ini anak komandan tapi serius gak tahu apa yang terjadi di desa ini?” tanya Aris dengan nada sindiran yang halus.

Vina tertegun mendengar nada sarkasme dalam suara Aris. Ia mengerutkan dahi, mencoba mencerna maksud pemuda di depannya.

"Maksudmu apa?" Vina bertanya dengan nada yang mulai goyah. 

"Aku memang sering lewat sini kalau mau ke kota, dan setahuku ini memang lahan milik pengusaha bernama Malik yang difungsikan untuk tempat pembuangan akhir. Aku cuma anggap ini TPA biasa yang memang baunya mengganggu. Tapi selebihnya? Nggak ada laporan masuk ke meja Polsek kota soal masalah serius di sini."

Aris menghentikan gerakannya, menancapkan cangkul ke tanah gembur itu lalu berdiri tegak. Matanya menatap Vina dengan sorot yang tajam sekaligus prihatin.

Sungguh lucu!

"TPA biasa?" Aris mendengus geli, sebuah tawa getir. "Mbak, kalau cuma sampah rumah tangga, warga desa nggak bakal sampai sesak napas kronis, air sumur nggak bakal berubah warna jadi kuning berkarat, dan ternak-ternak warga nggak bakal mati mendadak setelah minum di aliran parit bawah sana.”

Vina terdiam. Pikirannya berputar. Sebagai polisi, dia terbiasa bekerja berdasarkan data dan berkas.

 "Tapi... kalau itu benar, kenapa nggak ada laporan tunggal pun yang mendarat di kantor? Setidaknya ada prosedurnya, surat pernyataan warga, atau aduan ke Polsek..."

"Nah, di situ masalahnya, Mbak Polwan," Aris melangkah mendekat, membuat Vina sedikit mundur karena tekanan aura milik Aris yang tak sengaja terpancar. Aura seorang petarung.

"Meja Komandan di kota mungkin bersih mengkilap karena surat-surat dari rakyat kecil seperti kami menguap di tengah jalan. Surat laporan warga desa ini nggak pernah sampai ke kantor bapakmu karena ada 'tangan-tangan' yang lebih cepat menyambarnya dengan uang suap."

Vina mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Kamu jangan asal bicara. Papaku itu orang yang menjunjung tinggi integritas. Dia nggak akan diam kalau tahu ada limbah B3 ilegal dibuang di pemukiman warga!"

"Saya nggak bilang bapakmu yang salah, Mbak. Tapi bawahan-bawahannya? Atau orang-orang yang dibilang apa … pengusaha Malik, lucu sekali! Mungkin dia yang menyusup di administrasi?"

 Aris mengambil segenggam tanah cokelat yang baru saja ia cangkul. 

“Dan mba barusan bilang apa? Ini tanah beracun?”

Vina menganggukan kepala polos.

Aris menyodorkan tanah itu ke hadapan Vina. "Sekarang coba Mbak cium. Kalau Mbak masih merasa ini 'tanah busuk' yang penuh kimia, Mbak boleh borgol saya sekarang juga atas tuduhan percobaan pembunuhan massal."

Vina ragu sejenak. Namun, rasa penasaran dan harga dirinya sebagai polisi menuntut pembuktian. Ia mendekatkan hidungnya ke tanah di tangan Aris. Seketika, matanya membelalak lebar.

Bukan aroma zat kimia yang menusuk, bukan pula bau busuk sampah yang ia duga. Tanah itu beraroma sangat segar—bau humus murni yang lembap dan kaya, seolah-olah tanah ini diambil dari tengah hutan lindung yang belum pernah terjamah manusia.

"Ini... wangi?" gumam Vina tak percaya. "Gimana mungkin? Tanah pembuangan sampah butuh puluhan tahun untuk bisa pulih secara alami, itu pun harus lewat proses dekontaminasi yang mahal!"

"Tanah nggak bisa bohong, Mbak. Yang bohong itu biasanya oknum berseragam," 

Aris menyeringai tipis. "Sayur yang Mbak bilang bakal membunuh orang itu, kemarin sore baru saja dibeli borongan oleh Chef Junaedi dari Hotel Maharta. Dia koki paling cerewet se-Yogyakarta. Kalau sayur saya beracun, dia orang pertama yang bakal kehilangan reputasi bintang limanya."

Vina menelan ludah. Nama Maharta bukan main-main. Di kepalanya kini mulai terbentuk sebuah kepingan puzzle yang mengerikan: Konspirasi Pembungkaman Kasus Limbah.

“Dan satu hal lagi kak, kebetulan banget dirimu datang … ini bukan tanah pribadi milik si pengusaha malik, tapi milik keluargaku! Aku punya data sertifikat dan lain-lain.”

Mendengarkan hal itu perasaan hati Vina jadi tidak enak, dia tiba-tiba menuduh sembarangan bahkan untuk skala kasus sebesar ini pun dia tidak tahu menahu. Ia  pun menundukkan kepala.

“Sungguh saya sebagai perwakilan polisi kota mengucapkan permintaan maaf. Kalau benar ucapan kakak, maka izinkan saya membantu masalah ini, pertama izinkan aku melihat bukti sertifikat milikmu agar aku bisa menindaklanjuti perihal ini.

Aris tersenyum baru saja kemarin dia memikirkan cara melawan malik kalau kalau dia nyerang lagi, namun tuhan memang masih baik buktinya dia kasih anak polwan manis kaya gini, dilihat dari postur dan gerak-geriknya dia bisa dipercaya.

“Oke, silahkan mbak masuk,” potong aris sambil menunjuk rumah kecil di pinggir ladang. “Ibu saya baru saja memasak tumis sawi dari benih ini, kakak bisa merasakan sendiri bahwa ucapan kakak tentang tanah busuk salah besar!”

1
Mamat Stone
👻🤣👻
Mamat Stone
🤣👻🤣
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/💥💥
Mamat Stone
/CoolGuy/💥💥
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
👻
Mamat Stone
🤣
Mamat Stone
tetap semangat dan Jaga kesehatan /Good/
Manusia Biasa: amin walau otaknya udah agak eror

terimakasih sudah membaca kak🤣
total 1 replies
Mamat Stone
sehat selalu Thor /Ok/
Hajir Pemburu
di tunggu kelanjutanya thor.
Manusia Biasa: baik tunggu besok ya ka. kemungkinan up 4-5 bab
total 1 replies
ラマSkuy
wah Thor masih banyak typo ya dan kadang ada juga penamaan karakter yang kebalik contohnya di bab ini di akhir
Manusia Biasa: waduh baik tak koreksi kak. garap dua novel sekaligus emang resikonya gini/Sob/🙏
total 1 replies
Mamat Stone
Jagoan Neon /Casual/💥💥
Mamat Stone
Pejantan Tangguh /CoolGuy/💥💥
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
sang Dermawan 🤩
Mamat Stone
berbagi itu indah 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!