Tian Shan, pendekar terkuat yang pernah ada, memilih mengorbankan dunia demi satu tujuan—memutar balik waktu.
Ia terlahir kembali di keluarga bangsawan. Namun karena sifatnya yang dianggap aneh dan tubuhnya yang tak mampu berkultivasi, ia dipandang sebagai sampah.
Saat waktunya tiba, ia memilih pergi—bertekad membuktikan dirinya dan membalas segalanya dengan kekuatan yang akan mengguncang dunia.
Mampukah sang legenda menggapai impiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Danau Bayangan
Perjalanan menuju Danau Bayangan bukanlah rute yang biasa dilewati manusia.
Ras Duyung itu membawa Tian Shan menembus hutan yang vegetasinya semakin rapat dan udara yang semakin lembap, seolah-olah alam sedang berusaha menciptakan ilusi samudera di tengah daratan.
Langkah kaki para Duyung itu terdengar berat. Di daratan, selaput di antara jemari kaki mereka mengering, dan setiap gesekan dengan tanah berbatu adalah siksaan.
Wanita berambut biru itu, yang tampaknya adalah pemimpin kelompok kecil ini, sesekali menoleh ke belakang dengan tatapan penuh kebencian sekaligus kekaguman yang tersembunyi.
Tian Shan berjalan di belakang mereka dengan langkah yang tenang namun berwibawa.
Setiap kali kakinya menyentuh tanah, getaran halus Pendekar Bumi miliknya menekan kerikil hingga hancur menjadi abu.
Berat tubuhnya yang kini selaras dengan gravitasi bumi membuat kehadirannya terasa seperti gunung yang sedang bergerak.
"Berhenti sejenak," ucap wanita Duyung itu, napasnya tersengal-sengal. Kulitnya yang semula berkilau kini tampak kusam dan pecah-pecah karena dehidrasi.
Tian Shan tidak menjawab, namun ia mengangkat tangannya. Dengan sedikit manipulasi Qi logam dan tanah, ia memeras kelembapan dari udara di sekitar mereka.
Butiran-butiran air jernih mengumpul di udara, membentuk bola-bola air yang melayang di depan wajah para Duyung tersebut.
"Minumlah. Aku tidak ingin kalian mati sebelum kita sampai," ucap Tian Shan dingin.
Para Duyung itu tertegun. Mereka menatap bola-bola air itu dengan ragu, sebelum akhirnya meminumnya dengan rakus.
Kesegaran itu mengembalikan warna pada kulit mereka, namun ketakutan mereka terhadap Tian Shan justru semakin dalam.
"Kau bisa mengendalikan elemen dengan begitu halus ... Siapa kau sebenarnya?" wanita itu bertanya lagi, suaranya lebih lembut sekarang. "Kau bicara tentang Alam Abadi seolah-olah kau pernah berada di sana. Tapi Alam Abadi sudah runtuh ribuan tahun lalu menurut legenda kami."
"Jangan banyak tanya," jawab Tian Shan singkat sembari menatap ke arah vegetasi yang mulai memudar menjadi kabut hitam. "Danau Bayangan sudah dekat, bukan?"
"Jadi setelah aku melakukan teknik terlarang, Jiwaku tidak langsung bereinkarnasi? Aku baru reinkarnasi setelah ribuan tahun lalu. dan ini adalah zaman saat guruku masih muda. Banyak hal yang berbeda," Batin Tian Shan.
Mereka sampai di sebuah lembah mati yang dikelilingi oleh pohon-pohon hitam tanpa daun. Di tengah lembah itu, terdapat sebuah danau yang airnya berwarna hitam pekat, tenang tanpa riak, seolah-olah airnya terbuat dari tinta.
"Ini adalah Danau Bayangan," bisik wanita itu. "Satu-satunya tempat di dunia fana ini yang memiliki sisa-sisa energi murni tanpa kotoran dunia dari kampung halaman kami."
Saat mereka mendekati tepian danau, dua sosok raksasa muncul dari dalam air yang tenang.
Mereka adalah prajurit Duyung dengan zirah yang terbuat dari tulang ikan purba, menggenggam tombak trisula yang memancarkan cahaya biru redup.
"Berhenti, Manusia!" teriak salah satu penjaga. "Tuan putri, kenapa kau membawa pemangsa ke tempat suci kita?"
"Dia menyelamatkan kami dari para pemburu," jawab putri cepat. "Dan dia ... dia bukan manusia biasa. Dia tahu tentang asal-usul kita."
Kedua penjaga itu mengarahkan trisula mereka ke arah dada Tian Shan. "Tidak ada manusia yang diizinkan masuk! Pergi, atau air ini akan menjadi kuburanmu!"
Tian Shan menyipitkan mata. Ia tidak suka diperintah, terutama oleh ras yang bahkan dulu tidak mampu memberinya perlawanan. Ia menghentakkan kakinya ke tanah, dan kali ini ia tidak menahannya.
BOOM!
Seluruh permukaan danau yang tadinya tenang meledak ke atas setinggi sepuluh meter.
Tekanan gravitasi dari ranah Pendekar Bumi tahap awal miliknya membuat air danau itu terbelah menjadi dua, menampakkan dasar danau yang dipenuhi reruntuhan kuil kuno yang megah namun sudah hancur.
Para penjaga itu terlempar ke samping, tak mampu menahan tekanan aura yang begitu masif. Mereka gemetar, merasakan tulang-tulang mereka seolah-olah hendak remuk di bawah tatapan Tian Shan.
Tian Shan berjalan menuruni jalan setapak air yang terbelah, melangkah menuju pemukiman Duyung di dasar danau. Di sana, ia melihat pemandangan yang menyayat hati.
Kuil-kuil yang dulu di Alam Abadi terbuat dari mutiara surgawi dan emas abadi, kini hanyalah tumpukan batu karang biasa yang berlumut.
Ribuan Duyung hidup di antara reruntuhan tersebut, wajah mereka kusam dan penuh keputusasaan.
Mereka bukan lagi ras abadi yang mulia; mereka hanyalah pengungsi di dunia yang tidak menginginkan mereka.
"Lihatlah ini," ucap Tian Shan dengan nada yang penuh melankolis, matanya menyapu setiap sudut pemukiman itu. "Keagungan yang dulu mengguncang dunia, kini hanya menjadi sampah di dasar danau yang gelap."
Seorang pria tua dengan jubah yang sudah robek-robek keluar dari bangunan utama yang tampak seperti istana kecil.
Ia berjalan dengan bantuan tongkat tulang, matanya yang buta sebelah menatap ke arah Tian Shan seolah-olah ia bisa melihat jiwa pemuda itu.
"Tekanan ini ... aura ini..." si pria tua bergetar, menjatuhkan tongkatnya. "Siapa sebenarnya anda ini tuan?"
Tian Shan berhenti di depan pria tua itu. "Hanya seorang pengembara biasa."
Tian Shan menatap sekelilingnya, merasakan kesedihan yang mendalam merayap di hatinya.
Ia melakukan semua ini untuk menyelamatkan gurunya, namun dalam prosesnya, ia telah membuang ras-ras lain ke dalam penderitaan yang tak berujung.
"Ceritakan apa yang kalian ingat."
lanjut thor💪