NovelToon NovelToon
Tergoda Paman Tunanganku

Tergoda Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Cinta Terlarang
Popularitas:23.2k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

💗 Dijodohkan dengan keponakannya malah tergoda dengan pamannya.

------------- 💫

‎Viona dijodohkan dengan anak dari sahabat mendiang ayahnya yang bernama Farel. Awalnya Viona menyetujui, namun kehadiran Arsen yang merupakan paman dari Farel menggoyahkan hatinya.

‎Bukan sekedar ingin ikut menjaga, tapi sikap yang Arsen tunjukkan lebih dari itu. Kedekatan yang terjalin diantara keduanya membawa mereka pada hubungan yang tak seharusnya.

‎"Jatuhnya begitu alami. Ataukah, kamu memang sengaja ingin menggodaku?" - Arsen.

‎Ketika rahasia hubungan mereka mulai terbongkar, ketegangan melanda keluarga besar. Viona harus memilih antara memenuhi harapan mendiang ayahnya dengan menikahi Farel, atau mengikuti hatinya yang menginginkan Arsen.

‎‎📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16 : Cemburu yang tak terucap.

‎Viona memejamkan matanya sejenak, mencoba menenangkan denyut jantungnya yang mulai berdebar kencang dan menghilangkan rasa sesak yang muncul di dadanya. Setelah merasa sedikit lebih tenang, dia perlahan membuka mata dan berbalik menghadap arah suara yang memanggilnya, memasang senyum yang sedikit dipaksaan di wajahnya.

‎‎"Kamu mau kemana? Aku sudah menunggu kamu untuk makan siang," tanya Arsen, menghentikan langkahnya tepat di depan Viona. Dinda yang berdiri di sampingnya hanya terdiam, melihat kedua orang itu dengan ekspresi penasaran.

‎‎Viona melihat sekelilingnya dulu sebelum menjawab, melihat beberapa karyawan yang tengah berlalu lalang dan tengah menatap ke arah mereka, "Maaf, Pak Arsen, saya hanya ingin mengambil dompet saya yang tertinggal di ruang kerja saya."

‎‎"Tidak perlu, kamu ikut dengan saya. Saya akan mentraktir makan kalian berdua," Arsen menjawab dengan formal, menyadari jika Viona merasa tidak nyaman dengan keadaan sekarang dimana mereka tengah menjadi pusat perhatian.

‎‎"Ti-tidak perlu, Pak. Kami akan makan di kantin saja." tolak Viona, mengibaskan tangannya di depan dada.

‎Wanita yang sebelumnya mengobrol bersama Arsen berjalan mendekat dan berdiri di sisi pria itu. Dia memberikan senyum manis pada Viona, tangannya kembali menyandar lembut pada lengan Arsen.

‎‎"Jadi ini gadis tunangannya Farel? Dia sangat cantik ya," ucap wanita itu dengan nada yang ramah.

‎‎Arsen mengangguk kecil, lalu menjawab, "Olivia, ini Viona, salah satu karyawan baru di divisi Strategi Bisnis. Viona, ini Olivia, teman lama saya."

‎‎Olivia mengulurkan tangannya ke arah Viona dengan senyum yang tetap manis. "Senang bertemu denganmu, Viona. Semoga kamu betah bekerja di sini ya."

‎‎Viona dengan cepat mengulurkan tangannya untuk bersalaman, senyumnya kini terasa lebih kaku. "Senang bertemu juga, Bu Olivia. Terima kasih atas doanya."

‎‎Setelah bersalaman, Olivia kembali menatap Arsen dan Viona secara bergantian. "Panggil aku Kakak saja, dan tidak perlu terlalu formal padaku, Viona."

‎‎"Oya, aku sengaja datang kesini karena aku ingin mengundang kalian berdua untuk ikut makan siang bersama kami. Kalian mau ya?" tanya Olivia kemudian.

‎‎Viona menatap tangan Olivia yang kembali menyandar di lengan Arsen, lalu melihat ke arah Dinda yang tampak juga sedang ragu menjawab. Senyumnya semakin kaku, sementara dadanya kembali terasa sesak.

‎‎"Maaf, Kak Olivia. Kami sudah berencana makan di kantin saja," jawabnya dengan suara lembut dan senyuman yang kembali dipaksakan.

‎‎Olivia menggeleng pelan, menurunkan tangannya dari lengan Arsen dan melangkah mendekat. "Tidak boleh menolak ya, sayang. Aku sudah memesan meja dan makanan untuk kita. Selain itu, aku juga ingin mengenal lebih jauh gadis tunangannya Farel ini."

‎‎Arsen menghela napas perlahan dan mengambil langkah mendekat. "Sudah kalian ikut saja. Sebaiknya kita berangkat sekarang sebelum jam istirahat berakhir,"

‎‎Viona melihat ke arah Dinda yang sudah mulai mengangguk perlahan, seolah sudah siap mengikuti. Dia akhirnya ikut mengangguk juga. "Baiklah, Kak Olivia. Terima kasih sudah mengundang kami untuk makan siang."

‎‎Arsen memberikan senyum tipis pada Viona sebelum mengajak mereka berdua menuju pintu keluar. "Ayo, mari kita pergi. Mobilku sudah ada di luar."

‎‎Saat mereka berjalan keluar gedung, beberapa karyawan masih menatap dengan pandangan penasaran, namun Viona sudah berusaha tidak memperhatikannya lagi. Dia hanya mengikuti langkah Arsen dan Olivia di depannya, pikirannya penuh dengan pertanyaan tentang hubungan antara kedua orang itu, rasa penasaran di dalam hatinya semakin membesar.

‎‎Setelah masuk ke dalam mobil, Arsen segera mengemudikan mobilnya menuju ke restoran yang sudah dipesan. Olivia yang duduk di kursi depan sebelah Arsen kembali mengajak Arsen mengobrol, membuat Viona yang menyaksikan semua itu merasa dadanya semakin sesak melihat keakraban mereka.

‎‎Sesaat kemudian mobil berhenti di depan restoran yang cukup mewah. Arsen segera turun dan membuka pintu mobil untuk Viona yang duduk di jok belakang.

‎‎"Apa kamu baik-baik saja? Kelihatannya kamu tidak begitu bersemangat," tanya Arsen dengan tatapan khawatir.

‎‎Viona menoleh ke arah Olivia yang sudah turun dari mobil, lalu menjawab, "A-Aku baik-baik saja, Paman."

‎‎"Viona, Dinda, ayo kita masuk," ajak Olivia dengan senyuman diwajahnya.

‎‎Viona mengangguk pelan dan mengikuti Olivia dan Arsen masuk ke dalam restoran. Mereka duduk di meja yang sudah disiapkan, tak lama kemudian pelayan mulai menyajikan hidangan yang sudah dipesan. Olivia dengan sigap mengambil sendok dan garpu untuk mengambil makanan ke piring Arsen.

‎‎"Aku sudah pesan yang sesuai dengan selera kamu dulu." ucap Olivia dengan senyum hangat.

‎‎Arsen memberikan senyum balasan. "Ya, kamu memang selalu tahu apa yang aku inginkan."

‎‎Viona melihat itu semua dengan pandangan yang semakin suram. Dia mencoba fokus pada makanan di depannya, tapi rasanya seperti ada batu yang mengganjal di dalam tenggorokannya hingga membuatnya sulit menelan. Dinda yang duduk di sebelahnya hanya duduk diam sambil menikmati makanannya tanpa menyadari apa yang sedang Viona rasakan saat ini.

‎‎Olivia tersenyum, kemudian menatap pada Viona dan Dinda. "Kami ini sudah mengenal sejak SMA, bahkan kuliah di kampus yang sama. Selain itu kami juga bekerja sama dalam proyek bisnis kecil dulu sebelum Arsen fokus mengembangkan perusahaan sendiri, itulah sebabnya kami begitu akrab."

‎‎"Tapi... apa kalian berdua pacaran?" tanya Dinda dengan ragu-ragu.

‎‎"Pacaran?" Olivia tertawa kecil, lalu merapatkan tubuhnya dan menggandeng lengan Arsen. "Arsen... apa kamu mau berpacaran denganku?"

‎‎Viona merasa napasnya semakin sesak melihat keakraban mereka berdua. Dia berdiri dengan cepat, "Maaf, aku ingin ke toilet sebentar."

‎‎Tanpa mendengar jawaban dia segera berjalan meninggalkan meja. Arsen menatap kepergian Viona yang pergi dengan tergesa-gesa dengan tatapan khawatir saat melihat sikap Viona yang tidak seperti biasanya.

‎‎Sesampainya di toilet, Viona langsung berdiri di depan cermin sambil menatap bayangan wajahnya sendiri yang terlihat begitu kesal. Dia memejamkan matanya sejenak, mencoba menenangkan diri, tapi pikirannya terus terganggu oleh gambar kedekatan Arsen dan Olivia.

‎‎"Kenapa aku merasa begini?" bisiknya pelan sambil menatap bayangannya di cermin. "Aku adalah tunangan Farel, seharusnya tidak ada yang salah dengan hubungan Paman dan wanita itu."

‎‎Namun setiap kali membayangkan kedekatan mereka, rasa sakit di dadanya hanya semakin intens. Dia menghela napas dalam-dalam, mencoba untuk kembali tenang. Setelah merasa sedikit lebih baik, dia menghela napas sebentar sebelum berjalan keluar dari toilet.

‎‎Langkah Viona tertahan begitu membuka pintu toilet, dia terkejut saat melihat Arsen yang sudah berdiri tenang di depan toilet dengan tubuh yang bersandar pada dinding, kedua tangannya dimasukkan kedalam kantong celana.

‎"P-paman... Apa yang sedang Paman lakukan disini?"

-

-

-

Bersambung...

1
Zuri
jawabannya kan sudah jelas.. levelnya beda. kalian aja yg gak paham aturan mainnya... ehh/Silent/
Zuri
setengah benar.. ehhh/Silent//Silent/
Zuri
ibumu nolak di awal. entar juga menerima, seperti seseorang🤭
Zuri
bisanya cuma ngancem doang🤧
Zuri
kabur aja Vio🤣🤣
Eva Wahyuni
aduh Thor 😭😭😭..
panjang banget perjuangan cinta mereka..
ayolah Lisa, datang lah ke rumah farel dan beberkan tingkah laku nya farel dan tentang kasus nindi...
Zuri
baru tunangan aja kok.. lagian, mendiang bapak Viona jga gak bakal rela lah kalo putrinya nikah ma orang yg udah ngerusak orang lain/Slight/
Zuri
aduhh🤣🤣🤣 siapkan jantungmu aja lah yaa
Zuri
yg ada tubuhnya yg bicara, bukan mulut/Hammer/
Zuri
mo kasian,,, tapi emang farel layak??/Slight//Slight/
Zuri
drama perpisahan di depan mata noh paman Bima🤧🤧
Zuri
mna bisa begitu... cobranya udah dapet sarang yg enak mana mau dilepas.. ehh/Silent//Silent/
Zuri
jujur lebih baik ya Vio
Zuri
mana bisa bgituu... yg jebol gawang Arsen loh/Slight//Slight/
Zuri
Farel itu ngamuknya gegara gagal unboxing🤣🤣
Zuri
disidang🤧🤧
zee
wah tambah seru nih
🔥Violetta🔥: Terimakasih kakak masih setia menyimak 🙏😁
total 1 replies
Zuri
salah sendiri punya pikiran kotor🤧🤧
🔥Violetta🔥: Nggak kotor nggak anuuun🤣🤣
total 1 replies
Zuri
sadar kali kak, bukan dasar/Silent/
🔥Violetta🔥: Efek mabok tulisan 🤣🤣🤣
total 1 replies
Zuri
tenang saja vio.. pamanmu akan melindungimu🤭🤭
🔥Violetta🔥: Melindungi sampai kedalam-dalam 😅😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!