Arumi kehilangan segalanya dalam satu malam bayinya yang baru lahir tewas dalam kecelakaan tragis, dan ibunya kini kritis di rumah sakit tanpa biaya. Namun, takdir mempermainkannya; meski bayinya tiada, ASI Arumi tetap mengalir deras—sebuah pengingat menyakitkan akan kehilangan yang ia alami
Di sisi lain, Arlan Arkananta, seorang CEO dingin yang berkuasa, menyimpan rahasia besar. Ia memiliki seorang putra bayi bernama Leon yang keberadaannya disembunyikan dari dunia dan pihak keluarga besar. Leon menolak semua susu formula dan perawat, hingga hanya aroma tubuh Arumi yang mampu menenangkannya.
Terdesak oleh biaya rumah sakit, Arumi terpaksa menandatangani kontrak "Iblis". Ia bersedia menjadi ibu susu rahasia di mansion tersembunyi milik Arlan dengan aturan ketat: Dilarang mengungkap identitas bayi, dilarang keluar tanpa izin, dan yang paling berat—dilarang memiliki keterikatan emosional.
Namun, di balik tembok mansion yang dingin, Arumi menemukan bahwa Leon bukan sekadar bayi biasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: SABOTASE DI JALUR SUNYI
BAB 5: SABOTASE DI JALUR SUNYI
Tengah malam di Jakarta biasanya penuh dengan sisa-sisa hiruk-pikuk kota, namun di pelataran mansion The Sanctuary, atmosfernya mencekam seperti sebelum badai besar. Dua mobil SUV hitam bermesin turbo telah siap dengan mesin yang menyala halus. Arlan tidak ingin ada sorot lampu yang menarik perhatian, maka semua lampu eksterior mansion dipadamkan.
Arumi menggendong Leon yang terlelap dalam balutan selimut bulu domba yang hangat. Di punggungnya, ia menggendong tas berisi perlengkapan darurat bayi. Perasaan Arumi tidak enak. Sejak pertemuan dengan Nyonya Victoria tadi siang, udara di sekelilingnya terasa berat, seolah oksigen di rumah itu telah habis diserap oleh ketegangan.
"Masuk ke mobil kedua, Arumi. Kau bersama Bi Inah dan dua pengawal," perintah Arlan. Ia sendiri masuk ke mobil pertama bersama Bram yang memegang kemudi.
"Kenapa kita tidak dalam satu mobil, Tuan?" tanya Arumi tiba-laki. Ada rasa takut yang aneh jika harus berjauhan dengan Arlan saat ini.
Arlan menoleh, menatap Arumi dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jika terjadi sesuatu di jalan, mereka akan mengejar mobil pertama. Aku adalah targetnya, bukan kau atau Leon. Masuklah."
Pernyataan itu bukannya menenangkan, malah membuat jantung Arumi berdegup kencang. Arlan rela menjadi umpan? Pria yang ia anggap iblis tak berperasaan itu baru saja mengakui bahwa ia akan mempertaruhkan nyawanya demi melindungi rahasia dan keselamatan putranya.
Iring-iringan mobil itu melaju membelah tol Jagorawi yang sepi, kemudian berbelok menuju jalur alternatif yang menanjak dan berliku menuju arah Puncak. Jalanan di sini sangat gelap, hanya diterangi oleh lampu sorot mobil dan sesekali kilatan petir di kejauhan. Hutan pinus di kanan kiri jalan tampak seperti raksasa hitam yang mengawasi mereka.
Di dalam mobil kedua, Arumi terus memeluk Leon. Bayi itu sedikit gelisah karena guncangan mobil di jalan yang tidak rata. Bi Inah di sampingnya tampak sibuk merapalkan doa.
"Tuan Bram tadi tampak sangat terburu-buru saat memeriksa mobil ini," bisik Bi Inah tiba-tiba, membuat Arumi menoleh.
"Maksud Bi Inah?"
"Entahlah, Non Arumi. Tapi Bibi melihat dia berbicara cukup lama dengan salah satu mekanik baru di garasi tadi sore. Padahal biasanya Tuan Bram tidak pernah mau mengurusi hal teknis seperti itu."
Kecurigaan Arumi yang sempat tertanam di Bab sebelumnya kini tumbuh menjadi ketakutan yang nyata. Ia teringat tatapan puas Bram saat mereka diperintahkan pindah. Jika Bram adalah pengkhianat, maka mobil mana yang sebenarnya dalam bahaya?
Tiba-tiba, dari arah depan, terdengar suara dentuman keras yang memecah kesunyian malam. BOOM!
Mobil pertama yang dikendarai Arlan dan Bram tergelincir hebat. Salah satu ban depannya tampak meledak secara tidak wajar. Mobil itu berputar 180 derajat di atas aspal yang licin karena gerimis, sebelum akhirnya menghantam pembatas jalan dan berhenti tepat di bibir jurang.
"Tuan Arlan!" teriak Arumi.
Sopir mobil kedua segera menginjak rem dengan paksa. Arumi terdorong ke depan, namun ia berhasil melindungi kepala Leon dengan lengannya. Sebelum pengawal di mobilnya sempat bereaksi, dua motor besar tanpa plat nomor muncul dari balik kegelapan hutan dan melepaskan tembakan ke arah ban mobil mereka.
Dor! Dor!
Mobil kedua kehilangan kendali dan terperosok ke dalam parit di sisi jalan.
Suasana menjadi kacau. Asap keluar dari kap mesin. Arumi terbatuk-batuk, kepalanya berdenyut karena benturan kecil pada kaca jendela. Ia segera memeriksa Leon. Bayi itu menangis histeris, namun syukurlah, tidak ada luka yang terlihat.
"Bi Inah! Keluar!" Arumi berteriak sambil menendang pintu mobil yang macet.
Dengan sisa tenaganya, Arumi berhasil keluar dari mobil yang miring tersebut. Ia melihat para pengawal sedang terlibat kontak fisik dengan orang-orang misterius yang mengejar mereka. Di tengah kegelapan dan hujan yang mulai turun deras, Arumi melihat ke arah mobil Arlan.
Mobil itu mengeluarkan asap tebal. Arlan tampak berusaha keluar dari kursi penumpang, namun pintunya terjepit pembatas jalan. Bram? Arumi melihat Bram sudah berada di luar mobil, namun pria itu tidak membantu Arlan. Ia justru berdiri diam, memegang ponsel, dan menatap Arlan dengan senyum dingin sebelum akhirnya berlari menghilang ke dalam gelapnya hutan.
"Bram! Kau brengsek!" Arumi berteriak, meski suaranya tertelan suara guntur.
Arumi tahu ia harus lari. Para penyerang itu mulai mendekat ke arah mobil kedua. Tanpa pikir panjang, Arumi mendekap Leon erat ke dadanya, menutupi tubuh bayi itu dengan jaket tebalnya agar tidak terkena air hujan, dan mulai berlari menuju mobil Arlan.
"Tuan Arlan! Keluar dari sana!"
Arlan berhasil menendang kaca jendela hingga pecah. Ia merangkak keluar dengan pelipis yang bersimbah darah. Saat ia melihat Arumi berlari ke arahnya sambil menggendong Leon, matanya membelalak.
"Lari, Arumi! Jangan ke sini! Masuk ke hutan!" teruk Arlan.
Namun Arumi tidak mendengarkan. Ia meraih tangan Arlan, membantu pria itu berdiri tepat saat sebuah mobil lain mendekat dengan kecepatan tinggi dari arah bawah.
"Ikut aku!" Arumi menarik Arlan masuk ke dalam semak-semak lebat di pinggir jalan, menuruni lereng yang licin.
Mereka terus merosot ke bawah, menjauh dari jalan raya, hingga akhirnya sampai di sebuah gua kecil yang tersembunyi di balik air terjun kecil. Hujan kini turun sangat lebat, menghapus jejak kaki mereka namun juga membuat suhu udara turun drastis.
Arlan ambruk di dinding gua, napasnya tersengal. Luka di kepalanya tampak cukup dalam. "Leon... bagaimana Leon?" tanyanya dengan suara parau.
Arumi segera membuka jaketnya. Leon ada di sana, menggigil namun berhenti menangis saat mencium aroma ibunya. "Dia selamat, Tuan. Tapi dia kedinginan. Kita harus menghangatkannya."
Arumi menyadari bahwa suhu tubuh Leon mulai turun (hipotermia ringan). Tanpa peduli pada keberadaan Arlan, Arumi segera membuka kancing bajunya. Ia harus memberikan kehangatan skin-to-skin dan menyusui Leon agar bayi itu mendapatkan energi.
Arlan memalingkan wajahnya, menghormati privasi Arumi, namun Arumi berkata dengan tegas, "Jangan lihat ke sana, Tuan. Bantu aku menutupi bagian depan dengan jaketmu. Kita tidak punya waktu untuk malu. Nyawa putra Anda lebih penting."
Arlan tertegun. Ia melepaskan jas mahalnya yang basah dan menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tameng untuk menutupi Arumi dari terpaan angin dingin yang masuk ke mulut gua. Dalam kegelapan itu, mereka duduk sangat rapat. Arlan bisa merasakan kehangatan yang terpancar dari tubuh Arumi, dan suara isapan Leon yang teratur menjadi satu-satunya melodi di tengah badai.
"Bram yang melakukannya," bisik Arlan kemudian. Suaranya penuh dengan kepahitan. "Dia bukan hanya asistenku. Dia adalah orang yang aku selamatkan dari jalanan sepuluh tahun lalu."
"Ternyata ibuku sudah membelinya sejak lama."
"Tuan, sekarang bukan waktunya menyesal," Arumi menatap Arlan. Di bawah cahaya kilat yang sesekali menerangi gua, wajah Arumi tampak sangat kuat. "Anda bilang Leon adalah pewaris. Sekarang, buktikan bahwa ayahnya adalah seorang pejuang, bukan pecundang yang menyerah karena dikhianati."
Arlan menatap mata Arumi. Untuk pertama kalinya, ia tidak melihat Arumi sebagai 'alat' atau 'pelayan'. Ia melihat seorang wanita yang memiliki keberanian yang bahkan tidak dimiliki oleh rekan-rekan bisnisnya yang paling tangguh sekalipun.
"Kenapa kau tidak lari sendiri tadi?" tanya Arlan lirih. "Kau bisa saja meninggalkan aku dan menyelamatkan dirimu sendiri."
Arumi terdiam sejenak, lalu menunduk menatap Leon yang mulai tertidur pulas. "Karena saya sudah berjanji, Tuan. Saya tidak akan membiarkan siapapun mengambil Leon. Dan itu termasuk membiarkan ayahnya mati."
Arlan mengulurkan tangannya yang gemetar, menyentuh pipi Arumi yang basah oleh air hujan. Sentuhan itu tidak dingin seperti biasanya. Ada kehangatan yang menjalar di antara mereka, sebuah ikatan yang lahir bukan dari kontrak seratus juta rupiah, melainkan dari penderitaan yang sama.
Namun, momen itu hancur saat terdengar suara langkah kaki yang menginjak ranting kering di luar gua.
"Cari mereka! Mereka tidak mungkin pergi jauh dengan bayi!" suara pria asing terdengar sangat dekat.
Arlan segera meraih sebuah batu tajam di lantai gua, sementara Arumi memeluk Leon sekencang mungkin. Mereka berada di jalan buntu. Dan kali ini, tidak ada kontrak yang bisa menyelamatkan mereka. Hanya keajaiban atau pengorbanan yang bisa menentukan siapa yang akan melihat matahari terbit esok pagi.