Bukan kisah pengantar tidur. Bukan untuk anak-anak manusia yang polos.
Ini adalah kitab untuk anak-anak jiwa yang sudah siap menghadapi kenyataan di balik kegaiban.
Bahwa di balik dinding realitas yang kau anggap nyata, terdapat celah.
Dan di dalam celah itu... hukum alam mati. Logika hancur.
Segala sesuatu menjadi abstrak, melengkung, dan berteriak.
PS: "Kamu bisa lari dari entitas di depan matamu, tapi kamu tidak bisa lari dari entitas di relung pikiranmu sendiri."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.H Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertelan (Bag 13)
Setelah puas membasuh wajah dan mengisi perut dengan cairan, rasa lapar kembali menyerang lebih ganas. Perut mereka terasa melilit, seperti ada tangan yang meremas isi perut mereka. Kepala terasa pening, pandangan mulai berkunang-kunang.
"Kita harus cari makan, Bos. Perutku sakit sekali," keluh Herman sambil memegang perutnya.
Sulaiman mengangguk. Ia tahu, tanpa asupan energi, mereka tidak akan bisa berjalan jauh. Tubuh mereka akan mulai memakan otot mereka sendiri jika terus dibiarkan kosong.
"Dengar aku baik-baik," Sulaiman berkumpul dengan kedua anak buah dan putranya di tepi sungai yang tersembunyi di balik bebatuan besar. Suaranya rendah namun tegas, seperti seorang komandan yang memberikan briefings terakhir. "Kita sedang berada di zona mati. Tapi hukum alam tetap berlaku. Siapa yang bisa memanfaatkan alam, dia yang hidup. Yang tidak bisa, dia yang mati."
"Instruksi saya sekarang: Kita cari makanan apa saja yang bisa dimakan. Tapi ingat aturan ketat ini, jangan ada yang berani makan sembarangan tanpa izin saya. Mengerti?"
"Mengerti, Bos," jawab Deri dan Herman berbarengan. Sedang Umar hanya mengangguk tak memahami apa yang sebenarnya sedang dibicarakan.
"Baik. Sekarang perhatikan cara saya bertahan hidup."
Sulaiman memimpin jalan menyusuri aliran sungai ke hulu. Matanya yang berpengalaman menyapu setiap sudut.
"Lihat pohon besar di sana," tunjuk Sulaiman pada sebuah pohon beringin atau pohon berakar gantung yang besar. "Di akar-akar yang menggantung itu, seringkali ada Ulat Bambu atau Ulat Sagu. Itu protein murni. Jangan jijik. Di saat seperti ini, itu adalah steak terbaik."
Herman dan Deri mendekat. Benar saja, di celah-celah akar kayu yang lunak, terdapat belatung-belatung besar berwarna putih kekuningan yang gemuk dan segar.
"Ih... jijik Bos, bentuknya gitu..." Deri menutup hidung.
"Jangan banyak omong! Ambil!" perintah Sulaiman. "Itu yang paling aman. Kalau ada ulat yang hidup di dalam kayu kering, berarti tidak beracun. Kalau racun, kayu itu akan rusak dan ulatnya mati."
Mereka mengorek ulat-ulat itu dengan ranting tajam. Mengumpulkannya di atas lembaran daun kering. Jumlahnya cukup banyak, sekitar dua puluh butir seukuran jempol orang dewasa.
"Itu baru pembuka," kata Sulaiman. Ia lalu berjalan ke area yang tanahnya lebih gembur dan banyak lubang-lubang kecil. "Lihat jejak kaki ini. Jejak tikus hutan atau landak. Tapi kita tidak punya waktu buat berburu. Kita cari yang lebih mudah."
Sulaiman lalu menunjuk ke arah semak-semak yang berbuah kecil berwarna merah menyala.
"Itu buah Kemunting atau Senduduk. Buahnya kecil-kecil tapi manis dan banyak airnya. Aman dimakan. Tapi ingat aturannya: Apabila kalian melihat buah yang tidak kalian kenali, dan di sana tidak ada serangga yang mengerumuninya, burung yang tidak pernah mematuknya, atau jejak-jejak hewan lain yang tidak pernah mau mendekatinya, maka itu buah beracun. Sebaliknya buah yang dimakan burung atau semut, itu berarti aman buat manusia. Sekarang lihatlah, ada semut yang naik ke buah itu. Berarti bisa dimakan."
Mereka segera memetik buah-buahan kecil itu. Rasanya asam manis segar. Meskipun tidak bisa mengenyangkan, setidaknya bisa membasmi rasa lapar sedikit dan memberikan vitamin.
Namun, saat Deri melihat sebuah tanaman dengan umbi besar di bawah tanah yang terlihat menggoda, ia langsung mencoba mencangkulnya dengan parang.
"Bos! Lihat! Ada ubi! Ini pasti enak!" teriak Deri senang.
Sulaiman langsung lari mendekat dan menendang ubi itu menjauh. "BUANG!!! ITU RACUN!"
"Hah? Kenapa Bos? Ini kan bentuknya kayak ubi jalar?" tanya Deri kaget.
"Lihat kulitnya! Warnanya ungu gelap dan kalau dipotong keluar getah putih susu! Itu Ubi Hutan atau Dioscorea hispida. Sangat beracun! Bisa bikin kejang dan mati dalam sejam! Ingat baik-baik Deri! Kalau ada umbi yang keluar getah putih, JANGAN SENTUH! Kecuali kalau kau mau merasakan mati!"
Deri ternganga, mundur ketakutan. "Ya Ampun... hampir aku makan..."
"Itulah sebabnya kalian jangan ambil resiko. Hutan ini indah, tapi dia pembunuh yang halus," ucap Sulaiman dingin.
Sulaiman lalu menunjukkan umbi yang benar. Ia menemukan rumpun tanaman Gadung atau Ubi Sugu yang bisa dimakan. "Ini bisa dimakan, tapi harus direndam air mengalir minimal dua hari untuk membuang sedikit racunnya. Tapi sekarang kita tidak punya waktu. Jadi kita lewati."
Tiba-tiba, mata Sulaiman tertuju pada sebuah batang pohon yang baru saja tumbang dan kulit kayunya sudah mengelupas sebagian.
"Di sana! Itu makanan terbaik kita hari ini!"
Mereka melihat ke arah pohon tumbang itu. Di dalam kayu yang lapuk, terdapat larva-larva kumbang yang sangat besar, panjangnya bisa mencapai 10 cm, gemuk dan putih bersih. Itu adalah Buto.
"Wah, dapat jatah daging nih," gumam Herman bersemangat, rasa jijiknya sudah hilang tertelan rasa lapar.
Mereka mengorek kayu itu dengan parang, termasuk Umar yang turut mencongkelnya dengan bilah ranting kecil. Banyak sekali buto yang tersimpan di dalam sana. Lemak mereka tebal, terlihat sangat bergizi.
"Cukup. Ini sudah cukup buat kita bertahan tenaga sampai sore," ucap Sulaiman setelah mengumpulkan cukup makanan.
Mereka kembali ke tepi sungai, mencari tempat yang agak datar dan terlindung dari angin, namun tetap terbuka agar bisa melihat bahaya datang dari mana saja.
"Kita bakar sedikit," kata Sulaiman. "Api akan membunuh kuman dan membuat rasanya lebih enak. Tapi apinya kecil saja, jangan sampai asapnya tebal. Apakah kalian ingin memakan arang?"
Dengan hati-hati, mereka membuat api unggun kecil menggunakan tumpukan ranting. Deri mengeluarkan korek api gasnya, dan tak lama kemudian asap mengepul di antara dedaunan. Sulaiman menusuk ulat sagu dan buto-buton itu dengan lidi-lidi tajam, lalu membakarnya di atas api seperti memanggang marshmellow.
Sssst... drugg...
Ulat-ulat itu meletup kecil saat terkena api, mengeluarkan minyak dan aroma harum yang anehnya sangat menggugah selera di saat mereka sangat lapar. Bau panggang itu bercampur bau asap kayu, membuat mereka sudah tidak sabar lagi.
"Selesai," kata Sulaiman. Ia membagi hasil bakaran itu sama rata.
Tanpa perlu disuruh dua kali, Deri dan Herman langsung melahapnya. Rasanya gurih, lembut, dan sangat berlemak. Seperti memakan telur dadar atau kulit daging ayam yang paling kenyal. Tidak terasa menjijikkan sama sekali di lidah mereka yang sedang kelaparan. Setiap gigitan memberikan energi yang langsung terasa mengalir ke seluruh tubuh. Adapun si kecil Umar, ia hanya memakan sedikit saja, ia lebih banyak mencium aromanya daripada mengunyah.
Di samping itu, mereka juga memakan buah-buahan liar sebagai pencuci mulut.
Untuk pertama kalinya setelah dua hari penuh teror dan ketakutan, perut mereka akhirnya terasa terisi. Wajah mereka tampak lebih segar. Tenaga pun perlahan mulai kembali terkumpul.
hati bertanya tanya
mengapa di saat paling horor seperti yg digambarkan di awal cerita,
Mereka bertukar cerita horor ?🥹
Apakah jawabannya ada di bab selanjutnya?