Saking kayanya, keluarga Suhartanto merasa jenuh dengan kehidupan mereka yang bergelimpangan harta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke desa, mencari suasana baru tanpa fasilitas mewah apa pun.
Akankah mereka mampu bertahan hidup di desa yang semuanya serba terbatas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 PGS
"Kalian itu sebenarnya siapa? kenapa kalian mau pindah ke kampung ini?" tanya Badru.
"Sebelumnya maafkan kita karena kita sudah berbohong kepada kalian. Sebenarnya tujuan kita berbohong, karena kita tidak ingin sampai orang-orang kampung ini merasa minder kepada kita. Awalnya kita memang merasa jenuh saja dengan kehidupan kita di Jakarta, kita ingin merasakan hidup menjadi orang kalangan bawah itu seperti apa? maka dari itu, kita pun memutuskan untuk pindah kesini dengan menyembunyikan identitas kita supaya kita bisa berbaur dengan kalian semua," jelas Sherina.
"Pantas saja, memang dari awal juga kita sudah curiga sama kalian. Katanya kalian bangkrut, tapi kalian selalu memborong dan mentraktir kita makanan enak," sahut Badru.
"Tapi yang lebih aneh lagi, ternyata ada ya orang kaya yang jenuh dengan kehidupannya? padahal enak tahu hidup dengan bergelimpangan harta, kalau aku jadi kalian mungkin aku sudah petangtang-petengteng," timpal Mail.
Semuanya terkekeh mendengar ucapan Mail. Sherina melihat jika Nining melamun dengan wajah sedihnya. "Kenapa kamu sedih, Ning?" tanya Sherina.
"Apakah setelah kejadian ini kamu akan pulang ke Jakarta?" seru Nining.
"Kayanya sih iya, kita sudah tidak mau tinggal lagi di sini," sahut Sherina.
"Padahal aku sudah bahagia loh punya teman seperti kamu, yang baik dan perhatian tapi sekarang kamu akan kembali ke Jakarta. Berarti kita tidak akan pernah bertemu lagi dong," ucap Nining sedih.
"Siapa bilang? kita masih bisa bertemu kok, nanti sesekali aku bakalan ke sini," sahut Sherina.
Nining kembali memeluk Sherina. Nining, Badru, dan Mail memang tulus berteman dengan Sherina dan juga Syarif, mereka tidak peduli mereka orang kaya atau pun miskin. "Apa yang mau kamu lakukan sekarang?" tanya Badru.
"Seperti kata gua tadi, gua bakalan membuat mereka menyesal," sahut Syarif dengan wajah emosinya.
Menjelang siang, Sherina dan Syarif memutuskan untuk pulang dari puskesmas. Sherina dan Nining numpang motor Badru dengan dempet-dempetan, sedangkan Syarif ikut dengan motor Mail. Pada saat Sherina dan Syarif sampai, Herman langsung menghampiri dan membantu Sherina turun dari motor.
"Nona, baik-baik saja 'kan?" tanya Pak Herman.
"Iya."
Ariel melihat ke arah Sherina, untuk sesaat keduanya saling pandang satu sama lain. Ningsih dan Nia berlari menghampiri Sherina lalu berlutut di kaki Sherina dan juga Syarif. "Nak, maafkan suami dan anak-anak saya, jangan bawa mereka ke penjara," mohon Mama Ningsih dengan deraian air matanya.
"Iya, Nak maafkan Fuja juga, jangan masukan dia ke penjara. Saya sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini hanya Fuja," timpal Bunda Nia.
Fuja sudah terisak, dia benar-benar ketakutan. "Pak Herman, singkirkan mereka dari kaki kita!" seru Syarif.
Herman memerintah anak buah Tri untuk mengurus Ningsih dan juga Nia. Sherina masuk ke dalam rumah, tidak lama kemudian Sherina melempar semua barang-barang yang sudah diberikan oleh Tama kepada Mommynya. Semua orang hanya bisa terdiam dan melongo.
"Ini adalah barang-barang yang sudah tua bangka itu berikan kepada Mommy. Aku sengaja menyimpannya untuk bukti, bahkan tua bangka itu membuat ucapan yang sangat menjijikan. Asalkan kalian tahu, selama ini yang mendekati Mommy adalah si tua bangka itu dan kalian sudah memfitnah Mommy aku dengan kejamnya," seru Sherina dingin penuh emosi.
Sherina berjongkok di hadapan keempat orang yang masih terikat itu. Sherina menatap tajam ke arah Ariel dan juga Rossa. "Kalian selalu bilang kalau Mommy aku adalah wanita penggoda dan ingin merebut Papa kalian, tapi sekarang kalian tahu 'kan apa perbedaan Papa kalian dengan Daddy aku? harta yang selalu kalian sombongkan itu, tidak ada apa-apanya bahkan harta yang kalian punya hanya cukup untuk membeli beberapa tas branded saja. Perkebunan yang kalian bangga-banggakan harganya setara dengan uang perawatan aku selama beberapa bulan saja. Jadi, apa alasan Mommy aku mau merebut Papa kalian? jangankan untuk merebut, untuk berdekatan dengan Papa kalian saja Mommy aku gak sudi," seru Sherina.
Syarif ikut berjongkok dan menatap Rossa yang sombongnya tingkat dewa. "Hai, cewek paling sombong di muka bumi ini, gua sudah kesal sama Lu sejak dulu tapi gua berusaha menahannya. Gua aslinya ingin ketawa ngelihat Lu menyombongkan diri Lu, gua kasihan sama Lu bahkan harga diri Lu gak lebih mahal dari pada PS gua. Tapi mulut Lu berasa Lu paling kaya di muka bumi ini, kalau punya muka gak cantik, minimal kelakuan dan otak Lu gak tolol," seru Syarif sembari menoyor kepala Rossa.
Rossa menunduk malu, bahkan saat ini air matanya semakin deras. Titik terendah dalam hidupnya adalah dihina oleh seorang laki-laki. Sherina menghampiri Ariel dan menepuk-nepuk pipi Ariel pelan.
"Seumur hidup, aku gak pernah ditampar oleh seorang pria hanya kamu yang sudah berani menampar aku bahkan sampai dua kali. Lain kali, jangan sombong akan harta orang tua karena diluaran sana masih banyak orang yang jauh lebih kaya dari kamu. Satu lagi, jangan pernah menilai orang dari luar dan kamu tidak berhak menghakimi orang hanya karena orang itu miskin," ucap Sherina.
Ariel terdiam, dia sudah sangat malu dan tidak bisa berkata apa-apa lagi. "Lu adalah pria paling tolol sedunia, kakak gua adalah wanita sempurna. Pengusaha muda di Jakarta berlomba untuk mendapatkan kakak gua, tapi Lu yang hanya sebagai guru kampung bisa-bisanya memperlakukan kakak gua sekejam itu. Gila sih menurut gua, sekarang kalian nikmati saja apa yang sudah kalian tuai karena Daddy gua kalau sudah ngamuk gak ada obatnya, jadi kalian semua siap-siap saja," timpal Syarif.
Sherina dan Syarif pun bangkit. "Maafkan aku," seru Ariel.
Sherina menghentikan langkahnya, lalu membalikan tubuh. "Apa kamu bilang?" tanya Sherina.
"Maafkan aku. Mungkin kata maaf tidak akan bisa merubah segalanya, kelakuan aku selama ini memang sangat keterlaluan dan aku hanya bisa meminta maaf kepada kamu dan juga keluarga kamu," sahut Ariel.
"Simpan saja kata-kata maafmu itu, aku gak butuh. Jika ada orang yang paling aku benci dalam hidup aku, itu adalah kamu dan aku berharap aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan kamu dan keluarga kamu," sahut Sherina penuh emosi.
Pada saat Sherina dan Syarif hendak pergi, semua warga langsung bertekuk lutut di hadapan keduanya. Mereka meminta Sherina dan Syarif untuk memaafkan mereka dan tidak mengusir mereka dari kampung itu. "Jangan memohon kepada kita, kalian bilang saja kepada Daddy karena yang memutuskan semuanya hanya Daddy kita," ucap Sherina.
Sherina dan Syarif pun masuk ke dalam rumah untuk membereskan barang-barang yang akan mereka bawa. Hari itu juga mereka akan kembali ke Jakarta, entah apa yang akan terjadi kepada warga di kampung itu.
kalian harus perlihatkan siapa kalian biar tama dan yg lainnya kicep, kesel sumpah