Alderza Rajendra, seorang siswa tampan yang banyak digemari para siswi di sekolahnya. Kehadirannya tersebut, selain membuat kericuhan diantara para cewek-cewek di sekolahnya, ia juga menimbulkan rasa takut diantara para cowok maupun cewek di sekolah itu.
Seorang teman ceweknya yang juga merupakan teman sekelasnya, sering kali menjadi bahan bully-an oleh dia dan juga genk nya. Sebagai ketua, Alderza tentunya tidak pernah ngasih ampun dalam membully cewek tersebut.
Namun suatu hari, Alderza berhenti. Semua perilaku kekerasan dan cacian yang ia berikan pada cewek tersebut menghilang. Semua dikarenakan satu rahasia besar yang membuat dirinya hancur seketika.
Rahasia tersebut berasal dari Aily Marsela teman sekelasnya yang selalu ia sakiti.
novel ini banyak sekali terinspirasi dari novel Teluk Alaska karya Eka Aryani.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Saputra 0416, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23. Perjalanan yang penuh tawa
Happy Reading
Embun masih menyelimuti pagi hari yang gelap. Aily saat ini tengah memasukkan segala sesuatu yang ia butuhkan saat camping nanti.
Saat ini, kondisinya memang masih belum stabil. Tapi Aily sangat ingin untuk mengikuti camping dan memiliki buku kenangan bersama teman-temannya.
Meskipun ia tahu, kebanyakan kenangan yang tersimpan di masa SMA hanyalah kenangan pahit saja. Tapi setidaknya, dia ingin memiliki satu kenangan manis untuk hari ini.
Di tengah persiapannya, Aily menatap sebuah kantong yang berisi baju hangat yang diberikan Alderza.
Aily menatap jaket ungu yang biasa dia pakai dk pantulan cermin, rambutnya dikuncir seperti biasanya seperti yang ada di buku peraturan.
Aily tersenyum sambil melihat cermin tersebut, lalu kemudian membuka kuncir rambutnya dan merombak semua penampilannya.
***
"Semuanya udah siap?" Tanya Revan ketua murid XII IPS 4.
Mata Alderza langsung mencari-cari Aily. Dia melihat ke setiap sudut mana pun, tapi masih tetap tidak bisa menemukannya.
Apa dia gak ikut ya? Batin Alderza.
Pemandangan mengejutkan pun hadir saat Aolh datang bersama Wulan dan...Bintang. Alderza menatap Bintang yidak suka, tangannya mengepal penuh.
Sial, kenapa harus bersama anak itu lagi?
Tapi seketika, rasa kesalnya itu mereda saat melihat Aily memakai baju hangat berwarna hitam pemberiannya.
Baju itu sangat pas sekali untuknya, menutupi leher agar membuatnya tetap hangat. Rambutnya yang terurai penuh membuatnya terlihat sangat cantik, berbeda seperti biasanya.
Dia terlihat tersenyum kepada Wulan yang tengah berbincang kepadanya. Ini pemandangan yang sangat jarang sekali terlihat.
"Liat deh, Anak-anak pasti pada ngomongin kamu cantik." Ucap Wulan sembari menatap Aily yang tengah tersenyum manis.
"Jangan berlebihan. Mungkin aja mereka lagi ngomongin perubahan aku." Ucap Aily yang sukses membuat Wulan tertawa.
Wulan sangat tahu dan sadar ada mata yang menatap Aily dengan tatapan suka dan ada yang menatapnya dengan tatapan kesal.
"Lo cantik Aily. Lo harus percaya sama gue." Bintang tersenyum sambil berdiri di samping Aily.
Aily kemudian menunduk, tapi tiba-tiba dagunya diangkat oleh Bintang.
"Lo udah janji kan, gak bakal ikutin buku itu lagi?" Tanya Bintang dengan serius.
Aily menelan salivanya. Meskipun dia masih belum terbiasa, dia tidak boleh terus tertindas. Aily mengangguk pelan dan menatap Bintang dengan berani, lalu tersenyum manis.
Langsung saja Wulan bersorak gembira melihatnya. Wulan langsung menatap Sinta dan Riska dengan senyuman meremehkan sembari mengangkat jari tengahnya, seolah menantang mereka berdua agar terus kepanasan.
"Sialan, berani juga tu cewek cupu berlagak!" Sinta menatap Wulan dan Aily dengan tajam dengan tangannya yang mengepal. Ingin sekali rasanya ia memberi pelajaran pada Aily.
"Bintang gue juga direbut!" Balas Riska kesal.
Sementara Alderza, dia merasa hatinya teriris saat melihat Aily tersenyum kepada Bintang. Memang menyebalkan melihatnya tersenyum kepada cowok lain.
Tidak, ini bukan cemburu. Hanya saja Bintang adalah sahabatnya, yang selalu menemaninya. Kenapa dia terang-terangan mendekati Aily?
"Semuanya sudah siapkan? Kita berangkat sekarang."
***
Setelah menaiki bus sekitar 1-2 jam lebih karena perjalanan yang curam, mereka turun di lereng bukit. Semua peraturan dan susunan kegiatan yang akan dilakukan mulai diumumkan oleh tiap wali kelas.
Mereka memperhatikan dengan saksama karena perjalanan menuju ke atas bukit sangat panjang dan memakan waktu lama. Banyak yang akan tersesat jika tidak menaati petunjuk.
"Jangan jauh-jauh dari aku." Bisik Wulan.
"Oke." Ucap Aily sembari melihat ke sekeliling.
Matanya tertuju pada Sinta dan Riska yang menatapnya dengan sadis. Tapi tiba-tiba, Wulan memegang tangan Aily sangat kuat.
"Liat aku aja." Ucap Wulan sambil menarik dagu Aily untuk menatao matanya yang melotot.
Mereka kembali tertawa, dan pemandangan itu membuat Sinta dan Riska semakin kesal.
"Wulan..."
"Kenapa?"
"Waktu itu Alderza pernah suruh aku ngomong 'gue-elo'." Ucap Aily sembari berdiri.
Wulan pun demikian, dia berdiri dan berjalan menuju tempat berkemah.
Di sisi lain, Wulan sama sekali tidak kaget karena Aily bercerita tentang apa yang terjadi di antara mereka, seperti saat Alderza mengganti bunga untuk ayahnya.
Aily bahkan tidak ragu untuk mengungkapkan kalau Alderza adalah teman kecilnya. Dia benar-benar memercayai Wulan, sahabatnya.
"Yang penting kamu nyaman aja, tapi itu ide yang bagus juga sih."
"Ide bagus?"
"Iya, pasti bikin duo nenek lampir kepanasan."
"Gimana kalo. kamu duluan yang bilang 'gue-elo' sama aku."
Wulan mengernyit sembari tersenyum kecil. "Ya udah. Sekarang gue mau tanya, kenapa Alderza tiba-tiba minta lo buat ngomong kek gitu?"
Aily melotot. Tidak mungkin kan kalau dia cerita tentang skandalnya? Sayangnya, dia masih belum punya cukup keberanian untuk menceritakannya.
"Gu-gue... gak tau." Ucap Aily dengan kaku.
Mereka pun kembali tertawa karena mendengar Aily yang sangat kaku menyebutkan kata 'gue' dan itu sangat lucu untuk didengar.
"Nih, pake lip balm. Nanti bibirnya pecah-pecah loh, dingin banget soalnya." Wulan memberikan lip balm nya kepada Aily.
"Oh gak usah, udah bawa kok."
"Cie, mau ngelanggar aturan. Kita langgar semuanya yuk malam ini?"
"Gak usah mancing-mancing."
"Eh, kamu belum jawab pertanyaan aku. Kok bisa si Alderza nyuruh-"
"Udah, gak usah dibahas."
Wajah Aily memerah padam. Wulan dapat langsung menafsirkannya, seolah ada sesuatu yang terjadi di antara mereka berdua.
Mereka terus berbincang-bincang tanpa sadar ada seseorang yang tengah tersenyum kecil di belakang mereka.
Ya, siapa lagi kalau bukan Alderza.
"Van, masih jauh?" Teriak Alderza kencang sampai terdengar ke barisan paling depan.
Aily kaget sumber suara itu tepat berasal dari belakangnya.
"Lumayan sih, kurang lebih 300 meter lagi dah."
Sontak Aily terkejut, ternyata di belakang mereka kini ada Alderza, Bintang, dan Rafa.
Mata mereka kini bertemu. Mata Aily yang indah kini beradu dengan Alderza yang tengah berjalan tepat di belakangnya kemudian dia langsung memutar kembali kepalanya.
"Bintang, aku kira kamu sendirian."
"Gue kira, bukan aku kira." Alderza membalasnya dengan tiba-tiba dan itu membuat pipi Aily memerah.
Selama perjalanan, Aily terdiam kaku. Dia tidak bisa berkutik. Dia bingung harus berbicara apa kepada Alderza.
"Santai aja bangsat. Gak usah ngegas!" Balas Bintang.
"Lo yang harus santai!" Ucap Alderza. Kemudian Alderza dan Bintang sibuk berdebat.
Ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati Aily. Apakah dia harus bertanya langsung?
Gimana kemarin, dimarahin sama Mama dan Abang aku? Ucap Aily dalam hati.
Bodoh! Tentu saja dimarahi. Setidaknya, Aily ingin tahu apa yang terjadi kemarin.
"Eh, Tang. Tuh ada bunga mawar merah kesukaan Aily." Wulan menunjuk bunga-bunga di perjalanan mereka ke atas bukit.
Mereka langsung menoleh pada bunga mawar tersebut, sangat indah dan cantik. Aily tersenyum melihat bunga tersebut.
"Apaan sih, bunga jelek kayak gitu." Alderza langsung memutar bola matanya.
"Heh, lo harus tahu ya. Cinta pertama Aily dulu kasih bunga mawar, wajar aja kalo dia suka!" Balas Wulan.
"Najis, selera cowoknya rendahan!" Balas Alderza.
Tiba-tiba saja, Aily tersenyum. Dia sungguh tidak bisa tahan untuk tidak tersenyum, bahkan sangat ingin tertawa.
Terutama Wulan, jika saja dia sedang minum, mungkin sudah tersedak saat mendengar ocehan Alderza.
"Seenggaknya lo harus hargain dong!"
"Cowok apaan masih kecil kasih-kasih bunga. Pasti cowok gatel!" Alderza terlihat kesal. Tangannya terkepal penuh. Tapi kenapa Aily malah terkekeh melihatnya seperti ini?
"Lagian ceweknya aja yang gampang jatuh cinta, dikasih yang murah mau aja."
Wulan cemberut, dia tidak mau lagi meladeni cowok sialan itu. Bibirnya asbun dan tingkahnya sok oke.
Apakah dia tidak sadar kalau dia sedang menghina dirinya sendiri?
Wulan berbisik kepada Aily. "Pengen gue sentil ginjalnya."
Mereka pun kembali tertawa, dan itu membuat Sinta dan Riska semakin panas. Apalagi mendengar mereka tertawa di sepanjang jalan itu sanggup membuat mereka naik darah.
"Sok cantik!" Ucap Sinta.
"Liat aja, apa yang bakal kita lakuin di perkemahan nanti. Kita bakal bikin lo jauh lebih menderita dari kemaren, Aily."
Thank you guys yang udah baca. Kalo ada kesalahan kata, typo, atau semacamnya, jangan lupa dikoreksi ya. Love you guys.