Tak kusangka aku bahagia bisa memiliki keluarga kecil.
Sebuah cerita perjuangan gadis yang bernama Indira Mahesa, gadis yang memiliki karir begitu baik. Harus menghadapi pernikahan yang terjadi karena pembalasan dendam yang salah sasaran.
Pria tampan yang bernama Abian Malik seorang pengusaha kaya yang mampu mencuri hati semua wanita termasuk sang sekertarisnya yang tidak lain adalah sepupunya sendiri.
Akankah pernikahan mereka mampu bertahan?
Mohon untuk tidak promosi di lapak ini🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melunak
"Apa yang harus aku lakukan, Bram?" Suara Abian terdengar rapuh. Dendam yang ia tanamkan pada Indira kini tinggal rasa penyesalan kejadian tentang kematian Maudi tak lagi terlintas di benaknya.
"Berikan Nyonya muda kebebasan, Tuan." jawab Bram dengan yakinnya.
Sebelum datangnya Bram di kediaman Malik ia sudah banyak mendengar berita tentang Abian terlebih lagi Abian sudah banyak cerita padanya melalui telfon. Sampai akhrinya Bram memantapkan keputusannya untuk berada di samping Abian saat ini.
Mendengar ucapan Bram seketika pria itu terdiam memikirkan jalan yang harus ia ambil, tidak mungkin juga jika ia harus mengatakan kesalahannya pada Indira secara terang-terangan.
"Apa aku harus menceraikannya, Bram?" Abian yang bertanya pada Bram tanpa mau menatapnya.
Bram merasa keputusan Tuan mudanya sangat tidak baik, "Tuan, anda tidak perlu menceraikannya biarkan dia bahagia dengan Tuan. Saya rasa keamanan Nyonya muda hanya ada ketika tetap bersama anda." jelas Bram yang mengingat kejadian saat di London Indira hampir di lecehkan dengan Ayah tirinya.
Kepala pria itu mengangguk pelan dengan pandangan kosongnya. "Kau benar, Bram."
Setelah lama keduanya bercerita akhirnya Abian meminta Bram untuk keluar dari kamarnya. Percakapan mereka sangat memakan waktu sampai tidak terasa hari sudah semakin gelap. Bram yang keluar dari kamar utama itu melihat tatapan dua wanita dengan sorot yang jika di artikan seakan geli melihatnya.
"Ada apa lagi dengan dua wanita ini?" begitu ucapan Bram dari tatapannya.
"Nyonya, anda di minta masuk oleh Tuan." pintah Bram dengan beranjak pergi meninggalkan keduanya. Zanna yang hanya berdiam mematung tidak mengucapkan apa-apa dan ia hanya terus menatap punggung Indira yang sudah memasuki kamar.
Langkahnya begitu ragu ia sangat takut jika Abian akan marah padanya kali ini, "Kemari!" Suara Abian terdengar mengejutkan Indira.
"Ti-dak, aku di sini saja." bantah Indira yang memilih duduk di sofa tanpa mau mendekat ke arah suaminya yang tengah berbaring di kasur.
"Kemari!" Abian mengulangi ucapannya dan menatap tajam ke arah Indira. Sementara wanita itu seakan mengomel dalam tatapan matanya sambil melangkah malas.
Indira yang tepat berada di samping Abian segera ia tarik lengannya dan sukses membuat tubuh Indira menindih tubuh atletisnya. "Ihh apa yang kau lakukan?"
Abian yang mendengarnya terus mencengkram erat lengan kecil itu. "Jangan pernah membuatku kesal untuk terus mengulang ucapanku." Sambil kembali mengeratkan pelukannya di pinggang langsing milik Indira kini tubuh keduanya saling menempel.
Indira beberapa kali berusaha mendorong tubuhnya agar menjauh namun tangan Abian lebih kuat menahannya. Wajah wanita itu memerah karena malu, ia merasa sangat gugup dengan jarak yang begitu dekat antara wajahnya dan wajah Abian.
Abian yang mulai mendekatkan wajahnya ke bibir mungil Indira membuat detak jantung Indira begitu semakin tak karuan. "Astaga apa ini? apa dia ingin menghukumku karena ulahku tadi, aduh Indira mengapa kau bodoh sekali sih."
Saat Indira menatapnya dengan ekspresi bingungnya tiba-tiba Abian mengatakan, "Kau ingin bekerja?"
Mata Indira membulat tak percaya dengan pertanyaannya itu, apa ini pertanda suaminya akan menghentikannya bekerja karena ulahnya tadi. Wajah sedih kembali terlihat di raut cantiknya, matanya sudah mulai berkaca-kaca berusaha tetap terlihat kuat.
"Kau tidak mendengarku? sudah ku katakan jangan membuatku mengulang kata-kata!"
"E...i-ya a-ku ingin bekerja." Indira menjawab dengan menggigit bibir bawahnya merasa takut jika jawabannya tidak sesua dengan keinginan suaminya.
"Sampai kapan aku harus tetap berbaring seperti ini di atas tubuhnya sih?" Indira merasa risih dengan gaya bicara mereka kali ini.
"Kau boleh bekerja mulai besok, tapi ingat hanya setengah hari tidak lebih." pekik Abian yang sukses membuat mata indah Indira membulat tak percaya. Wajahnya terdiam mematung tanpa gerakan atau pun kedipan sekali saja.
Abian yang melihat ekspresi Indira segera meniup nafasnya dengan kencang ke wajah Indira, "Aw...ih apaan sih?" Indira begitu terkejut melihat tingkah suaminya yang sangat aneh kali ini.
"Kau sangat betah di pelukanku yah?" tanya Abian yang tertawa kecil ketika melirik tubuh Indira di depan dadanya di sana terlihat jelas belahan dua benda padat milik Indira yang tertindis.
Melihat ekspresi tatapan itu Indira segera menutup bagian dadanya dengan tangan mungilnya, entah sejak kapan Abian melepaskan pelukannya di pinggang Indira. Melihat tubuhnya yang sudah terlepas dari cengkraman suaminya Indira bergegas membangunkan tubuhnya dari atas Abian.
Ia berdiri mematung masih tidak percaya dengan ucapan suaminya barusan. "Apa aku boleh bekerja bebas maksudnya? astaga benarkah ini apa ada sesuatu yang ingin ia lakukan lagi padaku tanpa aku tahu?" begitu ucapan dari sorot mata Indira yang menatap Abian tidak percaya.
"Tapi ini adalah kesempatan yang baik untukku, apa aku harus menerima ini?"
Abian yang tengah berbaring menikmati berita di televisi meminta Indira duduk di sampingnya, Indira yang mendengar permintaan suaminya terlihat ragu-ragu mendaratkan bokongnya di kasur sebelah Abian berbaring.
"Dekat lagi!"
"Apa sih memintaku dekat lagi? apa duduknya?" gumam Indira yang menatap bingung wajah Abian yang tampak fokus menikmati berita di televisi.
Melihat Indira tak kunjung mendekat tangan Abian kini menarik dengan mudahnya pinggul istrinya dan menempel sempurna di lengannya. Indira bingung harus berbuat apa ia benar-benar gerogi dengan posisi duduknya saat ini yang sangat dekat tanpa jarak di tambah lagi tangan suaminya yang sudah melingkar sempurna di pinggang langsingnya.
Abian tersenyum saat melihat berita yang menayangkan sekilas tentang mall yang akhir-akhir ini ramai di perbincangkan karena bangunannya yang sangat unik dan megah. Yah mall yang di rancang khusus oleh Indira namun di rubah sedikit oleh Abian tepat di lantai enam.
"Wah akhirnya aku bisa melihat bangungan pertama yang aku rancang juga meskipun ada kesalahan sedikit, tapi tiu bukan kesalahanku, itu adalah kesalahan pria ini bisa-bisanya membuat bangunan setinggi itu dan membuka salah satu lantainya." umpat kesal Indira sambil menatap tayangan di televisi.
Ada rasa penasaran mengapa harus membuka lantai enam itu tapi melihat wajah suaminya nyalinya kembali ciut. Rasanya sangat aman jika Abian tidak marah padanya, tiap kali marah Abian selalu membuat hal yang di luar dugaannya.
Setelah menyaksikan berita sekilas kini Abian menenggelamkan wajahnya di samping pinggang Indira dengan tangan yang masih melingkar sempurna.
"Aduh mengapa aku jadi semakin sulit bernafas jadinya."
Perlahan wanita itu menggeser bokongnya untuk menjauh dari wajah suaminya, namun Abian yang merasakan hal itu merasa kesal. "Diamlah sebentar aku ingin istirahat dulu."
"Kalau kau ingin istirahat yasudah istirahatlah mengapa harus mencekik pinggangku seperti ini aduh membuatku sulit bernafas saja." gumam Indira yang diam mematung dan mengurungkan niatnya pergi dari samping Abian.
***
"Kak Indira apa kabarnya yah?" Gibran yang baru selesai belajar dan menutup bukunya menatap layar ponselnya. Terlihat foto selfi dirinya bersama Kakak wanitanya, mereka sangat bahagia tersenyum lebar seakan memberikan bekas kebahagiaan di hati Gibran.
Matanya berkaca-kaca membayangkan kehidupan mereka yang saat ini seperti orang asing yang tak saling kenal. Tangannya kini bergerak mencari nomor ponsel Indira dan menelfonnya, seketika alisnya mengerut dalam mendengar sambungan telfon yang tidak bisa terhubung.
Gibran begitu mengkhawatirkan keadaan Indira, berkali-kali ia menghubungi namun hasilnya masih tetap sama tidak bisa terhubung.
"Tunggu aku sukses yah, Kak. Aku akan membawamu pergi bersamaku." gumam Gibran dengan tatapan dendamnya pada keluarga dan suami Indira.
Nyonya Ningrum yang baru saja masuk ke kamar Gibran begitu mengejutkan pria itu. "Mami."
"Kau belum makan malam?" Nyonya Ningrum yang menatap Gibran terlihat wajah sedihnya.
"Apa peduli Mami denganku?" bantah gibran terdengar begitu kesal.
"Tutup mulutmu, Gibran! Nyonya Ningrum yang seketika terlihat kekesalannya mendengar bantahan Gibran.
Selama ini mereka sudah sangat jarang berbicara meskipun mereka tinggal satu rumah, Gibran selalu menghabiskan waktunya di kamar untuk belajar. Karena Gibran sadar dengan kecerdasannya ia akan sukses dan bisa membawa Kakaknya hidup bersamanya seperti dulu.
membaca smbil meraba2 jalN ceritanya...
rada bingung
apa latiahan karate...
oohh AQ tkungfuu Jecky Chen
naah ituu baru nama panjangnya thorrrr....
😅😅
ternyata kau bisa juga malu2 meong...
karya mu luar biasa