Dien Moretz adalah sarjana pengangguran yang selalu gagal dalam wawancara kerja, karena memiliki kekurangan bibir sumbing yang menyebabkan komunikasinya tidak lancar dan dianggap sebuah beban. Suatu hari saat sedang mencari pekerjaan, tiba-tiba ada monster yang muncul dan memangsa orang-orang. Dien yang selamat akhirnya menyadari bahwa ada dunia lain, dunia yang berbeda dari yang dia jalankan selama ini. Dien yang tertarik dan tidak mendapatkan pekerjaan akhirnya memilih menjadi bagian dari dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YT FiksiChannel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Katanya dapat melihat masa depan
Pov Dien.
Aku terus berusaha mengontrol energi aneh yang meledak di dalam tubuhku, sebuah energi yang berasal dari ramuan sihir kebangkitan spiritual. Aku menyebutnya energi spiritual, sesuai dengan nama ramuan yang memicunya, lagipula hanya nama itu yang cocok untuk menjelaskan energi aneh tersebut.
Saat aku terus mencoba mengontrol energi spiritual, dalam bayanganku, aku melihat energi spiritual mencoba menyatu dengan pembuluh darah, tulang, jantung, dan setiap sel yang ada di tubuhku. Rasanya begitu menyakitkan, seakan-akan pembuluh darah, jantung, tulang, dan setiap sel di dalam tubuhku diiris dengan parutan kelapa. Rasanya sangat menyakitkan, rasa sakit itu semakin perih dan pedih seiring berjalannya waktu, seperti luka yang disiram air laut terus-menerus.
Rasanya begitu pedih! Sangat pedih!
Tiba-tiba energi aneh lainnya menerobos masuk dan memperkuat energi spiritual yang mengamuk di dalam tubuhku. Aku menyebut energi aneh itu adalah energi alam, karena hanya itu yang mendeskripsikan sebuah energi yang berasal dari alam.
Energi alam perlahan-lahan menyatu dengan energi spiritual di dalam tubuhku, dan membuat tubuhku tidak mampu menahannya. Aku merasa tubuhku perlahan-lahan membesar dan membesar. Aku dapat merasakan tubuhku kelebihan energi dan akan meledak jika tidak ditangani dengan baik.
Aku sadar nyawaku sudah berakhir, namun senyuman ibu dan ayah serta senyum penghinaan kedua adikku membuatku sadar bahwa aku tidak boleh menyerah. Aku tidak boleh mati sebelum membuat kedua orang tuaku bahagia, dan membungkam dua adik yang meremehkanku.
Aku berusaha keras mengontrol energi spiritual, dan membiarkan energi spiritual menyatu ke dalam pembuluh darah, tulang, jantung, hati, dan setiap sel yang ada di tubuhku, sembari mencoba menahan energi alam yang semakin brutal ingin masuk ke dalam tubuhku dan menyatu dengan energi spiritual.
Benar saja cara itu berhasil. Aku merasa tidak percaya bahwa aku mampu mengontrol energi spiritual.
Aku dengan cepat tenang dan mengendalikan energi spiritual untuk berhenti menyerap energi alam yang sudah berlebihan, dan mengolah energi alam yang sudah terlanjur masuk menjadi energi spiritual yang baru. Dengan cara itu, aku merasakan bahwa tubuhku berangsur-angsur normal kembali.
“Inikah energi spiritual? Rasanya begitu menakjubkan. Aku merasa dapat melakukan apapun.” Ucapku tidak percaya melihat energi aneh berwarna putih yang mengalir di dalam setiap sel tubuh.
Aku merasa seperti terlahir kembali dengan dipenuhi energi spiritual.
Aku melihat Marcus dengan mata yang diselimuti energi spiritual. Samar-samar aku melihat bayangan masa depan Marcus, dimana masa depannya adalah mendekat dan menepuk lembut pundakku, dan mengucapkan beberapa kata.
Benar saja, Marcus jalan mendekat dan menepuk lembut pundakku, lalu berbicara dengan senyuman.
“Bagus, anak muda. Aku senang kamu berhasil mengendalikan energi spiritual yang sangat ganas itu, bahkan kamu mampu mengolah energi alam menjadi energi spiritual padahal kamu belum mempelajarinya. Aku percaya kamu akan menjadi praktisi spiritual yang hebat.” Marcus tampak lega dan mengusap dahinya yang berkeringat dingin.
“Syukurlah bocah ini memiliki kehendak yang cukup kuat dan mengalahkan kehendak monster sihir tingkat 8. Jika tidak! Mungkin dia akan menghancurkan ruangan ini, bahkan menghancurkan markas tersembunyi pasukan malam.” Batin Marcus dalam hati dan menangis diam-diam.
“Sekarang kau pergi dari sini.” Every mendorong Dien keluar dari ruangan alkimia yang hancur sebanyak 90 persen.
Dien hanya bisa pasrah diusir paksa dan kasar oleh wanita itu.
“Kenapa kamu begitu sensitif kepadanya? Apa dia ada salah kepadamu?” Tanya Marcus penasaran juga dengan sikap dingin Every Kingston kepada Dien Moretz.
“Aku benci orang sumbing.” Balas Every dingin dan melanjutkan kesibukannya.
Mendengar itu, Marcus dan Bent hanya bisa menggeleng tidak percaya.
“Anakku juga sumbing. Sebaiknya kamu berhati-hati mengucapkan sebuah kata. Jangan sampai mulutmu membuatmu terbunuh!!!” Bent mendengus dingin dan berlalu pergi dari ruangan alkimia.
Every dan Marcus terdiam mendengar ancaman tersirat Bent. Every tampaknya tidak peduli dan melupakannya begitu saja, lalu lanjut meracik ramuan sihir.
“Ah benar juga!” Marcus segera mengejar Dien yang sudah keluar ruangan alkimia, karena melupakan sesuatu yang cukup penting bagi praktisi spiritual.
“Bocah, tunggu!” Panggil Marcus mengejar Dien yang hendak berbelok.
Dien yang hendak pergi menemui kapten pasukan malam, segera menoleh melihat Marcus yang memanggilnya. Pria tua dengan tengah kepala botak itu berlari ringan, lalu memberikan sebuah botol ramuan aneh kepada Dien yang heran.
“Apa ini?” Dien bertanya bingung.
“Itu adalah ramuan ribuan bahasa, sebuah ramuan sihir yang memungkinkan kamu memahami semua bahasa manusia selama lima tahun penuh. Ramuan ini membuat orang lain mengerti apa yang kamu katakan, meskipun ucapanmu sangat jelek, tidak jelas, dan sangat sulit dipahami manusia normal. Para praktisi spiritual dari berbagai wilayah dapat berkomunikasi tanpa terkendala bahasa dan suara saat sedang menjalankan misi karena meminum ramuan ini. Sebagai praktisi spiritual kamu juga harus meminumnya.” Marcus menjelaskan dengan senyuman ramah dan mendesak agar Dien meminum ramuan ribuan bahasa tersebut.
Dien ragu dan tidak percaya.
"Minum ramuan ini tidak akan membuatmu rugi." Marcus tersenyum.
“Ini… baiklah! Terima kasih, paman.” Dien hanya bisa mengucapkan terimakasih dan menenggak ramuan tersebut.
Setelah melewati beberapa lorong koridor dan belokan Dien sampai di depan pintu kantor kapten Medi Gusting. Dien mengetuk lembut pintu kantor meminta izin untuk masuk.
“Masuk!” Balas kapten datar.
Dien memutar gagang membuka pintu dan masuk ke dalam kantor dengan langkah hati-hati. Dien langsung melihat kapten Medi yang duduk santai, sambil menikmati secangkir kopi dan sebatang rokok dengan ditemani koran mingguan.
“Kapten!” Dien menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan.
Kapten Medi tersenyum, melambaikan tangan mempersilahkan Dien duduk di kursi yang ada di depannya, lalu membuat kopi dengan pengendalian energi spiritual dengan santai dan acuh tak acuh. Dengan pengendalian energi spiritual yang baik, kapten membuat air dingin menjadi panas, kopi, dan gula bergerak sendiri di udara, lalu bergabung dan menciptakan satu kesatuan yang dikenal sebagai kopi. Cairan hitam pekat itu segera diarahkan untuk tertampung di sebuah gelas.
Kapten melambaikan tangan, membiarkan segelas kopi itu melayang dan mendarat di depan Dien Moretz.
“Kamu sudah mendapatkan ramuan kebangkitan spiritual yang kamu inginkan?” Tanya kapten dengan tatapan lurus dan pura-pura tidak tahu apapun.
Dien mengangguk.
“Aku sudah meminum ramuan kebangkitan spiritual. Aku mendapatkan kemampuan bawaan melihat masa depan.” Balas Dien apa adanya sembari menyesap kopi.
“Ouh. Melihat masa depan, kah?” Kapten tersenyum tipis.
Tiba-tiba kapten melempar koran ke wajah Dien hingga membuat pemuda itu terjungkal ke belakang dan hidung berdarah. Beruntungnya segelas kopinya tidak tumpah, sebagai gantinya kopi itu melayang di udara karena dikendalikan oleh kapten.
Kapten mengendalikan segelas kopi untuk mendarat dengan sempurna di meja.
“Katanya mendapatkan kemampuan bawaan melihat masa depan, kenapa bisa terkena lemparan koran?” Tanya kapten tidak memberi Dien kesempatan untuk protes.
“Kapten aku… aku belum mengaktifkan kemampuanku, anda sudah melempar koran dan membuat hidungku berdarah.” Balas Dien tidak terima.
“Oh! Kalau begitu aktifkan kemampuanmu sekarang. Aku ingin melihatnya.” Balas kapten acuh saja.
Dien berdiri dan mengaktifkan kemampuan untuk melihat masa depan. Terlihat matanya sedikit bercahaya emas dan mengubah warna pupil mata menjadi warna biru laut keemasan. Sebuah mata yang seakan-akan bisa melihat apapun.
Saat itu juga sebuah tinju lurus melayang ke wajahnya dengan kecepatan mengerikan. Dien dengan reflek tinggi cepat mundur menghindari tinju tersebut, namun kapten berhasil mendaratkan tinju energi yang langsung menghempaskannya hingga menghancurkan dinding kantor.
“Hahaha. Aku bahkan belum bergerak. Kamu terlalu cepat menghindar dan memberiku kesempatan untuk melancarkan serangan yang paling efektif. Kamu sepertinya belum benar-benar mengendalikan atribut bawaanmu ya? Wajar saja sih, karena bagaimanapun kamu baru saja membangkitkannya. Aku yang salah disini, karena terlalu berharap.” Ujar kapten tersenyum dan hampir tertawa karena berhasil mempermainkan Dien si anak baru di dunia praktisi spiritual.
Dien mengelap darah di bibirnya dan menatap dendam kapten Medi yang tersenyum mengejek. Terlihat dinding kantor yang hancur pulih dengan sendirinya, karena formasi sihir restrukturisasi ruangan.
“Dien Moretz, kamu harus banyak belajar dan memahami kemampuan atribut bawaanmu. Kamu harus menguasai kekuatan melihat masa depan dan menggunakannya di waktu yang tepat, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.” Ujar kapten memberikan saran.
“Apa kau mengerti bocah?” Tanya kapten mengeluarkan tekanan intimidasi.
“Aku mengerti!” Balas Dien tanpa gentar dan menatap balik kapten Medi.
Kapten Medi tersenyum puas dan melambaikan tangan ringan, membuat sebuah buku melayang di samping kanannya, lalu diarahkan ke depan wajah Dien yang terlihat masih kesal. Buku itu memiliki judul “Dasar-Dasar Dunia Spiritual.”
“Bacalah buku itu untuk memahami dunia spiritual lebih jauh. Kamu tidak boleh terlalu buta tentang dunia spiritual.” Ucap kapten Medi penuh perhatian.
Dien mengangguk mengerti dan mengambil buku tersebut.
“Baguslah jika kamu mengerti.” Ujar kapten tersenyum ramah, mengambil sebuah amplop di laci mejanya.
“Ini adalah gaji pertamamu sebagai pasukan malam. Ambillah!” Ucap kapten menyerahkan amplop tersebut.
Dien dengan senang hati menerimanya dan segera melihat gaji pertamanya. Ternyata gaji pertamanya berbentuk cek dengan nilai 10 juta kertas emas, sebuah nilai gaji yang sangat fantastis dan tergolong sangat tinggi di kota Selabatu.
“Terimakasih, kapten.” Dien tersenyum dan menundukkan kepala hormat.
Kapten Medi mengangguk saja.
“Besok, jam 9 pagi datanglah kembali untuk menerima misi pertama. Tenang saja, misi untuk pemula sepertimu tidak akan terlalu berat apalagi mempertaruhkan nyawa. Paling-paling hanya menangkap beberapa praktisi liar yang lemah atau baru masuk ke dunia praktisi spiritual.” Ujar kapten tersenyum tipis dan mencurigakan.
Dien mengangguk mengerti.
“Itu saja! Kamu bisa pergi. Oh iya, besok jangan sampai terlambat." Ujar kapten tegas dan menyemburkan asap rokoknya ke atas layaknya bos mafia.
“Aku mengerti, kapten!” Balas Dien singkat dan beranjak pergi dari ruang kerja kapten pasukan malam tersebut.
Bersambung.