Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BISIKAN DIBALIK DINDING
Sinarr matahari siang yang terik gagal menembus tirai tebal di kamar 303, namun hawa panas Kota Valerion yang pengap tetap terasa menyelusup melalui sela-sela ventilasi. Kirana terbangun dengan kepala yang berdenyut nyeri. Efek menghirup asap cerutu dan sisa aroma alkohol dari Ruang VIP 1 semalam masih tertinggal di rongga dadanya, meninggalkan rasa mual yang akrab.
Ia mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang, menatap lantai yang dilapisi karpet merah marun. Di atas meja rias, seikat uang kertas dari Tuan Wijaya masih tergeletak, tertimpa selembar kertas kuning resi pos dari minggu lalu. Kirana menghela napas panjang, mengikat rambut hitamnya yang kusut dengan karet gelang seadanya, lalu melangkah menuju kamar mandi.
Setelah membasuh tubuhnya dengan air dingin untuk mengusir rasa kantuk, Kirana mengenakan daster rumahan longgar yang dibelikan Mbak Lastri. Ia tidak suka berlama-lama mengurung diri di kamar jika hari masih terang. Berada di dalam kamar 303 saat sadar sepenuhnya hanya akan mengundang bayangan-bayangan jahanam malam pertamanya bersama Tuan Bramanto kembali berputar di kepalanya.
Kirana membuka pintu kamar, berniat turun ke dapur belakang untuk mencari segelas air hangat atau membantu Bi Surti—juru masak kelab—mengupas bawang. Baginya, obrolan sederhana di dapur belakang adalah satu-satunya tempat di mana ia bisa merasakan sedikit sisa kemanusiaannya.
Namun, saat melangkah melewati lorong lantai dua yang sepi karena sebagian besar wanita malam masih tertidur, telinga Kirana menangkap suara perdebatan dari arah ruang kerja Mami Rosa. Pintu kayu jati itu tidak tertutup rapat, menyisakan celah beberapa sentimeter yang memancarkan cahaya lampu ruangan.
Kirana menghentikan langkahnya. Instingnya menyuruhnya untuk mengabaikan dan terus berjalan, namun sebuah nama yang sangat dikenalnya disebut dari dalam ruangan tersebut.
"Broto, kamu jangan tamak! Komisi untuk gadis desa yang kemarin itu sudah kuhitung bersih!" suara Mami Rosa terdengar meninggi, sarat akan kejengkelan.
Kirana menahan napas. Tubuhnya seketika membeku di balik pilar dinding. Pak Broto.
"Aduh, Mami Rosa sayang... Tolonglah mengerti," suara Pak Broto terdengar merengek, namun ada nada licik yang kental di sana. "Si Kirana itu sekarang jadi primadona di sini, kan? Tuan Wijaya bahkan sampai pesan tempat lagi untuk minggu depan. Itu artinya modal yang saya keluarkan untuk menjemput dia dari desa terpencil itu menghasilkan untung berkali-kali lipat untuk Mami. Saya cuma minta bagian lima belas persen lagi dari bonus semalam."
Mami Rosa berdecak pinggang, terdengar suara gesekan kursi kerja kulitnya. "Dengar ya, Broto. Kirana itu bisa mahal karena aku yang mendidiknya! Kalau dia tetap di tanganmu, dia cuma akan jadi pemuas nafsu supir truk di pelabuhan pinggiran Valerion! Aku sudah bayar lunas utang keluarganya kepada warung desa dan biaya transportasimu. Urusanmu dengan Kirana sudah selesai."
"Selesai bagaimana, Mami?" Pak Broto terkekeh, suara tewanya membuat lambung Kirana mendadak melilit karena mual. "Mami pikir Kirana tahu kalau utang keluarganya di desa sebenarnya tidak sampai dua juta rupiah? Mami menipu gadis itu dengan mengatakan utangnya puluhan juta agar dia mau kerja mati-matian di sini sampai bertahun-tahun, kan? Kalau saya bocorkan soal manipulasi utang ini ke Kirana, dia bisa mogok melayani pejabat-pejabat kaya itu, Mami."
Brak! Mami Rosa menggebrak meja. "Kamu berani mengancamku, Broto?!"
"Eh, bukan mengancam, Mami. Ini namanya bagi-bagi rezeki yang adil. Valerion ini kejam, kita harus saling mengisi kantong," sahut Pak Broto santai, sama sekali tidak gentar dengan kemarahan Mami Rosa.
Di balik dinding lorong, Kirana mencengkeram dadanya yang mendadak terasa sesak luar biasa. Air matanya merebak, namun bukan karena sedih, melainkan karena amarah yang membakar hingga ke sumsum tulang.
Dua juta rupiah.
Utang keluarganya yang selama ini dikatakan oleh Mami Rosa mencapai tiga puluh juta rupiah—biaya yang diklaim sebagai tebusan dari Pak Broto dan biaya administrasi—ternyata hanyalah bualan busuk untuk mengikat lehernya. Sifat lugu dan keputusasaannya telah dimanfaatkan sedemikian rupa untuk menjadikannya budak penghasil uang bagi kedua iblis di dalam ruangan itu. Kirana mengepalkan tinjunya begitu erat hingga kuku-kukunya hampir melukai telapak tangannya sendiri.
"Baik!" suara Mami Rosa akhirnya melunak, terdengar kalah berdebat. "Sepuluh persen dari bonus Wijaya semalam. Ambil ini dan segera angkat kaki dari kelabku. Jangan kembali sampai bulan depan!"
"Nah, begitu dong, Mami. Kerja sama yang indah," ujar Pak Broto riang. Terdengar suara lembaran uang yang dihitung dengan cepat.
Kirana tahu ia harus segera pergi sebelum Pak Broto keluar dari ruangan dan memergokinya. Dengan langkah kaki yang diusahakan seringan mungkin meski lututnya gemetar hebat, Kirana berlari kembali ke kamarnya di lantai tiga.
Brak!
Ia menutup pintu kamar 303 dan menguncinya dari dalam. Tubuhnya merosot di balik pintu, napasnya memburu cepat, berkejaran dengan detak jantungnya yang menggila. Di dalam benaknya, wajah ramah Pak Broto saat membelikan sayur pakisnya di pasar desa kini berubah menjadi wajah monster yang paling menjijikkan.
Kirana berjalan menuju meja rias dengan tatapan mata yang tidak lagi sayu. Kepolosan Kirana benar-benar telah mati malam ini, dikubur oleh kebenaran yang teramat pahit dari balik dinding beludru The Velvet Rose.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Air mata kemarahan yang sempat menetes langsung diusapnya dengan kasar menggunakan punggung tangan.
"Dua juta..." bisik Kirana, suaranya bergetar dengan nada dendam yang pekat. "Kalian mengunci saya di neraka ini demi uang dua juta rupiah."
Kirana mengambil seikat uang dari Tuan Wijaya yang tergeletak di meja. Kali ini, ia tidak menatap uang itu dengan rasa jijik atau beban dosa. Uang ini adalah senjatanya. Mulai detik ini, Kirana berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan sekadar menjadi mawar berduri yang bertahan hidup. Ia akan menjadi racun yang perlahan-lahan merayap ke dalam sistem kelab ini.
Ia akan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, berpura-pura menjadi budak yang paling patuh di depan Mami Rosa, dan memberikan layanan terbaik untuk pria-pria paling berkuasa di Kota Valerion seperti Tuan Wijaya. Ia akan memanfaatkan posisi mereka, mencari tahu kelemahan mereka, dan menabung setiap keping rupiah sampai tiba hari di mana ia bisa membeli kebebasannya sendiri—dan menghancurkan Pak Broto serta Mami Rosa hingga tak tersisa.
Suara langkah kaki Pak Broto yang bersiul riang terdengar melewati lorong di luar kamarnya, perlahan menjauh dan menghilang menuruni tangga. Kirana menatap lurus ke arah pintu dengan senyum tipis yang terasa sangat dingin menghiasi bibirnya.
Permainan baru di sangkar derita ini telah dimulai, dan Kirana bersumpah ia tidak akan keluar sebagai pecundang.