NovelToon NovelToon
The CEO'S Secret Architect

The CEO'S Secret Architect

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blaze Onyx

Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Langkah Pertama di Paviliun Barat

Ibu Martha membungkuk takzim, tidak menunjukkan secercah pun riak keterkejutan di wajah tuanya yang sarat pengalaman. Sepasang matanya yang teduh beralih dari Zayyan, menatap Olin dengan senyum santun, lalu berhenti agak lama pada Xavi. Tatapannya tertahan pada kacamata bundar dan sorot mata anak itu yang terlampau dingin untuk ukuran bocah tujuh tahun.

"Segala sesuatunya telah disiapkan sesuai perintah Anda, Tuan Besar," suara Ibu Martha mengalun tenang, memecah keheningan selasar. Dia berbalik setengah badan, mengulurkan tangan kanannya yang berbalut sarung tangan kain putih ke arah koridor sayap kiri. "Mari, Nyonya Aureline, Tuan Muda Xavi. Silakan lewat sini."

Olin menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokannya. Sebutan "Nyonya" itu terasa asing, berat, dan salah di telinganya. Dia tidak bergerak sampai Xavi meremas pelan jemarinya, memberikan dorongan tak kasat mata melalui kehangatan tangan mungilnya. Dengan dagu yang terangkat samar, Olin melangkah, menuntun putranya menyusuri lantai granit mengilap yang memantulkan bayangan lampu gantung kristal di langit-langit.

Zayyan berjalan di sisi kanan mereka. Langkah sepatunya konstan, menciptakan ketukan ritmis yang mendikte atmosfer sunyi di koridor panjang tersebut. Tidak ada yang berbicara. Keheningan di antara mereka bertiga terasa tegang, penuh dengan garis batas tak kasat mata yang sengaja ditarik oleh masing-masing pihak.

Paviliun barat dipisahkan oleh sebuah jembatan kaca tertutup yang melintasi taman air dalam ruangan. Di bawah mereka, gemercik air kolam dan bayangan samar ikan-ikan koi yang berenang malas menjadi satu-satunya dinamika visual. Xavi menghentikan langkahnya tepat di tengah jembatan, membuat Olin ikut berhenti.

Bocah itu mendongak, menatap panel sensor hitam yang tertanam di sudut atas bingkai pintu masuk paviliun. "Sensor pemindai retina seri Optix-7," gumam Xavi, suaranya jernih mengeja spesifikasi perangkat keras tersebut. Jemari mungilnya meraba saku jins kodoknya, mengusap permukaan gawai portabelnya dari balik kain. "Enkripsi dasarnya menggunakan frekuensi gelombang mikro. Tuan CEO, jika aku mengubah algoritmanya dari dalam kamar, apakah sistem pusatmu akan memicu alarm sabotase?"

Zayyan ikut menghentikan langkah, berdiri tegak di belakang Xavi dengan kedua tangan terbenam di saku celana. Dia menunduk, menatap puncak kepala putranya yang berambut hitam pekat. "Sistem pusat tidak akan bergerak selama kau memasukkan sidik jarimu sebagai kunci administrator kedua. Malikh sudah memasukkan datamu ke dalam sistem saat kita berada di dalam mobil tadi."

Olin menoleh tajam, matanya menyipit penuh kecurigaan. "Secepat itu kau mengambil data anakku?"

"Keamanan di rumah ini tidak mengenal kata tunda, Olin," sahut Zayyan, suaranya datar, tanpa riak emosi namun memiliki ketegasan besi yang mutlak. "Musuh-musuhku tidak akan mengetuk pintu sebelum menyerang. Jika data Xavi tidak dimasukkan ke dalam sistem pertahanan utama dalam waktu tiga puluh menit sejak dia menginjakkan kaki di kompleks ini, jaringan nirkabel di paviliun ini akan menganggap gawainya sebagai perangkat penyusup."

Olin menggertakkan rahangnya, namun dia memilih bungkam. Dia tahu berdebat tentang sistem keamanan dengan Zayyan di tengah koridor ini adalah hal yang sia-sia.

Ibu Martha membuka pintu jati paviliun barat yang berukuran besar. Ruangan di dalamnya jauh dari kesan kaku sebuah mansion korporasi. Sebuah ruang tengah yang luas dengan sofa-sofa beludru berwarna abu-abu hangat, sebuah perapian modern yang menyala lembut memancarkan kehangatan, dan dinding kaca besar yang langsung menghadap ke arah lembah kota yang berkabut di bawah sana. Di sudut ruangan, sebuah meja kerja kosong dari kayu ek muda sengaja disiapkan, lengkap dengan beberapa colokan daya berkapasitas tinggi.

Xavi langsung berjalan menuju meja kerja tersebut tanpa memedulikan kemewahan sofa atau kehangatan perapian. Dia meletakkan ransel kecilnya di atas meja, mengeluarkan laptop stiker robatnya, dan membuka layarnya dengan bunyi klik yang tegas.

"Aku butuh waktu dua puluh menit untuk memetakan ulang topologi jaringan di ruangan ini, Mommy," ucap Xavi, menatap ibunya dari balik lensa kacamata bundarnya. "Mommy bisa istirahat di sofa dulu."

Olin mendekati putranya, mengusap rambutnya yang sedikit berantakan dengan helaan napas panjang yang sarat akan kelelahan fisik dan mental. "Jangan tidur terlalu larut, Jagoan. Besok pagi kita harus menghadapi petugas administrasi sipil."

Zayyan masih berdiri di ambang pintu paviliun, memperhatikan interaksi hangat itu dari kejauhan. Bayangan tubuh tegapnya jatuh memanjang di atas karpet tebal ruangan. Dia melirik Ibu Martha, memberikan kode pendek yang langsung dipahami oleh kepala pelayan tua itu untuk segera undur diri bersama para pelayan lainnya.

Begitu pintu jati menutup dengan remangan halus, Zayyan melangkah mendekati Olin yang kini berdiri memunggunginya di dekat perapian. "Kamarmu ada di sebelah kanan, Aureline. Kamar Xavi berada di seberangnya, terhubung langsung melalui pintu interkoneksi siber."

Olin membalikkan tubuhnya, menatap lurus pada sepasang mata elang Zayyan yang sedari tadi menguncinya. "Siber atau bukan, jangan pernah masuk ke area ini tanpa izin dariku, Zayyan. Kesepakatan kita adalah pernikahan kontrak, bukan kehidupan rumah tangga yang sesungguhnya."

Zayyan menyipitkan mata, melangkah satu tapak lebih dekat hingga Olin bisa merasakan embusan hawa dominasi yang pekat dari tubuh pria itu. "Aku tahu batasanku, Nyonya El-Ghazali. Tapi ingat satu hal: di bawah atap ini, aturan mainnya ada di tanganku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!