NovelToon NovelToon
Mendadak Hamil

Mendadak Hamil

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Rubi Casandra, seorang yatim piatu yang hidup di panti asuhan, mendadak bertransmigrasi ke tubuh wanita lain yang memiliki nama sama dengannya. Ia terkejut saat mengetahui dirinya sedang hamil empat bulan dan telah menjadi istri dari Alexander Dimitri, seorang pengusaha sekaligus mafia paling ditakuti di Eropa.

Terjebak dalam kehidupan yang bukan miliknya, Rubi harus menghadapi berbagai rahasia, intrik, dan bahaya yang mengancam. Di tengah pernikahan yang terpaksa, akankah ia mampu bertahan atau justru jatuh cinta pada sang mafia yang berhati dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Awal yang Berakhir, Takdir yang Dimulai

Langit sore mulai berubah jingga ketika Rubi Casandra keluar dari kafe tempatnya bekerja. Gadis berusia dua puluh dua tahun itu menghela napas panjang sambil meregangkan tubuhnya yang pegal.

Sudah satu tahun ia bekerja di kafe kecil yang berada di pusat kota. Meski gajinya tidak besar, setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan membantu panti asuhan tempat ia dibesarkan.

Rubi tersenyum kecil ketika mengingat wajah anak-anak panti yang selalu menyambutnya dengan riang setiap kali ia pulang.

"Sebentar lagi sampai," gumamnya sambil memeluk tas lusuh yang menggantung di bahunya.

Jalanan sore itu cukup ramai. Kendaraan berlalu-lalang tanpa henti. Bunyi klakson saling bersahutan memenuhi udara.

Rubi berdiri di pinggir jalan, menunggu lampu lalu lintas berubah merah agar bisa menyeberang.

Namun tiba-tiba perhatiannya tertuju pada sesuatu.

Seekor anak kucing kecil berwarna putih-oranye tampak berjalan tertatih-tatih menuju tengah jalan.

Mata Rubi membulat.

"Ya ampun..."

Anak kucing itu terlihat kebingungan. Tubuh mungilnya bahkan nyaris tersenggol ban motor yang melintas.

Orang-orang di sekitar hanya melihat sekilas lalu kembali melanjutkan aktivitas mereka.

Tidak ada yang peduli.

Hati Rubi langsung mencelos.

Tanpa berpikir panjang, ia berlari ke jalan.

"Heh! Kucing kecil! Minggir!"

Anak kucing itu justru diam di tengah jalan.

Suara klakson langsung terdengar nyaring.

"WOI!"

"AWAS!"

Rubi tidak memedulikannya.

Yang ada di pikirannya hanya menyelamatkan makhluk kecil itu.

Ia berhasil meraih tubuh si kucing dan memeluknya erat.

Namun saat hendak berbalik ke trotoar...

Sinar lampu mobil menyilaukan matanya.

Semua terjadi begitu cepat.

BRAKKK!

Tubuh Rubi terpental beberapa meter.

Tasnya terlepas.

Darah mengalir dari kepalanya.

Orang-orang mulai berteriak panik.

"ADA YANG TERTABRAK!"

"CEPAT PANGGIL AMBULANS!"

"YA TUHAN!"

Pandangan Rubi mulai kabur.

Anehnya, ia tidak merasa sakit.

Tubuhnya terasa sangat ringan.

Dalam pelukan terakhirnya, anak kucing yang diselamatkannya berhasil berlari ke pinggir jalan dengan selamat.

Melihat itu, Rubi tersenyum lemah.

"Syukurlah..."

Itu menjadi kata terakhir yang keluar dari bibirnya.

Kemudian semuanya berubah gelap.

---

Rubi merasa tubuhnya seperti tenggelam dalam lautan yang sangat dalam.

Gelap.

Sunyi.

Tidak ada suara apa pun.

Entah berapa lama ia berada di sana.

Sampai akhirnya suara seseorang terdengar samar.

"Nyonya muda belum sadar?"

"Dokter bilang demamnya terlalu tinggi."

"Bagaimana dengan bayinya?"

"Untungnya tidak terjadi apa-apa."

Suara-suara itu semakin jelas.

Rubi mengernyit.

Bayi?

Nyonya muda?

Apa yang mereka bicarakan?

Kelopak matanya terasa berat.

Namun perlahan ia berhasil membukanya.

Cahaya lampu kristal langsung menyambut penglihatannya.

Ia terpaku.

Langit-langit kamar itu sangat mewah.

Jauh berbeda dari kamar sederhana di panti asuhan.

Bahkan satu lampu gantung di ruangan itu mungkin lebih mahal dari seluruh isi panti.

Rubi berkedip beberapa kali.

"Aku... di mana?"

Suaranya terdengar serak.

Beberapa orang yang berdiri di dekat tempat tidur langsung terkejut.

"Nyonya muda sadar!"

"Nyonya muda!"

Rubi semakin bingung.

Ia mencoba duduk.

Namun saat tangannya menyentuh perut...

Tubuhnya membeku.

Perutnya membuncit.

Sangat jelas terlihat seperti wanita hamil.

Mata Rubi langsung melebar.

"Hah?!"

Ia memegang perutnya berkali-kali.

Tidak.

Ini tidak mungkin.

Beberapa jam yang lalu ia masih gadis lajang.

Bagaimana bisa sekarang ia...

Hamil?

"Mustahil..."

Jantungnya berdegup kencang.

Panik mulai menguasainya.

Saat itulah sebuah rasa sakit menyerang kepalanya.

"Akh!"

Potongan-potongan gambar asing tiba-tiba masuk ke dalam pikirannya.

Nama.

Wajah.

Kehidupan.

Kenangan.

Semuanya bercampur menjadi satu.

Rubi Casandra Dimitri.

Usia dua puluh tiga tahun.

Istri Alexander Dimitri.

Sedang mengandung empat bulan.

Anak pertama keluarga Dimitri.

Rubi memegangi kepalanya.

Napasnya memburu.

"Apa ini..."

Semakin banyak ingatan yang masuk.

Sampai akhirnya ia memahami satu hal yang membuat darahnya serasa berhenti mengalir.

"Aku... bukan Rubi yang asli?"

Wajahnya memucat.

Ia benar-benar telah masuk ke tubuh orang lain.

Dan yang lebih mengejutkan lagi...

Nama pemilik tubuh ini sama dengannya.

Rubi Casandra.

"Ini mimpi..."

Pasti mimpi.

Tidak mungkin ada hal seperti transmigrasi.

Namun rasa sakit di tubuhnya terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi.

"Nyonya muda?"

Seorang pelayan terlihat khawatir.

Rubi mengangkat wajahnya.

Baru saja ia hendak bertanya sesuatu.

Terdengar suara pintu terbuka.

Klik.

Semua orang langsung menundukkan kepala.

Seketika suasana kamar menjadi hening.

Rubi menoleh.

Dan napasnya tertahan.

Seorang pria tinggi masuk ke dalam ruangan.

Setelan hitam mahal membungkus tubuhnya dengan sempurna.

Wajahnya tampan, tetapi dingin.

Tatapannya tajam dan sulit ditebak.

Aura menakutkan yang dimilikinya membuat seluruh ruangan terasa menekan.

Pria itu berjalan mendekat tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Jantung Rubi berdegup semakin cepat.

Entah kenapa tubuhnya merasa gugup.

Bukan karena kagum.

Melainkan takut.

Sangat takut.

Dari ingatan yang baru masuk ke kepalanya, ia langsung mengenali pria itu.

Alexander Dimitri.

Suaminya.

Seorang pengusaha besar yang menguasai berbagai perusahaan di Eropa.

Dan diam-diam...

Pemimpin organisasi mafia yang sangat berpengaruh.

Pria yang namanya mampu membuat banyak orang gemetar hanya dengan mendengarnya.

Alexander berhenti di samping tempat tidur.

Tatapan mata abu-abunya meneliti Rubi tanpa ekspresi.

"Kau sudah sadar."

Suara rendahnya terdengar dingin.

Rubi menelan ludah.

"I-iya..."

Alexander sedikit mengernyit.

Mungkin karena mendengar cara bicara istrinya yang berbeda dari biasanya.

Namun ia tidak mengatakan apa pun.

Dokter yang berdiri di sudut ruangan segera maju.

"Tuan Dimitri, kondisi nyonya muda sudah stabil. Demamnya mulai turun dan kandungannya baik-baik saja."

Alexander mengangguk singkat.

"Keluar."

Satu kata.

Namun cukup membuat semua orang bergerak cepat.

Dokter dan para pelayan segera meninggalkan kamar.

Tak lama kemudian hanya tersisa Rubi dan Alexander.

Suasana menjadi jauh lebih menegangkan.

Rubi menggenggam selimut erat.

Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana.

Bagaimanapun juga, pria ini adalah orang asing baginya.

Alexander duduk di kursi dekat tempat tidur.

Tatapannya masih sulit dibaca.

"Kau membuat semua orang panik."

Rubi terdiam.

Ia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pemilik tubuh ini sebelum dirinya datang.

"Maaf..."

Alexander menatapnya beberapa detik.

Lalu pandangannya turun ke arah perut Rubi yang membuncit.

Untuk pertama kalinya ekspresi wajahnya sedikit melunak.

Hanya sedikit.

"Tidak apa-apa selama anakku baik-baik saja."

Kalimat itu membuat Rubi terpaku.

Anaknya.

Maksudnya bayi yang ada di dalam perut ini.

Secara teknis bukan anaknya.

Tetapi anak pemilik tubuh asli.

Namun sekarang tubuh ini adalah miliknya.

Rubi tanpa sadar memegang perutnya.

Perasaannya campur aduk.

Bingung.

Takut.

Tidak percaya.

Alexander memperhatikan gerakannya.

"Dokter bilang kau kehilangan banyak energi karena demam."

Rubi mengangguk pelan.

Ia sama sekali tidak tahu harus menjawab apa.

Saat ini kepalanya masih berusaha menerima kenyataan.

Ia telah mati.

Dan kini hidup kembali sebagai istri seorang mafia.

Bahkan dalam keadaan hamil empat bulan.

Kalau ini bukan mimpi, berarti kehidupannya yang dulu benar-benar sudah berakhir.

Panti asuhan.

Teman-teman kerjanya.

Anak-anak yang selalu menunggunya pulang.

Semua telah hilang.

Hidung Rubi mendadak terasa perih.

Namun ia menahan air matanya.

Alexander yang melihat perubahan ekspresinya sedikit mengernyit.

"Kau menangis?"

Rubi cepat-cepat menggeleng.

"Tidak."

Tetapi suara seraknya mengkhianatinya.

Alexander terdiam sejenak.

Lalu berdiri dari kursinya.

"Istirahatlah."

Pria itu berbalik menuju pintu.

Sebelum keluar, langkahnya berhenti.

"Aku akan kembali besok."

Setelah mengatakan itu, Alexander pergi meninggalkan ruangan.

Pintu kembali tertutup.

Rubi memandang ke arah pintu yang kini sudah kosong.

Lalu perlahan menunduk menatap perutnya.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh.

"Kenapa harus aku..."

Tidak ada yang menjawab.

Di kamar mewah yang asing itu, Rubi akhirnya menyadari satu kenyataan.

Kehidupan lamanya telah berakhir.

Dan mulai hari ini...

Ia harus hidup sebagai Rubi Casandra Dimitri, istri seorang mafia yang paling ditakuti di Eropa.

1
Alia Chans
like + 🌹+ komen semangat thor ✍️🤭





kalo sempat mampir ya thor🤭😉
wulaniii
gais jangan lupa like dan komen kalo bisa nonton iklanya 🤭🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!