Berawal dari tabrakan di koridor sekolah saat terlambat, hidup Alya yang tenang mendadak berubah jadi penuh drama gara-gara Raka, si kapten basket populer yang hobi mengganggunya. Situasi makin kacau saat foto candid Alya tak sengaja masuk ke story Instagram Raka dan membuat satu sekolah gempar.
Namun, dari benci jadi chattingan. Di balik sikap usil Raka, Alya pelan-pelan menemukan sisi rapuh cowok itu yang tersembunyi dari dunia.
Sayangnya, saat benih perasaan mulai tumbuh, kehadiran Kevin—murid baru yang mendekati Alya—menyalakan api cemburu Raka. Ditambah rumor sekolah dan kesalahpahaman masa lalu, Alya mulai ragu dengan perasaan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon grayen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Foto Berdua
Hari festival sekolah akhirnya tiba.
Sejak pagi, halaman sekolah sudah dipenuhi siswa, guru, dan pengunjung dari sekolah lain. Musik diputar dari pengeras suara, stan makanan mulai ramai, dan berbagai permainan sudah dibuka.
Kelas Alya mendapat jadwal menjaga stan pada siang hari. Jadi pagi itu mereka masih sempat berkeliling menikmati suasana.
Alya membawa kameranya seperti biasa.
Setiap beberapa langkah, ia berhenti untuk mengambil foto. Mulai dari dekorasi gerbang, anak-anak yang sedang tampil di panggung, sampai balon warna-warni yang menghiasi lapangan.
“Fotografer sibuk banget.”
Alya menoleh.
Raka berjalan menghampirinya sambil membawa segelas es teh.
“Emang tugas.”
“Dari tadi gue lihat, kamera lo nggak pernah turun.”
“Kalau diturunin nanti nggak dapet momennya.”
Raka mengangguk pelan.
“Masuk akal.”
---
Menjelang siang, stan kelas mereka mulai dipenuhi pengunjung.
Nadya sibuk melayani pembeli minuman, Dion menjaga permainan lempar gelang, sedangkan Alya mondar-mandir mengambil dokumentasi.
Saat sedang memotret anak-anak yang mencoba permainan, seseorang tiba-tiba berdiri tepat di depan lensanya.
Klik.
Foto terambil.
Tapi isinya bukan stan permainan.
Melainkan wajah Raka yang sedang tersenyum lebar.
Alya menurunkan kameranya.
“Ngapain sih?”
“Photobomb.”
“Kenapa?”
“Biar ada muka ganteng di galeri lo.”
Alya langsung tertawa.
“Percaya diri banget.”
“Harus.”
Ia menggeleng sambil menghapus foto itu.
“Eh, jangan dihapus!”
“Blur.”
“Padahal bagus.”
“Menurut siapa?”
“Menurut gue.”
---
Tak lama kemudian, panitia festival mengumumkan adanya lomba foto dengan tema ‘Momen Terbaik Hari Ini’.
Pemenangnya akan dipilih dari hasil jepretan siswa.
Mendengar itu, Nadya langsung menyikut Alya.
“Lo harus ikut.”
“Nanti aja.”
“Jangan nanti. Sekarang.”
Raka ikut menimpali,
“Ikut aja. Gue yakin bisa menang.”
Alya akhirnya mengangguk.
“Oke, gue coba.”
Ia kembali berkeliling mencari momen yang menarik.
Di dekat panggung, beberapa siswa sedang tertawa karena salah satu guru ikut mencoba permainan tradisional.
Klik.
Di taman, ada adik kecil yang sedang meniup gelembung sabun.
Klik.
Semuanya terlihat menarik.
Namun saat Alya sedang berjalan mundur untuk mencari sudut foto, ia tidak sadar ada kabel melintang di belakangnya.
“Hati-hati!”
Sebuah tangan dengan cepat menarik lengannya.
Alya kehilangan keseimbangan dan tanpa sengaja berdiri sangat dekat dengan Raka.
Jarak mereka hanya beberapa senti.
“Aman?” tanya Raka pelan.
Alya mengangguk cepat.
“Iya… makasih.”
Belum sempat mereka menjauh, terdengar suara kamera ponsel.
Jepret!
Keduanya spontan menoleh.
Ternyata Dion.
“Ups.”
“Lo ngapain?” protes Raka.
“Refleks.”
Nadya yang baru datang langsung melihat hasil fotonya.
Lalu tertawa.
“Lucu juga.”
Alya ikut melihat.
Di foto itu, Raka masih memegang pergelangan tangannya, sementara Alya terlihat sedang menatap ke arahnya dengan ekspresi kaget.
Kalau tidak tahu kejadiannya, siapa pun pasti mengira mereka sedang berpose.
“Apus fotonya,” kata Alya cepat.
“Kenapa?” tanya Dion.
“Malu.”
“Justru bagus.”
“Dion.”
“Oke, oke.”
Meski begitu, Dion tidak langsung menghapusnya.
Ia hanya memasukkan ponsel ke saku sambil tersenyum jahil.
---
Sore harinya, festival resmi ditutup.
Semua siswa membantu membereskan stan masing-masing.
Saat sedang melipat spanduk, ponsel Alya berbunyi.
Notifikasi dari grup kelas.
Ia membukanya.
Matanya langsung membesar.
Dion ternyata mengirim foto yang tadi diambilnya.
> Dion:
Ketemu candid terbaik hari ini 😂
Grup langsung ramai.
> “Wih, cocok nih.”
> “Kirain foto drama Korea.”
> “Kebetulan banget ya posisinya.”
Alya buru-buru mengetik.
> Alya:
Itu tadi hampir jatuh.
Raka ikut membalas.
> Raka:
Iya, gue cuma nolong.
Namun bukannya reda, teman-teman mereka malah semakin menggoda.
Nadya bahkan mengirim emoji hati berkali-kali.
Alya memutuskan keluar dari grup untuk sementara dan memasukkan ponselnya ke tas.
Melihat wajahnya yang memerah, Raka menahan tawa.
“Kesel?”
“Sedikit.”
“Maaf ya.”
“Kan bukan salah lo.”
“Iya juga.”
Beberapa saat mereka berdiri dalam diam.
Lalu Raka berkata pelan,
“Kalau dipikir-pikir… fotonya emang lumayan bagus.”
Alya menoleh.
“Kata siapa?”
“Ya kata gue.”
“Pede terus.”
“Harus.”
Alya tidak bisa menahan senyumnya.
Meski foto itu membuat mereka jadi bahan bercandaan satu sekolah, diam-diam ia menyimpan salinannya di galeri ponsel.
Bukan karena posenya.
Bukan juga karena godaan teman-teman.
Melainkan karena foto itu menangkap momen yang terasa begitu nyata—momen ketika seseorang spontan menariknya agar tidak terjatuh.
Dan sejak hari itu, setiap kali melihat foto tersebut, Alya selalu teringat satu hal.
Kadang, seseorang hadir bukan dengan cara yang direncanakan.
Kadang, mereka hanya muncul… tepat saat dibutuhkan.