Di Lembah Shrouded yang selalu dikepung oleh kabut magis beracun, Mayang, seorang gadis desa dengan kecantikan memikat namun menyimpan rahasia darah kuno, terpaksa melanggar aturan malam demi mencari obat untuk ibunya. Di tengah pekatnya kabut, ia tersesat dan diselamatkan oleh Dion, seorang pemburu bayaran tangguh yang ditakuti karena memiliki kekuatan mengendalikan kabut.
Pertemuan di pondok terisolasi malam itu menyalakan api gairah yang tak tertahankan di antara keduanya. Namun, hubungan mereka bukan sekadar romansa biasa. Ada misteri besar yang menyelimuti asal-usul mereka: kutukan kabut yang perlahan mulai memakan korban di lembah ternyata berkaitan erat dengan masa lalu Dion yang kelam dan kekuatan tersembunyi di dalam tubuh Mayang.
Unsur-Unsur Utama dalam Cerita:
Sisi Fantasi: Keberadaan Lembah Shrouded, makhluk-makhluk mistis yang bersembunyi di balik kabut, klan kabut kuno, serta sihir elemental yang dimiliki oleh Dion dan kekuatan penyembuhan/mistis dari Mayang.
Sisi Misteri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: MALAM YANG DINGIN DAN SENTUHAN ASING
Malam di Lembah Shrouded tidak pernah benar-benar menampakkan langitnya. Tempat itu selalu dikepung oleh kabut tebal berwarna kelabu keperakan yang beraroma seperti getah pinus dan sihir tua. Penduduk setempat percaya, kabut itu hidup. Ia bisa menyesatkan ingatan, mencuri arah pulang, atau yang paling buruk—menuntunmu ke pelukan sesuatu yang seharusnya tidak kau temui.
Mayang merapatkan jubah beludru merah tuanya. Napasnya mengembun di udara malam yang menggigit kulit. Ia memiliki kecantikan yang sering kali dianggap sebagai kutukan di desanya; kulitnya seputih susu, kontras dengan rambut hitam legam yang bergelombang hingga ke pinggang, dan sepasang mata jernih yang tampak selalu menyimpan rahasia. Malam itu, ia terpaksa melanggar larangan paling suci di lembah: keluar setelah lonceng kuil berdentang tujuh kali.
Mayang harus mencari tanaman herba Lunaria di tepi hutan kabut demi menyembuhkan penyakit misterius yang menyerang ibunya. Namun, kabut malam ini bergerak terlalu cepat. Dalam hitungan menit, jalan setapak yang biasa ia lalui lenyap, tertutup dinding perak yang pekat.
"Sial, aku tersesat," bisik Mayang, suaranya bergetar bukan hanya karena dingin, tapi juga karena rasa takut yang mulai merayap.
Tiba-tiba, keheningan malam pecah oleh suara langkah kaki yang berat namun ritmis. Mayang membeku. Dari balik pekatnya kabut, sebuah siluet tinggi tegap perlahan mendekat. Setiap langkah sosok itu seolah membuat kabut di sekitarnya menyingkir dengan patuh.
Ketika sosok itu sepenuhnya terlihat, napas Mayang tertahan di tenggorokan.
Pria itu mengenakan pakaian kulit hitam yang pas di tubuhnya, menonjolkan dada bidang dan otot lengan yang kokoh. Wajahnya pahatan sempurna yang tampak dingin, dengan rahang tegas dan sepasang mata elang berwarna abu-abu badai. Ada luka gores kecil di tulang pipinya, justru menambah kesan liar dan berbahaya. Pria itu adalah Dion. Di lembah ini, nama Dion bergaung sebagai sosok pelindung sekaligus misteri—seorang pemburu bayaran yang konon memiliki darah klan kabut kuno yang terasing.
Mata mereka bertemu, dan entah mengapa, udara di sekitar Mayang yang tadinya sedingin es mendadak terasa memanas. Ada sengatan tak kasat mata yang membuat bulu kuduk Mayang meremang, sebuah ketertarikan primitif yang membuat jantungnya bertalu kencang.
"Gadis bodoh," suara Dion memecah kesunyian, berat, serak, dan begitu dalam hingga menggetarkan dada Mayang. "Apa yang kaulakukan di luar saat kabut darah sedang turun? Kau ingin menjadi santapan makhluk hutan?"
"Aku... aku hanya mencari obat," jawab Mayang, mencoba terdengar berani meskipun lututnya lemas. Ia melangkah mundur, namun tumitnya tersangkut akar pohon. Mayang memejamkan mata, bersiap untuk jatuh ke tanah yang basah.
Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang.
Sebuah lengan yang sekeras baja dan sehangat api dengan cepat menangkap pinggangnya. Dalam satu sentakan, tubuh mungil Mayang tertarik dan menempel sempurna pada dada bidang Dion. Mayang terengah, matanya terbuka lebar. Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter. Mayang bisa merasakan embusan napas Dion yang hangat menerpa bibirnya.
Sentuhan itu seperti menyalakan api di dalam tubuh Mayang. Kulit Dion yang bergesekan dengan jemari Mayang memicu gelombang panas yang aneh. Mata abu-abu Dion turun, menatap bibir Mayang yang sedikit terbuka dan memerah karena hawa dingin. Ada kilatan gairah yang tertahan di mata pria itu—sebuah jerat tersembunyi yang langsung mengunci kesadaran Mayang.
"Lepaskan aku," bisik Mayang lemah, meskipun tangannya justru tanpa sadar meremas bahu kokoh Dion untuk mencari pegangan. Suaranya tidak terdengar seperti perintah, melainkan sebuah undangan.
Dion tidak melepaskannya. Sebaliknya, cengkeramannya di pinggang Mayang semakin erat, menekan tubuh wanita itu hingga mereka tidak memiliki jarak lagi. Mayang bisa merasakan detak jantung Dion yang kuat dan cepat, beradu dengan detaknya sendiri dalam ritme yang liar.
"Jika aku melepaskanmu sekarang, kabut ini akan menelanmu, Cantik," bisik Dion tepat di telinga Mayang. Suaranya yang serak mengirimkan getaran sensual yang membuat tubuh Mayang meremang hebat. "Dan aku bukan pria yang suka membiarkan mangsa berharga berkeliaran sendirian."
Dion perlahan menegakkan tubuh, namun ia langsung menggendong Mayang dalam dekapannya seolah tubuh wanita itu seringan kapas. Mayang terkejut, namun rasa hangat yang menjalar dari tubuh Dion membuatnya enggan untuk memberontak. Aroma tubuh Dion—campuran antara kayu cedar, keringat jantan, dan hawa magis kabut—mulai meracuni pikiran Mayang, membuatnya merasa pening oleh gairah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Dion membawa Mayang menembus kegelapan, menuju sebuah pondok kayu tersembunyi di balik tebing batu yang tertutup lumut. Begitu mereka masuk, Dion menurunkan Mayang di atas sebuah tempat tidur kayu yang dilapisi bulu serigala yang lembut.
Suasana di dalam pondok itu temaram, hanya diterangi oleh nyala api dari perapian yang menari-nari, melemparkan bayangan eksotis di dinding.
Dion tidak langsung pergi. Ia berdiri di sisi tempat tidur, menjulang tinggi, menatap Mayang yang sedang merapikan jubahnya yang agak tersingkap, memperlihatkan sedikit lekuk leher dan tulang selangkanya yang indah. Tatapan Dion begitu intens, seolah pakaian yang dikenakan Mayang saat ini sudah luntur di bawah pandangannya.
"Malam ini kau aman di sini," kata Dion, suaranya kini terdengar lebih rendah dan berbahaya saat ia perlahan melangkah mendekat ke arah tempat tidur, menunduk, dan mengunci pergerakan Mayang dengan kedua tangannya di sisi kepala wanita itu. "Tapi menginap di tempatku ada harganya, Mayang. Dan kabut di luar sana tidak akan membiarkan kita tidur dengan tenang malam ini."
Mayang menatap mata badai milik Dion, merasakan jerat gairah itu kini telah benar-benar melilit hatinya di balik kepekatan kabut malam.