Seratus tahun telah berlalu sejak Shi Hao mengorbankan kultivasinya menggunakan Teknik Terlarang untuk menyelamatkan Alam Atas dari kehancuran Kaisar Langit. Di Alam Atas, kedamaian semu tercipta di bawah pimpinan Dewan Bersama (Raja Yan, Lei Zhen, Ao Zun).
Namun, di sebuah desa fana yang terpencil, Shi Hao hidup bahagia sebagai petani buta dan lumpuh bersama istri fananya (Gu Qing Yi yang menyembunyikan identitasnya). Kepompong fana Shi Hao perlahan-lahan menyehatkan jiwanya yang hancur, menanamkan pemahaman Dao Kemanusiaan yang belum pernah dicapai oleh Dewa mana pun.
Kedamaian itu hancur ketika Dinding Dimensi Alam Atas robek. Shen Yu, Dewa Iblis dari Semesta Sembilan Nether yang telah menaklukkan ribuan alam, akhirnya tiba bersama pasukan jenderalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 10
Dunia Fana – Batas Udara Desa Angin Lembut.
Malam telah larut. Di bawah, Desa Angin Lembut tertidur lelap diselimuti suara jangkrik dan gemerisik daun bambu.
Namun, seribu meter di atas desa itu, udara dipenuhi oleh niat membunuh yang bisa membekukan darah.
Awan kelabu yang menutupi bulan tiba-tiba berguguran, terurai oleh kepakan sayap-sayap raksasa berbau anyir. Puluhan Iblis Kelelawar Nether pasukan pengintai tingkat menengah dari Sembilan Nether menukik turun bagaikan hujan meteor hitam. Mata merah mereka mengincar energi kehidupan fana yang melimpah di bawah sana.
Namun, sebelum iblis-iblis itu bisa melewati batas awan, sebuah kubah cahaya hijau transparan berkedip di udara.
Formasi Teratai Pembungkam Suara.
Di atas kubah itu, melayang lima sosok dengan jubah berkibar. Lima Penjaga Teratai.
"Mereka datang," bisik Lu Bai, matanya yang tajam memantulkan cahaya bulan.
Lu Bai mengangkat tangannya. Setitik pencerahan tentang Penyatuan Kehampaan (Void Amalgamation) yang dia dapatkan dari ucapan Shi Hao tadi sore berkilat di matanya. Udara di depannya terlipat secara tidak wajar.
ZRAASH!
Tiga Iblis Kelelawar yang menukik paling depan tiba-tiba terpotong menjadi puluhan bagian persegi yang rapi, seolah mereka baru saja melewati jaring kawat tak terlihat. Darah hitam menyembur, tapi tertahan oleh penghalang udara Lu Bai.
"Kerja bagus, Kak Lu Bai!" seru Hong Hua. Dia mengibaskan kipas sutranya. Ribuan jarum beracun melesat tanpa suara, menusuk mata belasan kelelawar iblis hingga mereka mati membeku di udara.
Seekor Iblis Kelelawar raksasa yang lolos dari jarum itu membuka mulutnya yang penuh taring, bersiap melepaskan jeritan untuk menghancurkan desa.
SWUUUSH!
Hei Gen melesat dari bayangan awan, tangannya yang kurus langsung mencengkeram moncong iblis itu dengan kekuatan brutal.
"Ssst!" desis Hei Gen dengan mata melotot marah. "Jangan berteriak, brengsek! Nanti Tuan Besar bangun!"
Dengan satu putaran tangan yang kejam, Hei Gen mematahkan leher monster itu tanpa menimbulkan suara lebih keras dari ranting patah.
Di sisi lain, Jin Yu mengubah manisan Tanghulu-nya menjadi manik-manik ledakan spiritual yang diredam suaranya dengan gelembung air ciptaan Shui Di. Ledakan-ledakan mematikan terjadi di langit, mencabik-cabik pasukan Nether, tapi dari bawah hanya terlihat seperti kilatan petir bisu di awan mendung.
Kelima elit Alam Atas ini bertarung mati-matian, bukan hanya untuk membunuh musuh, tapi bertarung untuk tidak berisik. Mereka lebih takut membangunkan Kaisar Asura dan membuat Nyonya mereka murka daripada mati dicabik iblis.
Di Dalam Gubuk Keluarga Shi.
Cahaya lilin berkedip pelan. Shi Hao tertidur pulas di atas ranjang kayu, napasnya teratur dan damai. Selimut rami menutupi dadanya hingga ke leher.
Di sudut ruangan, Hitam Satu, Hitam Dua, dan Hitam Tiga sedang tiarap. Telinga mereka tegak ke atas, dan tubuh mereka bergetar. Sebagai makhluk Nether, mereka tahu persis ada pembantaian kaum mereka yang sedang terjadi di atas atap. Insting bertarung mereka meronta-ronta minta dilepaskan.
Grrrrr... Hitam Satu menggeram sangat pelan, kakinya menggaruk lantai tanah.
Tiba-tiba, sebuah tatapan sedingin es abadi menusuk punggung ketiga anjing itu.
Gu Qing Yi sedang duduk di kursi goyang di dekat jendela, menyulam sebuah syal wol. Tangannya bergerak mengayunkan jarum dengan anggun, tapi matanya yang melirik ke arah ketiga anjing neraka itu memancarkan aura Raja Dewa pembunuh.
"Diam," perintah telepati Qing Yi yang menusuk tajam. "Jika ada satu suara saja yang keluar dari tenggorokan kalian dan mengganggu mimpi suamiku, aku akan menguliti kalian hidup-hidup dan menjadikannya alas."
Ketiga anjing raksasa itu langsung menutupi moncong mereka sendiri dengan kedua kaki depan, lalu pura-pura tidur mendengkur sambil berkeringat dingin.
Qing Yi kembali fokus pada sulamannya. Dia tahu kelima mantan bawahannya sedang menjaga udara di atas desa. Selama bahaya belum mencapai tingkat ancaman, dia tidak akan bergerak. Ini adalah malam yang damai bagi Shi Hao, dan akan tetap seperti itu.
Namun, Qing Yi tidak tahu bahwa serangan di atas desa fana ini hanyalah riak kecil dari tsunami yang sedang menghantam Alam Atas.
Alam Atas – Sektor Perbatasan Luar Angkasa (Tembok Ratapan).
Jutaan mil dari kehampaan fana, langit Alam Atas sedang menangis.
Celah dimensi berwarna ungu busuk yang selama ini hanya selebar beberapa ratus meter, tiba-tiba meledak dari dalam. Sinar kegelapan merobek jaring hukum alam, menciptakan pusaran lubang cacing sebesar benua.
Di depan pusaran raksasa itu, barisan pertahanan Alam Atas telah bersiaga. Ratusan kapal perang terbang yang ditenagai oleh batu spiritual melayang dengan meriam diaktifkan.
Di garis paling depan, mengambang dua sosok.
Raja Naga Ao Zun dalam wujud manusia berbaju zirah emas, memegang tombak trisula yang memancarkan kilat keemasan. Dan Wuming, Si Pedang Gila, duduk bersila di atas pedang raksasa ilusi, matanya yang merah menatap pusaran itu dengan seringai psikopat.
"Mereka datang," geram Ao Zun. Suara auman naga terdengar di balik pita suaranya.
Dari dalam lubang cacing ungu, terdengar suara langkah kaki yang berat. Sangat berat hingga membuat ruang hampa udara bergetar.
Sebuah bayangan raksasa melangkah keluar.
Itu adalah pria bertubuh setinggi tiga meter, kulitnya dilapisi sisik naga tanah berwarna cokelat pekat yang tidak memantulkan cahaya. Satu tanduk yang patah menyembul di dahinya, memancarkan aura arogansi biadab.
Long Tu (Manusia Setengah Naga Nether). Salah satu Jenderal Utama Shen Yu.
"Hahaha!" Tawa Long Tu menggelegar, gelombang suaranya menghancurkan tiga kapal perang barisan depan Alam Atas dalam sekejap. "Jadi ini Alam Atas? Udaranya terlalu manis! Memuakkan! Di mana para penguasa dunia rongsokan ini?!"
Di belakang Long Tu, seberkas api hitam melesat keluar, memadat menjadi seorang gadis remaja berambut merah menyala dengan mata liar yang merendahkan segalanya.
Feng Jiu (Gadis Phoenix Hitam).
"Jangan bermain-main terlalu lama, Kadal Bodoh," kata Feng Jiu, menjentikkan jarinya. Bola api hitam sekecil debu jatuh ke arah sebuah kapal perang pelindung.
Begitu menyentuh dek, kapal itu meledak menjadi lautan api yang tak bisa dipadamkan, membakar ratusan prajurit kultivator hingga menjadi abu dalam hitungan detik. "Tuan Shen Yu menyuruh kita membersihkan jalan masuk. Singkirkan serangga-serangga ini."
Wuming tertawa pelan. Tawanya terdengar kering dan penuh kegilaan.
Dia perlahan berdiri dari posisi bersilanya. Tangan kanannya menggenggam gagang pedang hitam Patah Penjagal Dewa.
"Naga kadal dan ayam kalkun yang terbakar," Wuming memiringkan kepalanya. "Kalian berdua sangat jelek. Membuat mataku sakit. Biar aku memotongnya."
Ao Zun mengayunkan trisulanya, memancarkan Aura Raja Naga yang sejati, membuat sisik naga Long Tu sedikit bergetar karena tekanan hierarki ras naga.
"Kembalilah ke lubang pembuangan kalian, Makhluk Nether!" raung Ao Zun.
Long Tu menyeringai buas, memperlihatkan taringnya yang tajam. "Naga Asli? Bagus! Tuan Shen Yu meminta darah Naga Asli sebagai persembahan. Aku akan merobek jantungmu dan meminumnya dari tengkorakmu!"
Long Tu menerjang maju. Dia tidak menggunakan sihir. Kekuatan fisik murni dari tubuhnya menabrak ruang dimensi hingga retak layaknya cermin. Ao Zun menyambut terjangan itu dengan kekuatan Raja Naga.
BOOOOOOOOOOM!
Bentrokan dua kekuatan puncak itu menciptakan gelombang kejut. Alam Atas bergetar hebat. Hukum alam hancur di radius ratusan mil.
Di saat yang sama, Wuming melesat ke arah Feng Jiu. Pedang hitamnya tidak memantulkan cahaya, melainkan menelan cahaya bintang di sekitarnya.
"Tarian Pemutus Nadi!" Wuming menebas, melepaskan ratusan busur pedang yang mengincar titik vital gadis phoenix itu.
Feng Jiu mendengus remeh. Sayap api hitam raksasa membentang di punggungnya. "Mati kau, cacing!"
Pertarungan tingkat Dewa Sejati meledak di angkasa luar. Langit malam Alam Atas yang tadinya biru dipenuhi oleh kilatan api hitam, petir emas, dan retakan dimensi.
Kembali ke Dunia Fana.
Resonansi dari pertarungan epik di Tembok Ratapan Alam Atas merambat menembus penghalang dimensi, turun langsung ke langit Dunia Fana.
Bagi penduduk Desa Angin Lembut, tidak ada ledakan terdengar. Namun, sesuatu yang aneh terjadi pada dunia mereka.
Bulan purnama yang tadinya berwarna perak, perlahan-lahan berubah warna. Tetesan demi tetesan warna menyebar, hingga seluruh langit malam berubah menjadi Merah Darah yang mengerikan. Awan-awan menggumpal seperti daging yang membusuk.
Gravitasi mendadak menjadi kacau. Batu-batu kerikil di jalanan desa mulai melayang perlahan ke udara. Air di sumur desa naik melawan gravitasi.
Penduduk desa yang sedang tidur mulai terbangun. Anak-anak menangis ketakutan merasakan hawa kematian yang menyelimuti udara. Anjing-anjing desa melolong ngeri.
Di atas awan pelindung desa, lima Penjaga Teratai memucat.
Kubah formasi mereka retak! Bukan karena diserang oleh sisa kelelawar, melainkan karena Hukum Alam fana sedang ditekan hingga hancur oleh kelebihan energi dari dimensi atas!
"Sial! Tekanan dari luar terlalu kuat!" Lu Bai memuntahkan darah, tangannya gemetar menahan pusat formasi. "Kita tidak bisa menahan kelainan alam semesta dengan formasi ini!"
Di dalam gubuk, Qing Yi menghentikan rajutannya.
Matanya yang tadinya tenang, kini memancarkan cahaya hijau terang. Dia berdiri dari kursinya. Dunia fana ini sedang dihancurkan perlahan, dan jika dia tidak bertindak, gubuk tempat suaminya tidur akan ikut melayang dan hancur.
Qing Yi menoleh ke arah ranjang.
Shi Hao masih tertidur, namun dahinya berkerut dalam. Keringat dingin menetes. Pengaruh tekanan spasial yang sangat masif memicu pertahanan mutlak di dalam tubuhnya.
Di bawah selimut rami itu, tangan kanan Shi Hao yang besar perlahan bergerak. Jari telunjuk dan jari tengahnya menyatu, membentuk sebuah Segel Tombak Asura gerakan kultivasi murni yang tidak pernah dia lakukan selama seratus tahun.
Benih Kekacauan di Dantian-nya berdenyut kasar.
DUM!
Riak kecil Chaos Qi merembes keluar, menekan gravitasi yang melayang di dalam kamar itu kembali ke tanah dengan suara BAM pelan.
Qing Yi melihat jari suaminya yang membentuk segel itu. Hatinya mencelos sekaligus dipenuhi rasa kagum yang menyesakkan dada.
Bahkan dalam tidur amnesianya, tubuhnya masih ingin membelah langit, batin Qing Yi.
Qing Yi berjalan mendekati ranjang, mengecup dahi Shi Hao dengan sangat lembut untuk menenangkan benih kekuatan pria itu.
"Tidak perlu bangun, Suamiku," bisik Qing Yi mesra. "Malam ini... biar aku yang membelah langit untukmu."
Qing Yi berbalik. Jubah raminya meleleh menjadi cahaya, digantikan oleh Zirah Sutra Teratai Hijau yang memancarkan dominasi.