Di malam persalinannya, Aisha diusir oleh suami dan mertuanya yang kejam setelah bayinya dinyatakan meninggal. Luntang-lantung di tengah hujan dengan dada yang sesak karena terus memproduksi ASI, Aisha pingsan di jalanan.
Di sisi lain, Adrian—seorang CEO dingin—sedang frustrasi karena bayinya yang baru lahir kritis dan menolak semua susu formula.
Takdir mempertemukan mereka. Saat bayi Adrian didekap oleh Aisha, sang bayi langsung tenang dan mau menyusu. Adrian akhirnya mempekerjakan Aisha sebagai ibu susu rahasia lewat kontrak ketat. Namun, seiring berjalannya waktu, Aisha mulai menyadari sebuah rahasia kelam: bayi yang ia susui memiliki ikatan batin yang sangat kuat, mirip dengan darah dagingnya sendiri yang hilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar Baru di Rumah Utama
Enam bulan telah berlalu sejak malam di mana Adrian menyematkan cincin emas putih di jari manis Aisha.
Mansion Arkan tidak lagi menjadi lambang keangkuhan yang dingin di kawasan Menteng. Di bawah sentuhan tangan Aisha, tirai-tirai berat beludru abu-abu di ruang tengah kini telah berganti dengan kain linen berwarna krem hangat yang membiarkan cahaya matahari pagi masuk dengan leluasa.
Status Aisha kini bukan lagi sekadar ibu susu yang bersembunyi di paviliun belakang.
Ia adalah Nyonya Besar Arkan yang sah, setelah sebuah pernikahan privat yang sakral dan penuh khidmat digelar di kediaman tersebut, dihadiri hanya oleh kerabat paling dekat dan tim hukum yang memastikan hak-hak hukum Aisha dan Fatih setara dengan Kael.
Pagi itu, Aisha sedang menata sarapan di meja makan utama. Ia mengenakan gaun rumah sederhana namun elegan berwarna lavender. Wajahnya memancarkan ketenangan seorang ibu dan istri yang dicintai sepenuhnya.
"Mama! Ma!"
Sebuah celotehan nyaring dari arah koridor membuat Aisha menoleh sambil tersenyum lebar. Bi Asih tampak kewalahan menuntun dua balita yang kini sudah mulai aktif merangkak dengan sangat cepat. Kael dan Fatih, yang kini menginjak usia sepuluh bulan, tumbuh menjadi bayi yang sangat menggemaskan.
Kael, dengan rambut hitam tebal dan mata elang yang persis seperti Adrian, selalu bergerak agresif memimpin di depan.
Sementara Fatih, dengan mata bulat jernih yang teduh, merangkak di belakangnya sambil tertawa geli, sesekali meraih kaki saudaranya.
"Ya ampun, anak-anak Mama sudah lapar?" Aisha berlutut di atas lantai marmer, menyambut kedua putranya ke dalam pelukan hangatnya. Kael langsung mencium pipi Aisha dengan gemas, diikuti oleh Fatih yang menciumi leher ibunya.
"Nak Aisha... ah, maaf, maksud saya Nyonya Aisha," Bi Asih membetulkan ucapannya sambil terkekeh pelan.
"Tuan Muda Kael ini benar-benar mirip Tuan Adrian waktu kecil. Tidak bisa diam dan selalu ingin jadi nomor satu."
"Tidak apa-apa, Bi. Panggil Aisha saja seperti biasa kalau sedang tidak ada tamu," sahut Aisha lembut sembari mendudukkan Kael dan Fatih di kursi makan khusus bayi mereka.
Sebuah langkah kaki yang mantap dan berwibawa terdengar menuruni tangga utama. Adrian melangkah masuk ke ruang makan.
Pria itu sudah mengenakan kemeja kerja berwarna biru navy yang pas di tubuh tegapnya, dengan lengan yang digulung rapi hingga siku. Wajah dingin sang CEO yang dulu ditakuti di dunia bisnis, seketika mencair menjadi senyuman hangat begitu matanya menangkap sosok Aisha dan kedua putranya.
Adrian berjalan mendekati Aisha, lalu tanpa ragu mengecup kening istrinya dengan lembut di depan Bi Asih, membuat rona merah alami kembali muncul di pipi Aisha.
"Selamat pagi, Sayang," bisik Adrian, suaranya bariton rendah dan penuh kasih.
"Selamat pagi, Adrian. Sarapan sudah siap," jawab Aisha manis, menyuapi nasi goreng ham ayam ke piring suaminya.
Adrian kemudian beralih ke boks kursi bayi, mengacak rambut Kael dan Fatih bergantian hingga kedua bayi itu memekik senang.
"Bagaimana jagoan Papa? Tidak nakal pada Mama pagi ini, kan?"
Makan malam dan sarapan di mansion ini sekarang selalu dipenuhi oleh obrolan dan tawa kecil. Namun, di tengah suasana yang begitu sempurna itu, Adrian sempat melirik ke arah Hendra yang baru saja berdiri di ambang pintu ruang makan dengan ekspresi yang sedikit menegang.
Hendra memegang sebuah tablet kerja, memberikan kode tersirat bahwa ada urusan penting yang mendesak.
Adrian menyelesaikan sarapannya dengan tenang, mengusap sudut bibirnya dengan serbet, lalu mengecup pipi Aisha sekali lagi.
"Aku ke ruang kerja sebentar dengan Hendra. Ada beberapa dokumen proyek baru di Surabaya yang harus kuperiksa sebelum ke kantor."
"Iya, Adrian. Jangan terlalu lelah," pesan Aisha patat.
Di dalam ruang kerja lantai dua, atmosfer hangat seketika menguap, berganti dengan ketegangan bisnis yang pekat.
Adrian duduk di balik meja marmernya, sementara Hendra berdiri di hadapannya dengan wajah serius.
"Ada apa, Hendra? Kasus Taufik dan Valerie sudah benar-benar inkrah, kan?" tanya Adrian, matanya menajam.
"Bukan tentang mereka, Tuan Adrian," Hendra menggeser tabletnya, menampilkan sebuah profil perusahaan multinasional baru yang berbasis di Singapura bernama Vortex Holdings.
"Ini tentang ekspansi Arkan Group di sektor pelabuhan internasional. Ada konsorsium asing yang tiba-tiba membeli sisa saham minoritas milik Nyonya Farida yang dulu Anda bekukan."
Adrian menyipitkan matanya. "Ibu menjual sahamnya? Kepada siapa?"
"Kepada seorang pengusaha muda bernama Gavin Dirgantara," jawab Hendra, membuka lembaran foto seorang pria berusia awal tiga puluhan dengan wajah tampan namun memiliki tatapan mata yang sangat dingin dan penuh kalkulasi.
"Gavin adalah anak tiri dari suami baru Nyonya Farida di Paris. Informasi dari intelijen kita mengatakan, Gavin sengaja masuk ke pasar Indonesia menggunakan saham Nyonya Farida dengan satu tujuan: merebut kendali Arkan Group sebagai bentuk balas dendam atas pengasingan ibunya."
Adrian mendengus sinis, menyandarkan punggungnya pada kursi kulit mewah.
"Dia pikir dia bisa bermain-main di wilayahku hanya karena membawa nama ibuku?"
"Ada satu hal lagi, Tuan," Hendra ragu sejenak sebelum melanjutkan.
"Gavin Dirgantara dijadwalkan tiba di Jakarta sore ini. Dan dari daftar manifes acara amal yang akan dihadiri Nyonya Aisha minggu depan sebagai ketua yayasan baru Arkan... Gavin tercatat sebagai salah satu donatur utama yang meminta pertemuan privat dengan Nyonya Aisha."
Mendengar nama Aisha disebut dalam pusaran konflik baru ini, rahang Adrian seketika mengeras sempurna. Sepasang mata elangnya berkilat berbahaya.
Badai kasta mungkin telah usai, namun babak baru perebutan kekuasaan dan masa lalu keluarga Arkan kini telah mengetuk pintu depan rumah mereka, mengincar kebahagiaan yang baru saja Aisha bangun di gedung utama.
---
Bersambung~