Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAMU DARI MASA LALU
Pak RT tertegun mendengar kalimat terakhir Kirana. Ada ketegasan yang tak terbantahkan dari sorot mata gadis itu, membuat sang kepala rukun tetangga hanya bisa mengangguk pelan penuh rasa segan.
"Baik, Kirana. Nanti malam saya sendiri yang akan kumpulkan para pemuda untuk ronda keliling kampung, khususnya di area gilingan padi," ujar Pak RT, nadanya bertekad. "Kamu... jaga diri baik-baik di rumah. Kalau ada apa-apa, langsung teriak saja."
"Terima kasih, Pak RT," jawab Kirana datar, lalu melanjutkan langkahnya menuju rumah.
Sepanjang sisa hari itu, hawa dingin yang tidak biasa seolah menyelimuti kediaman Kirana. Ibu Sumi lebih banyak diam di kamar, merenungi nasib putrinya dengan hati yang hancur. Di sisi lain, ingatan Kirana justru melayang kembali pada Wiwin, teman sekolahnya yang hingga detik ini masih terjebak di dalam sangkar emas Distrik Amethyst. Pikiran itu menjadi bahan bakar baru bagi Kirana. Menjatuhkan Tuan Surya,juragan jaya ,tuan bramasta dan mempermalukan Baskara barulah langkah awal; tujuannya yang sebenarnya adalah meruntuhkan seluruh jaringan terkutuk itu.
Sore harinya, saat semburat jingga mulai memudar di balik perbukitan desa, sebuah mobil taksi kota yang tampak usang melambat, lalu berhenti tepat di depan pagar anyaman bambu rumah Kirana.
Jantung Kirana berdesir seketika. Tangannya yang sedang memegang sapu lidi langsung mencengkeram erat gagang bambunya. Namun, begitu pintu penumpang belakang terbuka, sepasang mata Kirana membelalak sempurna.
Seorang wanita dengan pakaian sederhana berkain jarik dan berjaket longgar melangkah turun dengan amat payah. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya kurus kering, sangat kontras dengan riasan tebal yang dulu selalu menghiasinya.
"Mbak... Mbak Lastri?" bisik Kirana hampir tidak percaya.
Wanita itu adalah Mbak Lastri, sosok perempuan senior di Velvet Rose yang dulu bertaruh nyawa menyembunyikan ponsel pintar untuk Kirana, melindunginya dari cambukan anak buah Broto, dan membantunya mengumpulkan bukti-bukti korupsi Tuan Surya hingga Kirana bisa sesakti sekarang. Tanpa Mbak Lastri, Kirana mungkin sudah membusuk di dasar Distrik Amethyst.
Mbak Lastri tersenyum getir, melangkah tertatih-tatih mendekati pagar. Kirana langsung melempar sapunya dan berlari memeluk wanita itu. Tubuh Mbak Lastri terasa begitu dingin dan ringkih.
"Kirana... Nduk..." Suara Mbak Lastri serak, napasnya terengah-engah seolah setiap tarikan udara adalah siksaan.
"Mbak Lastri, kenapa bisa sampai seperti ini? Kenapa Mbak nekat ke desa?" tanya Kirana panik, menuntun Mbak Lastri untuk duduk di kursi teras rumahnya.
Mbak Lastri memegang lengan Kirana dengan sisa-sisa tenaganya. Matanya yang cekung menatap Kirana dengan sorot yang amat mendesak.
"Aku sudah keluar dari tempat keparat itu, Kirana... Aku kabur," bisik Mbak Lastri, terbatuk kecil hingga mengeluarkan darah di sudut bibirnya. "Tapi bukan itu yang penting. Baskara... Baskara sudah gila."
Kirana mengusap punggung Mbak Lastri yang gemetar. "Baskara? Apa yang dia lakukan di kota, Mbak?"
"Kemarin malam setelah dipermalukan di sini, dia balik ke Valerion. Dia tahu gilingan padi tidak bisa disita lewat hukum. Jadi dia menemui Broto, bajingan yang dulu menjualmu," kata Mbak Lastri dengan napas yang semakin memendek. "Baskara membayar orang-orang Broto. Mereka membawa dua mobil penuh preman bersenjata. Perintah Baskara sangat kejam... mereka mau meratakan rumah ini, menghabisi kamu, dan menculik ibumu supaya kamu tidak bisa jadi saksi di Kejaksaan Agung."
Kirana mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Amarahnya membumbung tinggi mendengarkan nama Broto kembali disebut.
"Aku tidak sengaja mendengar rencana mereka sebelum aku lari, Kirana. Mereka... mereka sudah di jalan menuju ke sini. Mungkin tengah malam nanti mereka sampai," lanjut Mbak Lastri. Pandangannya perlahan mulai mengabur, pegangannya di lengan Kirana perlahan mengendur. "Larilah, Nduk... bawa ibumu pergi..."
"Mbak? Mbak Lastri?!" Kirana panik melihat kesadaran wanita itu yang terus menurun.
Ibu Sumi yang mendengar kegaduhan di teras segera keluar dari rumah. Belum sempat Ibu Sumi bertanya, tubuh Mbak Lastri mendadak lemas dan terkulai di pangkuan Kirana. Napas beratnya yang terakhir berembus pelan diiringi senyuman tipis yang tulus. Wanita yang telah menyelamatkan hidup Kirana di dunia malam itu, kini telah mengembuskan napas terakhirnya demi mengantarkan peringatan.
"Mbak Lastri! Bangun, Mbak! Jangan tinggalkan Kirana!" tangis Kirana pecah. Ia memeluk tubuh kaku wanita yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.
Ibu Sumi ikut menangis histeris, menyadari bahwa wanita yang meninggal di teras rumahnya ini adalah orang baik yang telah melindungi anaknya selama berada di neraka kota.
Di tengah duka yang mendalam dan air mata yang membasahi pipinya, Kirana perlahan meletakkan jenazah Mbak Lastri dengan sangat terhormat di atas Teras. Ia menghapus air matanya sendiri. Rasa sedih itu dalam sekejap bertransformasi menjadi kebencian yang sedingin es.
Kirana berdiri, menatap jalanan desa yang mulai menggelap. Baskara dan Broto tidak hanya berniat menghancurkan hidupnya lagi, tapi mereka juga telah merenggut nyawa wanita yang paling berjasa dalam pelariannya.
"Ibu," ucap Kirana, suaranya mendadak berubah menjadi sangat tenang—ketenangan yang mengerikan sebelum badai besar datang. "Masuk ke dalam rumah. Kunci semua pintu. Jangan keluar apa pun yang terjadi di halaman nanti malam."
Kirana berjalan ke dalam rumah, mengambil sebuah belati kecil yang tersembunyi di balik lemari, lalu menyelipkannya di balik kain baju kurungnya. Malam ini, di tanah kelahirannya sendiri, 'Mawar Hitam' tidak akan lari. Ia akan menyambut kedatangan orang-orang Broto dengan maut yang setimpal.