NovelToon NovelToon
The Phantom

The Phantom

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dark Romance / Kriminal
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Nameika

Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.

Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.

Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…

Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 — Suaka di Tengah Badai

“Aku tidak datang untuk diperiksa.”

Alice bahkan belum sempat mengunci gerendel pintu kliniknya ketika suara berat itu membelah kesunyian. Ia tertegun sejenak dengan tangan masih menggantung di udara. Di ambang pintu, Leon berdiri tegak. Mantel hitamnya tampak mengilap, memantulkan sisa gerimis dan kelembapan udara malam Valmere yang menusuk tulang. Rambutnya sedikit berantakan, dan ada guratan keletihan yang sangat nyata di bawah matanya, seolah ia baru saja memikul seluruh beban kota di pundaknya.

Alice memiringkan kepalanya sedikit, menatap pria itu dengan binar mata yang campur aduk antara lelah dan penasaran. “Lalu untuk apa kau datang tengah malam begini, Kurir? Jika kau hanya ingin menumpang berteduh, aku baru saja akan mematikan pemanas ruangan.”

Leon melangkah masuk melewati batas pintu tanpa meminta izin terlebih dahulu. Gerakannya efisien, tanpa suara, seperti bayangan yang menyelinap masuk ke dalam ruang cahaya.

Klinik kecil itu masih terasa sama seperti ingatan Leon beberapa jam yang lalu. Cahaya kuning hangat dari lampu gantung tua menciptakan suasana yang jauh lebih manusiawi dibandingkan dunia beton di luar sana. Aroma tajam antiseptik tetap ada, namun kali ini bercampur dengan uap kopi yang masih mengepul dari cangkir porselen di atas meja kerja Alice. Ruangan ini adalah sebuah anomali di Distrik 6; sebuah kantong kedamaian di tengah samudera kekerasan.

Alice menutup pintu di belakang Leon. Bunyi klik dari kunci logam itu seolah menyegel mereka dari dunia luar.

“Kau terlihat seperti seseorang yang membawa kabar buruk dalam saku mantelnya,” kata Alice sambil berjalan menuju meja kerjanya.

Leon berdiri diam beberapa langkah dari meja pemeriksaan baja. Ia tidak melepaskan sarung tangannya. “Kau harus meninggalkan tempat ini. Sekarang juga.”

Alice berkedip sekali, ekspresinya tampak tidak percaya. Sesaat kemudian, sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya. “Kau bahkan belum mengatakan selamat malam atau sekadar menanyakan kabarku setelah jahitan itu.”

“Alice.”

Nada suara Leon kali ini jauh lebih rendah, getarannya membawa peringatan yang membuat senyum di wajah Alice perlahan memudar.

“Aku serius. Ini bukan saran. Ini peringatan.”

Alice menatap Leon lebih lama, mencoba mencari celah di balik topeng stoik pria itu. “Kau sering terlihat serius, Leon. Itu adalah karakter tetapmu. Tapi menyuruhku pergi dari rumahku sendiri adalah hal yang baru.”

Leon melangkah maju, memperpendek jarak di antara mereka hingga aroma dingin dari luar yang menempel di jaketnya bisa tercium oleh Alice. “Kali ini berbeda dari ancaman preman pasar atau penagih utang distrik yang biasa kau hadapi.”

Alice menyilangkan tangan di depan dada, menolak untuk terintimidasi. “Apa ada orang yang mengejarmu lagi? Apa musuh-musuhmu mulai tahu siapa yang mengobati luka?”

Leon tidak menjawab, yang justru memberikan jawaban paling nyata bagi Alice.

“Kalau mereka berani datang ke sini hanya karena urusanmu, aku bisa menelepon polisi distrik,” lanjut Alice meski suaranya sedikit ragu.

Leon menggelengkan kepala perlahan. “Polisi tidak akan membantu. Mereka hanya akan datang untuk membersihkan mayat atau menerima suap untuk memalingkan muka. Kau tahu itu lebih baik dariku.”

Alice menghela napas panjang, bahunya sedikit merosot. “Lalu siapa yang sebenarnya kau takutkan? Siapa yang membuatmu terlihat begitu gelisah?”

Leon menatap ubin lantai yang bersih sebentar sebelum kembali mengunci tatapan mata Alice. “Aku tidak bisa menjelaskan rinciannya sekarang. Ada hal-hal yang jika kau mengetahuinya, hanya akan membuatmu menjadi target yang lebih besar.”

Alice mengangkat alisnya tinggi-tinggi. “Kau datang ke klinikku tengah malam, menyuruhku membuang semua yang kubangun di sini, tapi kau bahkan tidak memberiku alasan yang masuk akal?”

“Ya,” jawab Leon pendek.

Alice berjalan mendekat hingga mereka berdiri hanya berjarak satu langkah. Langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai kayu. Tidak ada rasa takut di matanya, hanya rasa haus akan kejelasan yang menuntut.

“Kau tahu sesuatu yang tidak kuketahui, bukan?” tanya Alice pelan.

Leon tidak membantah. Ia membiarkan keheningan itu menjadi konfirmasi.

“Dan kau mengharapkan aku percaya begitu saja pada pria yang baru kukenal selama beberapa malam ini?”

Leon menatap mata Alice yang jernih. “Ya. Karena aku satu-satunya orang yang tahu seberapa dekat maut itu berdiri di belakangmu saat ini.”

Sunyi kembali jatuh di antara mereka. Jam dinding di atas rak obat berdetak dengan irama yang monoton. Detakan itu kini terasa seperti hitungan mundur yang mendesak di telinga Leon.

Alice akhirnya memecah keheningan dengan pertanyaan yang tidak disangka Leon. “Berapa lama?”

Leon sedikit mengernyitkan dahi. “Apa maksudmu?”

“Berapa lama aku harus meninggalkan tempat ini? Semalam? Seminggu? Selamanya?”

Leon menjawab tanpa ragu sedikit pun. “Beberapa hari. Setidaknya sampai badai ini lewat atau aku menemukan jalan keluar lainnya.”

Alice menggelengkan kepala dengan tegas. “Aku tidak bisa melakukannya.”

Leon menatapnya tajam, rahangnya mengencang. “Kenapa? Hidupmu jauh lebih berharga daripada bangunan tua ini.”

Alice menunjuk ke sekeliling ruangan dengan gerakan tangan yang luas. “Bagi kau, ini mungkin hanya tumpukan bata dan kayu yang bisa diganti. Tapi bagi distrik ini, tempat ini adalah harapan terakhir.”

Ia berjalan menuju rak obat dan menyentuh botol-botol yang tersusun rapi. “Orang-orang di distrik ini datang ke sini ketika mereka tidak punya tempat lain untuk mengadu. Mereka tidak punya asuransi atau uang untuk masuk ke rumah sakit pusat.”

Ia kemudian menunjuk ke arah meja pemeriksaan tempat Leon pernah berbaring. “Anak-anak datang dengan luka infeksi yang tidak bisa mereka bayar. Orang tua datang hanya untuk meminta obat pereda nyeri agar mereka bisa tidur. Dan kau ingin aku pergi begitu saja dan membiarkan pintu ini terkunci saat mereka membutuhkan bantuan?”

Leon membalas dengan nada yang lebih keras. “Semua itu tidak akan ada gunanya jika kau berakhir di dalam kantong mayat. Ini soal hidupmu, Alice.”

Alice tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kepahitan sekaligus keberanian. “Distrik 6 selalu soal hidup dan mati setiap harinya, Leon. Aku sudah terbiasa hidup dengan bayangan itu.”

Sabar Leon mulai habis. Ia merasa seperti sedang berbicara dengan dinding yang keras kepala. “Alice, kau tidak mengerti skala masalah yang sedang menuju ke arahmu.”

Alice menatapnya lebih dalam, mencari kejujuran di balik mata Leon. “Kau benar, aku tidak mengerti karena kau memilih untuk tidak menjelaskan. Kau memperlakukanku seperti anak kecil yang harus diselamatkan.”

Leon menarik napas perlahan, mencoba meredam gejolak emosi yang jarang ia rasakan. Untuk pertama kalinya malam itu, ia terlihat sedikit ragu. Ia ingin melindungi wanita ini, tapi ia juga tidak ingin menghancurkan integritas yang membuat Alice menjadi sosok yang ia kagumi.

Alice memperhatikan perubahan kecil pada ekspresi Leon. “Ini tentang pekerjaanmu, bukan? Tentang sesuatu yang kau ambil atau sesuatu yang kau antar.”

Leon tidak menjawab, tetap membisu seperti batu.

“Kurir dunia bawah selalu membawa masalah bagi siapa pun yang mereka sentuh,” lanjut Alice dengan nada yang lebih lembut.

“Ini lebih besar dari sekadar masalah kurir biasa,” kata Leon datar.

Alice menatapnya selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Kemudian ia melangkah maju, lebih dekat lagi. Sekarang mereka berdiri begitu dekat hingga Leon bisa merasakan kehangatan dari napas Alice.

Alice berkata dengan suara yang sangat pelan namun bergetar dengan keyakinan. “Kalau aku benar-benar dalam bahaya besar seperti yang kau katakan...”

Leon menatap mata wanita itu, menanti kalimat selanjutnya.

Alice tersenyum tipis, matanya mengunci mata Leon. “...bukankah kamu akan selalu ada di dekatku jika sesuatu yang buruk benar-benar terjadi?”

Kalimat itu menggantung di udara seperti sumpah yang tidak terucapkan. Leon tidak menjawab. Ia hanya terpaku menatap wanita di depannya. Di dunia Leon, orang tidak pernah mengatakan hal seperti itu. Di dunianya, kepercayaan adalah kelemahan, dan janji adalah beban. Orang-orang di dunianya selalu lari secepat mungkin saat mencium aroma bahaya.

Namun Alice tidak lari. Alice justru memberikan kepercayaannya pada seorang pembunuh bayaran yang bahkan baru ia kenal.

Leon akhirnya memalingkan muka, bergumam pelan. “Itu bukan rencana taktis yang bagus.”

Alice tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat kontras dengan ketegangan malam itu. “Mungkin memang bukan. Tapi itu satu-satunya rencana yang kupunya.”

Ia mengambil kembali cangkir kopinya dari meja dan meminumnya dengan tenang, seolah-olah pembicaraan tentang maut barusan hanyalah obrolan cuaca biasa. “Kau terlalu banyak khawatir, Leon.”

Leon menjawab dengan nada datar yang dipaksakan. “Aku tidak khawatir. Aku hanya tidak suka variabel yang tidak terkendali.”

Alice mengangkat alisnya, menatap Leon dengan tatapan jenaka. “Benarkah begitu?”

Leon memilih untuk tidak merespons ejekan halus itu.

Alice menaruh kembali cangkirnya di atas meja. “Kau boleh duduk di sini kalau kau mau menunggu sampai pagi. Aku masih punya banyak laporan medis yang harus diselesaikan.”

Leon tetap berdiri tegak, tangannya masih siap di samping tubuh. “Aku akan tetap di luar.”

Alice berkata lagi saat ia mulai membuka buku catatannya. “Kalau tidak ada lagi peringatan kiamat yang ingin kau sampaikan, aku harus kembali bekerja.”

Leon memandang pintu klinik selama beberapa detik. Ia merasa kalah dalam perdebatan ini, namun ada rasa hormat yang tumbuh di dalam dadanya. “Baik.”

Ia berbalik dan berjalan menuju pintu.

“Kurir.”

Leon berhenti tepat sebelum tangannya menyentuh gagang pintu. “Apa.”

Alice tersenyum kecil tanpa mengalihkan pandangan dari bukunya. “Terima kasih sudah merasa perlu untuk khawatir.”

Leon tidak memberikan jawaban. Ia membuka pintu dan melangkah keluar ke gang gelap Distrik 6. Udara dingin malam langsung menyergap wajahnya, memberikan kontras yang menyakitkan dengan kehangatan di dalam klinik tadi.

Ia berjalan beberapa langkah menjauh, bersandar pada dinding bata yang lembap di seberang klinik. Bayangannya memanjang di bawah lampu jalan yang temaram.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!