Mikael Wijaya, putra milyuner dari Surabaya Wijaya Agra mengalami kecelakaan di Dubai setelah memergoki calon istrinya berselingkuh. Kecelakaan fatal itu membuatnya hilang ingatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24 Yang diketahui Fathan
Fathan yang ditelpon Abiyan agar menemuinya dan kini sudah berhadap hadapan dengan Abiyan dan Levi.
"Ada apa?" tanya Fathan sambil menatap keponakannya dan bosnya Kael. Dia tetap berdiri tenang.
"Om, kecelakaan calon mantunya om, karena perbuatan orang," jelas Abiyan sambil menyerahkan ponselnya pada abang papinya.
Dia pun membuka video yang tersimpan di sana sebelum Fathan menerimanya.
"Ini rekaman cctv di parkiran restoran tempat saya meeting dengan Kael, om," jelas Levi.
Fathan menatap serius video di ponsel yang diberikan Abiyan. Ada riak kaget di dalam matanya.
"Mobil Kael sudah diperiksa?"
"Levi dan aku sudah mengirim orang untuk mengeceknya, om."
Fathan menganggukkan kepalanya. Mengerikan juga, batinnya.
"Siapa kira kira pelakunya, ya, om?' tanya Abiyan lagi dengan raut kesal.
"Dulu dia memang punya banyak musuh. Hobi banget mabuk dna berantem. Tapi masa sampai ada yang sedendam ini dengannya?" sambungnya lagi. Sejak tau siapa sebenarnya Kael, sangat mudah bagi Abiyan mendapat informasi tentang Kael.
Tapi biasanya masalah perkelahian di club langsung diselesaikan di tempat. Jarang ada yang memperpanjang sampai bertahun tahun.
Entah mengapa Fathan merasa ngga yakin kalo yang menyerang Kael pihak di luar keluarganya. Tapi dia belum punya bukti.
"Yang penting, kita harus memberikan pengawalan ketat selama Kael dirawat, sebelum menemukan pelakunya," sahutnya tenang. Di dekat Kael saja terdapat beberapa orang yang membencinya, termasuk papinya sendiri.
Tapi dia singkirkan pikiran itu.
Ngga mungkin papinya, kan, bantahnya dalam hati.
"Iya, om," jawab Abiyan.dan Levi serentak.
"Nanti om akan bicarakan pada om Emir dan tante Kamila agar menugaskan dokter dan perawat khusus untuk menjaga Kael,' tukas Fathan lagi. Semua kemungkinan buruk bisa saja terjadi.
Abiyan dan Levi mengangguk.
Bisa aja seperti di film film, ada dokter atau suster gadungan yang akan mengirim r@cun pada Kael dalam bentuk suntik@n.
Fathan menghela nafas panjang. Tidak mungkin membicarakan ini pada Agra yang jelas jelas tidak menyukai putranya itu. Dia termasuk tersangka. Kalo kakek neneknya juga lebih tidak mungkin, kenyataan ini akan bisa membuat mereka meledak dan saling tuduh. Padahal keadaan sudah mulai tenang.
"Cukup kita saja yang tau," putus Fathan.
"Jetro dan Baim ngga apa, ya, om. Aku telanjur mengirimkan video ini pada mereka," ceplos Abiyan.
Fathan mengangguk.
"Maksud, om, rahasiakan dari keluarga Kael."
Abiyan dan Levi saling tatap dan mengangguk mengerti.
*
*
*
Kedatangan Latifa membuat suasana jadi merasa tidak nyaman. Apalagi dia nekat membawa Arsa.
Suaminya-Agra menghela nafas melihat tatap tidak suka orang tuanya dan juga mertuanya.
"Maaf, pa. Mama memaksa," ucap Arsa sebelum papanya membuka mulutnya.
Agra mengangguk sementara istrinya melengos.
Mata Latifa mengarah pada dua orang gadis cantik yang ada di samping Nidya.
Yang mana putrinya, ya? Yang satu lagi turunan Airlangga juga, kan? Masih single juga? Batinnya mulai menganalisis. Dia mulai membuka layar galery ponselnya.
Bola matanya membesar dan bibirnya tersenyum. Dia mendapatkan yang dia mau.
Adelia atau Ayra, sama saja. Yang penting sama sama dari Airlangga Wisesa.
"Gaulmu harus lebih jauh, Arsa. Lihat dua gadis di sana. Itu yang harus kamu berikan hatimu," cela mamanya-Latifa sambil menatap tajam putranya yang hanya menunduk saja dari tadi.
"Mami ngga mau tau, kamu harus berhasil mendapatkan salah satu dari mereka."
Arsa menatap sebentar pada dua gadis cantik yang sedang saling bicara itu. Dia akui kecantikan keduanya memang beda dari Nafa. Tidak perlu ditonjolkan, tapi sekali lihat saja pasti sudah menimbulkan perasaan kagum.
"Kata kamu tidak ingin saingan dengan Kael, kan? Oke, mami setuju. Asalkan kamu bisa mendapatkan Ayra Salima. Dia psikolog," tegas maminya memberi perintah.
Arsa tidak menjawab.
"Kamu masih mau dengan Nafa? Dia itu bek@san Kael. Yakin dia masih mencintai kamu?" Latifa terus saja memborbardir putranya agar tidak bisa berpikir. Jadi lebih mudah dia arahkan.
Sementara Ayra yang merasa diperhatikan, berbisik pada Adelia. Dia juga barusan datang dan terkejut dengan apa yang sudah terjadi.
"Calon mertua lo?"
"Mami tirinya Kael, katanya." Adelia juga menjawab dengan cara berbisik juga.
"Yang sebelahnya saudaranya Kael?" tanya Ayra lagi.
"Saudara tirinya. Kata mami lebih tua dia dari Kael."
"Oooh.... Maminya memperhatikan kita, Del."
"Kata mami, orangnya toxic, nyebelin."
Ayra hampir saja terkikik.
"Parah juga kalo kamu jadian sama Kael."
'Masih jauhlah, Ay. Yang penting bantu do'a, ya, agar operasi Kael berhasil." Adelia menghela nafas panjang setelah mengatakannya.
"Tentu, sudah pasti." Ayra tau, setelah ini, babak baru percint@an sepupunya baru dimulai.
"Makasih, Ay."
Ayra mengangguk sambil menggenggam tangan sepupunya yang sudah dingin.
Tabah, ya, Del.
Ngga jauh di sana Oma Hastuti mendengus kesal. Alena dan Cakra yang sudah ada di sana berusaha menyabarkan. (Alena dan Cakra, orang tua Nidya 😊)
"Kenapa putraku harus membawa dia ke sini?"
"Putramu memang bodoh," kecam Oma Hastuti.
"Acuhkan saja. Saat ini Kael butuh do'a kita," bujuk Alena lembut, berusaha meredam amarah keduanya.
Oma Diana dan Oma Hastuti menghela nafas panjang. Yang dikatakan temannya memang benar. Kael sedang bertarung dengan nyawa dan m@utnya di meja operasi.
"Ya, Kita harus berdo'a untuk Kael. Kita tidak mau kehilangan Kael, kan?" ucap Oma Hastuti dengan berusaha menguatkan hati agar bisa lebih sabar.
"Ya, Hastuti. Setelah Kael sembuh, kita harus lebih memperhatikannya. Kita jangan bertengkar lagi di depannya." Oma Diana berkata dengan suara serak.
Oma Hastuti mengangguk. Lima tahun, mereka memberikan kehidupan sulit buat Kael.
"Ya....." Kini tanpa sungkan keduanya berpelukan dengan penuh haru.
Alena mengusap air mata yang membayang di pelupuk matanya. Cakra merangkulnya. Jaya Pangestu dan Adi Nugraha saling tatap seolah menjanjikan hal yang sama seperti yang dikatakan istri istri mereka.
Kalo kael sembuh, mereka akan memberikan kehidupan kedua yang lebih baik buat cucu mereka.
Gelas gelas yang berisi minuman hangat sudah berkali kali dihabiskan saat menunggu. Beberapa jenis makanan dihidangkan, walaupun hanya mereka makan sedikit saja karena kerongkongan terasa sulit untuk menelan. Jantung masih berdebar tidak menentu menunggu pintu ruang operasi terbuka
Setelah hampir tiga jam, akhirnya Kamila keluar dari ruang operasi dengan wajah yang melelahkan.
Emir mendekati istrinya. Begitu juga keluarga Kael yang lain.
"Operasinya berhasil. Hanya saja pasien masih belum sadar."
Oma dan opa menyambut hasil ini dengan penuh syukur. Tangisan kembali terdengar. Kedua oma saling berpelukan.
Latifa hampir saja mengeluarkan dengusan kesalnya.
Padahal tinggal selangkah lagi Kael m@ti dan putranya jadi satu satunya pewaris.
Kenapa nyawa cadangannya bisa banyak sekali, decihnya dalam hati.
Kyknya Kael ingat Adel deh