NovelToon NovelToon
Istriku Diambil Papa

Istriku Diambil Papa

Status: tamat
Genre:Pihak Ketiga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Konflik etika / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.

Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akar Pahit

​Stasiun kecil di pinggiran Jawa Tengah itu diselimuti kabut tipis saat kereta api ekonomi berhenti dengan derit besi yang memilukan. Agil menarik topi kusamnya lebih rendah, sementara Laila merapatkan syal batiknya. Mereka baru saja melangkah keluar dari gerbong saat atmosfer di peron berubah menjadi dingin dan mematikan.

​"Jangan menoleh, Laila. Terus jalan ke arah pasar di luar stasiun," bisik Agil, tangannya menggenggam erat pergelangan tangan istrinya.

​Di belakang mereka, tiga pria berambut cepak dengan tas selempang yang tampak berat mulai bergerak membelah kerumunan pedagang sayur. Agil tahu betul apa yang ada di dalam tas itu: sub-machine gun MP5K, senjata standar untuk tim pembersih 'The Consortium'.

​"Mas, mereka semakin dekat," suara Laila bergetar, namun langkahnya tetap stabil.

​"Sekarang!" teriak Agil.

​Bukannya lari ke jalan raya, Agil justru menarik Laila melompat ke atas gerbong kereta barang yang mulai bergerak perlahan di jalur sebelah. Para pengejar itu segera melepaskan tembakan berperedam.

​Tup! Tup! Tup!

​Peluru-peluru itu menghantam dinding kayu gerbong, mengirimkan serpihan kayu ke arah mereka. Agil membalas dengan melempar sebuah bom asap rakitan—warisan teknik dari Gito—ke arah peron. Asap putih tebal segera menelan stasiun, memberikan mereka waktu beberapa detik untuk menghilang ke arah hutan karet yang berbatasan langsung dengan jalur kereta.

​Hutan Karet: Labirin Berdarah

​Perkebunan karet tua itu seluas ratusan hektar, dengan barisan pohon yang berdiri seperti prajurit-prajurit bisu. Di sinilah, tiga puluh tahun lalu, Rina dan Baskoro bertemu. Dan di sinilah, di bawah akar-akar pahit ini, rahasia fisik Project Cendrawasih terkubur dalam sebuah bunker peninggalan zaman kolonial.

​"Kita harus sampai ke rumah tua itu sebelum malam, Laila," Agil terengah-engah. Luka bakar di tangannya berdenyut menyakitkan karena kelembapan hutan.

​Tiba-tiba, suara dengungan pelan terdengar di atas mereka. Drone.

​"Tiarap!" Agil mendorong Laila ke bawah akar pohon raksasa.

​Drone pengintai dengan kamera termal itu melintas tepat di atas mereka. Agil menyadari bahwa Rina kini memiliki dukungan teknologi dari konsorsium internasional. Mereka bukan lagi menghadapi preman bayaran, melainkan unit tentara swasta yang efisien.

​"Agil... Agil..." suara Rina tiba-tiba terdengar menggelegar melalui pengeras suara yang dipasang di drone tersebut. "Kau tidak bisa lari dari ibumu. Hutan ini adalah tempatku bermain sebelum kau lahir. Menyerahlah, dan aku berjanji Laila akan mendapatkan kematian yang cepat dan tanpa rasa sakit."

​Laila mencengkeram lengan Agil, matanya berkilat penuh amarah. "Dia benar-benar sudah gila, Mas. Dia bukan manusia lagi."

​"Dia adalah mesin, Laila. Dan mesin punya kelemahan," Agil mengeluarkan sebuah perangkat kecil: EMP Grenade (Granat Elektromagnetik) tunggal yang ia curi dari perlengkapan tim Rina di Bali. "Hanya satu kesempatan. Kita harus memancing mereka masuk ke area bunker."

​Pertempuran di Bunker Kolonial

​Mereka sampai di sebuah bangunan beton yang setengah terkubur di dalam tanah, tertutup oleh lumut dan sulur-sulur tanaman. Pintu besinya sudah terbuka—tanda bahwa Rina sudah ada di dalam.

​Saat mereka melangkah masuk, lampu-lampu neon tua berkedip menyala. Di ujung lorong yang panjang, Rina berdiri di depan sebuah brankas dinding raksasa yang sudah terbuka. Di tangannya, ia memegang sebuah koper logam berwarna perak. Hard copy data yang asli.

​"Selamat datang di rumah, anakku," ucap Rina. Wajahnya kini ditutup oleh topeng medis sebagian, menyembunyikan luka-lukanya. "Kau datang tepat waktu untuk melihat kebangkitan kembali kekaisaran kita."

​"Letakkan koper itu, Ma," Agil menodongkan pistolnya. "Mama sudah kehilangan segalanya. Papa mati, aset digital hancur. Ini hanya tumpukan kertas yang akan membuat Mama diburu seumur hidup."

​"Kertas ini adalah kunci untuk meruntuhkan tiga pemerintahan di Asia Tenggara, Agil. Konsorsium akan membayarku satu miliar dollar hanya untuk koper ini," Rina tersenyum di balik topengnya. "Dan kau... kau akan menjadi tumbal untuk membersihkan namaku."

​Tiba-tiba, dari kegelapan lorong, muncul lima orang tentara bayaran berpakaian taktis lengkap. Mereka mengarahkan senapan mereka ke arah Agil dan Laila.

​"Laila, sekarang!" teriak Agil.

​Laila melepaskan sebuah granat asap di kakinya sendiri, sementara Agil mengaktifkan EMP.

​BZZZZZT!

​Seluruh sistem elektronik di dalam bunker—lampu, drone, bahkan bidikan laser para tentara—mati seketika. Dalam kegelapan total, Agil menggunakan kacamata malam (night vision) manual yang tidak terpengaruh EMP.

​BANG! BANG!

​Agil melumpuhkan dua penjaga terdekat. Namun, Rina ternyata lebih licik. Ia sudah hafal setiap sudut bunker ini bahkan dalam gelap. Ia menggunakan koper logamnya sebagai perisai dan melepaskan tembakan secara membabi buta ke arah suara Agil.

​Duel Ibu dan Anak

​"Laila! Lari ke arah pintu keluar!" teriak Agil di tengah desingan peluru.

​Agil menerjang Rina, menjatuhkan wanita itu ke lantai beton yang dingin. Mereka bergulat memperebutkan koper tersebut. Kekuatan Rina luar biasa untuk wanita seusianya, didorong oleh adrenalin dan kegilaan.

​"Kau... anak... tak tahu diuntung!" Rina mencakar wajah Agil, sementara tangannya yang lain mencoba meraih pistol yang terjatuh.

​"Mama yang menghancurkan keluarga kita! Mama yang membunuh ayah Laila!" Agil menghantamkan sikunya ke arah topeng Rina hingga pecah.

​Di bawah lampu darurat yang mulai menyala redup, wajah Rina yang hancur terlihat sepenuhnya. Ia tampak seperti monster dari mimpi buruk. Saat Rina hampir berhasil mencekik Agil, sebuah suara tembakan terdengar.

​DOR!

​Bukan Agil yang menembak. Bukan juga tentara bayaran.

​Laila berdiri di sana, memegang pistol milik salah satu penjaga yang sudah lumpuh. Pelurunya mengenai bahu Rina, membuat wanita itu terpental mundur.

​"Ini untuk ayahku," suara Laila dingin dan tajam.

​Rina terjatuh, koper logamnya terlepas dan terbuka. Ratusan lembar dokumen dengan stempel "TOP SECRET" berhamburan, tertutup oleh bubuk kimia pemadam api yang bocor dari dinding.

​Pengkhianatan Konsorsium

​Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar dari pintu masuk. Seorang pria asing berjas abu-abu dengan ekspresi wajah tanpa emosi masuk, diikuti oleh tim eliminasi yang jauh lebih besar. Ini adalah pemimpin dari 'The Consortium'.

​"Nyonya Rina, Anda gagal memberikan keamanan pada data ini," ucap pria itu dalam bahasa Inggris yang kental. "Dan Anda, Agil... Anda terlalu banyak menyebabkan kerugian finansial bagi kami."

​Pria itu memberi isyarat. Para tentara bayaran yang semula berada di pihak Rina kini mengarahkan senjata mereka ke arah Rina juga.

​"Apa maksudnya ini?!" teriak Rina, memegang bahunya yang berdarah. "Aku memiliki datanya! Aku adalah mitra kalian!"

​"Mitra yang tidak bisa mengendalikan anaknya sendiri bukanlah mitra, melainkan beban," jawab pria itu. "Bakar tempat ini. Ambil dokumen yang masih bisa diselamatkan. Sisanya... biarkan terkubur bersama keluarga tragis ini."

​Para tentara itu mulai menyiramkan cairan akseleran pembakar ke sekeliling bunker. Agil menyadari bahwa mereka bertiga—ia, Laila, dan Rina—sekarang berada di daftar eliminasi yang sama.

​"Mas, kita terjebak!" Laila panik saat api mulai disulut di lorong keluar.

​Agil menatap Rina yang tergeletak lemas, lalu menatap dokumen yang mulai terbakar. Ia menyadari satu hal: bunker ini memiliki saluran pembuangan air tua yang menuju ke sungai bawah tanah.

​"Laila, ikut aku! Ada lubang di bawah meja brankas!"

​Agil sempat menoleh ke arah ibunya. Di tengah api yang mulai membesar, Rina tertawa terbahak-bahak. Ia tidak mencoba lari. Ia justru memeluk tumpukan dokumen yang mulai terbakar itu, seolah-olah kertas-kertas itu adalah bayi yang ia cintai.

​"Ini milikku... semuanya milikku..." gumam Rina di tengah kobaran api.

​Agil menarik Laila masuk ke dalam lubang sempit tepat sebelum ledakan gas dari tangki oksigen tua menghancurkan ruang utama bunker tersebut.

​Terhanyut dalam Kegelapan

​Agil dan Laila terlempar ke dalam aliran air yang sangat deras di bawah tanah. Mereka terseret dalam kegelapan total, terbentur dinding batu, hingga akhirnya mereka dimuntahkan keluar ke sebuah telaga di tengah hutan karet, jauh dari lokasi bunker.

​Mereka merangkak ke tepian, napas mereka terputus-putus. Di kejauhan, kepulauan asap hitam membumbung dari bunker yang meledak.

​"Apakah... apakah sudah berakhir?" Laila bertanya dengan suara serak, wajahnya dipenuhi lumpur dan darah.

​Agil menatap ke arah api. "Bunker itu runtuh total. Rina... tidak mungkin selamat dari ledakan itu. Dan dokumen itu... semuanya sudah jadi abu."

​Namun, Agil tahu dunia tidak sesederhana itu. Pria berjas abu-abu dari Konsorsium itu masih hidup dan melarikan diri sebelum ledakan. Mereka kini memiliki musuh baru yang jauh lebih kuat dan terorganisir daripada sekadar dendam pribadi seorang ibu.

​"Kita harus pergi, Laila. Sebelum mereka menyisir area ini," Agil membantu Laila berdiri.

​Saat mereka berjalan menjauh, Agil menemukan sesuatu yang tersangkut di jaketnya. Sebuah flashdisk kecil yang tampaknya terjatuh dari koper Rina saat mereka bergulat tadi. Flashdisk itu berwarna merah tua, dengan label kecil bertuliskan: "The Last Resort" (Pilihan Terakhir).

​Agil mengepalkan tangannya di flashdisk itu. Ia tahu, di dalamnya mungkin tersimpan kunci untuk menghancurkan Konsorsium, atau mungkin... sebuah rahasia lain yang lebih mengerikan tentang dirinya sendiri.

1
ayu cantik
suka
Rhiy: Terima kasih Kak
total 1 replies
Yeni Nofiyanti
novel yang sangat bagus. cocok di filmkan💪😍
Rhiy: Makasih my reader, aamiin
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!