NovelToon NovelToon
Dicintai Ugal-Ugalan Oleh Suami Amnesia

Dicintai Ugal-Ugalan Oleh Suami Amnesia

Status: tamat
Genre:Berbaikan / Suami amnesia / Perjodohan / CEO / Tamat
Popularitas:29.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

Empat tahun menikah tanpa cinta dan karena perjodohan keluarga, membuat Milea dan Rangga Azof sepakat bercerai. Namun sebelum surat cerai diteken, Rangga mengalami kecelakaan hebat yang membuatnya koma dan kehilangan ingatan. Saat terbangun, ingatannya berhenti di usia 22 tahun. Usia ketika ia belum menjadi pria dingin dan ambisius.

Anehnya, Rangga justru jatuh cinta pada Milea, istrinya sendiri. Dengan cara yang ugal-ugalan, manis, dan posesif. Di sisi lain, Milea takut membuka hati. Ia takut jika ingatan Rangga kembali, pria itu bisa kembali menceraikannya.

Akankah cinta versi “Rangga 22 tahun” bertahan? Ataukah ingatan yang kembali justru mengakhiri segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 34.

Sejak hari itu, Ares perlahan menjauh dari Nara. Perubahan itu terasa jelas—pesan Nara kian jarang dibalas, telepon sering tak terangkat, dan rutinitas menjemput Nara ke kampus mendadak lenyap tanpa penjelasan.

Nara tak mengerti apa yang salah.

Ares kini sudah resmi bekerja di perusahaan milik keluarganya, perusahaan Vino. Kesibukan mungkin jadi alasan, pikir Nara berulang kali, meski hatinya menolak percaya sepenuhnya.

Sebenarnya, sejak pertama kali Ares mengenalkan Nara, Vino sudah menaruh kesan baik pada perempuan itu. Namun semua berubah begitu ia mengetahui latar belakang keluarga Nara. Tanpa banyak pertimbangan, Vino meminta putranya mengakhiri hubungan tersebut.

Ares memilih berbohong.

Ia mengatakan sudah putus, dan Vino pun merasa tenang. Hingga beberapa waktu lalu, Ares dengan berani menyatakan keinginannya untuk menikahi Nara—membuka kebohongan yang selama ini disimpannya rapat-rapat.

Dan sejak saat itu pula, jarak mulai tercipta.

Tiiinnnn.

Suara klakson motor membuyarkan lamunan Nara. Ia menoleh dan mendapati seorang laki-laki tersenyum lebar di atas motor gede miliknya. Senyuman konyol bagi Nara.

Langit—putra Milea dan Rangga.

Nara mendengus kesal. Hubungannya dengan Langit lebih sering diwarnai adu mulut daripada tawa akrab. Mereka mudah tersulut, sama kerasnya, dan jarang sepakat. Namun anehnya, persahabatan itu tak pernah benar-benar retak.

Dan ada satu hal yang tak pernah Nara sadari. Sejak lama, Langit menyimpan perasaan yang tak pernah berani ia ucapkan. Perasaan yang ia kubur rapat-rapat, apalagi setelah hati Nara tertambat pada Ares.

“Ra, ngapain bengong?” katanya dengan nada tengil. “Ares belum jemput juga? Kasihan, kasihan… jangan-jangan dia udah punya yang lain.”

“Lo sendiri kenapa di sini?” balas Nara tak kalah sinis. “Pacar lo yang katanya paling cantik itu ke mana? Jangan-jangan malah diembat cowok lain.”

Bukannya tersinggung, Langit justru terkekeh. “Dia sendiri yang ngaku-ngaku pacar gue. Emang tiap ada cewek naksir, gue harus jadian? Kalau gitu, dari SD pacar gue udah segudang.”

“Narsis,” gumam Nara sambil menggeleng.

Dalam hati Nara mengakui satu hal—wajah Langit memang terlalu menarik untuk diabaikan. Bahkan terlalu ganteng, mirip seperti ayahnya—Rangga. Sayangnya, mulut laki-laki itu terlalu manis. Tipe yang tak bisa dipercaya untuk urusan perasaan, Nara tidak percaya Langit bisa mencintai hanya satu wanita saja.

“Ayo, gue anter pulang,” ujar Langit sambil menyodorkan helm. “Udah mendung, nih. Entar keburu ujan...”

Dengan sedikit enggan, Nara menerima helm itu. Lagipula, ia sudah menunggu Ares hampir satu jam. Dan kekasihnya tak kunjung memberi kabar.

Motor gede itu meluncur pelan keluar dari area kampus. Langit sengaja tidak ngebut, meski biasanya gas motornya jarang diajak kompromi.

“Pegangan yang bener, Ra,” katanya tanpa menoleh. “Ntar lo jatoh, gue yang disalahin. Bukan sama nyokap lo, gue bakal dimarahin nyokap gue sendiri! Lo itu kan… princess kesayangan nyokap gue!”

Nara mendengus. “Iya, iya.”

Awalnya dia cuma memegang jaket Langit di bagian belakang. Tapi angin sore makin kencang, dan jalanan mulai licin karena gerimis tipis yang turun tiba-tiba. Saat motor sedikit oleng karena lubang aspal, refleks Nara langsung memeluk pinggang Langit.

Bukan pelukan manja, lebih ke pegangan panik.

Langit reflek menegang sesaat. “Eh—santai, santai. Gue ini jago bawa motor!”

“Gue kaget!” Nara membela diri. “Jalannya jelek banget!”

“Iya, tau. Tapi nggak usah dipeluk juga... kayak ngajakin nikah siri,” Langit nyengir.

Nara langsung mukul punggungnya. “Mulut lo tuh, ya!”

Tapi meski sambil bercanda, tangan Nara tak langsung dilepas. Entah karena hujan makin deras, atau karena kepalanya terlalu penuh permasalahannya dengan Ares.

Di lampu merah pertama, Langit berhenti. Dia menurunkan standar kaki sebentar, menunggu lampu hijau. Dari kaca spion, dia melihat pantulan wajah Nara.

Pucat, dan itu sepertinya bukan karena hujan.

“Lo kenapa sih, Ra?” tanyanya akhirnya, nada suaranya nggak se-tengil biasanya. “Sejak dari kampus, muka lo kayak orang habis diputusin sepihak.”

Nara terdiam beberapa detik.

“Gue capek,” jawabnya jujur. “Nunggu orang yang nggak jelas.”

Langit mendengus pelan. “Ares lagi?”

Nara nggak jawab, tapi itu sudah cukup.

“Hadeh…” Langit geleng-geleng. “Gue heran deh sama cowok satu itu, dari dulu kelakuannya bikin orang emosi.”

“Jangan ngomong gitu,” Nara refleks membela Ares. “Dia nggak terlalu parah kayak omongan lo, mungkin lagi sibuk.”

Langit senyum miring. “Lo tau nggak bedanya sibuk sama nggak peduli?”

Nara menggigit bibirnya. “Tau.”

“Terus?”

“Gue nggak mau mikir yang aneh-aneh.” Nara tetap berpikiran positif.

Lampu menyala hijau. Langit menarik gas lagi, kali ini sedikit lebih cepat. Tapi kepalanya justru penuh pikiran. Bukan soal jalanan, tapi soal Nara.

Di seberang jalan, di bawah kanopi minimarket, seorang perempuan berdiri sambil main ponsel. Matanya terbelalak saat melihat ke arah motor yang baru saja melintas.

Rambut perempuan itu panjang, dicat cokelat kemerahan. Wajahnya cantik, tipe yang gampang dilirik cowok. Namanya Tasya—mahasiswi fakultas ekonomi, dan orang yang selama ini terang-terangan naksir Langit.

Dia menggigit kuku jarinya, menahan rasa kesal. Itu Nara lagi... selalu Nara.

Padahal Langit tak pernah bilang mereka pacaran. Tapi tiap kali Tasya merasa sudah selangkah lebih dekat, selalu saja ada Nara yang muncul diantara dia dan Langit.

Dan sekarang?

Nara memeluk pinggang Langit.

Di motor.

Tasya langsung ngangkat ponselnya dan memotret. Sekali, dua kali. Zoom sedikit, karena fotonya kurang jelas.

Dia tersenyum tipis.

“Oke,” gumamnya. “Lo sendiri yang cari masalah ya, cewek gatel.”

Jarinya bergerak cepat di layar ponsel, kontak yang dia cari cuma satu—Ares.

Tasya memilih foto terbaik, yang kelihatan jelas tangan Nara melingkar di pinggang Langit, kepala mereka agak berdekatan.

Dia menambahkan tanpa caption panjang, cuma satu kalimat.

[Kasihan lo, Ares. Cewek lo keliatan bahagia banget dibonceng cowok lain.]

Send.

Tasya menghela napas puas.

“Sekarang tinggal nunggu.”

Di kantor Vino, Ares baru aja keluar dari ruang rapat. Wajahnya tegang, dasinya sudah agak dilonggarkan. Seharian ini kepalanya dipenuhi tekanan.

Ponselnya bergetar, notifikasi masuk.

Nama Tasya muncul.

Ares sempat ragu membukanya, tapi entah kenapa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Begitu foto itu terbuka, dadanya langsung panas. Itu Nara, dia kenal jaket yang dipakai perempuan di dalam foto. Ia juga mengenal tas selempang itu. Dan tangan Nara… jelas melingkar di pinggang Langit.

Baginya, jarak itu terlalu dekat untuk sekadar “teman”.

Ares menatap layar terlalu lama, sampai jari-jarinya gemetar. Ada suara berdenging di telinganya, seolah semua suara di sekitarnya tiba-tiba menjauh.

"Jadi ini alasan dia keliatan santai-santai aja, padahal aku memutus komunikasi kami? Dia tidak mencariku untuk meminta penjelasan.“

Ares mengepalkan tangan, chat berikutnya masuk.

Tasya: [Gue nggak bermaksud ngadu, tapi lo pantes tau. Ini barusan, dekat kampus.]

Ares menutup ponselnya keras-keras, napasnya berat.

Marah? Iya.

Cemburu? Banget.

Kecewa? Lebih dari itu.

Dia langsung membuka chat untuk Nara.

Mengetik.

Menghapus.

Mengetik lagi.

[Kamu di mana?]

Tiga menit.

Tidak dibalas.

Ares tertawa pendek, pahit. “Oke,” gumamnya. “Sekarang jelas!”

Sementara Moge milik Langit berhenti di depan rumah Nara. Hujan sudah turun deras, Nara turun sambil membuka helm.

“Makasih,” katanya singkat.

Langit ikut turun, mematikan mesin. “Ra...”

Nara menoleh.

“Lo yakin baik-baik aja?”

Nara mengangkat bahu. “Keliatan nggak?”

Langit mendekat setengah langkah. “Kalo dia bikin lo ngerasa sendirian, itu bukan salah lo.”

Nara terdiam, hujan mengaburkan pandangannya atau mungkin air di matanya.

“Gue masuk dulu,” katanya pelan.

Langit mengangguk. “Kabarin kalo butuh apa-apa.”

Nara berbalik masuk ke rumah, tanpa tau—di tempat lain, kekasihnya sedang membangun kesimpulan sendiri hanya dari sebuah foto. Dan malam itu, jarak di antara mereka semakin lebar.

1
Aditya hp/ bunda Lia
wah ... tamat yah happy ending si Ares sadar bisa menerima dan si Tasya nyeraaah ..
Rita
lega,gpp lbh enak gini to the point happy ending pula 🥰🥰🥰🥰trmksh thor sukses sllu
Rita
yg dengernya ikut plonk gemesh
Rita
g ada yg g mungkin
Rita
jgn kyk Ares jgn lgsg percaya nih pasti ada yg hasut
Nadiyah1511
syukurlah ga ada dendam yg perlarut2...happy ending 💜

semangat berkarya ka💪💜
Nadiyah1511
aaahhhh senangnya udh plong ya bang langit..masalah d bales ga'y urusan belakangan yg penting jujur dlu👍💜
Desyi Alawiyah
Aaahhh happy ending... Akhirnya, Nara dan Langit akan memiliki baby...

Makasih kak, ceritanya bagus banget... Sukses terus yah Kak, aku tunggu karya kak Re selanjutnya... 😇😇😇
Desyi Alawiyah
Wah, salting brutal sih ini... Coba kamu ngomongnya dari dulu, Lang ke Nara.. 🤭

Tapi oke lah, sekarang kalian udah nikah.. dan sah secara hukum dan agama.. ☺
Wulan Sari
ceritanya bagus banget ada rasa harunya dan greget sedih nano2 deh tapi akhir cerita ini happy end bahagia ,.. semangat 💪 Thor salam sukses selalu ya Thor 👍❤️🙂🙏
Tiara Bella
tamat jg akhirnya dan happy ending....semua bahagia...
Tiara Bella
akhirnya terbuka dngn perasannya sndiri dan langit ternyata gk bertepuk sebelah tangan
Miss Typo
happy ending 👏👍
aku senang bahagia melihat mereka berdua bahagia 😍
huaaaaaa dah tamat l, aslinya belum rela pisah dgn mereka, tapi ada pertemuan pasti ada perpisahan.

terimakasih thor ceritanya luar biasa, sukses terus dgn karya-karyanya di novel 💪
Miss Typo
huaaaaaa seneng banget rasanya akhirnya Langit ngungkapin perasaan nya, tapi kok aku mlh nangiss 😭
cengeng bgt deh aku, sedih seneng terharu nangis 🙈
Rita
makanya kmu yg ngelepasin sndri kmu yg nyesel
Rita
ekhem ada yg mulaii😜😁
Yuli Yulianti
percuma juga kembali kerana melibatkan ortu yg punya masalah masa lalu yg tidak bisa di abai kan yg ad malah banyak masalah ..Nara mending jalani masa depan hidup mu dgn langit kerana dia suami mu
Tiara Bella
gk ush mw Nara km udh nikah sm langit klu km balik sm Ares ribet mmh km gk akur sm vino.....
Tiara Bella
km sudah terlambat Ares....heh....
Miss Typo
mana bisa begitu? Nara dah milik Langit selamanya gak ada tawar menawar mereka dah sah 🤣
lagian hati Nara dah buat Langit kok, dia dah mulai cemburu gitu, apalagi cintanya Langit dari dulu hanya untuk Nara 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!