Hidup Jema berubah sejak ayahnya menikah lagi saat ia kelas 6 SD. Sejak itu, ia tinggal bersama ibu tiri yang semena-mena dan semuanya makin memburuk ketika ayahnya meninggal.
Saat SMA, ibu tirinya menikah dengan seorang duda kaya raya yang punya tiga putra tampan. Jema berharap hidupnya membaik… sampai ia melihat salah satu dari mereka: Nathan.
Musuh bebuyutannya di sekolah.
Cowok arogan yang selalu membuat hidupnya kacau.
Dan sekarang, jadi saudara tirinya.
Tinggal serumah membuat semuanya jadi lebih rumit. Pertengkaran mereka semakin intens, tetapi begitu pula perhatian-perhatian kecil yang muncul tanpa sengaja.
Di antara benci, cemburu, dan konflik keluarga perasaan lain tumbuh.
Perasaan yang tidak seharusnya ada.
Perasaan yang justru membuat Jema sulit bernapas setiap kali Nathan menatapnya lebih lama daripada seharusnya.
Jema tahu ini salah.
Nathan tahu ini berbahaya.
Tapi hati tetap memilh bahkan ketika logika menolak.
Karena siapa sangka, musuh bisa menjadi cinta pertama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yumiiyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah yang meledak
Jema menangis di dalam kamar mandi. Ia mencuci wajahnya, lalu mengusap-usap bibirnya berulang kali.
Nathan brengsek. Jahat. Menjijikkan.
Bisa-bisanya Nathan melakukan hal itu. Padahal tadi… Jema sudah mulai menganggap Nathan sebagai orang yang baik. Tapi ternyata tidak. Sama sekali tidak.
Kenapa Nathan harus menciumnya?
Kenapa?
Kenapa Nathan melakukan itu?
Bukannya Nathan sendiri yang bilang tidak ingin punya hubungan apa pun dengannya? Lalu kenapa dia menciumnya?
Jema kembali mengusap bibirnya dengan kasar, seolah ingin menghapus jejak itu.
Dari luar, suara Jesika terdengar mencarinya.
“Jem? Lo di dalem?”
“Jema??”
Mendengar itu, Jema buru-buru menghapus air matanya. Ia menarik napas, lalu keluar dari kamar mandi.
“Jema? Lo baik-baik aja kan?” Jesika menatapnya khawatir.
“Gue nyariin lo.”
“Iya, gue gapapa,” jawab Jema singkat.
Jesika menatap wajahnya lebih lama.
“Lo diapain sama Nathan?”
“Ya… gitu deh. Dia marah-marah.”
“Tapi itu kan bukan salah lo, Jem…”
“Sama aja,” Jema tersenyum pahit. “Semua salah gue.”
“Emang anjing sih Nathan,” kesal Jesika.
“Yang nyebarin siapa, yang dimarahin siapa. Kenapa? Dia ga berani marahin duo jablay itu, ya?”
“Udah lah, gapapa,” ucap Jema pelan. “Kita balik ke kelas aja.”
Jesika menepuk bahu Jema.
“Yang sabar ya, Jem…”
“Iya,” Jema menghela napas panjang.
“Gue sabaaaaaar banget.”
Jema dan Jesika kembali masuk ke dalam kelas. Suasana sudah kembali normal, tidak lagi heboh seperti sebelumnya. Semua tampak berjalan seperti biasa.
Nathan?
Laki-laki itu terlihat bercanda ria bersama Tian dan Raka. Tertawa, santai, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Seolah kejadian tadi hanyalah hal sepele.
Hati Jema mendadak terasa panas.
Ia menatap Nathan dengan penuh amarah. Tatapan yang sama sekali tidak ia sembunyikan. Nathan menyadarinya. Laki-laki itu menoleh, menangkap tatapan Jema.
Namun ekspresi Nathan tetap datar. Tatapannya dingin. Tidak ada rasa bersalah. Tidak ada penjelasan.
Jema langsung mengalihkan pandangannya. Ia mengepalkan tangan, lalu berjalan cepat menuju bangkunya dan duduk tanpa berkata apa-apa.
Tak lama kemudian guru masuk ke dalam kelas. Tanpa banyak basa-basi, guru langsung membuka pelajaran.
Jam pertama pun dimulai, seolah tidak ada apa pun yang terjadi.
Namun bagi Jema, semuanya sudah berbeda.
Ketika jam istirahat tiba, semua siswa langsung berdesakan keluar kelas karena sudah sangat lapar. Jema dan Jesika memilih tetap duduk di kursi mereka, menunggu sampai teman-teman yang lain benar-benar keluar.
Nathan dengan sengaja menendang meja Jema hingga meja itu terdorong ke depan. Buku paket Jema jatuh ke lantai.
“Jelas-jelas ini meja nggak ngehalangin jalan lo,” ucap Jema kesal.
Nathan sama sekali tidak menanggapi. Ia tetap asyik bercerita dengan Tian dan Raka.
Jema menunduk, mengambil buku paketnya, lalu melemparkannya ke punggung Nathan.
Sekejap, kelas yang masih berisi beberapa siswa mendadak terdiam.
Nathan memutar tubuhnya ke belakang. Ia menaikkan satu alis dan menatap Jema.
“Lo udah buat buku gue jatuh.”
“Terus?” balas Nathan.
“Ya tanggung jawab lah. Punya otak kan?”
Nathan terkekeh. Ia menendang buku yang tadi dilempar Jema hingga meluncur dan berhenti tepat di bawah kaki meja Jema.
“Udah kan?”
Jema semakin kesal.
“Lo bener-bener keterlaluan ya…”
“Jem, udah jem,” Jesika menahan Jema sambil berusaha menenangkannya.
Nathan melangkah maju beberapa langkah, menghampiri Jema. Tangannya menyentuh kedua bahu gadis itu.
“Gue? Atau lo dan keluarga lo yang keterlaluan?”
“Gue udah bilang, bukan gue yang nyebarin,” Jema menahan emosi.
“Mau lo atau bukan, kalian itu sama aja.”
“Than udah lah, kan udah dibilang Susan sama Selin yang nyebarin. Kenapa cuma Jema yang lo bully?” Tian mencoba menengahi.
“Karena…” Nathan tersenyum miring, “…dia pantas dapetin itu.”
Nathan mengangkat tangannya, menyentuh pipi Jema dengan ujung jari telunjuknya. Setelah itu ia pergi begitu saja bersama Tian dan Raka, meninggalkan Jema yang berdiri kaku.
“Brengsek…” Jema mengusap pipinya dengan kasar.
***
Di kantin, Jema dan Jesika terlihat menikmati makan siang mereka. Suasana cukup ramai, suara sendok beradu dengan piring bercampur obrolan siswa lain. Jema baru saja menyuap makanannya ketika bayangan seseorang menutupi meja mereka.
Pamela berdiri di depan Jema, diikuti dua temannya.
“Enak ya?” tanya Pamela dengan senyum tipis yang tidak tulus.
“Kenapa? Lo mau coba?” jawab Jema datar.
Tanpa peringatan, Pamela langsung menyiram wajah Jema dengan es jeruk. Cairan dingin itu membasahi wajah dan seragam Jema.
Jema refleks berdiri. Bajunya basah, rambutnya menempel di pipi.
“Lo apa-apaan sih?” bentak Jema kesal.
“Dasar tukang rayu!!”
“Apa? Gue? Siapa yang gue rayu? Lo gila ya?”
“Ga usah pura-pura bego deh. Lo sama Nathan tinggal bareng kan? Udah ngelakuin apa aja lo sama dia? Ngaku!!!”
Emosi Jema langsung naik. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia menjambak rambut Pamela dengan keras. Di saat yang sama, Jema mengambil mangkuk sup di depannya dan menyiramkannya ke kepala Pamela.
“Oh shit… Dasar jalang!” teriak Pamela.
Dua teman Pamela langsung maju ingin menghentikan Jema, namun Jesika sigap berdiri dan menghalangi mereka.
“Jema?? Apa yang lo lakuin? Lo udah gila yaa…?”
“Heh Jema, lepasin Pamela!”
“Kita bakal aduin lo ke guru BK!”
“Aduin aja,” balas Jema tajam. “Lo pikir di sini ga ada kamera CCTV? Ayo aduin. Siapa yang bakal dihukum?”
“Jem… Lo jahat banget, kita kan cuma nanya…”
“Tau nih Jema…”
“Lepasin rambut gue, sakit, jemaaaaa!”
Jema membanting mangkuk sup ke lantai hingga pecah. Suaranya membuat dua teman Pamela tersentak, Pamela pun terdiam.
“Udah ngomongnya??” teriak Jema.
“Gue ga bakal ngelakuin ini kalau lo ga ngomong tentang sesuatu yang menjijikkan!”
“Gue kan cuma tanya, Jem…”
“Cuma tanya?” Jema tertawa sinis. “Lo siram gue pakai jus. Itu yang lo bilang cuma tanya?”
Jema mencondongkan tubuhnya.
“Heh, lain kali kalau ngomong itu dipikir-pikir dulu. Lo punya otak kan? Apa cuma kepala doang, ga ada isinya? Gue sama Nathan ga ada hubungan apa-apa. Jadi stop tanya-tanya gue. Tanyain aja langsung ke orangnya. Jangan ajuin pertanyaan konyol ke gue. Gila banget pertanyaan lo itu.”
Jema akhirnya melepaskan jambakan rambut Pamela. Pamela langsung memegang kepalanya sambil meringis kesakitan. Kedua temannya buru-buru membantu Pamela berdiri.
Tak jauh dari sana, Nathan berdiri di area kantin dan melihat kejadian itu. Tatapan Jema langsung mengarah padanya—penuh amarah dan muak. Namun Nathan sama sekali tidak menunjukkan reaksi.
Jema mengambil minumannya, berjalan menghampiri meja Nathan, lalu menyiramkan minuman itu tepat ke wajah Nathan.
“Jem? Lo apa-apaan sih?” serang Tian kaget.
Ia mengabaikan Tian, tatapannya mengarah tajam pada Nathan.
“Lo urusin tuh cewek lo,” balas Jema dingin.
Tanpa menoleh lagi, Jema langsung pergi meninggalkan area kantin.