Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan yang Lembut
Sore itu, langit udah mulai jingga kemerahan.
Aruna berdiri di depan gerbang sekolah. Sendirian. Kayla udah pulang duluan—ada les matematika.
Di tangannya, surat Elang.
Surat yang udah dia baca berkali-kali sejak pagi tadi. Sampai dia hapal setiap kata. Setiap kalimat. Setiap... rasa sakit yang tersirat di sana.
*Aku harus nemuin dia.*
*Aku harus bilang... sebelum dia berharap lebih lama.*
Aruna nanya ke beberapa temen sekelas Elang. "Eh, kalian tau Elang biasanya ke mana sepulang sekolah?"
Satu cowok—namanya Farhan—jawab sambil ngangkat bahu. "Elang? Oh, si culun itu? Dia sering ke perpus kota. Ngapain emang?"
Aruna nggak jawab. Cuma bilang terima kasih terus langsung jalan cepet keluar gerbang.
Perpustakaan kota nggak terlalu jauh dari sekolah. Sekitar lima belas menit jalan kaki.
Aruna jalan cepet. Dadanya deg-degan. Tangannya gemetar pegang surat itu.
*Aku harus bilang. Aku nggak bisa biarin dia nunggu... nunggu jawaban yang nggak akan pernah dia mau denger.*
---
Perpustakaan kota itu gedung tua dua lantai. Cat temboknya udah kusam. Ada bau buku lama yang nyengat begitu masuk.
Aruna masuk. Sepi. Cuma ada beberapa orang—mahasiswa, anak SMA, satu dua orang tua yang baca koran.
Aruna keliling. Ngeliatin setiap sudut.
Sampai...
Dia ngeliat.
Di pojok paling belakang, di antara rak-rak buku usang yang jarang orang sentuh, ada cowok berkacamata tebal. Duduk sendirian di kursi kayu. Baca buku tebal.
Elang.
Aruna... berhenti sebentar. Napasnya tertahan.
Cowok itu... kelihatan kecil banget di kursi itu. Punggungnya bungkuk. Kepalanya nunduk fokus ke buku.
Buku astronomi.
Judulnya: "Kosmos dan Misteri Alam Semesta"*
Aruna jalan pelan mendekat. Kakinya terasa berat. Setiap langkah... menyakitkan.
*Aku... aku harus nyakitin dia sekarang...*
*Aku harus...*
Elang belum sadar ada yang deketin.
Dia masih baca. Tapi... matanya kosong. Nggak fokus. Kayak cuma pura-pura baca biar nggak keliatan sedih.
"Elang..."
Suara Aruna pelan tapi cukup buat bikin Elang... loncat kaget.
Bukunya hampir jatuh. Elang menangkep cepet dengan tangan gemetar.
Dia noleh.
Ngeliat Aruna berdiri di samping mejanya.
Dan jantungnya... berhenti.
"A-Aruna... k-kenapa... kenapa kamu di sini...?" tanyanya terbata-bata, suaranya parau.
Aruna... tersenyum kecil. Senyum yang... sedih. "Boleh aku duduk?"
Elang... diam sebentar. Terus ngangguk cepet. Gugup banget. "I-iya... silakan..."
Aruna duduk di kursi seberang Elang. Taruh tasnya di meja. Keluarin surat Elang dari dalam tas.
Elang... ngeliat surat itu.
Dan dadanya langsung sesak.
*Dia... dia bawa surat itu...*
*Berarti... berarti dia udah baca...*
*Berarti...*
Aruna menatap Elang dengan tatapan yang... lembut. Tapi ada kesedihan di sana. Kesedihan yang dalam.
"Terima kasih untuk suratnya, Elang," kata Aruna pelan. Suaranya... hangat. "Aku... aku sangat menghargai kejujuranmu. Aku... aku nggak pernah tau kalau ada yang... yang ngeliat aku kayak gitu."
Elang... menunduk. Tangannya meremas buku di pangkuannya. Erat. Sampai buku itu kusut.
Dia tau.
Dia tau apa yang bakal Aruna bilang selanjutnya.
Dia udah hapal nada suara ini.
Nada... penolakan.
"Tapi..."
Deg.
Kata itu keluar.
Kata yang Elang paling takuti.
"Aku... aku nggak bisa membalas perasaanmu, Elang."
Suara Aruna... bergetar. Matanya mulai berkaca-kaca.
Elang... masih nunduk. Nggak berani ngeliat mata Aruna.
"Aku... hatiku sudah ada yang mengisi," lanjut Aruna, suaranya makin pelan. Nyaris bisikan. "Dan aku... aku nggak mau bohongin kamu. Kamu... kamu berhak tau yang sebenarnya."
Elang... mengangguk pelan.
Napasnya... sesak.
Dadanya... remuk.
Tapi dia... tersenyum.
Tersenyum meskipun air mata udah mulai ngumpul di balik kacamatanya.
"A-aku tau kok," kata Elang, suaranya gemetar parah. "A-aku dari awal juga... juga udah tau jawabannya. Aku cuma... aku cuma pengen jujur... sekali aja."
Aruna... ngeliat cowok di depannya ini.
Cowok yang... gemetar. Yang berusaha keras nahan nangis. Yang tersenyum meskipun jelas dia lagi hancur.
Dan hatinya... sakit.
Sakit ngeliat orang yang tulus... harus patah kayak gini.
Aruna mengulurkan tangannya. Pelan. menggenggam tangan Elang yang dingin banget.
"Kamu orang baik, Elang," bisik Aruna, matanya udah basah. "Kamu pantas dapat seseorang yang bisa mencintaimu sepenuh hati. Bukan... bukan aku."
Elang... ngerasain genggaman tangan Aruna.
Hangat.
Tapi... sakit.
Karena ini bukan genggaman cinta.
Ini genggaman... kasihan.
Elang menarik tangannya perlahan. Nggak sanggup lagi ngerasain kehangatan yang nggak akan pernah jadi miliknya.
"Yang... yang kamu suka..." suara Elang nyaris putus. "Itu... Dhira, kan?"
Aruna... terdiam.
Lama.
Terus... ngangguk pelan.
Elang... tertawa.
Tawa yang... pahit. Tawa yang penuh luka. Tawa yang... nggak ada sukanya sama sekali.
"Tentu saja..." katanya sambil ngelap mata kasar pake lengan baju. "Tentu saja dia. Dia... dia sahabat terbaikku. Dia punya semua yang... yang nggak gue punya."
Air matanya mulai jatuh. Satu tetes. Dua tetes. Terus... nggak berhenti.
"D-dia pantas kok... dapet kamu. Dia... dia ganteng. Pinter. Populer. Punya segalanya." Elang menggeleng pelan, suaranya makin serak. "Gue... gue nggak pantas. Gue cuma... cuma cowok cupu yang... yang nggak ada apa-apanya."
"Elang, jangan bilang gitu—"
"Udah, Aruna," potong Elang cepet. Dia berdiri. Ambil tasnya dengan tangan gemetar. Buku astronomi ditinggal begitu aja di meja. "Terima kasih udah... udah dateng nyamperin gue. Terima kasih udah... udah jujur. Gue... gue hargai itu."
Aruna berdiri juga. "Elang, tunggu—"
Tapi Elang udah berbalik.
Jalan cepet keluar dari perpustakaan.
Kakinya lemes tapi dia maksa jalan.
Napasnya ngos-ngosan.
Matanya... udah penuh air mata yang nggak bisa ditahan lagi.
Aruna... berdiri di situ.
Ngeliat punggung Elang yang berjalan menjauh.
Punggung yang... membungkuk. Kecil. Terlihat sangat... kalah.
Dia pengen manggil. Pengen bilang sesuatu buat meringankan rasa bersalahnya.
Tapi...
Kata-katanya... nggak keluar.
Karena nggak ada kata-kata yang bisa ngobatin luka kayak gini.
---
Elang keluar dari perpustakaan.
Dan...
Hujan.
Hujan turun tiba-tiba. Deres. Dingin.
Elang berdiri di depan pintu perpustakaan. Ngeliat hujan itu.
Tangannya... gemetar. Dadanya... sesak banget.
Dia jalan.
Jalan keluar. Masuk ke hujan itu.
Nggak bawa payung. Nggak peduli basah.
Dia cuma... jalan.
Jalan pelan di tengah hujan yang deres.
Air hujan nyiram tubuhnya. Dingin. Menggigit kulit.
Tapi Elang... nggak peduli.
Karena dingin di luar...
Nggak sedingin dingin di dalam dadanya.
Air mata bercampur sama air hujan.
Jadi satu.
Nggak bisa dibedain mana air mata mana air hujan.
Elang jalan sampai ke halte bus yang udah nggak kepake lagi. Halte tua yang atapnya bocor di beberapa bagian.
Dia duduk di bangku halte itu.
Sendirian.
Peluk tasnya di dada.
Dan nangis.
Nangis keras.
Nggak peduli orang lewat ngeliat dia.
Nggak peduli ada yang bisik-bisik.
Dia cuma... nangis.
Nangis untuk cinta pertamanya yang... yang nggak pernah jadi apa-apa.
Nangis untuk keberanian yang udah dia kumpulin sekuat tenaga tapi tetep... nggak cukup.
Nangis untuk dirinya yang... yang selalu... selalu nggak cukup.
*Kenapa... kenapa aku nggak bisa jadi kayak Dhira...*
*Kenapa aku... harus jadi aku...*
*Kenapa... kenapa cinta itu nggak pernah cukup...*
*Kenapa aku mencintainya... tapi dia nggak bisa mencintai aku balik...*
*Kenapa...*
Elang memeluk lututnya. Kepala ditaruh di atas lutut.
Hujan makin deres.
Dingin makin nyiksa.
Tapi Elang... nggak gerak.
Cuma duduk di situ.
Nangis.
Nangis sampai suaranya serak.
Nangis sampai dadanya sakit banget.
Nangis sampai... nggak ada air mata lagi yang bisa keluar.
Dan dia bisik pelan—bisikan yang cuma angin denger.
"Aruna..."
"Aku... aku mencintaimu..."
"Aku... aku mencintaimu lebih dari yang kamu kira..."
"Tapi kamu... kamu nggak akan pernah tau..."
"Karena... karena cintaku... nggak cukup..."
"Maafkan aku... karena... karena aku nggak bisa jadi orang yang kamu cinta..."
"Maafkan aku... karena aku... lemah..."
Hujan terus turun.
Elang terus duduk di situ.
Sendirian.
Di halte yang bocor.
Di bawah langit yang menangis bersamanya.
---
Sementara itu.
Di perpustakaan.
Aruna masih duduk di kursi yang tadi Elang tinggalin.
Ngeliat buku astronomi yang Elang lupa bawa.
Aruna ambil buku itu. Buka halaman pertama.
Ada tulisan tangan di sana. Tulisan kecil di pojok halaman.
*"Untuk Aruna, yang seperti bintang—terlihat indah dari jauh, tapi mustahil untuk diraih."*
*— Elang*
Aruna... menutup buku itu pelan.
Air matanya jatuh.
Jatuh ke sampul buku itu.
"Elang..." bisiknya, suaranya bergetar. "Maafkan aku... maafkan aku karena... karena aku nggak bisa..."
Tapi maaf itu... nggak akan ngobatin luka Elang.
Maaf itu... cuma kata-kata kosong yang nggak akan membalikan hati yang udah remuk.
---
...My chapter...
...Penolakan pertama dalam hidup itu kayak jatuh dari ketinggian yang nggak pernah kamu sangka bakal setinggi ini. Kamu kira kamu siap. Kamu kira kamu kuat. Tapi begitu kamu jatuh... kamu baru sadar—cinta itu nggak pernah cukup....
...Kamu bisa cinta seseorang dengan sepenuh hati, dengan segenap jiwa, sampai kamu rela mati buat dia. Tapi kalau dia nggak cinta kamu balik... semua itu nggak ada artinya....
...Dan yang paling sakit bukan ditolak....
...Yang paling sakit adalah... sadar kalau orang yang kamu cinta... mencintai orang lain....
...Orang yang lebih baik....
...Orang yang lebih pantas....
...Orang yang... bukan kamu....
...Dan kamu cuma bisa... tersenyum....
...Bilang 'aku mengerti'....
...Padahal di dalam hati... kamu mati....
...Perlahan....
...Tanpa suara....
...Tanpa ada yang peduli....
...Karena dunia... nggak peduli sama patah hati cowok culun yang nggak ada yang kenal....
...Dunia cuma peduli... sama cinta yang indah....
...Bukan cinta yang... hancur sebelum sempat dimulai....
\*\****Mentari Senja***.\*\*
—