Romance psychological, domestic tension, obsessive love, slow-burn gelap
Lauren Hermasyah hidup dalam pernikahan yang perlahan kehilangan hangatnya. Suaminya semakin jauh, hingga sebuah sore mengungkapkan kebenaran yang mematahkan hatinya: ia telah digantikan oleh wanita lain.
Di saat Lauren goyah, Asher—tetangganya yang jauh lebih muda—selalu muncul. Terlalu tepat. Terlalu sering. Terlalu memperhatikan. Apa yang awalnya tampak seperti kepedulian berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih intens, lebih sulit dihindari.
Ketika rumah tangga Lauren runtuh, Asher menolak pergi.
Dan Lauren harus memilih: bertahan dalam kebohongan, atau menghadapi perhatian seseorang yang melihat semua retakan… dan ingin mengisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulismalam4, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33_Keputusan.
Lauren berdiri di bawah matahari siang, kacamata hitam menutupi matanya, map tipis terjepit di ketiak. Suara klakson, percakapan pedagang, dan derap langkah orang-orang bersatu menjadi hiruk-pikuk yang jujur—tidak dipoles, tidak dibuat-buat. Inilah yang ia cari.
Lapangan.
Bukan ruang rapat berpendingin udara. Bukan angka-angka yang dipelintir agar terlihat cantik di layar. Melainkan denyut asli pasar—tempat keputusan pemasaran seharusnya dilahirkan.
Lauren melangkah masuk ke toko pertama. Rak-rak ditata rapi, produk berjajar dengan harga yang terpampang jelas. Ia tidak memperkenalkan diri. Tidak menyebut jabatan. Ia hanya menjadi satu dari sekian banyak konsumen.
“Yang ini bedanya apa dengan seri sebelumnya?” tanyanya pada pramuniaga, nada suaranya biasa.
Pramuniaga itu menjelaskan panjang lebar—tentang bahan, tentang tren, tentang apa yang katanya disukai pembeli. Lauren mengangguk, mencatat dalam diam. Ia memperhatikan bukan hanya jawabannya, tapi jeda di antara kalimat, keraguan kecil, cara mata pramuniaga itu melirik produk lain seolah membandingkan.
Lauren keluar, masuk ke toko berikutnya.
Lalu berikutnya lagi.
Ia membandingkan harga. Mencatat diskon palsu. Mengamati produk yang sering disentuh tapi jarang dibeli. Ia berdiri cukup lama di satu sudut, berpura-pura memilih, hanya untuk mendengar dua pelanggan berbincang di belakangnya.
“Desainnya bagus, tapi mahal buat kualitas segini.”
“Brand-nya mulai nggak kerasa spesial ya.”
Lauren menuliskan kalimat itu apa adanya.
Tidak ada yang lebih berharga daripada komentar jujur yang tidak ditujukan padanya.
Di sebuah kafe kecil dekat pusat perbelanjaan, Lauren duduk sendirian. Kopinya mendingin tanpa ia sentuh. Ia membuka ponsel, memotret etalase, mencatat harga pesaing, membaca ulasan singkat yang ditinggalkan konsumen di aplikasi belanja.
Tangannya bergerak cepat. Fokus. Tajam.
Inilah Lauren yang dulu dikenal semua orang—perempuan yang tidak percaya pada asumsi. Yang tidak pernah puas dengan laporan meja. Yang selalu ingin tahu kenapa sebelum memutuskan bagaimana.
Pikirannya sesekali melayang—bukan ke Arga, bukan ke Nadira—melainkan ke satu kesimpulan yang mulai terbentuk utuh di kepalanya.
GREYFADE tidak kalah karena kurang ide.
GREYFADE kalah karena berhenti mendengar.
Lauren menutup mapnya perlahan.
Ia berdiri, melangkah kembali ke keramaian dengan ekspresi tenang—namun matanya menyala dengan tujuan yang jelas. Setiap data yang ia kumpulkan hari ini akan kembali bersamanya ke kantor. Akan diurai. Dipatahkan. Dibangun ulang.
__
Lauren pulang saat langit mulai meredup, jingga senja menggantung di antara atap-atap rumah. Pintu dibukanya dengan kunci sendiri—bunyi klik yang terdengar lebih keras dari biasanya. Ia masuk, melepas sepatu, meletakkan tas kerja di meja konsol. Rumah itu sunyi, terlalu rapi, seperti menahan napas.
Arga sudah menunggu.
Ia duduk di ruang tamu, jas kerja sudah dilepas, kemeja digulung sampai siku. Tatapannya terangkat ketika Lauren melangkah masuk. Ada sesuatu di wajahnya—campuran gelisah dan kesiapan palsu—seolah ia sudah berlatih untuk percakapan ini, meski tidak tahu dari mana harus memulainya.
Lauren tidak duduk.
Ia berdiri beberapa langkah dari sofa, punggungnya tegak. Tidak ada amarah di wajahnya. Tidak ada air mata. Hanya kelelahan yang sudah melewati batasnya.
“Capek?” tanya Arga, suaranya hati-hati.
Lauren menggeleng pelan. “Tidak.”
Hening jatuh di antara mereka. Detik berlalu, berat. Arga membuka mulut, menutupnya lagi. Akhirnya ia berdiri, satu langkah mendekat.
“Kita perlu bicara,” katanya.
Lauren mengangguk kecil. “Iya.”
Ia menarik napas—satu tarikan panjang yang rapi—lalu mengangkat wajahnya. Kata-kata itu keluar tanpa tremor, tanpa pengantar, tanpa jeda untuk ditarik kembali.
“Mari bercerai.”
Arga membeku.
Wajahnya seolah kehilangan warna. Alisnya berkerut, napasnya tertahan setengah. “Lauren—”
“Ini bukan impuls,” potong Lauren, suaranya tetap datar. “Aku tidak marah. Aku tidak sedang emosi. Aku sudah memikirkan ini lama.”
Ia melangkah sedikit lebih dekat, cukup untuk memastikan Arga mendengarnya dengan jelas. “Aku lelah berpura-pura tidak melihat. Lelah menjadi satu-satunya yang bertahan.”
Arga menggeleng cepat. “Kita bisa memperbaiki ini. Aku—aku salah, aku tahu. Tapi cerai bukan—”
“Bukan tentang salah atau benar,” ujar Lauren. “Ini tentang berhenti menyakiti diri sendiri.”
Ia menoleh sekilas ke dinding, lalu kembali menatap Arga. “Aku melihatmu hari ini. Di kantor. Aku melihat pilihanmu.”
Arga menelan ludah. “Itu tidak seperti—”
Lauren mengangkat tangan, isyarat kecil tapi tegas. “Tidak perlu penjelasan. Aku tidak meminta pengakuan.”
Hening kembali mengisi ruangan. Arga memejamkan mata sesaat, lalu membukanya dengan napas berat. “Kau yakin?”
Lauren tidak ragu. “Iya.”
Ia mengambil map tipis dari tasnya, meletakkannya di meja. “Aku sudah siapkan pembagian aset dasar. Kita bisa bicarakan dengan pengacara agar rapi.”
Arga menatap map itu lama, seolah kertas-kertas di dalamnya lebih berat dari beton. “Sejak kapan kau sejauh ini?”
Lauren tersenyum kecil—bukan hangat, bukan pahit. “Sejak aku berhenti berharap.”
Ia berbalik, melangkah menuju tangga. Di anak tangga pertama, ia berhenti sejenak—bukan untuk ragu, melainkan memastikan dirinya tidak akan kembali menoleh.
Langkahnya terdengar pelan saat ia naik ke lantai dua.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menekan.
Lauren turun kembali.
Di tangannya, sebuah koper berwarna gelap. Tidak besar. Cukup. Seolah ia sudah lama tahu, hanya menunggu waktu yang tepat.
Arga mendongak, napasnya tertahan. “Lauren…”
Lauren menghampirinya tanpa kata. Ia meletakkan koper di dekat pintu, lalu memeluk Arga—erat. Bukan pelukan penuh harap, bukan pula permintaan. Pelukan perpisahan.
Arga terdiam, kaku, sebelum akhirnya membalasnya dengan tangan yang gemetar.
“Terima kasih,” bisik Lauren pelan. Entah untuk apa—untuk tahun-tahun yang pernah ada, atau untuk keberanian yang akhirnya ia kumpulkan.
Ia melepaskan pelukan itu terlebih dulu.
Tanpa menoleh lagi, Lauren mengambil koper, membuka pintu, dan melangkah keluar. Pintu tertutup pelan di belakangnya, meninggalkan Arga berdiri sendiri di rumah yang tiba-tiba terasa terlalu luas.
Tidak ada pintu yang dibanting.
Tidak ada teriakan.
Hanya sebuah keputusan yang akhirnya dijalani.
Arga menatap ruang kosong di depannya, lalu ke arah koper yang tidak lagi ada—kata itu kembali menggema di kepalanya, tak bisa ditarik, tak bisa diperbaiki.
Anyway, semangat Kak.👍