Semua orang terkejut saat bos besar mereka muncul dengan menggandeng seorang wanita muda. Karyawan pria terpesona karena lekuk tubuh dan aset besar yang terpampang itu, sementara karyawan wanita merasa cemburu pada sosok yang berjalan bersama atasan mereka.
"Turunkan pandangan kalian!" desis Vino dengan nada dingin. Banyak yang berbisik-bisik tentang Sea menyebutnya sebagai perayu ulung. Mendengar itu, David merasa darahnya mendidih. Ia berhenti, berputar, dan menatap tajam mereka yang berani menggunjing istrinya.
"Berani-beraninya kalian menyebut istriku penggoda!Kalian ingin mencari masalah, ya?"
Semua orang kaget saat tahu bahwa wanita yang mereka bicarakan ternyata adalah istri dari atasan mereka.
"A-ampun, Tuan. Kami tidak tahu kalau Nyonya adalah istri Anda!" kata salah satu dari mereka dengan nada takut.
David mendengus kesal. Wajahnya menjadi lebih lembut saat merasakan usapan halus di tangannya.
"Jangan emosi, sayang. Nanti mereka bisa ketakutan," bisik Sea den
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
31
"Iya Mas, Saya pergi dulu."ucap Sea pelan. Wanita itu berjalan dengan gontai. Dia sangat bingung dengan sikap dan ucapan suaminya yang kadang seperti dua sisi mata yang berbeda. Saat sudah sampai di ruangannya, terlihat Dina sedang berbincang dengan managernya.
"Nih Sea sudah datang, kamu sekarang kurusan. Apa begitu melelahkan menjadi asisten Pak David di rumah dan di kantor?" Tanya Andi manager keuangan.
"Bisa saja Mas, mungkin aku belum terbiasa dengan pekerjaan baruku." Jawab Sea dengan tersenyum.
"Halo Mbak Dina, senang bisa berkenalan dengan mbak." Sea mengulurkan tangan. Akan tetapi gayung tidak bersambut, Dina hanya menganggukkan kepalanya dengan senyuman tipis tanpa ada niat untuk menjabat tangan Sea.
"Aku sudah tahu kamu kok. Bisa kita mulai sekarang?
"Aku sudah menunggumu lama." Ucap Dina singkat.
"Santai saja Dina. Sea ini adalah salah satu karyawan kebanggaanku, lagi pula Pak David juga tidak akan pernah marah pada investornya." Ucap Andi.
"Biasa saja Mas Andi." Sea tersenyum ramah pada Andi. Sangat berbeda dengan sikap yang dia tunjukkan pada Dina.
"Kalau begitu aku kembali keruanganku ya! Masih banyak pekerjaan yang menanti." Pamit Andi. Ayah dua anak itu pun langsung berlalu meninggalkan kedua gadis itu.
"Baik Mbak Dina, mari kita segera mulai saja!" Ajak Sea.
Wanita cantik itu pun mulai menjelaskan detail pekerjaan yang biasa dia lakukan. Namun Dina seperti acuh tak acuh mendengarkan penjelasan dari Sea. Barulah saat David dan Hardi masuk kesana dia baru berpura-pura serius mendengarkan penjelasan dari Sea.
Sementara David yang masuk ke ruangan Andi, pandangannya tidak pernah lepas dari Sea. Dia terus saja melihat istrinya dari balik jendela besar yang ada di ruangan Andi. David membiarkan Arda dan Andi sibuk berdiskusi.
"Dia sabar sekali menghadapi Dina, padahal yang aku tahu gadis itu sangat rewel. Mereka selalu memaksa aku untuk memenuhi semua keinginannya. Tapi Sea tidak pernah menuntut apapun. Saat dulu aku masih dekat dengan Lia, aku dengar bahwa Sea sering mengalah pada sahabatnya. Tapi kenapa aku bisa membencinya?" Batin David.
"Bagaimana David? Apa perlu kita merubah semua program yang sudah berjalan?" Tanya Arda.
Namun sepertinya David tidak menanggapi. Arda pun langsung mengikuti arah pandang bos sekaligus sahabatnya itu. Saat dia tahu apa yang membuat David terdiam, Arda hanya bisa menghela nafas.
"Hallo David, kamu terus memandang istrimu sampai tidak mendengar apa yang kita bicarakan." Ucap Arda membuyarkan lamunan bosnya.
"Sudahlah David, sebaiknya kamu berdamai saja dengan keadaan. Kasihan Sea, menikah denganmu belum ada satu tahun saja badannya sudah kering kerontang begitu. Kenapa kamu bisa berubah secepat ini hanya karena teringat wanita yang sudah menyakitimu lima tahun yang lalu? Lagipula lebih baik kamu memiliki istri seperti Sea dibandingkan dengan Lia, kalau kamu sama Lia rasanya aku kurang sreg." Ucap Andi.
"Aku tidak butuh penilaian kalian. Lebih baik kalian tidak ikut campur urusan pribadiku."
Tidak ingin mendengar omongan kedua sahabatnya, David pun langsung berdiri daru duduknya. Dia berjalan menuju ke meja Sea dan Dina berada. Dia hanya mendengarkan apa yang dibicarakan kedua perempuan itu.
"Sea, aku sudah mengerti semuanya, kamu boleh kembali ke tempat mu." Ucap Dina.
"Kamu yakin?" Tanya Sea sambil melihat ke arah Dina.
"Tentu saja, aku bukan orang bodoh yang harus berkali-kali mendengar ucapanmu itu."
"Baiklah kalau kamu sudah mengerti. Semoga kamu bisa bekerja dengan baik, kalau begitu saya permisi dulu." Ucap Sea.
Sea langsung berdiri dari duduknya. Dia sempat terkejut melihat David yang sedang melihat ke arahnya. Dia pun hanya sedikit membungkukkan badannya lalu pergi begitu saja. Begitupun dengan David yang langsung menuju ke ruangannya tanpa ada niat untuk menyapa Dina terlebih dulu.
"Kemana wanita itu? Bukankah tadi sudah pergi lebih dulu." Gumam David saat tidak mendapati istrinya. Dia langsung memeriksa CCTV dari ruangan Dina melihat kemana Sea pergi dari ruangan. Saat melihat tujuannya adalah toilet, dia pun langsung menutup rekaman tersebut.
"Apa aku harus mulai berdamai dengan dia? Setidaknya aku bisa menahan dia untuk tetap disisiku. Meskipun aku tidak mencintainya lagi, tapi dia bisa membuat aku terbang melayang,"
"Tok,,tok,,tok"
"Masuk!" Perintah David.
Terlihat karyawan wanita masuk dengan berkas ditangannya. Dia berjalan bak putri keraton yang mendekat ke arah David. Gadis itu pun tersenyum manis sebelum dia mengeluarkan kata.
"Permisi Pak, ini berkas yang harus Pak David tanda tangani." Ucap Lisa dengan lemah lembut.
"Taruh saja di mejaku, kamu boleh pergi."
"Baik Pak."
Karyawati itupun berjalan berlenggak lenggok memperlihatkan bumper yang lumayan menggoda iman. Dia berharap bosnya akan melirik ke arahnya.
"Tunggu!" Panggil David.
"Iya pak."
"Besok kamu jangan pakai rok itu lagi! Mataku perih melihatnya, lebih baik kamu pakai rok yang sedikit panjang paling tidak dibawah lutut!" Ucap David tanpa hati.
"Baik pak."
"Pak David tidak tahu fashion apa? Padahal dulu Lia selalu pakai baju seksi. Aku kan hanya mengikuti gaya mantan tunangannya itu biar dia menggantikan aku sebagai penggantinya."
"Mbak kenapa? Apa habis dimarahi Pak Bos?" Tegur Sea saat berpapasan.
"Kepo banget sih kamu? Baru jadi istri yang tidak diinginkan saja sudah sok-sokan gitu." Jawab karyawati.
Sea hanya mengusap dada. Setelah hari itu memang sebagian dari teman kerjanya begitu berani padanya dan selalu melihatnya dengan pandangan jijik. Mereka bahkan tidak segan untuk menyindir dan menghujatnya secara langsung. Tapi Sea hanya diam, dia menanggapinya dengan acuh tak acuh atas sikap mereka karena dia yakin suatu saat nanti semua kebenaran itu akan terungkap pada saat yang tepat.
*****
"Permisi Pak, saya sudah,,,"
"Kemana saja kamu? Kenapa sangat terlambat datang kesini?" Potong David.
"Maaf Pak saya tadi ke toilet dulu."
"Saya tahu, tapi apakah ke toilet saja butuh waktu satu jam?" Tanya David sambil mendekat ke arah Sea dengan satu tangannya menarik wanita itu menuju ke ruang pribadi. Mengingat malam itu membuat David menginginkan untuk segera mengulanginya kembali. Ditambah setelah melihat bemper karyawati yang membuat dia langsung teringat dengan milik istrinya yang empuk dan membuatnya mabuk.
"Sudah kubilang, jangan formal saat kita hanya berdua ataupun saat sedang di luar kantor. Kalau kamu melakukannya lagi, aku tidak akan segan untuk melakukan hal ini di manapun. Apa kamu mengerti Sea?"tanya David dengan tatapan lapar ingin segera melahap tahu milik istrinya.
"Iya Mas. Tapi bukankah hari ini Mas ada meeting?"
David tidak menjawab pertanyaan Sea. Laki-laki itu sudah sibuk menikmati buah kesayangannya dengan tangan yang tidak bisa diam memainkan titik-titik sensitif Sea. Hingga akhirnya keduanya sama-sama terhanyut dan menikmati setiap tetes peluh yang keluar dari tubuhnya.
Saat matahari tepat diatas kepala, semua karyawan pun berhamburan keluar untuk makan siang. Tidak terkecuali dengan Sea dan Erna. Kedua sahabat itu sudah sepakat untuk makan siang bersama, sedangkan David sedang meeting di luar kantor.
"Sea, apa kamu akan datang ke pesta ulang tahun Dina nanti malam? Dia mengundang semua karyawan keuangan loh, katanya sebagai salam perkenalan." Ucap Erna di sela-sela makannya.
"Tidak, aku kan tidak begitu kenal dengannya."
"Aneh ya? Padahal kamu yang ngajarin dia, tapi kenapa kamu tidak diundang?" Tanya Erna heran.
"Sudahlah, biarkan saja. Lagi pula aku lelah dan ingin langsung istirahat saja." Ucap Sea.
"Pantas saja Mas David ingin dibawakan baju ganti, rupanya dia sudah mendapatkan undangan dari Dina."
karna cerita anda sama dengan orang lain yg judulnya istri kecil sang pewaris cuma yg beda cm nama tokohnya...klu gak percaya cb cek dia udah ada bab 2 hargailah karya orang tor ...
jangan asal ketik kasihan orang yg udah mikir2 eh gak tau udah d jiplak