Hidup Syakila hancur ketika orangtua angkatnya memaksa dia untuk mengakui anak haram yang dilahirkan oleh kakak angkatnya sebagai anaknya. Syakila juga dipaksa mengakui bahwa dia hamil di luar nikah dengan seorang pria liar karena mabuk. Detik itu juga, Syakila menjadi sasaran bully-an semua penduduk kota. Pendidikan dan pekerjaan bahkan harus hilang karena dianggap mencoreng nama baik instansi pendidikan maupun restoran tempatnya bekerja. Saat semua orang memandang jijik pada Syakila, tiba-tiba, Dewa datang sebagai penyelamat. Dia bersikeras menikahi Syakila hanya demi membalas dendam pada Nania, kakak angkat Syakila yang merupakan mantan pacarnya. Sejak menikah, Syakila tak pernah diperlakukan dengan baik. Hingga suatu hari, Syakila akhirnya menyadari jika pernikahan mereka hanya pernikahan palsu. Syakila hanya alat bagi Dewa untuk membuat Nania kembali. Ketika cinta Dewa dan Nania bersatu lagi, Syakila memutuskan untuk pergi dengan cara yang tak pernah Dewa sangka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kucing kecil Arthur
Dengan sangat terpaksa, Zara menerima pekerjaan tersebut. Dia harus menjadi asisten pribadi untuk Tuan Muda dengan tempramen yang tidak stabil.
Sedikit ragu-ragu, Zara mengetuk pintu kamar milik Arthur. Namun, tidak ada suara sedikit pun yang terdengar dari dalam kamar.
"Tuan Arthur, kalau begitu saya akan masuk," ucap Zara setengah berteriak. Keheningan didalam kamar akan ia anggap sebagai tanda persetujuan dari lelaki itu.
Penuh kehati-hatian, Zara membuka pintu dan masuk dengan langkah kaki yang pelan. Tubuhnya mematung sebentar saat melihat Arthur yang sedang berbaring diatas tempat tidur dengan mata yang terpejam rapat.
Tapi, ada yang aneh. Dahi Arthur berkeringat cukup banyak. Bibirnya agak pucat. Reflek, Zara mendekat untuk menempelkan punggung tangannya di dahi lelaki itu.
"Kau mau apa?" tanya Arthur seraya menangkap tangan Zara.
Sepasang matanya masih terbuka, seiring pertanyaan yang keluar dari mulutnya.
"Dahi Anda berkeringat banyak sekali. Sa-saya hanya ingin mengecek suhu tubuh Anda saja," jawab Zara.
Posisi wajahnya dengan wajah Arthur sangatlah dekat. Ia bahkan bisa merasakan napas hangat lelaki itu yang menerpa wajahnya.
"Aku baik-baik saja. Cepat keluar!" titah Arthur sembari melepaskan tangan Zara.
"Tuan Arthur, sakit?" tanya Zara hati-hati.
"Bukan urusanmu," jawab lelaki itu ketus.
"Saya akan mengambilkan kompresan. Tunggu sebentar!"
Arthur ingin mencegah. Tapi, gadis itu sudah berjalan cepat keluar dari kamarnya.
Selang beberapa menit, gadis itu kembali dengan membawa handuk kecil serta sebaskom kecil air hangat.
Diletakkannya baskom tersebut diatas nakas, kemudian mulai mencelupkan handuk kecil itu ke dalamnya.
"Kau mau apa?" tanya Arthur seraya menghindar saat Zara hendak meletakkan handuk kecil itu ke dahinya.
"Mengompres dahi Anda," jawab Zara dengan tatapan polos.
"Kau... sengaja curi-curi kesempatan untuk menyentuhku, ya?" Mata Arthur sedikit menyipit penuh curiga.
Zara memutar bola matanya malas. Arthur memang sangat tampan. Tapi, kalau terlalu percaya diri seperti ini, malah akan membuat wanita jadi ilfil.
"Kalau tidak mau disentuh, tidak usah. Kalau begitu, naikkan sendiri poni Anda. Saya harus meletakkan kompresan ini tepat di dahi Anda."
"Kau berani memerintah ku?" tanya Arthur dengan mata melotot.
"Anda sendiri yang tidak mau disentuh," balas Zara.
Arthur menggertakkan giginya. Gadis ini benar-benar menyebalkan. Apalagi, saat Zara memutar bola mata tepat dihadapannya, dia jadi semakin kesal.
"Sebenarnya, apa posisimu sampai-sampai lancang masuk ke dalam kamarku dan berniat untuk merawatku?" tanya Arthur kemudian.
Gadis dihadapannya menghela napas berat. "Mulai hari ini, saya resmi jadi asisten Anda."
"Asisten? Kau gila, ya?" Arthur tak habis pikir. Apa peringatan tadi, belum cukup untuk gadis ini?
Batal jadi calon istri, malah jadi asisten? Sungguh, dua-duanya adalah posisi yang tidak pernah ingin ada orang yang mengisinya dalam kehidupan Arthur
"Saya juga tidak mau," timpal Zara. "Tapi, Ibu Anda yang menjebak saya."
Sakit kepala Arthur mendadak kambuh. Rupanya, lagi-lagi ulah sang Ibu. Sebenarnya, apa rencana wanita paruh baya itu?
Kenapa dia harus menempatkan Zara disisinya?
"Jadi, Tuan Arthur harus membantu saya. Tolong izinkan saya melakukan pekerjaan saya agar tidak dipecat," lanjut Zara.
"Kalau sampai dipecat atau mengundurkan diri, saya harus mengganti rugi cukup banyak. Saya ini hanya anak yatim-piatu yang miskin. Saya tidak punya uang yang banyak. Bisa punya uang untuk makan esok hari saja, sudah sangat bersyukur."
Arthur memperhatikan wajah gadis itu. Ya, sepertinya gadis ini adalah tipe perempuan yang jujur. Tatapan matanya masih sangat polos.
"Baiklah, akan ku pertimbangkan. Sekarang, kompres aku!"
Arthur memutuskan untuk melakukan gencatan senjata. Setidaknya, sampai dirinya sembuh.
Setelah sembuh, dia pasti akan segera kabur dari rumah dan juga dari Zara.
"Naikkan dulu poni Anda!" ujar Zara memerintah.
Mata Arthur yang semula terpejam kembali terbuka. Dia mendesis tak suka.
"Aku ini majikanmu. Kau yang lakukan! Jangan perintah-perintah aku!"
"Tapi, Anda sendiri yang tidak mau disentuh."
"Kali ini, aku izinkan," balas Arthur yang akhirnya mau mengalah.
Demam seperti ini memang sangat merepotkan. Kalau dihadapi sendiri, maka akan terasa sangat menderita.
Tangan Zara yang terasa dingin perlahan menyentuh dahinya. Napas Arthur sempat terhenti sesaat. Sentuhan itu terasa sangat nyaman.
Dia belum pernah merasakan sentuhan senyaman ini sebelumnya dari perempuan manapun.
Tanpa sadar, sudut bibirnya sedikit terangkat. Ternyata, jika ada yang merawat, tidak buruk juga.
"Anda sudah minum obat?" tanya Zara setelah hening beberapa waktu.
"Belum," jawab Arthur tanpa membuka matanya.
"Kenapa belum minum obat?"
"Belum makan."
"Kenapa belum makan?"
Lelaki itu kembali membuka matanya. "Kau ini cerewet sekali."
"Bukan cerewet, tapi hanya ingin mencari tahu," koreksi Zara. "Jawab saja apa yang saya tanyakan."
"Aku tidak suka bubur buatan pelayan."
"Mau saya yang buatkan?"
Arthur tertawa kecil, cenderung meremehkan. "Memangnya, kau bisa masak?"
"Sedikit," jawab Zara. "Anda ingin mencoba bubur buatan saya?"
Lelaki itu terdiam cukup lama. Dia tak habis pikir dengan sikap Zara. Padahal, belum beberapa jam berlalu, saat dia menyakiti fisik gadis itu demi membuatnya kabur. Tapi, ketakutan yang semula diperlihatkan Zara, sepertinya sudah menguap sepenuhnya.
"Kenapa malah melamun?" tegur Zara. "Mau tidak?"
"Boleh," jawab Arthur. "Tapi, awas saja kalau tidak enak. Aku akan mematahkan pergelangan tanganmu."
Zara reflek memegang pergelangan tangannya. Ancaman Arthur sepertinya cukup serius.
"Taun Arthur harus tahu kalau di negara ini, ada undang-undang yang melindungi keselamatan dan keamanan pekerja. Jadi, kalau Anda berani melakukan kekerasan lagi kepada saya, maka saya akan melaporkan Anda."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Zara segera beranjak meninggalkan Arthur. Dia turun ke lantai bawah untuk membuat bubur, khusus lelaki itu.
"Dia mirip seperti kucing kecil. Taring dan kukunya belum tajam, tapi sudah mengancam untuk menggigit dan mencakar. Memangnya, aku takut?"
"Kucing peliharaan ini cukup menyenangkan juga," lanjutnya. "Sayang sekali, harus cepat-cepat ku buang."