Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hawa nafsu
Selina menunggu Adipati selesai kerja sampai ketiduran, kepalanya bersandar di pangkuan Adipati. Napasnya teratur, wajahnya tampak tenang. Adipati menatapnya lama, lalu tersenyum kecil.
“Tidurnya nyenyak,” gumamnya pelan.
Ia mematikan komputer, bergerak hati-hati agar Selina tidak terbangun. Dengan perlahan, Adipati menggendong tubuh Selina keluar dari ruang kerja menuju lantai dua.
Ia membaringkan Selina di ranjang kamar mereka, merapikan selimut hingga menutup tubuhnya dengan rapi.
Adipati menatapnya sebentar. “Istirahat yang manis ya, sayang.”
Ia lalu masuk kamar mandi, mandi singkat, dan berganti pakaian kerja. Setelah rapi, Adipati kembali ke sisi ranjang. Ia membungkuk, mengecup kening Selina dengan lembut.
“Sel,” bisiknya, “Mas berangkat kerja dulu ya.”
Selina bergerak sedikit, menggumam pelan tanpa membuka mata. “Hati-hati, Mas…”
Senyum Adipati mengembang. “Iya.Good night.”
Ia keluar kamar, menuruni tangga, lalu mengambil kunci mobil. Beberapa saat kemudian, mobil Ferrari hitamnya melaju meninggalkan rumah menuju tempat meeting.
Mobil berhenti di depan sebuah kafe eksklusif. Adipati turun, merapikan jasnya, lalu melangkah masuk. Seorang pelayan menyambut dengan sopan.
“Selamat malam, Pak. Ada yang bisa saya bantu?”
Adipati mengangguk singkat. “Saya mau bertemu rekan saya. Di ruang VIP.”
“Baik, Pak. Atas nama siapa?”
“Raden Adipati Wijaya.”
Pelayan itu langsung tersenyum lebih lebar. “Oh, iya, Pak. Silakan, sudah ditunggu.”
Ia menuntun Adipati menuju sebuah pintu kaca buram. Sebelum membuka pintu, pelayan itu berkata, “Silakan, Pak.”
Adipati melangkah masuk. Di dalam, beberapa pria sudah duduk mengelilingi meja.
“Akhirnya datang juga,” ujar salah satu dari mereka sambil tersenyum.
“Maaf,” jawab Adipati tenang sambil duduk. “Tadi ada urusan di rumah.”
“Urusan istri?” sahut yang lain sambil terkekeh.
Adipati tersenyum tipis. “Iya. Dan itu prioritas.”
Suasana ruang VIP langsung terasa serius namun hangat. Meeting pun dimulai.
Adipati duduk di kursi utama. Satu per satu pria di ruangan itu menoleh padanya.
“Baik,” ujar pria berkacamata yang duduk di seberang. “Karena Pak Raden sudah datang, kita mulai saja.”
Ia menatap Adipati serius. “Gue Damar Prasetyo, lead trader buat pasar Asia.”
Di sebelahnya, pria berambut klimis mengangguk kecil. “Rizal Mahendra,” katanya singkat. “Portofolio Eropa dan London session.”
Pria lain yang terlihat paling santai menyilangkan tangan. “Gue Kevin Santoso, bagian risk management. Yang sering ribut sama lo soal cut loss,” katanya sambil nyengir.
Adipati tersenyum tipis. “Masih sering ribut berarti lo kerja dengan benar.”
Tawa kecil terdengar.
Di ujung meja, pria berwajah dingin membuka tablet. “Andre Wijaya,” ucapnya. “Investor utama. Gue di sini mewakili pemegang saham.”
Adipati mengangguk hormat. “Baik. Jadi lengkap.”
Damar langsung membuka pembicaraan. “Raden, market Asia pagi ini volatil. Yen sama Euro bergerak aneh sejak data inflasi keluar.”
Rizal menimpali, “London session nanti malam kemungkinan breakout besar. Tapi risikonya juga tinggi.”
Kevin menggeser laptop ke arah Adipati. “Kalau lo ambil posisi besar, margin aman. Tapi salah sedikit bisa berdarah.”
Andre menatap Adipati tajam. “Kami mau dengar keputusan lo. Seperti biasa.”
Ruangan hening sejenak. Adipati bersandar, menautkan jari-jarinya dengan tenang.
“Kita ambil peluangnya,” ucapnya mantap.
“Tapi bertahap. Bukan all in.”
Kevin mengangguk. “Gue setuju.”
“Fokus di pair utama,” lanjut Adipati. “Jangan serakah. Profit konsisten lebih penting daripada pamer angka.”
Andre tersenyum tipis. “Masih sama seperti dulu. Tenang, tapi mematikan.”
Adipati menatap layar grafik. “Pasar itu kayak hidup,” katanya pelan.
“Kalau kita maksa, dia ngelawan. Tapi kalau kita sabar… dia kasih.”
Damar menyandarkan punggung. “Makanya kami masih pegang kendali di tangan lo, Raden.”
Adipati menghela napas pendek. “Baik. Jalankan sesuai rencana.”
Meeting berlanjut dengan diskusi angka dan strategi. Namun di sela-sela kesibukan itu, pikiran Adipati sempat melayang.
Ke rumah.
Ke Selina.
“Semoga cepat selesai,” gumamnya dalam hati.
“Selina pasti menunggu ku di rumah.”
Adipati menutup map di depannya. “Kalau begitu… meeting kita cukup sampai di sini.”
Kevin berdiri sambil merenggangkan leher. “Setuju. Otak gue udah panas juga.”
Damar mengambil gelas. “Minum dulu lah. Santai dikit.”
Rizal menyeringai nakal. “Tenang aja, kadar alkoholnya gak tinggi.”
Adipati mengangkat tangan. “Gue nggak minum alkohol.”
Semua menoleh bersamaan.
Andre mengernyit. “Sejak kapan lo alim gini?”
Adipati tersenyum santai. “Sejak punya istri.”
Kevin terkekeh. “Buset. Takut bini?”
“Bukan takut,” jawab Adipati tenang. “Menghargai.”
Rizal menyikut bahu Damar. “Eh gimana malam pertama lo sukses kan?”
Adipati mengambil kunci mobilnya. “Belum.”
Ruangan mendadak hening.
“HAH?” Kevin melotot.
“Serius?”
Damar menepuk meja. “Rugi banget, Bro. Udah nikah dengan mahar fantastis belum juga di unboxing.”
Andre mengangkat alis. “Kenapa?”
Adipati menjawab datar tapi tegas. “Istri gue lagi datang bulan.”
Rizal menghela napas dramatis. “Wah… gawat.”
Kevin tertawa. “Investor sebesar lo masih bisa nahan hawa nafsu?”
Adipati melirik tajam tapi santai. “Justru karena gue bisa nahan, gue masih waras.”
Andre tersenyum kecil. “Lo berubah ternyata sekarang gak gragas lagi , Raden.”
“Iya,” jawab Adipati sambil berdiri.
“Dan perubahan ini bikin hidup gue lebih rapi.”
Damar mengangguk hormat. “Oke. Deal hari ini jalan sesuai rencana. Besok kita pantau market.”
“Update gue tiap dua jam,” kata Adipati sambil melangkah pergi.
Kevin melambaikan tangan. “Hati-hati di jalan, bro smeoga gue segera menyusul juga. ”
Adipati berhenti sebentar di pintu, menoleh. " Aamiin,gue do'ain pokoknya.”
Ia keluar dari VIP room, langkahnya ringan.
Dalam hati, cuma satu yang ada: Selina. "Pasti Selina menunggu ku dirumah.
Begitu keluar ruangan, langkahnya terhenti.
Seseorang berdiri menghadangnya.
“Raden,” suara itu penuh kebencian.
“Akhirnya kita ketemu juga.”
Adipati menoleh santai. “Apa kabar?”
Sinta mendengus. “Kurang ajar kamu. Kamu jebak gue tidur sama pelayan murahan itu.”
Adipati mengangkat bahu. “Sama aja rasanya, Sin. Cuma beda orang.”
Wajah Sinta menegang. “Aku bakal balas kamu. Tunggu tanggal mainnya.”
Adipati mendekat sedikit, suaranya rendah dan menusuk. “Mau minta tolong sugar daddy kamu?”
Ia tersenyum tipis. “Hm… apa kamu yakin dia masih bisa nolong kamu?”
Sinta terdiam. “Apa maksud kamu?”
Adipati membungkuk sedikit, berbisik dingin. “Tanya aja sama dia… apa dia kenal Raden Adipati Wijaya.”
Ia meluruskan tubuh, berbalik tanpa menunggu jawaban, lalu melangkah pergi menuju mobilnya.
Mesin mobil menyala.
Sinta berdiri terpaku, wajahnya pucat. " Apa Om Irwan mengenal, Raden? Tidak mungkin dia kenal dengan banyak koneksi orang penting. "
😆😆😆😆😆
mau buka usaha juga...