Bara, pelaut rasional, terdampar tanpa koordinat setelah badai brutal. Menjadi Musafir yang Terdampar, ia diuji oleh Syeikh Tua yang misterius: "Kau simpan laut di dadamu."
Bara menulis Janji Terpahit di Buku Doa Musafir, memprioritaskan penyembuhan Luka Sunyi keluarganya. Ribuan kilometer jauhnya, Rina merasakan Divine Echo, termasuk Mukjizat Kata "Ayah" dari putranya.
Bara pulang trauma. Tubuh ditemukan, jiwa terdampar. Dapatkah Buku Doa, yang mengungkap kecocokan kronologi doa dengan keajaiban di rumah, menyembuhkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 Salam Non-Verbal Arka di Ruang Rawat
Bau antiseptik yang tajam menyerang indra penciuman Bara, menciptakan benturan sensorik yang menyakitkan dengan memori aroma garam laut dan getah pahit cemara laut yang telah mengepungnya selama setahun. Di ruang rawat itu, cahaya lampu neon di langit-langit terasa seperti ribuan jarum yang menusuk matanya. Bara mencoba memalingkan wajah, namun setiap gerakan kecil membuat otot-ototnya yang menyusut protes. Ia merasa seperti ikan yang dipaksa keluar dari air, megap-megap di daratan yang terlalu bising dan penuh dengan peralatan logam yang bergetar.
"Bara, tarik napas pelan-pelan," suara Rina terdengar sangat dekat di telinganya, membawa sedikit kehangatan di tengah hawa AC yang mati dan kaku. "Dokter hanya ingin memastikan detak jantungmu stabil. Tolong, jangan ditarik kabelnya."
"Ini... bukan tempatku, Rina," rintih Bara dengan suara parau yang nyaris tidak terdengar. "Terlalu banyak suara. Di pulau... hanya ada sunyi dan Allah."
"Aku tahu, tapi sekarang kamu sudah di rumah—maksudku, sudah dekat dengan rumah," Rina mengoreksi kalimatnya dengan cepat, menyadari bahwa rumah sakit ini masih terasa seperti penjara bagi suaminya yang mengalami PTSD berat.
Mala berdiri di ujung ranjang, memegang erat pinggiran besi tempat tidur ayahnya. Jantungnya masih berdegup dengan kehangatan aneh yang ia rasakan sejak di ambulans tadi, sebuah resonansi cahaya yang membuatnya merasa seolah-olah ia sedang dipeluk oleh doa-doa yang pernah ditulis ayahnya dengan noda darah di buku agenda kusam itu. Namun, perhatian utama di ruangan itu kini tertuju pada Arka.
Anak laki-laki berusia delapan tahun itu biasanya akan mengalami tantrum hebat jika berada di lingkungan asing yang penuh bau obat-obatan. Namun, Arka justru menunjukkan ketenangan yang tidak wajar. Ia berjalan perlahan mendekati sisi ranjang tempat Bara terbaring. Matanya yang jernih tidak menatap wajah ayahnya secara langsung, melainkan terpaku pada pergelangan tangan Bara yang terpasang jarum infus.
"Arka, hati-hati, jangan ditarik ya, Sayang," bisik Rina dengan waspada. Ia sudah bersiap untuk menarik Arka jika anak itu mulai menunjukkan tanda-tanda agitasi.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Arka mengulurkan tangan kecilnya, lalu dengan sangat lembut, ia menyentuhkan ujung jarinya ke punggung tangan Bara yang kasar, hitam terbakar matahari, dan penuh bekas luka goresan karang. Saat sentuhan itu terjadi, monitor jantung di samping tempat tidur yang tadinya mengeluarkan bunyi bip yang cepat dan tidak teratur, mendadak berubah ritmenya menjadi lebih tenang dan stabil.
Bara tersentak kecil. Ia merasakan sebuah arus kedamaian yang sangat murni mengalir melalui sentuhan Arka. Itu bukan sekadar sentuhan fisik antara ayah dan anak; itu adalah sinkronisasi dua jiwa yang selama setahun terakhir saling berkomunikasi melalui dimensi yang tidak dipahami manusia lain.
"Arka..." gumam Bara. Matanya mulai sedikit terbuka, menatap putranya yang masih diam membisu.
Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menoleh ke sudut ruangan yang gelap, di dekat tirai jendela yang tersingkap sedikit. Di sana, Bara melihat bayangan samar Syeikh Tua, Wali Allah yang menemaninya di Cadas Sunyi, berdiri dengan jubah kusam dan tongkat kayu yang masih setia di genggamannya. Sosok itu tidak berbicara, hanya memberikan sebuah anggukan pelan yang sarat akan makna: tugasmu di pulau selesai, kini tugasmu adalah menjadi imam di tengah badai dunia.
Yang membuat napas Rina tertahan adalah ketika Arka juga ikut mengangguk ke arah sudut kosong yang sama. Arka menatap ke hampa, namun fokus matanya sangat jelas tertuju pada sesuatu yang tidak terlihat oleh Rina maupun perawat yang baru saja masuk.
"Arka melihatnya juga, Bara?" tanya Rina dengan suara bergetar, menyadari bahwa putranya adalah indikator spiritual yang paling sensitif.
"Dia selalu melihatnya, Rina," jawab Bara lemah. "Selama aku di sana... Arka adalah cermin yang menangkap sujudku. Dia tidak butuh suara untuk mengerti."
Gema yang Menenangkan Badai
Seorang perawat masuk dengan nampan berisi suntikan dan botol obat baru. Suara gesekan sepatunya di lantai keramik membuat Bara kembali menegang. Baginya, setiap langkah kaki asing adalah ancaman, seperti suara ranting patah di hutan pulau yang menandakan kehadiran ular laut atau predator.
"Permisi, Pak Bara. Saya perlu menyuntikkan obat penenang dosis ringan agar Bapak bisa beristirahat lebih dalam. Detak jantung Bapak tadi sempat melonjak," ucap perawat itu sambil menyiapkan jarum suntik.
"Jangan... tidak perlu obat itu," Bara mencoba menarik tangannya, namun Arka tetap memegang jari ayahnya dengan erat.
"Maaf Sus, tapi sepertinya suami saya sudah mulai tenang karena anak saya," Rina mencoba menjelaskan, namun perawat itu hanya tersenyum sopan yang menyiratkan ketidakpercayaan.
"Ini prosedur dari Dokter Adrian, Bu Rina. Kita harus memastikan pasien tidak mengalami stres berlebih yang bisa memicu serangan jantung," balas perawat itu dengan tegas namun tetap tenang.
Saat jarum itu mendekat, Bara mulai bernapas pendek-pendek. Keringat dingin mengucur di dahinya. Memorinya kembali ke saat-saat ia harus menusukkan duri ikan ke jarinya sendiri untuk mendapatkan "tinta darah" demi menulis doa terakhir di bukunya. Rasa sakit itu kembali hadir, menghantui setiap inci kulitnya.
Tiba-tiba, Arka meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sendiri. "Sssttt..."
Suara itu sangat lirih, namun seketika suasana di kamar rawat itu berubah. Aroma antiseptik yang menyesakkan mendadak tertutup oleh bau cendana yang sangat harum dan dingin, seolah-olah angin dari laut lepas baru saja bertiup masuk menembus dinding rumah sakit. Perawat itu tertegun sejenak, mengendus udara dengan bingung.
"Bau apa ini? Seperti bau dupa atau kayu tua," gumam perawat itu, gerakannya terhenti sejenak.
"Itu bau kedamaian, Sus," sahut Mala yang juga merasakan aroma itu. "Ayah yang membawanya dari pulau."
Arka kemudian menatap perawat itu dengan pandangan yang sangat dalam, seolah sedang memperingatkan agar tidak mengusik ketenangan ayahnya. Perawat itu, yang entah mengapa mendadak merasa segan dan sedikit merinding, menurunkan jarum suntiknya.
"Aneh... monitor jantungnya sekarang sangat stabil. Bahkan lebih baik daripada saat saya masuk tadi," perawat itu memeriksa layar monitor dengan dahi berkerut. "Baiklah, saya akan tunda suntikannya sepuluh menit. Saya lapor ke dokter dulu."
Setelah perawat itu keluar, Rina terduduk di kursi dengan lemas. Ia menatap Arka dan Bara bergantian. "Bara, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Arka bisa sekokoh ini?"
Bara meraih tangan Rina, menyatukannya dengan tangan Arka. "Di pulau, aku belajar bahwa suara adalah hijab. Arka tidak memiliki hijab itu. Dia berkomunikasi langsung dengan Arus Takdir. Syeikh Tua pernah bilang padaku bahwa Arka adalah penjagaku dari jarak jauh. Sekarang aku mengerti kenapa dia sering rewel di rumah saat aku sedang menderita di sana. Dia merasakannya, Rina. Dia menanggung separuh sakitku."
Rina menangis tanpa suara. Ia teringat betapa sering ia merasa frustrasi dengan kondisi Arka yang ASD, menganggapnya sebagai beban tambahan di tengah hilangnya suaminya. Ternyata, selama ini Arka adalah pahlawan yang tidak pernah ia sadari keberadaannya.
"Maafkan aku, Arka... maafkan Ibu," isak Rina sambil menciumi rambut putranya.
Arka tidak merespons isakan ibunya dengan cara biasa. Ia hanya memindahkan tangannya ke dada Rina, seolah sedang mentransfer ketenangan yang ia dapatkan dari bayangan Syeikh Tua di sudut kamar. Di saat yang sama, Bara merasa martabatnya yang sempat hancur karena terlihat lemah, perlahan pulih. Ia melihat keluarganya bukan lagi sebagai orang-orang yang harus ia kasihani, melainkan sebagai satu kesatuan spiritual yang telah lulus dari ujian tawakal murni.
"Mala, kemari," panggil Bara pada putri kecilnya yang masih berdiri di ujung ranjang.
Mala mendekat, wajahnya yang penuh air mata kini mulai tersenyum. "Ayah, apa kakek itu akan terus di sana?"
Bara melirik ke sudut kamar. Bayangan Syeikh Tua perlahan mulai memudar, menyatu dengan kegelapan malam di luar jendela, namun aura tenang itu tetap tertinggal di setiap sudut ruangan.
"Beliau hanya akan ada jika kita butuh pengingat untuk bersujud, Mala. Tapi sekarang, kakek itu sudah menyerahkan tongkatnya pada Ayah dalam bentuk... keberanian untuk pulang," ucap Bara dengan puitis.
Malam semakin larut di ruang rawat 302, namun suasana di dalamnya tidak lagi mencekam seperti beberapa jam yang lalu. Arka kini duduk bersila di lantai di samping ranjang ayahnya, sebuah posisi yang sering ia lakukan di rumah saat sedang mencari ketenangan. Tangannya masih sesekali menyentuh ujung selimut Bara, seolah memastikan bahwa sang ayah bukan sekadar fatamorgana yang akan hilang saat fajar menyapa.
"Bara, apakah kamu merasa cukup kuat jika besok kita minta izin pulang?" tanya Rina sambil mengusap air mata di pipinya. "Ibu terus menelepon, ia khawatir soal biaya rumah sakit yang terus membengkak karena asuransi masih menggantung."
Bara menarik napas panjang, merasakan sisa-sisa aroma cendana yang mulai menipis, digantikan kembali oleh bau logam dari tiang infus. "Aku tidak ingin lama-lama di sini, Rina. Dinding-dinding ini terasa sempit. Aku merindukan udara yang tidak melewati mesin pendingin. Aku ingin bersujud di atas lantai rumah kita sendiri."
"Tapi kondisimu masih sangat lemah. Dokter Adrian bilang fungsi ginjalmu belum stabil," sela Rina dengan nada khawatir. Ia teringat bagaimana perjuangannya selama setahun ini menjaga rumah agar tetap utuh; ia tidak ingin Bara pulang hanya untuk mengalami kondisi yang lebih buruk.
"Tubuhku mungkin lemah, tapi jiwaku butuh jangkar rumah," jawab Bara tegas. Ia menatap Arka yang kini mulai memainkan jari-jemarinya sendiri. "Arka juga butuh rumah. Dia sudah melakukan tugas besar malam ini. Dia butuh tempat yang dikenalnya agar tidak kembali rewel."
Mala yang tadi sempat tertidur di kursi panjang, kini terbangun dan mendekati mereka. "Ibu, kalau pulang nanti, Mala boleh bawa buku doa Ayah?"
Rina melirik ke arah tas hitam yang masih berada di dekapan tangan kiri Bara. "Buku itu harus disimpan baik-baik, Mala. Itu adalah jantung dari kisah perjalanan Ayah."
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka tanpa ketukan. Seorang perawat senior masuk dengan wajah tegang, diikuti oleh Bapak Harjo yang masih tampak tidak sabar di belakangnya. Harjo tidak lagi membawa map kuning, melainkan sebuah tablet digital yang menampilkan rekaman video yang sangat familiar.
"Maaf, Pak Bara, Ibu Rina. Saya terpaksa masuk lagi," ucap Harjo dengan nada yang lebih mendesak. "Video satelit yang memperlihatkan seseorang berjalan di atas air itu sudah mencapai sepuluh juta penayangan di internet. Sekarang, sekelompok orang yang mengaku sebagai pengagum 'Wali Laut' mulai berkumpul di depan lobi rumah sakit. Mereka ingin melihat Bapak."
Rina berdiri dengan cepat, wajahnya memucat. "Apa maksud Anda? Pengagum apa?"
"Mereka percaya suami Anda memiliki karomah, Bu. Mereka membawa bunga, sajadah, dan ada yang ingin minta doa. Pihak rumah sakit mulai merasa terganggu karena kerumunan itu menghambat ambulans yang mau masuk," Harjo menjelaskan dengan nada bicara yang cepat dan penuh tekanan.
Bara menutup matanya rapat-rapat. Ia merasakan serangan panik kembali datang. Fitnah dunia yang ia takutkan mulai mengetuk pintu bahkan sebelum ia sempat mengganti pakaian rumah sakitnya. Ia bukan pahlawan, ia hanya seorang hamba yang terdampar.
"Katakan pada mereka... aku bukan siapa-siapa," bisik Bara. Tangannya mulai gemetar hebat. "Aku hanya pelaut yang selamat karena izin Allah. Tidak ada karomah, tidak ada wali."
"Bapak boleh bilang begitu, tapi publik melihat video itu sebagai bukti mutlak," balas Harjo. "Bahkan perusahaan asuransi sekarang ragu untuk mencairkan santunan karena mereka menganggap ada unsur 'fenomena yang tidak bisa dijelaskan' yang mungkin membatalkan kontrak kecelakaan kerja standar."
Rina melangkah maju, menghalangi pandangan Harjo ke arah suaminya. "Cukup, Pak Harjo! Suami saya baru saja kembali dari kematian! Pergi dari sini sebelum saya panggil keamanan untuk mengusir Anda!"
Harjo mengangkat bahu, tampak tidak peduli dengan kemarahan Rina. "Saya hanya menjalankan tugas, Bu. Polisi di bawah juga sedang berusaha menenangkan massa. Jika Bapak Bara ingin keluar dari sini dengan selamat, kita harus mengatur rencana evakuasi melalui pintu belakang."
Arka tiba-tiba berdiri. Ia berjalan ke arah pintu dan menatap Harjo dengan tatapan yang sangat tajam, sebuah ekspresi yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya. Ia mengangkat tangannya, lalu menunjuk ke arah pintu keluar.
"Luar... luar..." Arka berucap dengan suara yang lantang.
Harjo tertegun. Ia melihat anak kecil yang dianggap bermasalah itu kini seolah memiliki kekuatan yang mengintimidasi. "Baik, baik, saya akan tunggu di lobi bawah. Tapi tolong, segera ambil keputusan."
Setelah Harjo dan perawat itu keluar, suasana kamar kembali sunyi, namun sunyi yang kini penuh dengan beban. Bara menatap Rina dengan pandangan yang sarat akan penyesalan.
"Rina, maafkan aku. Kepulanganku justru membawa badai baru buat kalian," ucap Bara lirih.
Rina menggeleng kuat-kuat. Ia menggenggam tangan Bara dan Arka secara bersamaan. "Jangan minta maaf. Badai ini tidak ada apa-apanya dibanding badai yang kau hadapi di pulau. Kita akan lalui ini sebagai keluarga. Jika dunia ingin melihatmu sebagai wali, biarkan itu menjadi urusan mereka dengan Tuhan. Tugas kita hanya satu: pulang."
Jangkar yang Menyatukan
Di tengah ketegangan itu, Arka mendekati jendela kamar. Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca yang dingin. Di bawah sana, samar-samar terdengar suara lantunan selawat dari kerumunan orang yang menanti di gerbang rumah sakit. Arka tidak tampak terganggu oleh suara bising itu. Ia justru mulai bergumam mengikuti nada selawat tersebut, sebuah sinkronisasi batin yang aneh namun menenangkan.
"Dia tidak terganggu oleh mereka," bisik Mala sambil berdiri di samping kakaknya. "Arka justru seperti sedang mendoakan mereka."
Bara memerhatikan kedua anaknya dari tempat tidur. Ia menyadari bahwa penyembuhan emosional di keluarga ini sudah mulai bekerja. Mala tidak lagi merasa ditinggalkan, dan Arka telah menemukan bahasa barunya melalui getaran spiritual. Meskipun PTSD masih mencengkeram dadanya dan fitnah dunia mulai mengepung, Bara merasa martabatnya sebagai imam telah kembali seutuhnya.
"Rina, ambilkan tas itu," pinta Bara.
Rina memberikan tas hitam kusam itu. Bara membukanya, meraba Buku Doa Musafir yang masih lembap. Ia mengambil selembar daun kering yang terselip di halaman buku—daun dari pohon cemara laut di pulau yang ia bawa sebagai kenang-kenangan. Ia menyerahkan daun itu pada Arka.
"Ini buat Arka. Penanda bahwa kita sudah sampai di koordinat yang sama," ucap Bara.
Arka menerima daun itu, mencium aromanya, lalu memasukkannya ke dalam saku bajunya. Ia berbalik dan menatap ayahnya, lalu memberikan sebuah anggukan kecil yang sangat tenang. Salam non-verbal itu terasa lebih bermakna daripada ribuan kata sambutan.
"Ayo kita bersiap," Rina menguatkan hatinya. "Apapun yang terjadi di luar pintu itu, kita tidak akan pernah membiarkan tangan kita terlepas lagi."
Bara memejamkan mata sejenak, membayangkan wajah ayahnya, Haji Saleh, yang sedang sakit keras. Urgensinya untuk pulang bukan hanya soal keselamatannya sendiri, tapi soal bakti yang belum tuntas. Ia tahu perjalanan panjang menuju "Manusia Sejati" baru saja dimulai di lantai rumah sakit ini.