NovelToon NovelToon
Bola Kuning

Bola Kuning

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: Paffpel

Kisah tentang para remaja yang membawa luka masing-masing.
Mereka bergerak dan berubah seperti bola kuning, bisa menjadi hijau, menuju kebaikan, atau merah, menuju arah yang lebih gelap.
Mungkin inilah perjalanan mencari jati diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paffpel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Arpa bangun dari duduknya dengan cepat. “Nggak mungkin bu! Ibu percaya sama berandalan kaya mereka?” tangan Arpa gemetar halus.

Bu Kila memukul meja dan langsung berdiri. “Mungkin! Karena mereka juga manusia!”

Bu Kila duduk lagi. “Mereka nggak terlahir untuk jadi berandalan, Arpa. Mereka jadi berandalan bukan karena mereka ingin, tapi karena itu cara mereka mengekspresikan diri,” kata bu Kila dengan nada yang lembut.

Bu Kila menatap Arpa, alisnya mengkerut. “Sekarang ibu tanya, Arpa. Apa bedanya kamu sama berandalan yang kamu maksud?”

Mulut Arpa terbuka. Langkahnya mundur perlahan.

Mutia tiba-tiba maju dan berdiri di depan Arpa. “Kenapa kamu sekarang jadi begini?! Kamu kan… “ mata Mutia berkaca-kaca.

Air mata Mutia mengalir pelan. “Kamu… kan orang baik,” Mutia mengusap-usap matanya.

Arpa terdiam kaku sambil melihat Mutia. Kepalanya menunduk. Perlahan-lahan dia berbalik badan, lalu pergi.

Sedangkan di kelas 10C, Depa menghampiri Juan. Dia menatap serius Juan. “Kasih tau gua apapun tentang Arpa.”

Juan menoleh ke arah Depa. Rahangnya mengeras. Dia berdiri dan menarik kerah Depa. Dia menatap tajam Depa.

Depa memalingkan pandangannya. “Lu mau nonjok gua atau apapun itu, silahkan. Tapi gua mohon, kasih tau gua apapun tentang Arpa.”

Genggaman Juan melemah. Matanya melembut. Dia memalingkan mukanya. “Kenapa… lu mau tau?”

Mata Depa nggak berubah. “Setelah apa yang gua lakukan, sekarang gua tau gambaran kasarnya, gua tau sekarang dia lagi kenapa, gua tau kemungkinan penyebab dia mukulin para berandalan itu.”

“Tapi ada satu hal yang gua nggak tau, apa yang ngebuat Arpa begitu? Gua… nggak paham,” Depa menekan bibirnya.

Juan pelan-pelan melepaskan genggamannya. Dia duduk. “Dia itu… “ Juan menceritakan semua tentang Arpa kepada Depa.

Depa mendengar sangat fokus, pandangannya tidak berpindah sama sekali.

Di sisi Arpa. Dia berjalan-jalan tanpa arah. Dia mencari-cari tempat yang sepi. Langkahnya terasa berat.

Arpa pun sampai di tempat yang sepi. Tapi… dia melihat Fino sedang duduk sendiri di situ.

Fino melirik Arpa. “Loh? Arpa? Ngapain lu di sini?”

Arpa menghela napas. Dia tersenyum. “Lu yang ngapain di sini,” Arpa melangkah ke arah Fino.

Arpa duduk di samping Fino. Kepalanya sedikit menunduk. “Fin, gua mukulin berandalan, tapi ternyata gua salah, mereka… udah nyoba berubah. Sedangkan gua, malah mukulin mereka.”

“Gua tau kok,” Fino tersenyum.

Arpa melirik Fino. Alisnya terangkat. “Hah?”

“Gua tau lu mukulin… berandalan? Kayaknya sekarang bukan sih, gua tau dari bu Kila, dan… “ Fino memandang tanah.

Senyum Fino perlahan memudar. “Bukan itu pahlawan yang gua maksud, Arpa.”

Mata Arpa membesar. Dia menekan bibirnya. Dia berdiri.

“Gua… bukan pahlawan, orang baik atau apapun itu, gua Arpa,” Arpa pergi tanpa melirik Fino lagi.

Fino tersentak. Tangannya mencoba menggapai Arpa. Tapi dia menghentikan tangannya. “Nggak, mungkin ini yang terbaik,” Fino tersenyum.

“Terimakasih karena udah jadi pahlawan bagi gua, Arpa, semoga lu bisa melewati ini semua,” kata Fino di dalam hatinya.

Dada Arpa terasa sesak, lagi. Dia ingin… sendiri. Setelah melangkah tanpa arah, dia tanpa sadar di depan pintu ekskul seni rupa. Dia melirik ke dalam. Tidak ada orang.

Dia membuka pintu ekskul seni rupa dan masuk. Dia duduk di pojok ruangan sambil menundukkan kepalanya. Matanya kosong.

Bel masuk pun berbunyi. Depa ngos-ngosan. Dia berlari kesana-kemari. “Mana sih itu anak, jangan-jangan dia cabut sekolah,” keringat Depa berjatuhan.

Depa pun berada di depan pintu ekskul seni rupa. Dia memiringkan kepalanya. “Masa dia di sini? Nggak mungkin.”

Depa melangkah pergi. Tapi dia balik lagi, dia melirik-lirik ke dalam ruangan ekskul seni rupa dari jendela. “Tuh kan, nggak ada.”

Depa melangkah pergi. “Tapi gimana kalau dia di pojokan?” pikir Depa.

“Akhhh, iya, iya, gua buka nih,” Depa membuka pintu ruangan ekskul seni rupa dan melirik ke sekelilingnya.

Depa melihat Arpa. Dia tersentak kecil tapi langsung nyengir. “Di sini lu ternyata ya,” Depa menghampiri Arpa.

Depa duduk di samping Arpa. “Maaf… deh ya,” Depa menggaruk kepalanya.

Arpa hanya diam. Dia diam cukup lama. Tiba-tiba dia menatap Depa. Alisnya mengkerut halus. “Dep, kenapa semuanya jadi begini? Kata lu gua jujur, kalau gitu, apa-apaan semua ini?”

Depa nyender ke tembok. “Karena lu nggak cocok. Gini ya, lu selalu jujur, terlalu jujur, tapi lu… nggak tau cara memperlihatkan kejujuran lu, jujur lu terlalu dalam, sampai-sampai yang paham sama jujur lu, cuman diri lu sendiri.”

Arpa menekan bibirnya. “Terus? Gua harus apa?!” kata Arpa dengan nada lumayan tinggi.

Depa menghela napas. “Santai dong, orang yang kayak lu, biasanya jadi pengamat, mereka melihat dunia, dengan cara mereka sendiri.”

“mereka nggak butuh diakui kalau mereka jujur, karena bagi mereka… jujur menurut diri mereka sendiri, lebih baik dari jujur manapun,” kata Depa.

Depa berdiri. “Pilihan ada di lu, Rap, gua cuman ngasih tau, kalau lu salah tempat,” Depa melangkah pergi.

Depa membuka pintu, dia nyengir. “Gua tau Rap, lu bukan orang baik,pengamat atau apapun itu, llu nggak bakal milih pilihan apapun yang diberikan ke lu, karena yang lu pilih, adalah menjadi Arpa.”

Depa berjalan keluar, menuju kelas. Dia memasukkan tangannya ke kantong. “Dan sekarang, ‘Arpa’ itu butuh perubahan, Haha.”

Rahang Arpa mengeras. Napasnya berat. “Orang baik, pahlawan dan sekarang pengamat? Gua nggak peduli apapun itu, gua Arpa,”

Depa menatap langit dari jendela. “Kira-kira, perubahan apa yang akan datang ke dia? Semoga aja itu hal menarik.”

Arpa berdiri. Dia melangkah pelan, keluar dari ruangan ekskul seni rupa. Dia berjalan menuju luar sekolah.

Arpa melewati gerbang sekolah. Tapi tiba-tiba ada yang memanggilnya.

Ternyata itu bu Kila. “Hey! mau kemana lagi kamu?! Bener-bener kamu ya,” bu Kila berdiri di depan Arpa.

Arpa mengepalkan tangannya. “Sekarang apa lagi?” pikir Arpa.

“Kamu ini bener-bener ya, ngapain aja sih kamu? Kamu sekolah buat apa sih?” bu Kila nunjuk-nunjuk Arpa.

Napas Arpa berat. “Brisik!” kata Arpa di dalam hatinya.

“Kemarin kamu ngejatuhin ibu, tadi mukulin orang, terus sekarang kamu mau bolos sekolah?!” bu Kila menggelengkan kepalanya.

“Brisik! Brisik! Brisik!” kata Arpa di dalam pikirannya. Arpa mendorong bu Kila.

Tiba-tiba ada motor yang melaju ke arah bu Kila. Orang yang membawa motor itu dengan cepat berusaha ngerem, tapi motor itu tetap menabrak bu Kila, walau tidak parah. Bu Kila terjatuh, kepalanya terbentur batu, dan berdarah.

Bu Kila… tidak sadarkan diri.

1
cacelia_chan~
Arpa lari pagi, lupa pamit, lupa pintu… paket lengkap 😭
Mike_Shrye ❀∂я⒋ⷨ͢⚤
hayoloh lupa kan jadinya....
Alyaaa_Lryyy.
org pendiam klw mrh gk main2 yah , pliss klian shabtan aj🤗
Greta Ela🦋🌺
Yeayy jadi Arpa, Juan, dan Rian🤭
Greta Ela🦋🌺
Wahh Rian udah baik kah?🤭
Greta Ela🦋🌺
Awas nanti sakit
Queen Naom
kasihan Rian🥺
Tina
Ada rasa bombay dan haru di bab ini 😊
Tina
kayak bocil malah asik maen, lupa tujuan awal 🤣
Tina
patahin jarinya rap 😆
Greta Ela🦋🌺
Lah, jadi Rian ini anak broken home?😭
Greta Ela🦋🌺
Lah, gimana sih Rian, gak jelas amat
Greta Ela🦋🌺
Iya bener yang kamu lakuin ini Arpa. Jangan mau diam terus kalau dihina. Sekeali tonjok juga udah bagut itu
Queen Naom
arpa jangan baper ya😄
Queen Naom
beliau ini terlalu jujur
Queen Naom
kalau di real life udah di katain pacaran tuh🤣
Queen Naom
kasihan arpa🤣
Alexander BoniSamudra
ajak pelukan bang👍
Alexander BoniSamudra
ternyata di semua sekolah sama aja
Alexander BoniSamudra
Parah si susi mah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!