NovelToon NovelToon
Yogyakarta Di Tahun Yang Menyenangkan

Yogyakarta Di Tahun Yang Menyenangkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Santika Rahayu

Ketika cinta datang dari arah yang salah, tiga hati harus memilih siapa yang harus bahagia dan siapa yang harus terluka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santika Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33

Hari-hari berikutnya, akun dengan nickname Quen_OfSpanca itu semakin banyak mengumbar aib para siswa kelas XI IPA 1.

"ARUTALA, COUPLE PALING SO SWEET, MESKIPUN LAGI LDR. TETAP NYEMPETIN WAKTU BUAT KETEMUAN AND CIUMAN."

Aru terduduk di atas kasurnya, matanya membelalak melihat foto yang diunggah satu jam yang lalu di akun keramat itu.

Foto dirinya dan Dirga yang tengah merayakan ulang tahun di sebuah cafe, terlihat posisinya Aru tengah memegang kue, sementara Dirga mencium pipinya. Namun karena angel kamera yang dari samping, ciuman itu terlihat mengenai bibir Aru.

Aru menatap layar ponselnya tanpa berkedip.

Jari-jarinya gemetar saat membaca ulang caption itu.

“Gila…” gumamnya pelan.

Tangan Aru langsung bergerak cepat membuka WhatsApp, dia menekan nomor Dirga di paling atas kemudian mengklik logo telepon.

Panggilan tersambung.

Berdering beberapa saat sebelum akhirnya diangkat.

“Halo.”

“Halo, beb.. Plis kamu harus liat postingan terbaru Quen_OfSpanca.” kata Aru tergesa.

“Ada apa emang?” Suara Dirga di seberang terdengar bingung.

“Liat aja dulu.” Aru semakin mendesak.

“Yaudah, bentar..”

Hening beberapa saat, Dirga sepertinya sedang mengecek postingan itu.

“Wahh.. Parah sihh..” Suara Dirga kini terdengar sedikit syok.

“Ya kan.., siapa sih adminnya??” Aru hampir menangis dibuatnya.

“Kamu tenang dulu ya beb, aku coba lacak akunnya.” ujar Dirga berusaha menenangkan sang pacar.

“Yaudah, aku percaya sama kamu.”

Aru menurunkan ponselnya perlahan setelah panggilan itu berakhir.

Dadanya masih terasa sesak, tapi setidaknya ada sedikit lega karena Dirga tidak termakan gosip murahan itu.

Belum sempat gadis itu meletakkan ponselnya, benda pipih itu kembali berdering.

Kali ini panggilan masuk.

Aru dengan cepat mengangkat panggilan itu.

“Halo All.”

“Aru, lo udah liat postingan itu belum?” Alleta terdengar tak kalah terkejut.

“Iya, baru aja,” suara Aru terdengar parau.

“Gila sih itu keterlaluan,” lanjut Alleta di seberang. “Tuh akun juga, pengikutnya udah nyampe seribu.

Aru menelan ludah.“Gue takut, All… orang tua gue bisa lihat itu.”

Alleta terdiam sejenak sebelum berbicara lebih pelan,“Dengar ya, Ru. Lo gak salah apa-apa. Yang salah itu orang yang nyebarin.”

“Tapi banyak yang percaya All, likenya udah ratusan.” keluh Aru lagi.

“Maaf ya, gue gak bisa temenin lo sekarang, tapi gue janji pulang dari sini kita hadapi bareng-bareng. Sagara juga lagi berusaha ngelacak akun itu.” Alleta terlihat menyesal, karena kini dia tengah berada di luar kota untuk mengikuti OSN yang berlangsung selama dua hari di sekolah lain.

“Iya gapapa, tadi Dirga juga lagi nyoba lacak akun itu. Semoga aja pelakunya cepet ketemu sebelum makin banyak korban.”

“Semoga aja,” ucap Alleta pelan sebelum panggilan itu berakhir.

Aru menghela napas panjang, lalu mematikan ponselnya.Tangannya meremas seprai.Perasaan malu, takut, marah, semuanya bercampur jadi satu.

...****************...

Keesokan paginya, Aru berangkat ke sekolah dengan perasaan yang belum juga tenang. Langkahnya terasa berat, seolah setiap pasang mata yang menatapnya membawa bisikan tak terlihat.

Benar saja.

Baru melewati gerbang sekolah, beberapa siswa tampak berbisik sambil melirik ke arahnya. Ada yang pura-pura tertawa, ada pula yang menunduk canggung saat Aru menoleh. Ia menelan ludah, lalu mempercepat langkah menuju kelas.

Di bangkunya, Aru langsung menunduk, membuka buku tanpa benar-benar membaca.

Ponselnya di dalam tas terus bergetar—notifikasi dari grup kelas, DM Instagram, mention, semuanya menumpuk.

Tak lama, beberapa siswi memasuki kelas. Aru langsung menunduk, menutupi wajahnya.

Beberapa dari mereka terlihat nyinyir, tapi beberapa juga terlihat kasihan.

Seorang siswi mendekat bersama dua temannya.Mereka tidak duduk—hanya berdiri di dekat meja Aru.

“Ru… itu bener yang di IG?” tanya salah satu dari mereka, ragu-ragu.

Aru mengangkat wajah perlahan.

Matanya sedikit berkaca-kaca.

“Enggak,” jawabnya pelan. “Itu diedit. Dan itu urusan pribadi.”

Suasana hening sejenak.

“Oh… yaudah, maaf.” jawab siswi itu canggung sebelum akhirnya pergi ke bangkunya.

Aru menatap bangku Alleta dan Tristan yang kosong, ia terlihat kesepian karena kedua sahabatnya itu tidak ada.

“Cepet balik All, gue gak bisa sendiri.” gumam Aru.

Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Guru memasuki kelas, pelajaran dimulai.Namun bagi Aru, waktu seakan berhenti.

Ia menatap papan tulis tanpa benar-benar melihat, pikirannya terus kembali pada layar ponsel, pada foto itu, pada bisik-bisik yang masih terasa menempel di kulitnya.

Beberapa kali ia menoleh ke arah pintu kelas, berharap Alleta tiba-tiba muncul di sana meski ia tahu itu mustahil.

Saat jam istirahat tiba, kelas menjadi lebih ramai.Tawa, obrolan, suara kursi ditarik—semuanya terdengar seperti gema yang terlalu keras di telinganya.

Aru tetap duduk di tempatnya. Ia membuka tas dan akhirnya menyalakan ponsel lagi.

Notifikasi bertambah.

Satu unggahan baru dari akun itu muncul di layar.Ia ragu beberapa detik, lalu membukanya.

Foto lain.

Bukan dirinya.

Kali ini foto Sagara sedang berkelahi di sekolah lamanya.

Captionnya:

"ANAK KEBANGGAAN YANG PINDAH KE SPANCA TERNYATA, PINDAH KARENA BERMASALAH DI SEKOLAH LAMANYA, MEMALUKAN"

Jantung Aru langsung mencelos.

“Dia gak berhenti…” bisiknya.

Komentar-komentar di bawahnya mulai memanas.

Ada yang membela, tapi jauh lebih banyak yang menghakimi.

Aru meraih ponselnya dan menulis pesan cepat ke Alleta.

[All… sekarang akun itu nyerang Sagara juga.]

[Ini makin parah.]

Baru saja pesan itu terkirim, Sagara muncul memasuki kelas. Wajahnya terlihat tenang, namun serius.

Pemuda itu langsung duduk di bangkunya, dan mengeluarkan ponsel. Dia terlihat mengetik sesuatu sebelum akhirnya menelpon seseorang.

Sagara menempelkan ponselnya ke telinga.

“Ya. Postingan terakhirnya tentang gue,” ucapnya tanpa basa-basi.

Jeda sejenak.

“Gue udah lihat. Kirimin semua data yang lo punya.”

Aru memperhatikannya dari bangkunya. Wajah Sagara terlihat jauh lebih dingin dari biasanya, tidak marah, tapi fokus—jenis ekspresi orang yang sedang menyusun sesuatu di kepalanya.

Panggilan itu berakhir.

Sagara menghela napas, lalu bersandar di kursinya. Ia melirik sekilas ke arah Aru.

Tatapan mereka bertemu.“Lo juga jadi targetnya, ya,” kata Sagara pelan.

Aru mengangguk.

“Gue minta maaf,” lanjut Sagara. “Karena gara-gara gue, kelas ini makin disorot.”

Aru menggeleng cepat.“Bukan salah lo. Ini salah orang yang bikin akun itu.”

Sagara terdiam beberapa detik.

“Orang itu gak asal upload,” katanya kemudian. “Foto gue di sekolah lama itu gak pernah ada di internet. Artinya… dia dapet dari seseorang yang punya akses langsung.”

Aru menelan ludah.“Jadi… dia orang deket?”

“Minimal satu dari lingkungan kita,” jawab Sagara.

Pemuda itu terlihat seperti sudah menaruh curiga pada seseorang, orang yang selama ini membuat Alleta selalu terkena masalah.

...****************...

Pagi itu, lapangan sekolah terasa lebih ramai dari biasanya. Seluruh siswa sudah berbaris rapi untuk mengikuti upacara bendera hari Senin. Langit cerah, matahari belum terlalu terik, tapi suasana tetap terasa berat bagi beberapa siswa yang berdiri di barisan kelas XI IPA 1.

Alleta berdiri di barisan putri, wajahnya terlihat lelah tapi tersenyum kecil. Tristan di barisan putra, berdiri tegak dengan ekspresi tenang.

Upacara berjalan seperti biasa, sampai akhirnya pembina upacara, Pak Arman, berdiri di depan mikrofon.

“Selanjutnya, ada pengumuman prestasi yang ingin kami sampaikan.”

Beberapa siswa mulai berbisik pelan.

“Perwakilan dari sekolah kita mengikuti Olimpiade Sains Nasional tingkat kabupaten minggu lalu. Meskipun belum berhasil melaju ke tingkat provinsi, dua siswa kita berhasil masuk dua besar dan membawa nama baik sekolah.”

Suasana lapangan langsung terasa hidup.

“Untuk itu, kami mohon Alleta Cassandra Sabiru dan Tristan Arkana Raharja dari kelas XI IPA 1 maju ke depan.”

Alleta menoleh sekilas ke arah barisan kelasnya, matanya bertemu dengan Aru. Senyum kecil langsung terbit di wajahnya.

Tristan melangkah lebih dulu, diikuti Alleta. Keduanya berjalan menuju depan lapangan diiringi tepuk tangan yang semakin ramai.

Aru ikut bertepuk tangan, meski matanya terasa hangat.

Pak Arman menyerahkan piagam pada mereka satu per satu.

“Ini bukan kegagalan,” ucap beliau tegas, “masuk dua besar saja sudah membuktikan kerja keras, disiplin, dan kemampuan kalian. Terima kasih telah mengharumkan nama sekolah.”

Alleta menerima piagam itu dengan kedua tangan, menunduk hormat.

Tristan mengangguk singkat, tapi senyum tipisnya tak bisa disembunyikan.

Saat mereka berbalik menghadap barisan, mata Alleta kembali bertemu Aru.

Aru mengacungkan dua jempol dari kejauhan.

Alleta tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, dada Aru terasa sedikit lebih hangat.

Di tengah kekacauan, setidaknya ada satu kabar baik yang berhasil menyelinap masuk.

Tapi, di sisi lain barisan XI IPA 1. Nayla terlihat mengulum senyum, ia menoleh ke arah Sagara yang tampak menatap bangga ke arah Alleta. Pandangan Nayla menyempit.Tatapannya turun, lalu kembali naik, seakan sedang menyusun sesuatu di kepalanya.

Upacara berakhir. Barisan mulai dibubarkan. Suara langkah kaki dan obrolan siswa memenuhi lapangan.

Alleta dan Tristan berjalan kembali ke barisan kelas mereka sambil membawa piagam. Beberapa teman menepuk pundak mereka, memberi selamat. Aru langsung menghampiri Alleta begitu mereka kembali.

“All… selamat,” ucap Aru, suaranya tulus.

Alleta tersenyum lebar. “Makasih, Aru.”.

Saat Aru hendak bicara lagi, suara seseorang terdengar dari batisan laki-laki.

“All!”

Sagara berdiri tak jauh dari mereka. Wajahnya masih serius, tapi ada kilat bangga di matanya.“Selamat,” ucapnya singkat.

Alleta tersenyum lebih lebar.“Makasih, Sa.”

Sagara melirik piagam di tangan Alleta dan Tristan.“Lo juga Tris, selamat.”

Tristan mengangguk kecil. “Thanks.”

Saat di dalam kelas, terlihat beberapa siswa kembali heboh.

Akun Queen_OfSpanca kembali memposting foto.

Kali ini, targetnya membuat Sagara seketika kehilangan rasa curiga pada seseorang.

Aru baru saja duduk ketika ponselnya bergetar.

Notifikasi Instagram.

Nama akun itu muncul lagi.

Queen_OfSpanca.

Dada Aru langsung menegang. Ia membuka unggahan itu dengan jari gemetar.

Foto yang muncul membuatnya terdiam.

Nayla.

Dalam foto itu, Nayla tampak duduk di lantai sebuah ruangan sederhana, dikelilingi beberapa anak kecil. Ia sedang membantu seorang anak merapikan tas, sementara anak-anak lain menatapnya dengan senyum polos. Latar belakangnya jelas—sebuah panti asuhan.

Caption besar tertulis:

“NAYLA SI ANAK ORKAY TERNYATA CUMA ANAK ANGKAT

YANG DIPUNGUT DARI PANTI ASUHAN.”

Komentar langsung membanjir.

[Serius?]

[Pantesan kelakuannya]

[Kirain keluarga kaya beneran]

[Kasian juga sih tapi kok jadi sok eksklusif]

Aru refleks menoleh ke arah Nayla.

Nayla baru saja duduk di bangkunya. Ia juga sedang menatap layar ponselnya.

Wajahnya membeku.

Beberapa detik berlalu sebelum Nayla perlahan menurunkan ponselnya. Bahunya menegang, tapi ekspresinya… kosong. Tidak menangis, tidak bereaksi. Hanya sunyi, seolah seluruh kelas mendadak jauh.

Sagara mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah Nayla. Gadis itu tampak menyedihkan.

“Bukan Nayla pelakunya.” gumamnya mulai ragu.

Bersambung...

–Beberapa hal yang ditulis semesta memang tidak menyenangkan, tapi setidaknya mendewasakan.–

1
butterfly
lanjut thor 💪💪
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪💪
Lilis N Andini
siapa pelakunya?nayla apa dikta...lanjut thor🙏
butterfly
lanjut thor 💪💪💪
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪
Lilis N Andini
semangat thor/Coffee/
butterfly
lanjut thor 💪💪💪
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Siti Nina
Kasian de lo Nayla niat hati ingin mempermalukan Alleta eehh,,,malah dirinya yg sakit hati 😄
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪💪💪💪💪💪💪
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪
butterfly
cerita nya seru
Lilis N Andini
happy new year jg buat author cantik...makasih udah update/Heart/🙏
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪💪💪 seru cerita nya
Sant.ikaa
haii reader kesayangan author, kalau ada typo mohon maaf ya, maklum author manusia bukan nabi boyy
Siti Nina
klw bisa dua" nya Thor gak bisa milih 😄
butterfly
lanjut thor 💪💪💪💪
Siti Nina
Oke ceritanya 👍👍👍
Siti Nina
Tristan kaya nya mengidap penyakit serius deh kasian Tristan udh pilih dua" nya aja 😄
Siti Nina
Klw bisa dua" nya kenapa harus pilih satu 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!